Saturday, October 01, 2005

Diskusi Jurnalisme di Samarinda

Rusman dari Yayasan Pena Samarinda mengundang aku bicara soal jurnalisme di Samarinda bersama Mediyatama Suryodiningrat dari The Jakarta Post dan Katamsi Ginano dari PT Newmont Pacific Nusantara pada 1 Oktober ini.

Kami bikin acara di sebuah hotel kecil di Samarinda. Pesertanya, sekitar 10 orang dari Tribun Kaltim milik Kelompok Kompas Gramedia, Kaltim Post dari Kelompok Jawa Pos, maupun wartawan lain.

Aku banyak bicara soal beberapa elemen jurnalisme ala Bill Kovach dan Tom Rosenstiel namun aku juga banyak bicara soal bias nasionalisme dalam "media Indopahit" --Indonesia keturunan Majapahit.

Aku menyinggung soal sejarah jurnalisme yang baru bebas dari sensor dan tekanan pada saat Jendral Suharto jatuh 1998. Artinya, kebebasan pers baru berumur enam tahun. Sayangnya, kebebasan yang singkat ini langsung didominasi konglomerat media.

Kami sempat diajak mampir ke kantor Tribun Kaltim di Balikpapan. Mereka minta aku menilai komposisi berita mereka. Bergurau aku mengatakan, "Kalian harus mengubah suratkabar ini dari Tribun Jawa jadi Tribun Kaltim. Beritanya didominasi dari Jawa."

Rusman membelikan tiket pesawat untuk anakku Norman sehingga ia bisa ikut ke Samarinda. Norman kebetulan juga lagi riset soal Kalimantan untuk tugas sekolahnya. Alhasil, ia lebih sering tidur di kamar hotel!

Aku juga baru sadar bahwa Samarinda dan Balikpapan dekat sekali, 120 kilometer, dan bandar udara terletak di Balikpapan.