Wednesday, April 22, 2020

Renungan soal Wabah Covid19 dari Senayan


Pada 19 Februari berangkat
ke Amsterdam dgn masker N95.
Kami sekeluarga mulai karantina mandiri sejak 12 Maret 2020 --atau 10 hari sesudah pengumuman pertama dua kasus coronavirus oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret.

Kami praktis tak keluar rumah walau sempat mendatangi upacara pernikahan anak tetangga pada 14 Maret di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Kami hanya berada di gereja tersebut tak sampai 30 menit. Seram juga lihat ratusan orang berkumpul dalam upacara nikah itu.

Sapariah dan saya sebenarnya sudah kuatir dengan wabah coronavirus ini sejak awal Februari 2020. Saya pribadi memperhatikan ketika provinsi Hubei (ibukota Wuhan) dikunci oleh pemerintah Tiongkok pada 23 Januari 2020. Ada penerbangan langsung Wuhan-Jakarta dan Wuhan-Bali setiap hari.

Pada 19 Februari, ketika harus terbang ke Amsterdam, lalu naik kereta api ke Paris, saya praktis tak berjabat tangan. Saya bahkan pakai masker tipe N95 ketika berada di tempat ramai termasuk bandar udara. Virus tersebut sudah ditemukan positif di Malaysia, Singapura dan Thailand. Saya kuatir di Indonesia juga sudah ada walau belum ada bukti sampai 2 Maret.

Makan malam di Paris.
Di Paris, saya ikut pertemuan tahunan Human Rights Watch, selama seminggu di Paris Marriott Rive Gauche Hotel & Conference Center.

Saya sempat makan malam --sate, nasi goreng, dan es campur-- di Restaurant Indonesia. Ada Ibaruri, putri dari ketua Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit, maupun Nita, putri dari Sobron Aidit, salah satu pendiri restoran tersebut serta saudara D.N, menyambut saya di sana. Mereka membicarakan bagaimana Arief Budiman, dosen saya di Salatiga, pertama kali menulis restoran tersebut. Masih ada kliping esai Arief ditaruh di pigura.

Saya juga sempat berhenti di Brussels dan Amsterdam, bertemu dengan beberapa kenalan. Di Amsterdam, saya lihat bandar Schiphol jauh lebih sepi dari biasa. Brussels dan Paris terlihat tak ada kekuatiran terhadap wabah. Orang masih jalan. Museum ramai. Restoran ramai.

Belakangan saya tahu bahwa pada 18 Februari ada pertemuan selama lima hari dari gereja Christian Open Door (Église Porte Ouverte Chrétienne) di Mulhouse, sebuah kota kecil di Perancis, dimana banyak orang dari berbagai benua datang. Setidaknya 2,500 orang Kristen terbukti terkena coronavirus di Mulhouse. Kini sudah setidaknya 21,000 orang meninggal karena wabah di Perancis.

Saya kembali ke Jakarta pada 1 Maret 2020 dan keesokan harinya Jokowi mengumumkan dua kasus pertama di Depok.

Kembali ke tanah air, saya tak bisa membatalkan tiga janji kuliah di Surabaya dan Yogyakarta pada 9-11 Maret. Saya sekali lagi berjalan dengan masker dan alkohol buat bersihkan tangan. Berkali-kali saya mohon maaf buat mahasiswa dan dosen di Universitas Ciputra (Surabaya) dan Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) maupun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Surabaya) bahwa saya tak berjabat tangan.

Mereka maklum karena Jakarta sudah dianggap sebagai episentrum wabah.

Di Yogyakarta, saya menginap di rumah adik saya, Yohana Harsono, serta mengobrol dengan suaminya Benny Gunawan. Sebuah kesenangan kecil bertemu dengan dua keponakan saya. Rumah mereka didisain sendiri dengan apik.

Pada Januari, saya ingin batal ikut
pertemuan di Paris namun sulit
karena sudah beli tiket. 
Pada 11 Maret malam, saya tiba di Jakarta dan keesokan hari saya praktis sudah menolak bertemu orang kecuali satu janji dengan Kedutaan Selandia Baru atau beberapa kawan dekat datang ke rumah.


Secara umum, dalam beberapa naskah dan wawancara, saya mengatakan pemerintah harus meningkatkan jumlah tes dan transparansi data dalam menghadapi wabah ini.

Sebuah pernyataan saya, lewat siaran pers Human Rights Watch, cukup sering dikutip media, “The Indonesian government needs to ramp up testing to know the true extent of the coronavirus outbreak in the country. The authorities should also uphold the right to information and provide accurate statistics to the public.”

Worldometer menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat tes terendah di dunia. Hanya 204 orang dites per sejuta penduduk Indonesia. Bandingkan dengan 2.043 per sejuta orang di Thailand, 3.515 per sejuta orang di Malaysia, atau 24,738 per sejuta orang di Jerman.

Seseorang menulis dalam tanggapan Twitter saya, "... the U.S. had tested in average 150,000 people in a single day. Indonesia has tested less in 3 months than USA is testing every 8 hrs.”

Perbandingannya, di Amerika Serikat, sudah 45,000 orang meninggal karena coronavirus. Di Indonesia, "hanya" ada 635 korban meninggal.

Saya kuatir angka resmi tersebut tak mencerminkan kenyataan di lapangan. Sedikitnya tes ini menunjukkan pemerintahan Jokowi belum siap hadapi wabah. Alat laboratorium, pakaian pengaman, zat kimia maupun organisasi dan prosedur belum siap.

