Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Saturday, August 08, 2026


"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power

Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Saya pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Saya suka menulis soal jurnalisme. Bill Kovach, guru jurnalisme, mendidik saya buat menjadi wartawan ketika belajar di Universitas Harvard.


Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.

Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. 

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge, dekat Boston. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York sehingga saya sering berkunjung ke New York maupun kota-kota sekitarnya.



Thursday, November 07, 2024

Susanna Harsono, Perempuan dengan Skizofrenia, Terbuka soal Kesehatan Jiwanya

Oleh Norman Harsono di Denpasar dan Andreas Harsono di Jember 

Susanna Harsono, seorang perempuan dengan skizofrenia paranoid, meninggal dunia sesudah mengalami kebingungan luar biasa, yang mempengaruhi keinginan makan dan minum, lantas masuk rumah sakit, namun tak tertolong serta menghembuskan nafas terakhir pada Selasa, 5 November, di RSUD Soebandi Jember, Jawa Timur. Ia menjelang ulang tahunnya ke-55.

Susanna menderita skizofrenia paranoia sejak tahun 1990, saat berusia 23 tahun. Dia sering menjalani terapi kejiwaan di beberapa rumah sakit kesehatan mental termasuk Menur (Surabaya), Lawang (Malang), serta Grogol (Jakarta). Dia mendengar "suara-suara" mendengung di kepalanya, dan kadang-kadang, bila tak minum obat, mengomel jika lapar atau mengantuk. 

Namun dia tidak menyembunyikan gangguan jiwanya. Dia selalu memperkenalkan diri sebagai orang dengan skizofrenia. Dia rajin berobat, setiap ada masalah, selalu menemui dokter, sehingga bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dia senang merajut, main piano, menari dan menyanyi.

“Ce Susan dikenal di semua rumah sakit di Jember. Orangnya suka cerita, sering sekali datang ke rumah sakit,” kata Rochmah Hidayati dari Homecare Jember Raya. 

Susanna kelahiran Jember pada November 1969 dari pasangan Ong Seng Kiat dan Metri W. Harsono. Dia lahir kembar bersama Rebeka Harsono, terpaut hanya setengah jam, yang juga dapat diagnosa gangguan jiwa.

Mereka berdua sekolah dasar di SD dan SMP Aletheia Jember, lantas SMA Katolik Santo Paulus Jember. Sesudah lulus, Susanna meneruskan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, namun merasa tak cocok setelah satu semester. Pada 1989, dia pindah ke Asian Institute for Liturgy and Music di Manila, belajar selama dua tahun. Namun dia drop out. Dia balik ke Indonesia, sempat kuliah setahun di Akademi Seni Karawitan Indonesia di Surakarta, namun juga gagal, sampai dia terdiagnosa skizofrenia. 

Rebeka kuliah di Universitas Gadjah Mada, antara 1988 dan 1992. Ini juga yang mendorong Metri pindah ke Yogyakarta, menemani Susanna dan Rebeka, plus dua adik mereka. 

Setiap tahun, terutama November dan Desember, Susanna tinggal di Jember bersama papanya. Pasangan Ong Seng Kiat dan Metri Harsono hidup terpisah sejak 1988. Di Jember, Ong Seng Kiat –biasa dipanggil Sengkek– adalah pedagang alat listrik juga pernah usaha pertanian. Sengkek meninggal pada Juli 2013 di Jember. 

Sejak terdiagnosa disabilitas psikososial, kegiatan Susanna adalah membantu pekerjaan di rumah serta bepergian ke Jember, maupun Jakarta, dimana ada saudara-saudaranya tinggal. 

Susanna juga penggemar kuliner. Seleranya tinggi, seringkali dia minta dimasakin atau dibelikan makanan: bakso, empek-empek, nasi rawon, pizza, black pepper steak, melted brownies, dan lain-lain. 

Perawatan Dementia

Ketika mamanya mulai terkena dementia, perlahan-lahan mulai kehilangan daya ingat dan daya pikir, Susanna merawat Metri di Jember, beberapa kali masuk rumah sakit, serta ketika Metri terkena stroke, hanya berbaring di ranjang sejak Januari 2024.  

Di Jember, dia mendampingi mamanya, bersama beberapa perawat dari Jember Raya Homecare, yang setiap hari mendampingi Metri, di rumah mereka, Jalan Samanhudi IV, Jember. 

Pada pertengahan Oktober 2024, Susanna berkali-kali mengatakan bahwa dia mengalami “pelecehan seksual” pada 6 Oktober di rumahnya. Pelakunya, diduga seorang lelaki, umur 56 tahun, yang juga sekolah menengah sama, serta warga gereja sama. Susanna minta bantuan dia mengantar sekarung beras ke rumah dari gereja. 

Korban satunya adalah perawat homecare, usia 21 tahun, yang biasa merawat Metri. 

Susanna kenalan dengan penyanyi Atiek CB, seorang sahabat keluarga Harsono, yang peduli dengan kesehatan mental. Mereka bergurau soal bagaimana bikin rekaman musik

Si perawat menceritakan kejadian saat si lelaki datang ke rumah, mulanya bersalaman, hendak kenalan, lantas merangkul, “Tangannya mau kemana-mana, mau ke dada saya, saya tepis.”

“Mulutnya di kuping saya, kayak mau mencium.”

Dia lari ke Indomaret, sekitar 800 meter dari rumah, menangis dan gemetar. 

Menurut Susanna, si lelaki merangkulnya dan mendekatkan pinggul. Tangannya menyentuh buah dada. Susanna merasa terganggu. 

“Aku tidak mau pacaran. Aku bilang.” 

“(Nama pelaku), saya tidak ada niat ke sana. Saya tidak ada nafsu. Saya cuma minta tolong diantar beras.” 

Kejadian berlangsung sekitar 15 menit sampai pelaku mengikuti perawat ke Indomaret. Kedua korban segera melaporkan kejadian tersebut kepada Jember Raya Homecare, perusahaan dimana si perawat bekerja, maupun kepada keluarga Harsono. Rochmah Hidayati langsung datang ke tempat kejadian, bicara dengan perawat. Sapariah Harsono, isteri dari Andreas, wawancara perawat dan merekamnya. Yohana, adiknya Susanna, menghubungi pendeta dari gereja tersebut. 

Dalam dua surat permintaan maaf, si lelaki membantah melakukan penyerangan seksual, tapi mengakui lakukan “pelecehan seksual.” Dalam surat terpisah, pendeta menilai lelaki tersebut sebagai anggota gereja yang “taat ibadah” serta anaknya sedang belajar di theologi. Dia memberi sanksi dengan tak boleh menerima sakramen perjamuan kudus di gereja selama enam bulan. 

Si perawat memutuskan berhenti bekerja pada 20 Oktober serta tak mau bahas kejadian tersebut. Dia trauma dan merasa aib buat keluarganya. Minggu kedua, Susanna sering sebut frasa “pelecehan seksual” bahkan percobaan pemerkosaan, menurut beberapa tetangga dan keluarga. Dia terlihat kesal sekali, sering jalan dan duduk sendirian, menurut beberapa tetangga. 

Sejak minggu keempat Oktober, Susanna mengunci diri dalam kamar, lampu dimatikan, makan dan minum terbatas. Kesehatan menurun drastis. Fitrianing Azizah, seorang perawat yang menunggu di rumah, membawanya ke ruang gawat darurat RSUD Jember pada 30 Oktober. 

Menurut Fitrianing, “Saat itu sore jam 5 kondisi Ce Susan sudah lemas di dalam kamar, dengan keadaan telanjang dari perut ke bawah dan penuh dengan air kencing dan pup dan darah dari bibirnya yg digigitin. Sekitar jam 17.30 saya bawa Ce Susan dengan ambulan ke IGD RS Soebandi.” 

Susanna Harsono ikut foto bersama kelas menulis di Yayasan Pantau dengan pengampu Janet E. Steele di Jakarta pada Juli 2023.

Hasil laboratorium maupun scan organ, menunjukkan bahwa kesehatan fisiknya menurun drastis karena dia kekurangan makan dan minum. Para dokter memutuskan menaikkan daya tahan tubuh Susan, pakai infus dan sonde, serta hendak mengirimnya ke rumah sakit kesehatan jiwa di Lawang, bila stabil. 

