Friday, March 20, 2026


"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power

Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Saya pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Saya suka menulis soal jurnalisme. Bill Kovach, guru jurnalisme, mendidik saya buat menjadi wartawan ketika belajar di Universitas Harvard.


Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.

Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. 

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge, dekat Boston. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York sehingga saya sering berkunjung ke New York maupun kota-kota sekitarnya.



Tuesday, March 17, 2026

Tiga Wartawan Dibunuh di Timor Leste Tahun 1999

Saya mengunjungi Centro Nacional Chega di Dili, Timor Leste, sebuah museum dan pusat dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia, dulunya bekas penjara yang dipakai pemerintah Indonesia buat tahanan politik. Ada jutaan dokumen, rekaman audio dan video, dari para korban disimpan. Saya menghabiskan 2.5 jam berkeliling. 

Ada sebuah poster dimana tiga wartawan dibunuh tahun 1999 di Timor Leste saat militer Indonesia menjalankan kebijakan bumi hangus masa referendum. 

Joaquim Bernardino Guterres: Wartawan radio Matebean, juga mahasiswa fakultas hukum Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ditembak oleh polisi Indonesia pada 26 Agustus 1999, ironisnya, ketika dia minta perlindungan dari serangan milisi di Dili. Dia masih kuliah ketika pulang ke Timor Leste. 

Sander Thoenes: Wartawan Financial Times, dibunuh pada 21 September 1999 di Becora, Dili, ketika satu batalyon tentara  Indonesia, lewat dengan truk. Menurut Florindo Araujo, sopir ojek yang mengantar Sander, mereka dicegat beberapa tentara. Araujo lari dan sembunyi di semak-semak. Tentara menembak Sander dan jenasahnya disingkirkan ke pinggir jalan. 

Agus Mulyawan: Fotografer Jiji Press, bertugas di Los Palos, ketika dibunuh bersama tujuh biarawati Katholik pada 25 September 1999. Agus mahasiswa Universitas Gadjah Mada, biasa mengambil foto demonstrasi tahun 1998 di Yogyakarta, ketika diminta bekerja buat Jiji Press, Jepang. 

Saya kebetulan kenal dengan ketiga wartawan ini. Joaquim pernah ikut kursus jurnalisme di Ciloto, Puncak, dekat Jakarta, pada tahun 1997 dimana saya ikut mengajar. Ia diadakan oleh Institut Studi Arus Informasi. Sander minta bantuan saya buat cari kost di Tebet ketika dia hendak pindah ke Jakarta dari Belanda. Agus Mulyawan pernah menginap di rumah saya di Bumi Serpong Damai, Tangerang, sebelum terbang ke Dili.

Referensi

Liputan soal pembunuhan Agus Mulyawan dan tujuh biarawati dan biarawan oleh Ajianto Dwi Nugroho dari majalah Pantau tahun 2001. 

Laporan 279 halaman oleh Geoffrey Robinson (2003) dimana ada bagian soal penembakan terhadap Joaquim Bernardino Guterres.

Cerita fotografer John Stanmeyer soal pembunuhan Joaquim Bernardino Guterres dan bagaimana dia memotretnya. Foto karya Stanmeyer menjadi kulit muka majalah Time.

Harian Christian Science Monitor menulis laporan panjang soal pembunuhan terhadap Sander Thoenes. Monitor menugaskan wartawan Cameron Barr buat investigas pembunuhan tersebut. Ia dimuat dalam empat seri plus editorial.