Monday, August 24, 2015

Bang Awang Ikut Gojek


Gunawan. orang Betawi, biasa mangkal sebagai ojeg di Palmerah, kini ikut Gojek.

Panggilannya Bang Awang. Dia tukang ojeg langganan keluarga kami, biasa mangkal dekat Pasar Palmerah. Sudah dua minggu dia bergabung dgn Gojek, perusahaan jasa antar sepeda motor dgn aplikasi Android. Dia datang ke rumah pagi ini untuk antar paket ke Surabaya. Tapi dia tak bisa sembunyikan antusiasmenya dgn pekerjaan baru.

Kini dia bekerja berdasarkan pesanan pelanggan lewat telepon. Dia pamerkan telepon serta power bank-nya.

"Cicilan Rp 50 ribu sebulan," katanya soal telepon.

Daerah kerja jadi luas. Dulu sekitar Palmerah saja. Kini bila dia klik ... terima pesanan bisa sampai ke ujung Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok.

"Istilahnya kan perumahan PIK. Saya kira Pantai Indah Kapuk. Saya klik ... ternyata Cakung!"

"Jalan Haji Ucu ... banyak tuh Haji Ucu. Ada Pamulang, ada Ciganjur."

"Jalan Haji Nawi apalagi ... jam setengah 12 malam saya klik ... baru kita tahu ternyata di Bogor."

Salah satu pemesan terbanyak datang dari Kompas TV. "Kan lagi promo (Gojek). Dari Kompas, dekat Pasar Palmerah, antar sampai ke BSD. Dari Kompas ke airport Cengkareng."

"Alhamdulilah ... saya sampai tahu banyak jalan."

Dia bilang minimal dia harus ambil tiga klik setiap hari. Gojek juga minta dia bersikap sopan. Tak boleh mengebut, tak boleh langgar lampu lalu lintas atau menentang arus lalu lintas. Dia merasa bekerja dengan pengawasan. Kalau ditegur penumpang dia akan minta maaf.

Saya kira Gojek maupun Grab Bike, perusahaan jasa antar sepeda motor, bisa berperan besar dalam membina pengemudi mereka agar taat pada aturan lalu lintas di Jakarta. Kecelakaan lalu lintas adalah pembunuh nomor satu di Indonesia. Ia lebih tinggi dari penyakit malaria, TBC maupun HIV. Menurut World Health Organization, Indonesia menempati urutan pertama peningkatan kecelakaan lalu lintas pada 2014.

Menurut Bang Awang, sehari dia bisa dapat Rp 200 ribu. Kalau bekerja 25 hari berarti dapat Rp 5 juta sebulan. Ini peningkatan hampir dua kali lipat dari pendapatan sebelum gabung Gojek. Dia harus bayar komisi 20 persen kepada Gojek.

Saya tanya bagaimana dgn reaksi tukang ojek pangkalan yang menolak Gojek maupun Grab Bike. Dia bilang dia masih kadang duduk di pangkalan lamanya di Palmerah. Ada kawan dekat melirik sana dan sini. Ada perasaan tak senang.

"Biasa ... tapi dia tanya-tanya kalau mau ikutan bagaimana? KTP-nya mati. Saya bilang perbaiki dulu itu KTP."

Dia bangga bisa traktir kawan-kawannya minum kopi dan beli rokok. Saya merasa kesenangan Bang Awang. Dia jadi tukang ojeg dgn teknologi baru. Ada perubahan, ada tantangan, dan dia terlihat senang.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.