Orang dengan disabilitas mental punya toleransi yang berbeda terhadap kekerasan daripada orang biasa. Susanna juga orang Kristen yang kolot. Dia menolak menonton film dengan adegan orang "berpacaran." Dia misalnya keberatan dengan film Hollywood “Barbie” karya Greta Gerwig karena ada orang berpakaian minim –udara sepanas apapun harus berpakaian panjang. Pelecehan seksual tersebut sangat mengganggu dirinya. 

“Susan adalah satu-satunya dari keluarga yang terus-menerus mendampingi mama, hidup bersama mama, sejak mulai kena dementia, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, sampai bulan lalu. Kepergiannya bikin kaget. Mama masih ada, ironisnya, anak yang merawatnya sudah pergi duluan,” kata Yohana Harsono. 

Saudara kandung yang ditinggalkan, selain Andreas, Rebeka dan Yohana, juga Debora Harsono di Ambon, serta Heylen Harsono di Jakarta. Saudara lainnya termasuk Deasy Wega Hariyanti dan Hardian Harsono, dari pernikahan kedua Ong Seng Kiat dengan Winarti, serta Febrina Harsono dan Dani Hariyanto dari pernikahan ketiga dengan Lasmiyati. 


Norman Harsono adalah keponakan dari Susanna Harsono. Andreas Harsono adalah kakak dari Susanna Harsono. Mereka tinggal di Jakarta. 

Sunday, July 14, 2024

Andreas Harsono: Dengan Pembangunan Berkesinambungan, Maja Bisa Menjadi Tempat Tinggal yang Lebih Baik dari Jakarta


Andreas Harsono adalah seorang wartawan, aktivis, dan peneliti, yang kini bermukim di Maja, Lebak. Sebelumnya ia tinggal selama 30 tahun di Jakarta, dan pernah tinggal di Phnom Penh (Kamboja), Bangkok (Thailand), serta New York (Amerika Serikat). 

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai sejak tahun 1980-an saat dia meliput dampak negatif ketergantungan sistem transportasi Indonesia pada motorisasi. Selama 3 dekade terakhir ia banyak menulis soal hak asasi manusia. 

Andreas ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen pada 1994, lantas membangun Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Pantau di Jakarta. Ia menulis soal privatisasi Perusahaan Air Minum Jakarta sejak 1998. Dia turut mengkritik berbagai kebijakan pemerintah Indonesia soal penyedotan air tanah di Jakarta. Dia secara konsisten menulis soal bahaya permukaan tanah Jakarta turun, risiko kemacetan lalu lintas, polusi udara dan suara, serta kekacauan negara Indonesia dalam memberantas korupsi. 

Pada Sabtu 13 Juli 2024, SekitarMaja.com berkesempatan untuk mewawancarai Andreas yang sejak awal 2024 tinggal di rumah barunya di Citra Maja Raya bersama sang istri, Sapariah Saturi, yang juga seorang wartawan dan editor dari Mongabay Indonesia. 

Bersama SekitarMaja.com, Andreas berbicara mengenai alasannya memilih untuk bermukim di Maja, pandangannya soal Kota Mandiri Maja, serta keresahannya mengenai kerusakan lingkungan hidup di daerah Maja dan sekitarnya. 

Berikut petikan wawancara SekitarMaja.com bersama Andreas Harsono.

Andreas Harsono pindah dari Jakarta karena
polusi udara, polusi suara, kemacetan lalu lintas, dan banjir.

Bagaimana Anda memutuskan untuk tinggal di Maja?

Sapariah Saturi, isteri saya, punya kegemaran berkebun. Dia pernah berkebun di puncak apartemen tempat kami tinggal di bilangan Palmerah, Jakarta. Namun, pada Mei 2021 atap apartemen tak bisa lagi jadi kebun. Kami terdorong mencari rumah tapak agar bisa berkebun. 

Daya dorong lain adalah polusi udara, polusi suara, kemacetan lalu lintas, dan banjir di Jakarta. Belum lagi permukaan tanah Kota Jakarta yang turun sekitar 17 centimeter rata-rata tiap tahun. Pada 2050, Senayan dan Palmerah diperkirakan jadi pinggiran pantai bila Pemerintah Indonesia tak ambil tindakan serius buat hentikan pengambilan air tanah. 

Kami sekeluarga –termasuk dua anak– ingin punya tempat dengan lingkungan lebih baik. Saya pribadi ingin tinggal di tempat yang jauh lebih sepi, lebih tenang dari Palmerah. Saya sudah tiga dekade tinggal di bilangan Palmerah. 

Namun, ada juga daya tarik. Kebetulan ada kawan-kawan kami, dari Rangkasbitung, Lebak sampai Tigaraksa, yang mengajak kami membeli rumah di daerah ini. Dari Google Maps, mudah dilihat bahwa daerah sekitar Jakarta yang masih hijau adalah sisi barat di Kabupaten Lebak. Sisi timur (Bekasi), sisi selatan (Depok dan Bogor) bahkan sisi barat terdekat (Tangerang dan Tangerang Selatan) sudah didominasi beton. 

Seorang wartawan yang tahu liputan saya dan tampaknya juga paham dengan pengetahuan saya soal hak akan air dan sanitasi berkata, ‘Mas Andreas beli saja rumah di Maja. Hitung-hitung bisa bantu mengawasi air dan sungai di Lebak.’” 

Apa kelebihan Maja sebagai sebuah kota mandiri? Dan hal apa yang harus ditingkatkan lagi agar Maja bisa menarik lebih banyak orang untuk mau tinggal di sini?

Saya lihat semua perumahan di daerah Maja, kurang-lebih sama dengan real estate lain di Indonesia, misal di Tangerang Selatan, termasuk kawasan Bumi Serpong Damai, Agung Sedayu, Alam Sutera, Metropolitan Land dan lainnya. Tujuan bisnis mereka praktis hanya mencari laba. Ada pemanis yang benar baik, misalnya pembangunan stasiun Cisauk dan Jurangmangu, yang lebih ramah pejalan kaki. 

Di Indonesia, mudah-mudahan saya salah, belum terlihat perusahaan pengembang dengan visi soal perumahan yang ramah lingkungan. Kalau pemerintah Lebak, maupun semua developer besar di Maja, mau membuat daerah ini lebih ramah lingkungan, mereka perlu mengajak warga duduk dan bicara – baik warga setempat maupun para pendatang. 

Maja bisa menjadi tempat tinggal yang lebih baik dari Jakarta, maupun Tangerang Selatan, bila dilakukan “pembangunan berkesinambungan” –meminjam istilah dari Emil Salim, ekonom dan profesor emeritus dari Universitas Indonesia.” 

Cara pandangnya bagaimana?

Pada 1970-an ketika mulai bangun Singapura, Perdana Menteri Lee Kuan Yew mengatakan ada empat indikator kota terbelakang: perumahan kumuh, kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan banjir. 

Singapura bangun mulai bangun MRT (kereta api dalam kota) pada 1987. Udara bersih, kebisingan terjaga. Trotoar dibangun dengan permukaan rata. Perumahan kumuh diganti dengan apartemen bersubsidi. 

Bandingkan dengan Bumi Serpong Damai? Banjir ada! Motorisasi kencang! Trotoar minimal. Sering trotoar dibuat dengan undak-undak, permukaan tidak rata, tak ramah pejalan kaki. Tiap ada bangunan, entah rumah atau bisnis, permukaan trotoar naik-turun. 

Trotoar dan MRT adalah indikasi sistem transportasi berkelanjutan. Perumahan kumuh silakan periksa sendiri. Gated community biasanya rapi di dalam, tapi beda sekali di balik tembok. Coba lihat perumahan sekitar stasiun Sudimara. Saya berani bertaruh dengan mengandalkan jalan-jalan lebar, tanpa bangun trotoar dan dorong kereta api, Tangerang Selatan akan macet dalam satu dekade. 

Saya memilih Citra Maja Raya dari Ciputra Group lebih karena saya agak kenal almarhum Ciputra. Saya kenal beberapa kolega Ciputra termasuk Goenawan Mohamad dan Eric Samola. Goenawan pendiri majalah Tempo. Samola berperan dalam membangun Bintaro Jaya, background hukum, bantu menyusun pendekatan hukum dalam pembebasan lahan Bintaro. Saya kenal mereka karena dulu pernah bekerja di Institut Studi Arus Informasi pimpinan Goenawan Mohamad. Ciputra juga suka seni. Naluri saya mengatakan orang dengan kepekaan seni macam Ciputra seharusnya lebih menghargai alam. 

Anda, istri dan suami, memiliki rumah yang direnovasi dengan unik, tak seperti rumah-rumah lain. Bisa jelaskan konsep renovasi rumah Anda secara singkat? Apakah ada tujuan di balik pemilihan konsep tersebut?

