Monday, October 02, 2006

Mahasiswa IAIN Ar Raniry

SIANG INI aku terkejut ketika mengetahui hanya dua dari 34 mahasiswa di kelasku yang mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka adalah Rika Mufazallati dan Mahyaruddin EMK. Mereka bikin PR soal menulis dalam format piramida terbalik.

Sisanya, bilang tidak tahu kalau ada PR (Jumat lalu tak masuk) atau bilang mengerjakan PR satunya soal riset internet. Kebanyakan bilang tak ada event yang bisa diliput dan dijadikan berita. Memang ada dua macam PR. Satunya lagi menggunakan Google atau Wikipedia mencari data seseorang.

Mahyar pun sebenarnya hanya mencetak laporan lama. Dia kebetulan jadi kontributor sebuah suratkabar Medan. Dia pakai laporan itu sebagai PR. Jadi, praktis hanya Rika yang mengerjakan PR.

Sejak Jumat lalu, aku mulai mengajar kelas, Reporting, Writing and Editing di Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh. Ini kelas bersama. Aku tidak mungkin mengajar sepanjang semester karena aku tinggal di Jakarta.

Maka Linda Christanty, seorang penulis dan kepala Pantau Banda Aceh, mengajar separuhnya. Kami masing-masing mengisi delapan kali pertemuan. Linda memulai kelas ini lebih dulu. Aku giliran sejak minggu lalu.

Jumat lalu, aku memberikan dua PR. Maksudnya, aku ingin mahasiswa berlatih riset internet. Ada delapan menyerahkan tugas riset: Junaidi, Zulfa Rumaya, Novia Liza, Saifuddin, Nursaadi dan Ira Marzayani. Sisanya, juga tak mengerjakan PR.

Sebel juga. Di Jakarta, bila aku mengajar di kursus Pantau atau di Program Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia, perasaan hanya satu atau dua orang yang tak mengerjakan PR. Mereka biasanya merasa rugi sendiri. Mereka kehilangan kesempatan belajar menulis dan dikritik. Di Manokwari minggu lalu, juga hanya dua atau tiga orang dari satu kelas, yang tak bikin PR. Mayoritas bikin PR.

Nah, di IAIN Ar Raniry ternyata mayoritas tak kerja PR.

Mungkin salah aku juga. Aku menekankan bahwa mereka tidak boleh menyontek. Daripada menyontek, lebih baik tidak mengerjakan PR. Kalau pun sibuk, aku bilang aku juga tidak keberatan mereka tak bikin PR. Maksudnya, aku ingin mahasiswa bersikap sebagai orang dewasa.

Hasilnya, mayoritas tidak mengerjakan PR. Padahal ini kelas menulis. Setiap kali pertemuan, kami akan membahas hasil tulisan mereka. Mana mungkin bisa belajar menulis bila mereka tidak berlatih menulis?

Lagi pula, bagaimana mereka bisa mengerjakan tugas akhir penulisan (membuat sebuah feature) bila dari sekarang tak berlatih elemen-elemen penulisannya? Aku bilang bahwa aku mau mengajar di IAIN Ar Raniry karena permintaan dari beberapa orang Aceh yang aku hormati. Antara lain, Daud Jusuf, mantan menteri pendidikan Jakarta, Imam Syuja' dari Muhammadiyah atau Sjamsul Kahar dari harian Serambi. I'm doing this not for money.

Mereka kebanyakan diam. Belakangan, ketika setiap kali bicara aku menyinggung ketiadaan PR, mereka mulai tersenyum. Aku mungkin juga harus memberi tugas yang lebih definitif. Mereka mungkin belum tahu apa news tersebut.

Hari ini kami pakai untuk membahas pekerjaan Rika dan Mahyar. Mereka berdua beruntung. Mereka punya kesempatan karyanya dibahas mendalam.

Mudah-mudahan pada sesi-sesi berikutnya mereka mau mengerjakan PR ... dengan kesadaran sendiri. Aku tetap pada keputusan aku bahwa mengerjakan PR bukan kewajiban. Aku tetap pada keputusan bahwa mahasiswa adalah orang dewasa. Mereka bisa mengambil keputusan sendiri.

Sjamsul sempat kirim SMS. Isinya, "Sabaaaaar mas, sabaaaaaaaaaar."

Linda Tangdialla dari Bisnis Indonesia kirim SMS, "... ini khan penyakit nasionaaaaaaaaaal."