Saturday, May 25, 2013

Feature: Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi

Andreas Harsono

Kantor Yale Daily News diberi nama Briton Hadden Memorial Building di 202 York Street, New Haven, Connecticut. ©Apicella Bunton Architects

PADA awal abad XX di Connecticut, dua pemuda sama-sama kuliah di Universitas Yale. Briton Hadden dan Henry Luce sama-sama suka menulis. Mereka ikut mengelola harian mahasiswa Yale Daily News. Pada 1920, mereka lulus kuliah. Briton Hadden lantas bekerja untuk harian New York World. Dia lantas pindah sebagai wartawan di Baltimore News di kota Baltimore, dekat Washington DC. Henry Luce dapat beasiswa dan belajar sejarah di Universitas Oxford di Inggris. Pada Desember 1921, Luce diajak Hadden, masuk ke harian Baltimore News.

Sejak mengepalai Yale Daily News, Hadden merasa ada yang kurang dengan sistem suratkabar harian. Dia ingin bikin media ukuran kecil yang berisi ringkasan dari berbagai berita. Ia seyogyanya terbit setiap minggu. Isinya, harus ringkas, cerdas serta mendalam. Mereka juga lihat teknologi mesin cetak berkembang pesat. Teknologi cetak sudah bisa cetak foto dan warna. Mereka merasa bisa bikin majalah berwarna. Sistem distribusi lewat dinas pos di Amerika Serikat juga berkembang baik dan murah. Mereka bisa distribusi majalah tersebut dari New York ke seluruh Amerika Serikat: negara dengan enam zona waktu.

Time 3 Maret 1923
Pada akhir 1922 mereka mundur dari Baltimore News serta mencari modal. Mereka hanya dapat US$60,000 dari total $100,000 yang mereka perlukan. Mereka nekad mendirikan majalah tersebut. Umur mereka baru 23 tahun ketika mereka bikin majalah Time. Ia terbit perdana pada 3 Maret 1923 dengan kulit muka Joseph G. Cannon, mantan ketua Dewan Perwakilan Rakyat di Washington DC. Time dikenal karena kulit mukanya selalu diberi frame warna merah. Briton Hadden menjadi pemimpin redaksi.

Time menghindar dari penulisan berita ala piramida terbalik yang biasa dipakai wartawan sejak abad XIX. Dalam penulisan piramida terbalik, seorang wartawan menaruh seawal mungkin semua informasi 5W 1H –what, when, who, where, why, how. Alinea pertama praktis berisi semua sari berita. Makin ke bawah informasi makin kurang substansial. Model tersebut cocok untuk teknologi cetak suratkabar harian maupun wire service, yang melayani suratkabar. Mengapa? Karena ongkos telegram mahal. Dalam ruang redaksi sebuah harian, satu laporan berita bisa dipotong bagian bawah bila ruang tak cukup.

Majalah Time, dengan arahan Hadden, memakai model penulisan yang mereka sebut “feature.” Ia dimulai oleh sebuah alinea yang memancing rasa ingin tahu pembaca. Lalu ibarat kail dan ikan, ia mengiming-imingi si ikan untuk terus mengejar mata kail. Ada bagian yang penting –termasuk statistik, teori, argumentasi— yang mungkin kurang enak dibaca, ditaruh di bagian tengah. Ia diakhiri dengan upaya menjawab rasa ingin tahu tersebut di ekor feature. Time bukan organisasi yang menemukan feature namun mereka adalah organisasi pertama yang menggunakan feature sebagai kekuatan mereka. Hadden dianggap wartawan muda dengan gaya dan keberanian yang luar biasa.

Briton Hadden 1928
Keberanian dan keputusan tersebut terbukti membawa perubahan dalam jurnalisme di Amerika Serikat. Time dapat sambutan hangat dari warga Amerika Serikat. Sayangnya, pada 1929, Briton Hadden meninggal dunia dalam usia 31 tahun. Namun dalam usia muda, Hadden dianggap salah satu inovator penting dalam jurnalisme. Dia dikenal sebagai seorang stylist. Dia dianggap salah satu orang yang paling berpengaruh dalam perkembangan jurnalisme dunia.

Henry Luce mengenang koleganya, “Somehow, despite the greatest differences in temperaments and even in interests, we had to work together. We were an organization. At the center of our lives — our job, our function — at that point everything we had belonged to each other.”

Luce meneruskan Time dan mengembangkannya jadi salah satu majalah paling penting di dunia. Luce juga selama 30 tahun lebih bersaing dengan rival utama mereka, majalah Newsweek, berdiri di New York pada 1933, yang juga sama-sama memakai feature.