Sapariah ingin rumah kecil yang dibelinya di Maja diperbesar, rumah dua lantai, dengan tapak tanah, yang terpaksa ditutup buat bangunan, diganti dengan lahan buat tanaman. Dia minta Yu Sing, arsitek dari Akanoma Bandung, buat merancang desain rumah. Deni Nugraha dari Akanoma juga ikut mengerjakan arsitektur rumah. 

Compok Cellep, dalam bahasa Madura,
artinya rumah yang sejuk. 
Menurut Yu Sing, prinsipnya sederhana. Rumah perlu banyak ventilasi serta lahan buat tanaman. Makin banyak tanaman, makin mudah rumah jadi adem. Hukum alam, udara panas naik dari bawah ke atas. Maka ventilasi diatur agar udara mengalir ke atap rumah. Ia dilengkapi dengan lubang-lubang angin. Lantai rumah dipilih ubin dengan pori-pori lebih besar daripada keramik agar buat rumah adem. Daun pintu dilengkapi dengan jendela. 

Jadinya, rumah 2,5 tingkat, termasuk kebun sayur di atap rumah. Sapariah memberi nama “Compok Cellep” –dari bahasa Madura, artinya “rumah sejuk.” Saya melihat keputusan kami sebagai pengejawantahan prinsip act local think global. 

Kontraktornya, Studio 8 dari daerah Bumi Serpong Damai, berusaha pakai bahan dan supplier lokal, dari kayu sampai kusen, agar memberdayakan sumber lokal dan tak terlalu banyak karbon dipakai buat transportasi. 

Kami sadar daya kami sangat terbatas. Setidaknya, kami ingin bikin rumah dengan kesadaran akan perubahan iklim, akan daya rusak dari perumahan-perumahan raksasa.” 

Bagaimana Anda melihat Maja di masa depan, mungkin 5-10 tahun lagi? Apakah mungkin ia bisa berkembang lebih pesat dibandingkan IKN?

Pada Maret 2024, Presiden Joko Widodo menetapkan dua daerah dekat Maja, sebagai proyek strategis nasional. Namanya lumayan muluk: Kawasan Ekonomi Khusus di Kawasan BSD City (Tangerang Selatan) dan Kawasan PIK 2 Tropical Coastland (Banten). BSD City milik Sinar Mas Group. Pantai Indah Kapuk milik developer Agung Sedayu Group. Beberapa orang mengatakan bahwa memberikan status proyek strategis nasional –dari kemudahan perizinan sampai mekanisme pembiayaan – adalah bentuk balas budi Presiden Jokowi terhadap kedua perusahaan tersebut yang bersedia menanamkan modal di Ibu Kota Nusantara di Pulau Kalimantan.

IKN dibuat karena Presiden Jokowi merasa Jakarta sudah terlalu ruwet buat diselamatkan. Cepat atau lambat, Jakarta, terutama daerah utara akan tenggelam. 

Pusat pemerintah dipindahkan ke Nusantara. Lantas warganya ke mana? 

Tangerang Selatan adalah salah satu pilihan –selain Bekasi dan Bogor. Maka BSD City dicarikan status tersebut. Pantai Indah Kapuk akan tenggelam karena terletak di utara Jakarta. Namun, ia akan diatasi dengan pengurukan sehingga permukaannya jauh lebih tinggi dari utara Jakarta. 

Sejak Februari 2024, ketika pindah ke Maja, kami merasakan keluhan warga Maja, Taman Adiyasa, Tigaraksa, secara luas, soal truk-truk tanah, menggali berbagai lahan di Maja dan Jasinga. Setiap malam bikin macet, membawa tanah ini, antara lain untuk Pantai Indah Kapuk. 

Tanah-tanah ini diambil dari lahan dengan banyak pohon bambu serta tanah kapur. Ini adalah tanaman dan lahan yang banyak simpan air. Saya tak tahu akan bagaimana bentuk Maja dengan laju kerusakan lingkungan yang begitu cepat. 

Lebih penting lagi adalah membangun masyarakat sipil di Lebak, termasuk Maja, agar berbagai perubahan yang cepat, bisa diimbangi dengan masukan dari masyarakat sipil –baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Berbagai perubahan atas nama pembangunan ini perlu didokumentasikan, perlu liputan bermutu, perlu komunikasi dengan para pemangku jabatan pemerintah agar keseimbangan lingkungan dan pembangunan bisa dijaga lebih baik.” (*)

Friday, July 16, 2021

Covid Diary - Senayan, Jakarta

Saya menulis catatan harian ketika keluarga kami terkena virus corona. Kebanyakan berupa catatan medis, termasuk obat dan indikator. Kami beruntung sudah divaksin. Gejalanya tidak berat. Belakangan saya share sebagian di Facebook buat kerabat dan teman-teman yang ingin tahu. Ternyata ia dianggap berguna buat sesama penyintas Covid19 maupun keluarga mereka. Saya taruh saja di blog ini buat kepentingan publik. 


Minggu, 4 Juli 2021 - Sapariah Positif dan Isolasi Mandiri

Siang ini, Sapariah Saturi, partner saya, tes Antigen dan hasilnya positif. Dia langsung ambil tes PCR, yang lebih akurat, dan menunggu hasilnya besok. Putri kami Diana dan saya negatif. Putra kami, Norman, tinggal di apartemen berbeda, tak terpengaruh tentu.

Kami tak tahu dari mana Sapariah bisa terpapar virus corona. Terakhir kami berempat tes pada 21 Juni --dua minggu lalu-- tak ada satu pun yang positif. Sapariah sehari-hari hanya berkebun. Awal minggu dia sempat ke pasar Palmerah. Dia praktis kerja di rumah sepenuhnya buat Mongabay.

Untungnya, Sapariah sudah vaksinasi. Gejalanya, hanya pilek dan suhu 36 sampai 37.4 Celsius. Normal. Dia juga sakit kepala. 

Rumah kami kecil, hanya dua kamar tidur, satu kamar mandi. Sapariah memutuskan isolasi mandiri di sebuah hotel dekat apartemen. Diana dan saya harus tes lagi hari Rabu. Saya bantu Sapariah untuk check in, bawa barang-barang yang diperlukan. 

Apartemen kami dibersihkan dengan desinfektan. Malamnya, kami mengungsi, tidur di hotel lain, persis depan apartemen. Diana senang sekali dengan kamar yang kami tempati. Kasur empuk, kamar mandi dengan bathtub, AC kencang. 

Senin, 5 Juli 2021 - Hasil PCR buat Sapariah

Hasil tes PCR (polymerase chain reaction) dari Oikos Drive Through sudah sampai. Sapariah Saturi positif terkena virus corona dengan  nilai CT 20.03. Artinya, dia menular sekali. Dia juga kehilangan indra penciuman. 

Kami dapat masukan dari beberapa orang, termasuk dua dokter, serta kawan yang sudah mengalami Covid19, agar isolasi mandiri serta kemungkinan konsumsi beberapa obat. Penting minum air banyak, olah raga, dan kena sinar matahari (Vitamin D). Mencari rumah sakit belum perlu, dan kalau pun perlu, juga sulit sekali. Namun Sapariah daftar teleconsultation di sebuah rumah sakit. Tak ada jawaban kecuali otomatis bahwa mereka akan hubungi kembali. 

Banyak pesanan yang saya kirim sore ini ke hotel Sapariah, dari thermometer sampai air mineral lima liter. Sapariah juga minta makanan kesukaan --banyak sayur, banyak buah-buahan. 

Kami juga minta Sri Maryani, karyawan rumah tangga kami, untuk tes Antigen dekat rumahnya. Saya minta Maryani tidak masuk kerja agar tak tertular. Hasilnya, negatif. Maryani tentu orang yang juga sering berdekatan dengan Sapariah. Ini melegakan. Kami yang di rumah banyak makan vitamin guna menaikkan stamina tubuh. 

Selasa, 6 Juli 2021 - Bagaimana Sapariah bisa terpapar virus corona? 

Kami sekeluarga terakhir tes pada 21 Juni sepulang dari Lasem, Jawa Tengah. Hasilnya negatif. Saya mengingat semua kegiatan Sapariah antara 21 Juni sampai 2 Juli ketika saya perhatikan dia pilek. 

