Wednesday, September 19, 2007

Nocera dan Salerno


Ketika mengikuti pembukaan conference Euroseas di benteng dell'Ovo di Napoli, aku bertemu dengan kenalan lama, Antonia Soriente. Antonia warga Italia. Suaminya Feisol Reza, orang Madura dan aktivis hak asasi manusia, asal Probolinggo tinggal di Jakarta. Antonia kelahiran Nocera, sebuah kota kecil dekat Napoli. Setiap tahun, dia mengajar di Universitas Napoli "L'Orientale" selama beberapa bulan. Reza, Antonia dan kedua anak mereka, ikut ke Nocera bila Antonia mengajar di Napoli. Kebetulan kali ini mereka tak ikut.

Aku kenal Antonia sejak 1993, beberapa saat sebelum majalah Tempo dibredel pada Juni 1994. Kami biasa ketemu di acara-acara sosial di Jakarta. Ketika pembredelan terjadi, suasana politik di Jakarta makin panas, kami jadi sering bertemu.

Aku kenal Reza ketika dia bekerja untuk Partai Rakyat Demokratik. Reza diculik Kopassus pada akhir masa rezim Presiden Soeharto. Reza termasuk yang bebas. Reza menjaga integritasnya. Kini Reza ikutan Wimar Witoelar jadi host acara Perspektif Baru.

European Association for South-East Asian Studies, atau Euroseas, didirikan pada 1992 oleh 19 sarjana ahli Asia Tenggara. Setiap tiga tahun, Euroseas mengadakan international conference (Leiden, 1995; Hamburg, 1998; London, 2001; Paris, 2004; Napoli, 2007). Antonia juga seorang sarjana. Dia dapat doktoralnya dari Universiti Kebangsaan Malaysia di Penang. Penelitiannya tentang bahasa Dayak Punan di sebelah timur Borneo. Supervisornya James T. Collins dari Borneo Research Council, sarjana Borneo yang banyak menulis buku soal bahasa di Borneo.

Di dell'Ovo, Antonia menawari Sapariah dan aku menginap di rumahnya. Kami gembira dengan undangan ini. Pesawat kami kembali ke Jakarta juga kebetulan masih seminggu lagi. Maklum lagi high season. Hari Minggu, sesudah conference selesai, kami naik kereta api Napoli-Nocera. Kami berhenti di stasiun Nocera Inferiore. Antonia menjemput di stasiun.

Nocera ada dua kota. Nocera Superiore dan Nocera Inferiore. Stasiunnya juga dua. Rumah keluarga Soriente terletak di Nocera Superiore, tepatnya jalan Porta Romana. Rumahnya besar. Goenawan Mohamad, kenalan kami yang pernah menginap disini, menyebut keluarga Soriente "petani kaya." Mereka juga memiliki sebuah peternakan dan tanah pertanian di sebuah bukit. Ada kebun zaitun, kandang kuda, sapi, kambing, babi, ayam, kalkun dan sebagainya. Di ruang tamu, aku melihat ada foto Goenawan dan rombongannya, Ahmad Sahal, Sitok Srengenge, Ayu Utami, Rayya Makarim serta Antonia dan kedua orang tuanya berfoto bersama.

Antonia anak kedua dari lima bersaudara. Semuanya sudah berkeluarga. Mereka punya rumah sendiri-sendiri. Antonia, bila tinggal di Nocera, tinggal bersama ibunya, Ida Soriente. Papanya, Guglielmo Soriente, meninggal April lalu. Rumahnya dua lantai, besar sekali.

Kami diajak ikut pertemuan keluarga Antonia di kebun mereka. Ada nonna-nya, Antonietta Consalvo, mama dari mamanya Antonia, yang sudah umur 98 tahun. Keluarga besar kumpul bersama. Antonietta Consalvo, Ida Soriente, adik-adik perempuan Antonia (Monica dan Simona), suami-suami mereka, keponakan-keponakan, seorang teman keluarga dan lainnya. Hari Minggu juga hari ulang tahun Vittorio, anaknya Monica, umur dua tahun. Ada kue tart, isi coklat dan es krim. Enak sekali. Sapariah kagum dengan kesehatan Nonna. Dia makan dengan lahap dan berdandan dengan rapi. Duduk di ujung meja, mengawasi anak, cucu-cucu serta cicit-cicitnya bermain.

Mamanya Antonia cerita bagaimana Antonia pernah dimuat majalah Pantau, sewaktu aku jadi redaktur pelaksananya. Pada akhir 2000, Antonia hamil anak pertamanya, perutnya mulai membesar. Aku usul bagaimana bila proses kelahiran si bayi diabadikan dan dimuat sebagai esai foto majalah Pantau. Antonia setuju.

Dia senang juga ketika tahu Erik Prasetya, seorang fotografer kenalan kami, yang akan memotret proses persalinan itu. Maka jadilah esai delapan halaman dimuat Pantau edisi Maret 2001. Ayu Utami menulis karangan pendek kelahiran Guglielmo, putra pertama Reza-Antonia. Ini pertama kali ada penerbitan Jakarta memuat foto perempuan melahirkan anak.

Kami suka jalan-jalan naik sepeda di Nocera. Selasa sore, Sapariah mengajak aku naik sepeda dan berhenti di satu piazza. Kami melihat-lihat suasana kota. Sapariah juga sempat belanja di pasar senenan Nocera --setiap Senin buka. Aduh, banyak sekali barang-barang bagus dengan harga miring. Maklum mode musim panas dan gugur akan segera ganti dengan musim dingin. Barang-barang diobral.

Mamanya Antonia juga beberapa kali minta tolong aku membeli harian Il Mattino kesukaannya. Aku beli di tabacchi di ujung Porta Romana. Naik sepeda beli koran di kota kecil. Il Mattino terbitan Napoli.

Antonia menganjurkan kami jalan-jalan ke Salerno. Ini kota kecil, pinggir pantai, yang cantik. Kami naik kereta api dan berhenti di stasiun Salerno, di piazza Vittorio Veneto. Pusat perbelanjaan terletak di Corso Vittorio Emanuele dimana mobil dilarang masuk. Kami juga jalan-jalan sepanjang pantai.

Ketika naik bus pulang ke Nocera. Kami melewati Trevi, sebuah desa kecil di pegunungan dengan pemandangan laut di bawah. Ini kecantikan yang mengagumkan. Aku tak heran Goenawan Mohamad menganggapnya tempat paling indah di muka bumi. Kami menikmati pemandangan Gunung Vesuvius. Biru menjulang ke langit. Gunung ini meledak beberapa kali, termasuk pada Agustus 79 SM, ketika ia meratakan kota-kota sekitarnya, termasuk Pompeii dan Nocera. Bus meliuk-liuk sepanjang jalan. Ai ai ai ... cantiknya.

Grazie così tanto, Antonia. Li avete lasciati vedere un'altra Italia. Terima kasih sekali, Antonia. Kamu membuat kami melihat Italia yang lain.

2 comments:

ahmad saihdah said...

Antonia juga seorang sarjana. Dia dapat doktoralnya dari Universiti Kebangsaan Malaysia di Penang.

Setahu saya UKM terletak di Bangi, Selangor.

Namun demikian, cerita ini turut memantik perasaan bahagia karena Mas Andreas 'menemukan' surga di Itali bersama Mbuk (Mbak).

Yusriadi said...

Mas Andreas, ceritanya sangat menarik.

Iya, Pak Ahmad Sahidah betul. Antonia, doktornya di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor. Disertasinya tentang Penan (Punan). Saya bertemu dengan Antonia di ATMA.

Tentang supervisornya, Prof. James T. Collins -- setahu saya waktu itu beliau orang ATMA, UKM; bukan dari BRC.