Friday, March 01, 2002

Ritual L.E. Manuhua

SOSOK
Ritual L.E. Manuhua

Ada sebuah ritual kecil di satu sudut kota Makassar. Tiap pagi seorang lelaki tua, badannya lumpuh separuh, duduk di atas kursi roda, menghabiskan waktu dengan menunggu para tukang koran. Dia duduk saja, menatap jalanan, sembari mendengarkan kicau jalak Bali atau kecerewetan burung-burung parkit di halaman rumahnya.

Rambutnya agak ikal, tapi sudah tipis dan berwarna putih. Bila koran datang, biasanya satu per satu, maka lelaki berusia 77 tahun itu pun mulai membaca harian Pedoman Rakyat, Kompas, dan Fajar.

Bukan kegiatan mudah karena ia hanya memakai satu tangan membolak-balik halaman demi halaman. Tangan kanannya lumpuh. Ia menggunakan tangan kiri tapi tetap diperhatikannya masing-masing halaman dari balik kacamata tebalnya. Dua jam dihabiskan buat membaca suratkabar.

Lelaki itu bernama Lazarus Eduard Manuhua, biasa disingkat L.E. Manuhua, seorang wartawan senior, yang terkenal karena lama memimpin harian Pedoman Rakyat di kota Makassar. Suatu pagi yang cerah awal Februari lalu, dia memulai ritualnya dengan memperhatikan judul utama Pedoman Rakyat “Pelita Air Tergelincir di Mandai.” Sekitar 15 menit kemudian Kompas datang dengan judul, “Wapres Minta Pembangunan di Puncak Dihentikan.” Bolak-balik dengan pelan, sesekali minta anaknya membantu, dan sekitar 20 menit berikutnya tukang koran mengantar harian Fajar dengan judul utama, “PDIP Minta Mega Pecat Kesowo.”

“Dulu ketika saya masih kecil, saya sudah baca laporan-laporan perjalanannya bersama Pak Harto ke luar negeri,” kata Aidir Amin Daud dari Lembaga Studi Informasi dan Media Massa, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang media di Makassar.

Manuhua memang salah satu wartawan terhormat yang ada di negeri ini. Ia mulai bergabung dengan Pedoman Rakyat dari mulai terbit stensilan pada 1947 –dua tahun sesudah Perang Dunia II usai. Waktu itu bergabung dengan Pedoman bukan pilihan mudah, dan secara finansial tidak menguntungkan, karena sebagian besar negara dunia, termasuk Belanda, belum mengakui proklamasi kemerdekaan oleh duet Sukarno-Moh. Hatta.

Tapi pilihan Manuhua berpihak ke Jakarta, pada saat Belanda ingin memperkuat Negara Indonesia Timur dengan ibukota Makassar, membuat Manuhua jadi incaran dinas rahasia Belanda. Tapi secara tak langsung, menurut keterangan A. Moein MG dari Makassar Press, pilihan Manuhua juga mengurangi stereotype kalangan orang Bugis, etnik dominan di sana, bahwa orang Ambon adalah “Belanda hitam.” Manuhua membuktikan bahwa stereotype adalah sesuatu yang salah.

Manuhua memang kelahiran Maluku dari ayah Ambon dan ibu Jawa. Pada 1947, ketika lulus sekolah dan masih belajar jadi wartawan, nyong Ambon ini lari dari Ambon ke Makassar karena diincar Belanda.

Maka mulailah karirnya di bidang jurnalisme. Ia meliput banyak peristiwa bersejarah dari masalah Republik Maluku Selatan hingga jadi saksi buat mengenali jasad Kahar Muzakar dari Darul Islam ketika Muzakar tertembak mati dalam operasi militer awal 1965.

Pada 1980-an Pedoman Rakyat mencapai salah satu puncak keberhasilannya ketika terbit hingga 25 ribu eksemplar. Manuhua juga ikut mendirikan PT Percetakan dan Penerbitan Sulawesi yang termasuk modern. Kini menurut putra sulungnya, Ventje Manuhua, harian Kompas juga dicetak di sana sekitar 10 ribu tiap hari.