Sabtu malam, 3 Juli, dia minta dibawa tes di Oikos Drive Through, Lapangan Tembak. Ini tempat tes praktis bawa mobil, diambil sample dari dalam mobil. Hasilnya dikirim lewat WhatsApp. Ia terletak persis depan apartemen kami. Praktis tentu. Biayanya Rp 990,000 per orang. 

Saya tahu ada ratusan juta orang di Indonesia, bila harus ambil tes PCR, harus menunggu hasil tes selama beberapa hari karena sample dikirim ke ibukota kabupaten atau provinsi. Kebanyakan memakai laboratorium Dinas Kesehatan. Di dekat apartemen kami ada tiga tempat buat lakukan PCR. 

Sapariah adalah orang cerewet soal kesehatan. Dia selalu sedia masker, bisa sampai beberapa box di rumah, dari model kain sampai N95 untuk tenaga kesehatan. Dia juga sering kirim masker ke kerabat dan kawan kami, dari Pontianak sampai Jember. Dia juga beli vitamin dari berbagai jenis. Dia rutin masak empon-empon (minuman jahe dan sejenisnya). Di rumah dan mobil selalu ada sanitizer. Dia memasukkan sanitizer kecil ke tas saya dan anak-anak. Setiap orang dimintanya cuci tangan.

Kantornya, Mongabay Indonesia, praktis sudah work from home. Mereka bahkan tak pernah bertemu tatap muka sejak Maret 2020. Kadang kami berdua jalan kaki di stadion Senayan. Pakai elevator tentu untuk naik turun di apartemen. Jarak tentu aman. Stadion Senayan relatif sepi.  

Unit kami hanya ada satu pekerja rumah tangga, Sri Maryani, yang datang empat hari seminggu. Maryani juga tes negatif. 

Sapariah juga segera ikut vaksinasi dari Dewan Pers ketika dibuka. Kami berdua sudah lengkap dapat vaksin Sinovac pada 6-7 Mei. Sri Maryani vaksin AstraZeneca. Namun kami belum menguji tingkat antibodi dari vaksin tersebut. 

Lima hari sebelum tes, Sapariah sempat belanja sekali di Pasar Palmerah dan sekali ke Bank BNI, Ratu Plaza (cabang Palmerah tutup). Dia bukan saja pakai masker tapi face shield

Selama di hotel, setiap hari saya antar makanan, obat, vitamin dan segala pesanannya –termasuk kompor listrik buat penguapan. Sapariah, belajar dari pengalaman ketika Norman masih kecil, merebus air. Ini membantu mengencerkan dahak dan bikin nafas lega. Kali ini Sapariah menambah jahe, serai, sirih, mint atau minyak kayu putih.  

Kami sudah terdaftar di Puskesmas Gelora Senayan untuk dapat layanan konsultasi dokter Yunike Simanjuntak secara online. Istilahnya, telemedicine. Mereka hendak lakukan tes PCR terhadap semua orang yang ada kontak erat dengan Sapariah selama dua minggu terakhir. Kami beli alat-alat pengukur yang relatif tidak mahal: thermometer, pulse oximeter, electronic blood pressure monitor bahkan tangki oksigen dengan regulator. 

Jadi bagaimana Sapariah tertular? Saya sementara menyimpulkan virus ini airborne (mengawang) dan menulari orang dengan cepat. Mungkin tak sengaja memegang sesuatu yang ada virus? Kemungkinan varian Delta seperti dijelaskan pemerintah.

Kamis, 8 Juli 2021 - Diana dan Saya Terima Hasil PCR Positif

Saya baru menerima hasil PCR dari Oikos Drive Through, Senayan. Ia menyebutkan bahwa Diana dan saya positif terkena coronavirus. Nilai CT (Cycle Threshold) masing-masing 17 dan 24. Artinya, Diana punya lebih banyak virus (CT 12-20) dan saya dalam fase penyembuhan (CT 21-30). Ini hanya bacaan amatir saya. 

Sri Maryani, pekerja rumah tangga, hasilnya negatif. Maryani sudah dapat vaksin AstraZeneca. Sapariah Saturi, isteri saya, dan saya vaksin Sinovac. Saya kuatir dengan Diana yang belum vaksin. Gejala saya batuk kering dan badan pegal. Diana mengeluh tenggorokan gatal. 

Sapariah sudah lapor ke Puskesmas Gelora. Mereka juga sudah dapat hasilnya. Mereka minta kami isolasi mandiri. Tingkat oksigen di atas 95, tak ada kesulitan buat nafas. Diana dan saya isolasi di rumah. Sapariah masih di hotel. Puskesmas bilang kami bertiga bisa isolasi bersama. 

Saya lega karena sekarang tahu hasil tes. Manajemen gedung juga sudah saya beritahu. Ini penting karena kami tinggal di bawah satu atap dengan tiga elevator. Para tetangga perlu tahu soal keluarga kami terkena Covid19. 

Kami ada persediaan vitamin, masker, obat-obatan, air panas (kompor dengan gas penuh), maupun makanan sehat (sayur-sayuran dan buah-buahan). Bahkan ada tabung oksigen. Terima kasih buat kiriman banyak kawan. 

Malam pertama isolasi mandiri, suhu badan Diana dan saya, masing-masing, 36.2 dan 35.8 Celsius. Level oxygen sama 97. Detak jantung juga normal. Takut namun harus tenang. Cerita buat pengantar tidur: Bagaimana papa dan mamanya bertemu di Pontianak 🙂

Kami akan tinggal dalam rumah selama 2 minggu. Sesudah dua minggu, saya harap, nilai CT kami sudah di atas 35 sehingga sudah tidak menular lagi.

Jumat, 9 Juli 2021 - Isolasi Mandiri Sekeluarga

Sapariah balik ke rumah siang hari saat saya masih bicara online dalam acara Asia Democracy Network bersama Haris Azhar, Sandra Moniaga, Soe Tjen Marching, dan Taufik Basari. Seorang panitia bilang saya terlihat “lemas.” 

Dokter Yunike Simanjuntak dari Puskesmas Gelora Senayan memberikan satu paket obat: azithromycin; vitamin B complex, hustab. Kawan saya dari Papua, Ruth Ogetay, bantu jemput paket tersebut dan dikirim ke rumah. Kami sekeluarga tidak keluar dari unit kami sejak positif Covid19. 

Sapariah Saturi terlihat lebih segar daripada hari Minggu, 4 Juli,  ketika mulai isolasi di hotel. Dia bilang indra penciuman sudah pulih berkat penguapan. Rasanya lebih tenang hadapi krisis Covid19 bersama isteri 😷 

Saya tak menjenguknya di hotel sejak ketika saya sendiri dan Diana dinyatakan positif. Dokter dan manajemen apartemen memperbolehkan kami isolasi bersama. Ini memudahkan koordinasi, minum obat, periksa oxygen, detak jantung dan seterusnya. 

Diana langsung merangkul mamanya ketika tiba. Dia senang sekali lihat mamanya pulang. Dia "mengeluh" ke mama bahwa masakan papanya tak nyaman ... kecuali kalau order online. Diana tentu rindu masakan mamanya. Saya kira di layar webinar Asia Democracy Network terlihat anak dan isteri saya mondar-mandir. 

Saya sendiri masih batuk dan pilek. Mudah-mudahan dengan obat pemberian Puskesmas, ia akan segera berkurang. Nilai oxygen kami berkisar 96 dan 97. Detak jantung antara 80 sampai 110. Ini masuk kategori orang normal. Saya duga vaksin Sinovac membantu pertahanan tubuh kami. Diana masih kecil sehingga tubuhnya lebih sehat. 

Diana rekam data medis tiap enam jam. Diana bertugas sebagai "dokter rumah" dan mencatat setiap pagi, siang dan malam. Diana juga jadi pelatih kami buat olahraga ringan. Mulai dari angkat kaki dan kembungkan dada, sampai loncat kecil.  

Ada banyak sekali kawan mengirim pesan, mengirim makanan dan minuman. Ada tetangga juga mencantolkan kantong kertas ("wedang sereh") ke pintu rumah. Pesan berdatangan bukan saja dari Indonesia tapi luar negeri: Amerika Serikat, Australia, India, Korea Selatan dan lainnya. 

Wartawan Kanada Jeff Hutton kirim jamu Jawa: jahe, temulawak, kunyit asem, temu kunci. Pilihan yang unik. Orang bule ngasih jamu. Novita Sari Simamora, wartawan Bisnis Indonesia, kirim satu paket masakan Batak. Saya mohon maaf tak bisa sebut semuanya. Kami sangat berterimakasih dengan perhatian kawan-kawan. 

