Tuesday, June 09, 2026


"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power

Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Saya pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Saya suka menulis soal jurnalisme. Bill Kovach, guru jurnalisme, mendidik saya buat menjadi wartawan ketika belajar di Universitas Harvard.


Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.

Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. 

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge, dekat Boston. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York sehingga saya sering berkunjung ke New York maupun kota-kota sekitarnya.



Bertemu Goenawan Mohamad

Oleh Falahi Mubarok


Ada
 banyak perjumpaan yang datang tanpa direncanakan. Namun, ada pula perjumpaan yang terasa seperti hadiah dari semesta. Bagi saya, bertemu langsung dengan Goenawan Mohamad adalah salah satunya.

Kesempatan itu terasa begitu berharga. Tidak banyak jurnalis, apalagi yang bekerja di daerah, memiliki kesempatan untuk duduk dalam satu ruangan, berdiskusi, dan mendengar langsung pengalaman salah satu tokoh yang membentuk wajah jurnalisme Indonesia.

Saya yang dulu hanya mengenal namanya melalui tulisan dan sepak terjangnya di dunia pers tidak pernah membayangkan bisa bertemu langsung dengannya. Saat mulai bekerja di sebuah media lokal di Malang, salah satu buku yang "wajib" saya baca adalah Seandainya Saya Wartawan Tempo. Dari buku itulah saya mengenal sosok Goenawan Mohamad sebagai jurnalis, penulis, sekaligus pemikir yang kerap menghadirkan perspektif berbeda.

Perjumpaan ini tentu tidak terjadi begitu saja.

Jauh hari sebelumnya, Andreas Harsono mengirimkan undangan melalui email dan WhatsApp. Andreas saya kenal lewat bukunya “Agama” Saya Adalah Jurnalisme. Meski saya lebih banyak berkecimpung di dunia foto jurnalistik, saya sangat menikmati membaca buku yang lazimnya menjadi bacaan para jurnalis tulis tersebut.

Isi undangannya sederhana, namun membuat saya bersemangat: Goenawan Mohamad akan menyerahkan penghargaan Oktovianus Pogau kepada Christ Belseran di Teater Salihara.

Saya langsung berpikir, ini kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Selain mengenal Christ dengan cukup baik, saya juga ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar dan memperluas jejaring. Karena itu saya mengajak Bagus Hartarto, seorang kawan yang bergerak di dunia musik sekaligus usaha.

Ia mengangguk setuju.

Ketika hari yang ditentukan tiba, kami berangkat menuju Komunitas Salihara. 

Begitu tiba di halaman, seorang petugas keamanan menghampiri.

"Ada acara apa, Mas?" tanyanya.

"Kami mau menghadiri penyerahan penghargaan yang akan diserahkan Pak GM," jawab saya.

Kami dipersilahkan masuk. Ruangan luas dengan banyak kaca, buku dan lukisan 

Dari balik jendela ruangan, saya melihat diskusi kecil yang tampak hangat. Kami bersalaman satu per satu, lalu duduk di antara para tamu yang hadir. Suasananya jauh dari kesan formal. Tidak ada jarak yang kaku. Semua orang tampak nyaman berbincang dan bertukar cerita.

Dalam kesempatan itu, Andreas Harsono menjelaskan alasan Yayasan Pantau memberikan Penghargaan Pogau kepada Christ Belseran.

Christ dinilai berani memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di kepulauan Maluku. Ia tidak hanya menulis dari kejauhan, tetapi juga ikut hidup bersama mereka. Masuk hutan, tidur bersama masyarakat adat, mendengar langsung cerita mereka, dan mengikuti aktivitas sehari-hari mereka.

Bagi seorang jurnalis, keberanian seperti itu bukan perkara sederhana.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan.

Setelah itu, Goenawan Mohamad dipersilakan menyampaikan beberapa patah kata.