Manuhua dikenal karena prinsip kewartawanannya. Beberapa tahun lalu ia menulis, “Dalam kategori mana pun ia digolongkan, menurut hemat saya, seorang wartawan haruslah jujur dan berani menegakkan kebenaran. Di situlah letak harga dirinya serta derajat moralnya. Ia harus dapat mengabdikan diri bagi suatu cita-cita yang besar yang menyangkut kepentingan banyak orang apalagi kepentingan suatu bangsa.” Prinsip itu ditulis Manuhua dalam otobiografinya Dari Ambon ke Makassar untuk R.I.

Tapi Manuhua bukan saja seorang reporter. Dia juga seorang penerbit atau pengusaha. Pada 1984 Manuhua bersama koleganya dari beberapa suratkabar daerah, antara lain Surabaya Post, Haluan (Padang), dan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), mendirikan kantor perwakilan bersama di Jakarta di mana kepentingan mereka mencari iklan, mendapatkan kertas serta mengumpulkan berita bisa dikerjakan bersama lebih murah. Usaha ini cukup berhasil walau kritisi mengatakan suratkabar-suratkabar itu tetap kurang kompak. Mereka masih sulit membereskan manajemen internal mereka.

Termasuk yang dikritik adalah peranan Manuhua dalam Persatuan Wartawan Indonesia dan Dewan Pers selama rezim Orde Baru. Dua institusi ini lebih banyak dimanfaatkan rezim represif Presiden Soeharto ketimbang melawannya secara efektif. Manuhua tak berbuat banyak dalam mencegah pembusukan kedua institusi tersebut.

Stroke ringan pertama menghantamnya ketika Manuhua selesai rapat Dewan Pers di Jakarta pada 1991. Dia masuk rumah sakit. Manuhua pun harus berhenti merokok dan mengubah caranya bekerja –yang penuh disiplin dan sangat keras itu. Padahal harian Fajar milik Jawa Pos News Network, yang terbit di Makassar sejak 1981, pelan-pelan mulai menyaingi Pedoman Rakyat. Bahkan pada 1993 sirkulasi Fajar mulai menyalib kebesaran Pedoman Rakyat.

Stroke kedua menghantamnya pada 1997, setahun setelah istrinya, Johanna Leonora Manuhua, meninggal dunia. Krisis ekonomi juga menambah beban pikiran Manuhua. Ia juga sibuk menyiapkan cetak jarak jauh harian Kompas. “Papi jarang kontrol kesehatan,” kata putri bungsu Liza Manuhua.

Dalam otobiografinya, Manuhua menggambarkan kehidupan rumah tangganya dengan gaya pasangan kuno. Mereka menikah dan dikarunia enam anak perempuan dan dua laki-laki. Joke, panggilan akrab Johanna, jadi ibu rumah tangga penuh waktu dan Manuhua kerja total di luar. Mereka menikah selama 46 tahun. Ketika Joke meninggal dunia, sahabat-sahabat Manuhua bercerita, Manuhua sangat terpukul. Dia merasa Joke adalah bagian dari dirinya. Sering kali Manuhua masih merasa Joke masih ada di sampingnya, membukakan pintu bagi tamu-tamu yang hadir di rumah mereka.

Stroke ketiga menyerang pada 2000 di rumah. Sejak itu pula Manuhua mengalami kesulitan berjalan. Dia memilih menyepi di rumahnya di Jalan Cenderawasih I/12. Dia bahkan tak datang ke kantornya lagi. Sirkulasi Pedoman makin menurun, Fajar makin meningkat.

Menuru Ventje, kegiatan bapaknya hanya tinggal di rumah dan “ke kuburan mami.” Manuhua juga mengalami kesulitan bicara dan menulis.

“Eeeeeennnnaaaaaaapa …?” ucapnya, ketika ingin tahu kejelasan sebuah kalimat.

Air mata terkadang keluar sesudah ia tak bisa mengemukakan apa yang diinginkannya. Wicara jadi soal berat. Terkadang ia ingin kencing tapi orang tak paham sampai Manuhua kencing di celana.

“Papi lebih suka diam,” kata Liza.

Ritual kecil ini berakhir pada jam 8 ketika Liza membawanya masuk rumah buat mandi. Sesudahnya nonton televisi. Jam 10 masuk tidur dan jam 12 makan siang. Jam 2 hingga jam 4 sore tidur. Petang hari nonton televisi, mandi dan makan malam. Jam 7 malam Manuhua masuk kamar, tidur, dan akan memulai ritualnya lagi esok jam 6 pagi. Ritual seorang wartawan tua.

-- Andreas Harsono
Majalah Pantau No. 23 Maret 2002