Aliansi Jurnalis Independen tanya apa yang bisa mereka bantu. Saya mohon bila bisa, dibantu dengan tabung oxygen kecil, buat jaga-jaga. Saya kuatir bila level oxygen turun dari 95.

Brad Adams, atasan saya dari Human Rights Watch, minta saya berhenti kerja total tapi permintaan interview dan bicara, yang sudah saya sepakati, sulit dibatalkan. Setidaknya, ini jauh lebih ringan daripada lakukan riset, wawancara, berpikir dan menulis. 

Ini hari-hari awal pertempuran tubuh saya dengan virus corona. Saya tentu ada rasa takut. Susah tidur. Kematian bukan sesuatu yang tidak dekat dengan wabah ini. Saya berusaha taati nasehat dokter, minum obat teratur, olah raga, dan istirahat.

Senin, 12 Juli 2021 - Obat apa buat selamat dari Covid19?

Sapariah sudah hari ke-8. Keadaannya membaik, tampaknya sudah lewat puncaknya. Diana dan saya sudah hari ke-5. Diana tanpa gejala. Dia sepanjang hari main depan komputer: Minecraft, Roblox. Permainan online bersama kawan-kawannya: Kyra, Gaby, Tiffany. 

Saya masih batuk dan pilek. Obat dari Puskesmas Senayan diganti dari tablet huztab menjadi fluimucil 200mg. Saya harus membeli sendiri fluimucil. Namun tak dapat. Saya dapat dengan obat generik, namanya acetyulcysteine. Ini obat pengencer dahak. 

Saya tanya pada dokter Yunike Simanjuntak apakah saya bisa minum obat Cina bernama Lian Hua? Ini juga obat batuk. Dia keberatan. Dia minta saya tak makan obat lain di luar apa yang disarankan Kementerian Kesehatan. 

Ini pertanyaan klasik. Mau sembuh pakai obat modern atau obat tradisional? 

Kami menerima saran dan kiriman macam-macam obat tradisional dari banyak kawan. Dari minuman jahe sampai kelapa muda hijau. Ada immunomodulator “untuk kalangan terbatas.” Ada juga obat semprot ke hidung dan mulut. Seorang petani organik dari Garut mengirim madu lengkap dengan sarang lebahnya. 

Di Indonesia, banyak sekali orang mengatasi virus corona ini dengan jahe, bawang putih, minyak kayu putih dan seterusnya. Banyak yang berhasil. Ada puluhan kenalan saya, yang tinggal di desa-desa, kasih saran jahe, serai dan lainnya. Saya makan saja sarang lebah yang super manis dan kenyal macam permen karet. 

Mungkin agak berantakan. Semua saya coba kecuali dokter melarang. Boleh jadi gejala kami ringan, kata Puskesmas. Sapariah, Norman (anak sulung) dan saya sudah vaksin Sinovac. Norman Harsono tinggal di apartemen lain sehingga tak kena virus ini. 

Intinya, dari Kementerian Kesehatan mengatakan pasien Covid19 harus memasukkan vitamin B, C, D plus zinc serta obat anti-virus. Lainnya, anti-batuk, anti-pilek atau anti-pusing, tergantung keadaan masing-masing.

Selasa, 13 Juli 2021 - Rontgen Thorax

Sapariah Saturi dan saya lakukan tes darah dan rontgen thorax. Ini penting buat alat analisis dokter Yunike Simanjuntak. Kami lakukan tes di Bio Medika, Gandaria, dekat rumah. 

Rontgen untuk mengetahui bila virus corona berhasil masuk ke paru-paru atau saluran pernafasan. Darah buat macam-macam tentu. 

Bila virus berhasil masuk ke paru-paru, kita perlu memperhitungkan dampaknya kelak sesudah sembuh.

Ada penjelasan para peneliti kesehatan di New York Times soal bagaimana virus corona menyerang paru-paru. Persoalan pandemi ini adalah pertempuran di paru-paru. Makin dalam virus menyerang, makin berkurang daya kerja paru-paru pasien. 

Jumat, 16 Juli 2021 - Bronchopneumonia

Hari kedelapan sesudah tes Covid19 pada 8 Juli. Hasil laboratorium Bio Medika mengesankan ada bronchopneumonia. Gejalanya, saya sering batuk. Ia terjadi karena pipa pernafasan, sesudah leher, yang menuju ke dua paru-paru, mengandung cairan kental. Ini terjadi karena virus corona masuk ke sistem pernafasan saya. Hasil rontgen menunjukkan hanya bronchus sebelah kanan yang terkena. Bronchus kiri aman. 

Virus apapun tentu tak diharapkan masuk ke paru-paru. Ia akan menghalangi paru-paru dapat oksigen, thus menurunkan saturasi oksigen. Saya catat saturasi oksigen pagi, siang dan malam. Selalu aman. Kalau virus sudah sampai paru-paru, saya harus masuk rumah sakit. Sulit sekali bukan? Apalagi dalam krisis kesehatan macam sekarang. 

Saya sulit tidur nyenyak. Ini entah sudah berapa malam sulit tidur. Saya baru tertidur pukul 5 pagi. Semalaman banyak berpikir tapi juga nonton Secrets of Great British Castles. Selama isolasi mandiri, saya sudah tonton episode yang penting tentang Carrickfergus Castle (Irlandia Utara), Tower of London, Caernarfon Castle (Wales), Edinburgh Castle (Skotlandia). Setengahnya saya belajar soal nasionalisme dan kerajaan Britania. 

Dokter Yunike Simanjuntak dari Puskesmas Gelora Senayan minta saya tetap minum tablet  acetyulcysteine. Ini obat pengencer dahak. Dia minta saya minum Vitamin D (5000 IU) serta olah pernafasan. Olahraganya macam meniup balon. Tahan nafas, lepas nafas. Hasilnya mulai terasa. Batuk jauh berkurang. Tadi malam saya tidur dengan nyaman. Saya harap hari ke-10 batuk sudah reda.

Sabtu, 17 Juli 2021 - Mulai Bisa Tidur Tenang

Saya tidur dari pukul 23 sampai pukul 7, termasuk lama sekali buat saya. Hanya sempat bangun sekali buat buang air kecil --kebanyakan minum air putih, selalu terbangun dari tidur. 

Batuk masih ada namun dahak jauh berkurang. Saya masih minum tablet  acetyulcysteine (buat mencairkan dahak) maupun vitamin C dan D (pagi hari), vitamin E dan zinc (malam hari). 

Sedih sekali saya mengetahui Zed Abidien, wartawan Surabaya dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen, meninggal dunia dengan Covid19. Kami kenal sejak pembredelan 1994, sering kerja sama, dan 2019 sebetulnya janjian mau bertemu tapi tertunda karena wabah. Zed meninggal di sebuah rumah sakit di Mojokerto. Semoga isteri Yudiarini Swastiwulan dan ketiga anaknya tabah.

Albertus Amboro Putranosa dari Salatiga mengabarkan bahwa bapaknya, Ari Purwanto, meninggal dunia di rumah sakit Salatiga dengan Covid19. Mereka sekeluarga dulu tetangga saya ketika tinggal di Jalan Ki Penjawi, Salatiga, pada 1990an. Amboro dan kedua adiknya, Anastasia Arimbi dan Agatha Aritami, dulu belajar bahasa Inggris di terminal dokar. 

Pada 28 Juni, Ari sudah mendaftar untuk vaksinasi di Salatiga namun ditolak petugas vaksinasi karena dia sedang flu dan batuk. Bulan Juli, isterinya, Cecillia Ambar Rustami, terpapar Covid19 terlebih dahulu dan masuk rumah sakit 11 Juli. Ari merawat isterinya, juga terpapar, namun ketika mulai sakit, dia kesulitan dapat ranjang rumah sakit selama lima hari. Agatha merawat bapaknya dan mengatakan, "Bapak masuk rumah sakit tanggal 15 juli, Bapak meninggal tanggal 16 juli pukul 21.45." Ambar keluar dari rumah sakit pada 17 Juli. Saya sedih dengar telepon dari Agatha, Arimbi dan Amboro. 

Minggu, 18 Juli 2021 - Batuk Reda, Pilek Reda

Sapariah hari ke-14, saya hari ke-10. Kami masih belum tes tapi dokter senang dengan perkembangan kami. Batuk sudah mereda. Pilek juga reda. Sapariah seharusnya sudah selesai isolasi mandiri tapi dia sekalian menunggu anak dan suaminya. 

Saya menawarkan diri untuk tes rontgen atau lainnya. Dokter bilang tidak usah karena gejala sudah membaik. Dia tak mau saya terpapar coronavirus lagi dengan pergi keluar dari isolasi rumah termasuk pergi ke laboratorium. 

Semua obat-obatan sudah selesai. Kami masih konsumsi vitamin, madu, wedang jahe dan berbagai makanan yang enak-enak serta olahraga, terutama pernafasan 😉

Senin, 19 Juli 2021 - Kuncinya Vaksinasi

Pagi ini bangun, cuci piring, dan cek detak jantung (77) serta saturasi oksigen (95). Semalaman ada belasan kawan kirim pesan lewat Whatsapp dan Facebook, cerita soal bagaimana mereka juga terkena virus corona. Menariknya, beberapa dari mereka menolak vaksinasi. 

Lumayan lama saya menerangkan apa yang saya dengar dari Pandu Riono dari Universitas Indonesia serta Irma Hidayana dari Lapor Covid soal bagaimana vaksinasi, apapun jenisnya, membantu tubuh agar siap bila terkena virus. Ia tak membuat orang kebal tapi kalau terpapar, gejalanya ringan sampai sedang --tergantung stamina masing-masing. 

Saya sudah main gitar, lagi belajar lagu Sara Bareilles "She Used to be Mine." 

Saya mau memakai kesempatan ini buat mendorong semua kawan saya untuk segera lakukan vaksinasi. Ia bukan saja melindungi diri kita sendiri tapi juga lingkungan. Ia juga membuat kita tak bisa jadi inang buat virus tersebut.

Sudah ada banyak argumentasi ilmiah untuk membantah semua keraguan kita. Silahkan baca website Centers for Disease Control and Prevention. Vaksinasi terutama penting buat tokoh masyarakat, termasuk wartawan, agar warga mendapat teladan.

Segeralah vaksinasi bila belum. Dorong kerabat dan kawan Anda untuk vaksinasi. Tak perlu pilih-pilih vaksin. Bila kuatir dengan ada penyakit bawaan, konsultasi dokter. Saya menemukan banyak jawaban dari website CDC

Selasa, 20 Juli 2021

Sapariah hari ke-16, saya hari ke-12. Hari ini hari raya Idul Adha. Ini sudah tahun kedua umat Muslim merayakan Idul Adha dengan pandemi. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas minta tak ada pelaksanaan shalat Idul Adha di masjid atau lapangan. Saya lihat di timeline Facebook, masih banyak masjid yang bikin shalat. Tak mudah memang mengatasi pandemi di Indonesia. 

Kesehatan kami makin stabil. Saya tidur dari pukul 23.30 sampai pukul 6.30. Tujuh jam lebih dari cukup bukan? Saya biasa hanya tidur enam jam. 

Kamis, 22 Juli 2021 - Surat Selesai Pemantauan Covid19


Puskesmas Gelora Senayan menyatakan pemantauan terhadap keluarga kami sudah selesai. Sudah lewat 15 hari apalagi Sapariah Saturi, sudah 19 hari, sejak positif. Kami dianggap sudah sembuh, tak perlu dipantau. 

Namun ada surat-surat yang harus diurus. Mulai dari bikin "surat minta izin isolasi mandiri" sampai surat pernyataan dari RT dan RW agar kami dipantau. Saya mencari tujuh tandatangan, dalam dua hari ini, sudah tiga kali ke Puskesmas, dua kali ke tempat Satgas Covid19 tingkat lingkungan. Kami sekeluarga --Diana, Sapariah dan saya-- juga ambil tes PCR di Oikos Drive Through. 

Walau sudah sembuh, kami tentu masih dalam pemulihan. Kami takkan keluar rumah, setidaknya seminggu lagi, apalagi dalam suasana Jakarta dimana virus corona ada di mana-mana. Setidaknya saya lega karena kami sudah tak menularkan virus ini ke orang lain. 

Selasa, 27 Juli 2021 - Surat Selesai Pemantauan Puskesmas

Siang ini saya menjemput surat dari Puskesmas Gelora Senayan yang menyatakan bahwa Diana, Sapariah dan saya sudah selesai dari proses pemantauan mereka. Kami sudah dinilai bisa keluar rumah, sudah tak menular. Sebenarnya softcopy surat sudah saya terima akhir pekan namun hardcopy baru saja ambil hari ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Gelora, termasuk dokter Yunike Simanjuntak, yang menjadi "petugas karantina" keluarga saya. 

Saturday, June 23, 2018

A Political Prisoner Died Inside Prison

By Andreas Harsono

Fredy Akihary plays keyboard
inside the Porong prison.
Fredy Akihary, a Moluccan political prisoner, died in a hospital near his prison in Porong, East Java, on June 18 after a heart attack inside his cell. He was 60 years.

Yonathan Dji, a Christian pastor in the prison, said Akihary had usually played keyboard during Sunday services, “He never complained, he never grumbled. He’s such a gentle soul.”

Dji organized the service before the body being brought to the airport in Surabaya, near Porong, flying 2,000 kilometers to the east of Indonesia, landing at the Ambon airport, brought to the seaport for nearby Haruku Island, and finally a truck to bring him back to his native Aboru village.

His wife Yacomina (nee Usmany) Akihary welcomed her husband, “He left home 11 years ago healthy and fit, now he is going home in this coffin.”

On June 28, 2007, farmer Fredy took a boat from Aboru, joining a group of Moluccan activists, mostly farmers like him, going to Ambon. The following morning, they took part in the Family Day festivities at the Ambon stadium.

They scandalized President Susilo Bambang Yudhoyono, who was in the audience with a group of foreign diplomats, by performing the cakalele dance and unfurling the officially banned Republic of South Moluccas flag.

Yudhoyono immediately ordered arrest. Police got those 28 activists, later also their supporters. They were tortured and within months the Ambon court had convicted 66 of them for “treason,” sentencing them to prison terms of seven to 20 years. Akihary got 15. They were moved to various prisons on Java Island in 2009.

Their families –parents, wives, children-- cannot afford to fly to Java. Too expensive. Isolation has taken emotional and psychological toll on the men. Some suffered mental illness. Many suffered physical traumas. Divorces also took place.

In May 2015, President Joko Widodo, who succeeded Yudhoyono, promised to release them. Minister of Law and Human Rights Yasonna Laoly promised to move them to Ambon prison, at least, closer to their families. Nothing happened.

Fredy Akihary (sitting in the middle) with his visiting wife Yacomina (white and pink shirt) in the Porong prison in June 2016. Pantau Foundation in Jakarta helped facilitate these families to visit the political prisoners in Porong. 

Only in June 2016, Yacomina got some non-governmental help to fly to Surabaya and to meet her husband in the prison. It was their last meeting. In Aboru on Thursday, Yacomina and her six adult children, relatives and friends, held a prayer, played music and buried Fredy Akihary.

May he rest in peace.



Friday, November 11, 2011

Putera Sampoerna Foundation Clarification



Jakarta, November 9, 2011

Dear Andreas Harsono,

In regards to the article in your blog: http://andreasharsono.blogspot.com dated September 9, 2011 entitled “Public health suffers as Indonesia ignores calls for tobacco reform” that stated: “The Putera Sampoerna Foundation is also into journalism, with its Adiwarta Sampoerna Award for reporters covering legal, arts, business and environmental matters.” (paragraph 24)

Putera Sampoerna Foundation wishes to clarify that neither Putera Sampoerna Foundation nor any of its brands has been an initiator, committee, sponsor or hold any interest in Anugerah Adiwarta Sampoerna. To the best of our knowledge, Anugerah Adiwarta Sampoerna is initiated and organized by PT HM Sampoerna Tbk.

The Putera Sampoerna Foundation is the first social business Institution in Indonesia with the vision to create high caliber future leaders and entrepreneurs for Indonesia to face the challenges of global participation. The four main pillars of the Putera Sampoerna Foundation are quality education in Indonesia, the development of job creation through entrepreneurship programs, empowerment of our women, and the distribution of aid and relief programs for disaster recovery.

The Putera Sampoerna Foundation is an independent institution and not related to PT HM Sampoerna Tbk. The Putera Sampoerna Foundation is the first non-profit organization to receive the ISO 9001:2008 certificate of quality management systems, which are of international standard. Applying the principles of openness and accountability in all its activities, the Putera Sampoerna Foundation has been trusted by more than 250 corporations, organizations and associations to carry out programs of social responsibility (CSR). The Putera Sampoerna Foundation is periodically audited by an independent international auditor and its report is published in the Putera Sampoerna Foundation's annual report. For more information, visit: www.sampoernafoundation.org

With this clarification, we hope that you would set the record straight and provide accurate information to your readers.