Sampai hari ini tes masih dilakukan kurang dari 56,000 orang untuk negara dengan penduduk 280 juta ini. Ini belum lagi dengan kematian para pekerja kesehatan. Sudah lebih dari 40 dokter dan perawat meninggal karena coronavirus.

Di Surabaya, saya melatih aktivis
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

pada 9 Maret --tanpa jabatan tangan.
Dampak dari kekurangan ini adalah dimunculkan beberapa istilah resmi soal wabah ini: ODP (Orang Dalam Pengamatan); PDP (Pasien Dalam Pengamatan) maupun OTG (Orang Tanpa Gejala).

Di negara-negara dengan tes memadai, istilahnya cuma satu saja: positif atau negatif. Perhatikan Worldometer. Tak ada ODP, PDP atau OTG.

Semuanya hanya menggambarkan bahwa Kementerian Kesehatan belum sanggup bikin tes secara memadai. Sampai pertengahan Maret hanya ada satu laboratorium di Jakarta buat menguji virus ini. Kini sudah ada 28 laboratorium namun belasan provinsi masih belum punya lab buat lakukan tes.

Tanpa tes yang memadai, kita ibaratnya masuk pertempuran melawan wabah ini dengan "mata tertutup." Di Jakarta, kita tak tahu cluster mana saja yang ada. Beberapa media menyebut ada cluster di Petamburan. Ada juga cluster dari Karawang, Bogor dan Sumedang.

Kelemahan ini bukan kejahatan. Mungkin beberapa orang yang mengambil kebijakan ini teledor, bahkan ceroboh.

Namun meratapi kecerobohan atau kebodohan mereka takkan membawa perubahan. Pemerintahan Jokowi berusaha mengadakan mesin laboratorium lebih banyak juga mesin ventilator yang vital dalam mengatasi kesulitan bernafas di paru-paru pasien. Di seluruh Indonesia jumlah ventilator tak lebih dari 9000. Saya menghargai langkah-langkah kecil ini walau terlambat.

Saya sempat menulis puisi pendek soal udara Jakarta yang bersih berkat wabah:

Jakarta terlihat cantik minggu ini. 
Langit biru, awan putih empuk, pepohonan hijau, bunga bermekaran.
Pejalan kaki tenang, tanpa kuatir trotoar mereka dirampas motor atau mobil.
Semua terlihat tenang dan aman. 

Mirip intro film horor yang menegangkan.


Dalam suasana mencemaskan, takkan terhindar, selalu saja ada orang yang mencari keuntungan besar. Misalnya, soal kursus online lewat perusahaan milik seorang penasehat Jokowi. Atau program kredit, juga lewat perusahaan milik penasehat Jokowi lainnya. Ada conflict of interest. Saya kira perlu ada wartawan atau peneliti mulai merekam tindak-tanduk orang beginian.

Jakarta malam hari saat wabah.
Di berbagai media sosial, saya perhatikan banyak orang kuatir krisis kesehatan ini akan menjadi krisis ekonomi. Bila berkepanjangan, seperti 1997-98, krisis ekonomi bisa berubah jadi krisis sosial karena bahan pangan berkurang dalam jumlah besar.

Dewan Perwakilan Rakyat, tak kalah licin, membahas beberapa rancangan hukum yang kontroversial, termasuk Omnibus Law maupun Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Ini menyakitkan sekali. Ini akan bikin marah banyak orang bila tiba-tiba produk hukum yang sering diprotes tersebut resmi disahkan.

Saya pernah meneliti dan menulis buku soal kekerasan pasca-krisis ekonomi Asia --Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia-- dimana lebih dari 90,000 orang mati dibunuh di berbagai tempat di Indonesia. Masa krisis ini adalah masa dimana orang seyogyanya mengedepankan kepentingan masyarakat daripada lakukan business as usual. Parlemen memang tetap harus bekerja. Perusahaan juga tetap harus bekerja. Namun lakukan demi kepentingan publik. Bukan bisnis dan manuver biasa.

Saya harap krisis ekonomi ini tak berkepanjangan sampai tahun depan.

Langit Jakarta biru, awan putih,
polusi udara minimal, dalam
suasana wabah ini.
Bila baca buku sejarah soal wabah flu Spanyol pada 1918, korban gelombang kedua jauh lebih besar dari gelombang pertama. Wabah tersebut membunuh setidaknya 50 juta orang di seluruh dunia termasuk 675,000 di Amerika Serikat.

Mengapa? Orang cenderung senang ketika pemerintah mengumumkan lockdown selesai dan keluar rumah, bersenang-senang. Capek sekali tinggal dalam rumah berbulan-bulan bukan?

Artinya, sesudah lockdown ini, ketika dibuka, tetaplah berhati-hati karena ia masih bisa mematikan, bahkan lebih mematikan.

Kita tak tahu kapan wabah ini berhenti dan bagaimana akan berhenti. Ia sangat tergantung ditemukan vaksin buat lawan coronavirus. Saya hanya tahu kami sekeluarga sudah enam minggu berada di rumah kami --mengatur pekerjaan rumah tangga bersama, bekerja bersama, mendampingi anak-anak serta komunikasi dengan berbagai kawan dan kolega. Kami sekeluarga seyogyanya juga harus bersiap bila wabah ini berlarut-larut sampai tahun depan.

No comments: