Saturday, November 01, 2008

Mereka Beri Label Apa Soal Aku?


Dalam perjalanan Jakarta-Penang kemarin, aku membaca buku Reporting Indonesia: The Jakarta Post Story 1983-2008 karya Bill Tarrant. Aku beli buku ini di toko buku Periplus di airport Cengkareng. Ternyata ada beberapa halaman dipakai untuk menerangkan dihentikannya aku dari harian The Jakarta Post pada November 1994.

Aku tak sangka masalah ini diangkat dalam buku pertama soal The Jakarta Post. Ceritanya tak banyak yang baru. Aku sudah menulisnya beberapa kali, termasuk di blog ini. 

Singkatnya, kontrak kerja aku tak diperpanjang pada akhir Oktober 1994 dengan tuduhan aku "wartawan partisan." Namun banyak orang percaya, termasuk Tarrant, pemberhentian itu terkait dengan kegiatan aku ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen. 

Organisasi ini didirikan karena banyak wartawan muda tak suka dengan pembredelan mingguan Detik, Editor dan Tempo empat bulan sebelumnya. Persatuan Wartawan Indonesia, organisasi yang dikuasai negara Indonesia, membela pembredelan dan mengeluarkan pernyataan "memahami" tindakan Presiden Soeharto dan Menteri Penerangan Harmoko. 

Wartawan-wartawan muda melawan. Banyak yang mengalami represi. Aku kehilangan pekerjaan. Bill Tarrant sendiri pernah bekerja sebagai editor The Jakarta Post. Kini dia bekerja di Reuters biro Singapura.

Menariknya, Tarrant menerangkan bahwa sesudah pemecatan, aku mengembangkan karir internasional serta menyebut aku sebagai "advocacy journalist." Debra Yatim, seorang alumnus The Jakarta Post lainnya, juga disebutnya sebagai "advocacy journalist."

Ada-ada saja. Inilah label terbaru yang aku terima. Dulu aku sudah diberi label "wartawan-cum-aktivis." Janet E. Steele pernah menulis kegiatan aku, membantu Goenawan Mohamad mengurus Institut Studi Arus Informasi, dalam buku Wars Within: The Story of Tempo an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia. Buntutnya, ada beberapa orang menganggap aku die hard activist yang "sok jadi wartawan."

Djunaini KS, pemimpin umum harian Equator di Pontianak, mengejekku sebagai "lebih Amerika dari orang Amerika." Label ini cukup sering muncul. Aku duga ia disebabkan, antara lain, upaya aku mempromosikan buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Buku ini buku bermutu. Kovach juga mentor aku. Tapi begitulah. Muncul label "lebih Amerika dari orang Amerika."

Label yang mungkin lebih singkat adalah "author" atau "writer" atau "academic." Ada juga sebutan "bekas wartawan." Ada juga "investigative journalist." Beberapa kali aku meralat surat undangan atau panggilan dalam seminar sebagai "Dr. Andreas Harsono." Aku meralatnya dengan "Mr. Andreas Harsono" karena aku memang tak sekolah doktoral. Aku lulusan S-1 universitas kota kecil di bidang rekayasa elektronik.

Namun ada juga yang menggelikan. Orang-orang menyebut aku sebagai "pakar jurnalisme" atau "pengamat media." Aku geli dengan dua label ini karena aku belum pernah menulis buku serius soal media. Sudah beberapa kali aku mengirim email ke mailing list terbuka milik Yayasan Pantau soal kekeliruan ini. Tapi pengulangan tetap saja terjadi. Setiap kali keliru, setiap kali pula aku meralat. Lama-lama, aku capek dan memutuskan stop buat ralat.

Aku kira kita tampaknya tak bisa memilih label apa yang akan diberikan orang kepada kita.

Bill Tarrant menambah satu label baru.

Advocacy journalist, anyone?