Thank you for your kind attention and cooperation.


Regards,

Nila Tanzil
Head of Communications

Friday, September 09, 2011

Public health suffers as Indonesia ignores calls for tobacco reform


By Andreas Harsono

For this story, the International Consortium of Investigative Journalists teamed with ABC News to look at tobacco’s grip on Indonesia. Watch the full segment tonight on ABC’s 20/20.

Indonesian cigarette vendors at a recent rally in Jakarta, protesting government talks over a tobacco-control law. Thousands of vendors were organized and deployed by an Indonesian tobacco trade group. ©Andreas Harsono

On Monday, December 27, 2010, Noor Atika Hasanah, a petite 28-year-old secretary in Jakarta, updated her Twitter feed. From her bed at the Jakarta Respiratory Centre clinic, she wrote: “To smoking parents, please do smoke as far as possible from your children … so that they won’t get lung cancer.”

Atika’s own lung problem had her down again, recalled her brother Faisal Rizal. Her parents had checked her into a clinic. Later, Atika wrote that she was still waiting for a transfer to a bigger hospital.

On Thursday at 5:35am, the move happened and Atika notified her Facebook friends: “Noor just checked in @PROF. DR. SULIANTI SAROSO hospital.” A friend wrote back, “Please don’t stay too long …. Get well soon sis!”

Noor Atika Hasanah passed away later that day.

Five months after Noor Atika Hasanah’s death, Rizal said Atika Hasanah’s passing was “because of God’s will. The cigarette smoke is only the pelengkap penderita .” He used a Bahasa Indonesia grammatical term which means “direct object.”

Atika’s chronicling of her illness offered friends and family an unusual glimpse at the consequences of runaway tobacco consumption in Indonesia, yet her death to tobacco-related disease is not unusual in one of the world’s last holdouts against signing the World Health Organization's treaty to limit the tobacco industry’s influence by restricting tobacco advertising and raising excise taxes.

With a population of around 240 million and weak government regulations, Indonesia is one of Big Tobacco’s smoking giants. As of 2009, 28 percent of Indonesian adults were smokers and more than half of men smoke, according to the World Lung Foundation.

Around 200,000 people die each year in Indonesia because of smoking-related sickness. At least 25,000 of the dead are like Atika — young, female and passive smokers, according to the WHO.

A strong habit

Atika’s story went little noticed outside her circle of friends. That’s a sharp contrast to Aldi Rizal, who in 2010 became global sensation at age two, shown on television news and internet video puffing away at some of the 40 or so cigarettes he consumed each day. The media attention embarrassed the government, which quickly paid for medical help needed to cure his addiction.

But the quick attention to the smoking toddler could not hide a startling number: In 2006 — the last year for which survey data is available for Indonesia — the prevalence of smokers ages 13-15 was 38 percent, one of the world's highest per-capita rates of smoking among children.

Tobacco’s influence on the politics of smoking in Indonesia is punctuated by what's happened to people like Atika. She had often complained about her boss and colleagues who smoked non-stop. She was employed by a government-sponsored cooperative for villagers, where she often worked late, surrounded by second-hand smoke.

Her father also smoked at home, but quit in 2007.

As a country, however, Indonesia does not appear ready to kick the cigarette habit. Anti-tobacco and health activists blame a combination of ineffective Indonesian politicians and the lobbying clout of global tobacco interests.

Indonesia is the toughest test on the planet for health advocates who, after decades of winning tobacco restrictions in the United States and other developed nations, now must fight deep-pocketed multinational cigarette manufacturers in emerging markets and developing nations — regions that have grown to become the industry’s key source of new revenue.

The Indonesian government has consistently refused to control tobacco advertisement. Indonesian legislators can’t even agree on enforcing their own, limited tobacco law — the 2009 Health Law that includes limited regulation of cigarette advertising. Anti-tobacco activists say this is because tobacco’s influence touches all walks of Indonesian life, from politics to pop music and the media.

In examining tobacco in Indonesia, the International Consortium of Investigative Journalists found that cigarettes have become so much a part of everyday life that politicians don’t feel rushed to address massive electronic billboards hawking cigarettes along busy streets. No one has moved against brazen marketing like point-of-sale displays featuring mini-skirted young women at rock concerts, even in front of children’s playgrounds. And few in government thought twice about a cigarette company’s sponsorship of the summit of Southeast Asian defense ministers in May 2011. Billboards for the summit were shown prominently throughout Jakarta.

“The tobacco lobby is smart. They’re adaptive. With their social responsibility campaigns, they could get a lot of parties to support them,” said Todung Mulya Lubis, a lawyer and anti-tobacco activist. “Grants from Sampoerna Foundation or Djarum Foundation could easily raise the ewuh pekewuh” — a Javanese term for not criticizing someone in public.

In Indonesia, tobacco is an old, strong tradition. In the 1880s, tobacco traders in Kudus, on Java Island, the most important area in the Dutch East Indies, mixed cloves and tobacco, creating kretek cigarettes. The name is an onomatopoeic term for the crackling sound of burning cloves. Kretek now means cigarette in Indonesia, with four leading manufacturers: Sampoerna, Djarum, Gudang Garam and Bentoel. Almost 90 percent of Indonesian smokers puff kretek.

Indonesia’s particular — and plentiful — smokers are so valuable that in 2005 Phillip Morris International paid more than $5 billion for 97-percent ownership of the Sampoerna brand. British American Tobacco followed in 2009 with $494 million for an 85-percent stake in the Bentoel brand.

The Sampoerna family established PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. in 1913 and continues to help Phillip Morris manage it. Putera Sampoerna, grandson of company founder Liem Seeng Tee, was until recently chairman of PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk., while also running his Putera Sampoerna Foundation.

Power of the Press

The number 234 is a special one for the Sampoernas. Its most famous kretek brand is Djie Sam Soe or 234 in Hokkien language. It also appeared on the building of Jurnal Nasional daily, a newspaper editorially controlled by the Merdeka Palace.

In the Sampoerna family, Phillip Morris has an ally tied closely to Indonesia’s political and media hearbeats.

In June 2006, two years after Susilo Bambang Yudhoyono won the presidency, the Sampoerna family started Jurnal Nasional , a daily newspaper in Jakarta. Political opponents of Yudhoyono – even journalists who work for paper – say the publication’s content is controlled from the Merdeka Palace, Indonesia’s White House. Sunaryo Sampoerna, an art collector and a nephew of Putera, was chairman of PT Media Nusa Perdana, which publishes the newspaper.

The flow of money from the Sampoernas to Jurnal Nasional appears to have stopped after George J. Aditjondro, a scholar and an anti-corruption crusader, revealed connections between Yudhoyono and the newspaper in his book Membongkar Gurita Cikeas– “Uncovering the Cikeas Octopus,” published in December 2009. (Cikeas is the residence of President Yudhoyonos’ family in southern Jakarta.) The book created an uproar as Yudhoyono had won the presidential race on an anti-corruption campaign. Sunaryo Sampoerna stepped down from the newspaper board in the January 2010 shareholder meeting.

The Putera Sampoerna Foundation is also into journalism, with its Adiwarta Sampoerna Award for reporters covering legal, arts, business and environmental matters. Award ceremonies were always filled with Sampoerna banners, logo and souvenirs. The juries have included Sampoerna executives.

“On top of their advertising and sponsorship, the journalist award is a very effective method to reach out to the subconscious of journalists,” said Wahyu Dhyatmika, leader of Jakarta’s Alliance of Independent Journalists.

Another thread in the Sampoerna – Yudhoyono connection: Putera Sampoerna hosts Yudhoyono’s youngest son, Edhie Baskoro, the Democratic Party secretary-general, in an office inside his Sampoerna Strategic Square tower, in Jakarta. The 27-year-old politician has a whole floor for himself.

Yudhoyono “is not a smoker, but he’s a friend of the cigarette companies,” Todung Mulya Lubis said.

Yudhoyono's spokesman declined requests for comment from ICIJ, and Sampoerna family members and foundation officials declined requests for interviews about Jurnal Nasional and the journalism competition.

Further punctuation of the relationship between Sampoerna and Yudhoyono are the numbers 234 and 9, which show up often in the tobacco family’s story and on the license plate of the Rolls Royce that Sampoerna was once allowed to routinely park at Merdeka Palace, according to journalist Wisnu Nugroho, who chronicled the tobacco baron’s visits to President Yudhoyono.