Dan di situlah saya benar-benar merasakan mengapa begitu banyak orang menaruh hormat kepadanya. Dan dia juga terima banyak penghargaan. SEA Write Award, A Teeuw Award. Louis M. Lyons Award dari Universitas Harvard, Committee to Protect Journalists, “Editor of the Year” dari World Press Review. Chevalier dans L'ordre des Arts et des Lettres Award dari pemerintah Perancis. The Japan Foundation Award. Cross of the Order of "Isabel la Católica" dari Raja Spanyol Felipe VI.

Di usia yang tidak lagi muda, beliau bercerita dengan runut. Ingatannya tajam. Pendengarannya baik. Cara bertuturnya tenang, meski sesekali terdengar lirih.

Ia bercerita tentang masa kecilnya, keluarganya, perjalanan mendirikan Tempo, hingga berbagai pengalaman yang membentuk pandangannya tentang kehidupan dan jurnalisme.

Namun dari sekian banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya.

"Keberanian memang penting. Tapi jangan lupa integritas."

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa menghantam.

Di tengah zaman ketika keberanian sering dipamerkan di media sosial, ketika banyak orang berlomba-lomba tampil paling vokal, integritas justru menjadi sesuatu yang semakin langka.

Padahal tanpa integritas, keberanian hanya akan menjadi pertunjukan.

Setelah sesi berbicara selesai, Andreas yang bertindak sebagai moderator mempersilahkan peserta untuk berdiskusi.

Satu per satu peserta mulai mengangkat tangan.

Ada Anisa Inayatullah orang Buton kelahiran Ambon, Bagus Hartanto asal Batu, Dela Srilestari asal Rantepao, Devana Aura asal Pontianak, Meidella Syahni asal Solok, RTS Masli asal Palembang, Syahar Banu asal Surakarta. Pertanyaan datang dari berbagai sudut pandang; mulai dari jurnalisme, kebudayaan, politik, hingga masa depan demokrasi Indonesia.

Bagus Hartanto bertanya bagaimana GM menjalani kehidupan sebagai anak yatim? 

Ayahnya, Zaid Mohamad, pernah dibuang Belanda di Boven Digoel tahun 1926, selama empat tahun. Sesudah bebas, Zaid dan keluarga kembali ke Batang, buka usaha pembuatan kapal. Pada 1947, Zaid ditangkap Belanda, saat Agresi Militer, dan ditembak mati di Batang. Umur GM baru enam tahun. Namun GM maupun saudara-saudaranya tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil. Abangnya, Kartono Mohamad, menjadi dokter, pernah mengepalai Ikatan Dokter Indonesia. 

GM bilang memang kurang mengenal ayahnya. Dia menjawab kemungkinan dia menjadi haus pengetahuan karena dibiasakan membaca dan mencintai buku. 

Membaca buku jadi bekal hidup. Dia selalu ingat kesalahan masa muda: menghilangkan kamus Webster milik ayahnya. 

Ada yang bertanya bagaimana GM melihat pemerintahan Prabowo Subianto dan kemunduran demokrasi Indonesia. 

Orang semakin tua cenderung makin pesimis, makin merasa sudah melihat banyak. Anak muda, sebaliknya, selalu ingin ada perubahan, selalu optimis. Dia sering bergaul dengan anak muda sehingga dia selalu optimis. 

Suasana menjadi semakin hidup. 

Tidak ada jawaban yang tergesa-gesa. Tidak ada pertanyaan yang dianggap remeh. Semua didengarkan dengan sungguh-sungguh.

Di tengah percakapan itu saya menyadari satu hal.

Yang membuat seseorang besar bukan hanya karya atau reputasinya.

Melainkan kesediaannya untuk terus belajar, terus mendengar, dan tetap rendah hati meski telah mencapai banyak hal.

Pertemuan itu hanya berlangsung satu jam, 15 menit. “Maaf saya baru selesai operasi,” kata GM. 

Dia berjalan dengan tongkat, jalannya pelan, tiga langkah berhenti. GM berjalan menuju elevator yang membawanya kembali ke kantor. 

Saya pulang membawa lebih dari sekadar foto atau kenangan. Saya membawa pelajaran.

Bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal keberanian mengungkap fakta.

Tetapi juga soal menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh oleh opini, kemampuan untuk mendengar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk kebijaksanaan yang mulai langka.

Terima kasih, Pak GM. 

Untuk cerita, pelajaran, dan pengingat bahwa integritas perlu diperjuangkan.


Salihara, 4 Juni 2026


Falahi Mubarok adalah wartawan Mongabay Indonesia, dulu kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, kini tinggal di Maja, Lebak.

Tuesday, March 17, 2026

Tiga Wartawan Dibunuh di Timor Leste Tahun 1999

Saya mengunjungi Centro Nacional Chega di Dili, Timor Leste, sebuah museum dan pusat dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia, dulunya bekas penjara yang dipakai pemerintah Indonesia buat tahanan politik. Ada jutaan dokumen, rekaman audio dan video, dari para korban disimpan. Saya menghabiskan 2.5 jam berkeliling. 

Ada sebuah poster dimana tiga wartawan dibunuh tahun 1999 di Timor Leste saat militer Indonesia menjalankan kebijakan bumi hangus masa referendum. Referendum diadakan pada 30 Agustus 1999 dengan hasil 78.5 persen menolak otonomi dalam negara Indonesia dari total 446.953 suara. Artinya, warga Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia. 

Pemerintah Indonesia belum berhasil menangkap, memeriksa, apalagi mengadili orang-orang yang disebut dalam berbagai laporan terlibat dalam pembunuhan ketiga wartawan ini. 

Joaquim Bernardino Guterres: Wartawan radio Matebean, juga mahasiswa fakultas hukum Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ditembak oleh polisi Indonesia pada 26 Agustus 1999, ironisnya, ketika dia minta perlindungan dari serangan milisi di Dili. Dia masih kuliah ketika pulang ke Timor Leste. 

Sander Thoenes: Wartawan Financial Times, dibunuh pada 21 September 1999 di Becora, Dili, ketika satu batalyon tentara  Indonesia, lewat dengan truk. Menurut Florindo Araujo, sopir ojek yang mengantar Sander, mereka dicegat beberapa tentara. Araujo lari dan sembunyi di semak-semak. Tentara menembak Sander dan jenasahnya disingkirkan ke pinggir jalan. 

Agus Mulyawan: Fotografer Jiji Press, bertugas di Los Palos, ketika dibunuh bersama tujuh biarawati Katholik pada 25 September 1999. Agus mahasiswa Universitas Gadjah Mada, biasa mengambil foto demonstrasi tahun 1998 di Yogyakarta, ketika diminta bekerja buat Jiji Press, Jepang. 

Saya kebetulan kenal dengan ketiga wartawan ini. Joaquim pernah ikut kursus jurnalisme di Ciloto, Puncak, dekat Jakarta, pada tahun 1997 dimana saya ikut mengajar. Ia diadakan oleh Institut Studi Arus Informasi. Sander minta bantuan saya buat cari kost di Tebet ketika dia hendak pindah ke Jakarta dari Belanda. Agus Mulyawan pernah menginap di rumah saya di Bumi Serpong Damai, Tangerang, sebelum terbang ke Dili.

Referensi

Liputan soal pembunuhan Agus Mulyawan dan tujuh biarawati dan biarawan oleh Ajianto Dwi Nugroho dari majalah Pantau tahun 2001. 

Laporan 279 halaman oleh Geoffrey Robinson (2003) dimana ada bagian soal penembakan terhadap Joaquim Bernardino Guterres.

Cerita fotografer John Stanmeyer soal pembunuhan Joaquim Bernardino Guterres dan bagaimana dia memotretnya. Foto karya Stanmeyer menjadi kulit muka majalah Time.

Harian Christian Science Monitor menulis laporan panjang soal pembunuhan terhadap Sander Thoenes. Monitor menugaskan wartawan Cameron Barr buat investigas pembunuhan tersebut. Ia dimuat dalam empat seri plus editorial.