Sunday, April 26, 2020

Buat L.Ch & A.B.


Catatan Irawan Saptono dari Salatiga (26 April 2020): 

Ini sajak Widji Thukul, penyair kiri pendiri Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, untuk Leila Chairani dan Arief Budiman. Thukul diburu tentara Orde Baru, menyingkir dari rumahnya di Jagalan, Solo, mampir dan menginap di rumah Arief Budiman di perbukitan Bugel, Salatiga. 

Thukul tak pernah mengetuk pintu rumah Leila lagi hingga Arief meninggal kemarin lusa. Ia hilang, dihilangkan secara paksa. Mudah-mudahan hari ini mereka bisa berjumpa di suatu tempat entah di mana.


Widji Thukul

darahku mengalir hangat lagi
setelah puluhan jam
sendi-sendi tulangku beku
kurang gerak

badanku panas lagi
setelah nasi sepiring
sambel kecap dan telur goreng
tandas bersama tegukan air
dari bibir gelas keramik yang kau ulurkan dengan senyum manismu

kebisuan berhari-hari
kita pecahkan pagi itu
dengan salam tangan
pertanyaan
dan kabar-kabar hangat

pagi itu
budimu menjadi api

tapi aku harus pergi lagi
mungkin tahun depan
atau entah kapan
akan kuketuk lagi
daun pintumu
bukan sebagai buron



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.