234 is a special number for the Sampoernas. Putera Sampoerna’s grandfather, Liem Seeng Tee, was an immigrant from Hokkien, in southern China, who landed in Java and set up his tobacco company in 1913. Seeng Tee was superstitious. He named his most famous kretek brand 234 — Djie Sam Soe in the Hokkien language. Mathematically, 2+3+4 equals nine — what Sampoerna has said is his lucky number. Jurnal Nasional’s first office on Pramuka Street in Jakarta was also numbered 234.

When the Dutch East Indies became Indonesia at the end of World War II, Seeng Tee changed his family name to “Sampoerna.” In Malay the word means “perfect.”

Don’t Talk About Cigarettes

Tulus Abadi, coordinator of the Indonesian Consumers Foundation, which campaigns for tobacco control, recalls the visit to the Merdeka Palace by a delegation of anti-tobacco advocates whom he supported. As they met with First Lady Kristiani Herrawati Yudhoyono, she told the group she’d help them, as long as they did not talk about cigarettes.

On May 31, 2008, a World No Tobacco Day, Mrs. Yudhoyono also made a speech at the Merdeka Palace. She said cigarette advertisements were misleading and encouraged teenagers to start smoking. She reminded children not to smoke. But behind the scenes, said a health activist who attended the event, Merdeka Palace officials told the organizers that they should not say anything publicly about the WHO’s tobacco-control treaty.

These events sustain a suspicion among health activists that the tobacco industry has a firm grip on Indonesian policymakers.

Tobacco companies also are active financial supporters of sports and arts events and programs. They employ six million people in Indonesia, directly and indirectly, according to the Indonesian Alliance of Tobacco Societies. And tobacco companies claim that in 2009 they paid about 55 trillion rupiah in taxes — around $6.4 billion — and account for almost 10 percent of the nation’s public revenue.

Almost the Health Minister

Because of those numbers, health activists said they were suspicious of President Yudhoyono's withdrawl of a nomination of the wife of an anti-tobacco crusader to be the nation’s health minister.

In late July 2009, Yudhoyono won a landslide re-election, with nearly 61 percent of the total vote. His new vice president was Boediono, a former central banker. On Sunday October 18, 2009, they invited Nila Juwita Moeloek, an ophthalmologist and a professor at the University of Indonesia’s Medical School, for a talk — and then offered her the position of health minister.

Moeloek later told reporters that the president and vice president talked about reaching the UN Millennium Development Goals in 2015 and that she was expected to undergo a health examination.

Moeloek told ICIJ that the president did not talk about tobacco control in their first meeting.

Moeloek's husband, Faried Anfasa Moeloek, was Indonesia’s health minister in the late 1990s. So her appointment excited anti-tobacco campaigners, as Anfasa Moeloek is a patron of a coalition of anti-tobacco activists.

“The euphoria was reflected on our Yahoo group mailing list. We forgot that there are spies,” Tulus Abadi said.

Nila Moeloek took the presidential medical test. She had already received congratulatory phone calls and text messages on her nomination and political analysts proclaimed her health minister. But on the day she took the medical test, Kartono Mohamad, former president of Indonesia’s doctors association, was asked by Merdeka Palace officials to recommend three other names to head the health ministry.

Mohamad alerted health activists and called the Moeloeks.

“We were surprised when she was not invited to the Merdeka Palace,” Abadi said.

Yudhoyono said Endang Rahayu Sedyaningsih, a Harvard-trained medical doctor already in the Health Ministry, would be the new chief. Andi Mallarangeng, a Yudhoyono spokesman, said Nila Moeloek had a “psychological problem” and was deemed unfit for a cabinet job.

Legislators, journalists, health activists and politicians questioned the sudden change. The Republika newspaper demanded the government say why her appointment had been canceled.

Nila Moeloek told ICIJ that she was surprised and hurt by the “psychologically unfit” statement. She declined, however, to comment on the motives for the abrupt change of plans.

"I am not against the tobacco industries,” Nila Moeloek said. “I just want to protect small children. These kids still cannot decide yet. I don’t care about adults who decide to smoke. But a young boy who smokes will keep on smoking for decades."

Later the president offered Nila Moeloek an ambassadorship, an offer she refused.

“I want to move on,” she said. “In hindsight, I feel grateful I did not get that job.”

Anfasa Moeloek, her husband, has eye cancer; she wants to spend more time with him.

A hard road for reform

There have been attempts in Indonesia to follow the spirit of the WHO tobacco-control treaty, but the initiatives have met with strong resistance.

In October, 2010, Health Minister Endang Rahayu Sedyaningsih said new regulation was being drafted to impose a ban on tobacco advertising, and require cigarette makers to print pictures of smoking-related diseases on their packs. “It must be understood there are a lot of interests at stake. That’s why we need to proceed wisely in drafting this regulation. What’s important is that we’re consistent and we make progress step by step.”

She didn’t have to wait long for the industry’s reaction. Tobacco groups soon sent waves of protesters to her ministry.

Komunitas Kretek, a Java-based tobacco group, organized rallies and launched an essay writing competition on the involvement of U.S. pharmaceutical companies in support of the anti-tobacco draft.

"Developed countries like the United States are trying to make profits through the sale of nicotine-replacement drugs. But they do business through anti-smoking campaigns," said Komunitas spokesman Zulvan Kurniawan.

“I smoke one to two packs of cigarette a day. I’m fine with it. Smoking is okay as long as you don’t do it too much. Compare it with eating instant noodles, 12 packs a day, or drinking Krating Daeng [an energy drink], 12 bottles a day. You will also get sick,” Kurniawan said. “This draft regulation will kill farmers, workers and street vendors,” he added.

At one recent protest against tobacco regulation, colorful street vendors who often hawk tobacco at busy intersections by smoking several cigarettes at a time rallied outside the Ministry of Health. They carried a huge kretek and shouted, “Do we want to be the slaves of foreigners? Down with the foreigners!”

One protester grabbed a megaphone and spoke of the benefits of a controversial cancer treatment particular to Indonesia and tried by thousands of patients: cigarette smoke blown onto — and into — patients wrapped in wet cloth and foil. “The government should finance this research,” the protestor shouted. “Cigarettes are proven to have the potential to cure diseases.”

The Indonesian Alliance of Tobacco Societies, locally known as the AMTI, even pushed a campaign to label kreteks part of “Indonesia's cultural heritage” and one of Indonesia’s 10 prioritized industries.

But the corporate mindset favoring tobacco now appears to cut against the public grain in Indonesia: A 2010 Indonesian Consumers Foundation survey found that 90 percent of Indonesians agree that cigarettes are addictive; 57 percent believe the government does not do enough to protect non-smokers; 88 percent had seen cigarette advertisements in the previous two weeks; and 71 percent want to ban tobacco ads.

The numbers should be enough to convince legislators to move against the industry, said Tulus Abadi, the anti-tobacco activist.

“We suggest the government control tobacco by increasing the taxes. Smokers’ numbers will drop but the government income will be compensated.”

Indonesia’s cigarette tax is about 47 percent of the price of a pack. Legally the government could increase it to 57 percent.

“These numbers speak for themselves,” Abadi said.


Related Link
Putera Sampoerna Foundation Clarification

Thursday, January 20, 2005

My working desk in a Jakarta apartment


A visitor took my photo
in my working desk in a Jakarta apartment, facing the southern part of Jakarta. I usually typed with my laptop. I am using a small Sony tape recorder when interviewing sources. 

This is a tiny living room where my friends usually chatted with me. It has a tiny dining room with a Japanese-styled table with four chairs. 

See that blue sofa? It is also a place where some of them liked to take a nap or to sleep when staying over. One of my regular visitors was Agus Sopian, an editor from Bandung, West Java, who worked with me at the Pantau Foundation. 

I also have two wooden craft. I bought the two nagas from a shop near Aung San Suu Kyi's house in Rangoon. I interviewed her in 1997. It was quite an effort to bring them back to Jakarta. 

The Planet Hollywood T-shirt? 

I got it from a second-hand store in Jakarta. I am quite familiar with buying second-hand goods. It is an effort to reduce consumerism. 

The black pajama-like jacket? 

I bought it from a Badui man from a village in western Java. They refuse to get in touch with the so-called modern world. They weaved their own clothes. They walked from their village to this metropolitan, selling jackets --black and blue-- and forest honey.