Kini 90 tahun sesudah kedua pemuda tersebut mendirikan Time Inc, ia menjadi perusahaan majalah paling besar di Amerika Serikat. Ada edisi Eropa terbit dari London. Ia juga punya edisi Amerika Latin dari beberapa kota di Amerika Selatan, edisi Asia dari Hong Kong, edisi Pacific dari Sydney. Time Inc. juga menerbitkan majalah lain, termasuk Life, Sports Illustrated, Fortune, Golf, Entertainment, Health, CNN Money, People, Coastal Living, Sunset dan seterusnya. Ia juga merger dengan Warner Communications, Inc. serta Turner Broadcasting System, Inc. sehingga jadi salah satu dari lima perusahaan media terbesar di dunia. Turner Broadcasting System Inc. adalah pemilik televisi berita 24 jam CNN.

Henry Luce 1967
Ketika Henry Luce meninggal pada 1967, dalam usia 69 tahun, sebagai orang nomor satu Time Inc, ia disebut "… the most influential private citizen in the America of his day." Salah satu warisan Luce adalah Henry Luce Foundation yang didirikan pada 1936 di New York. Modal yayasan ini datang dari saham Henry Luce, makin lama makin besar. Luce mewariskan kekayaannya, sekitar US$100 juta, kepada Henry Luce Foundation. Ia kini salah satu yayasan paling berpengaruh di Amerika Serikat.

Time Warner sekarang terdiri dari empat divisi: Home Box Office Inc. (perusahaan film dengan label HBO), Turner Broadcasting System Inc. (televisi berita CNN), Warner Bros. (perusahaan film) dan Time Inc. (majalah dan berbagai media berita lain).


EMPAT tahun sesudah kematian Henry Luce, di Jakarta ada sekelompok wartawan muda merasa perlu ada majalah berita untuk khalayak Indonesia. Majalah Tempo diterbitkan pada 6 Maret 1971 dengan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin redaksi.

Pada 1970an, entah sudah berapa ribu majalah, maupun suratkabar harian, dalam berbagai bahasa dan aksara, di berbagai kota dunia, memakai feature sebagai model laporan mereka. Piramida terbalik dipakai. Feature juga dipakai. Tempo juga memilih feature sebagai model penulisan mereka. Sambutan masyarakat hangat. Tempo juga terbukti menjadi sebuah institusi media yang penting di Indonesia. Pada 1982, PT Grafiti Pers, penerbit mingguan Tempo, membeli saham harian Jawa Pos di Surabaya. Kini kelompok Tempo Jawa Pos jadi satu dari 13 konglomerat media di Indonesia.

Pedoman dari Tempo
Namun ada masa jeda dalam sejarah Tempo. Pada 1994, pemerintahan Presiden Soeharto membredel Tempo. Goenawan Mohamad mendirikan Institut Studi Arus Informasi, sebuah organisasi nirlaba, untuk memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Pada 1996, organisasi ini menerbitkan buku pegangan wartawan Tempo untuk disediakan kepada masyarakat. Judulnya, Seandainya Saya Wartawan Tempo. Saya kira inilah pertama kali model penulisan feature dijadikan buku dalam Bahasa Indonesia dan disediakan untuk masyarakat. Ia menjadi buku pegangan penting bagi siapa pun yang ingin tahu bagaimana menulis feature. Goenawan menerbitkan Tempo kembali pada 1998 sesudah Soeharto turun panggung.

Seandainya Saya Wartawan Tempo dibagi dalam 10 bab. Secara teknis ada dua bab awal soal dasar-dasar jurnalisme. Seluk-beluk penulisan feature dijabarkan dalam delapan bab:

• Mengail dengan Lead
• Tubuh dan Ekor
• Teknik Penulisan
• Siapkan Empat Senjata: Fokus, Deskripsi, Anekdot, Kutipan
• Memilih Angle yang Tepat
• Yang “Berita” dan yang Bukan Berita
• Profil Pribadi
• Buatlah “Outline”

Berbeda dengan piramida terbalik, feature minta seorang wartawan berpikir soal fokus lebih dahulu. Dia harus punya fokus. Apa yang hendak ditulisnya? Dan fokus ini dijabarkan sebagai satu kata dari 5W 1H: what, when, who, where, why, how.

Sebuah naskah feature hanya punya satu fokus. Apa yang terjadi dalam skandal tersebut? Kapan pembunuhan terjadi? Siapa yang memberi perintah pembantaian? Dimana rapat rahasia untuk rampok uang negara dilakukan? Mengapa organisasi pendidikan harus menipu? Bagaimana agama dijadikan alasan pembunuhan, pembakaran?

Fokus harus dimulai dengan sudut masuk atau angle. Si wartawan harus mencari sudut masuk yang menarik perhatian pembaca. Sudut masuk seyogyanya sesuatu yang baru, yang ringan, yang mudah dimengerti.

Contoh. Pada Mei 2013, majalah Tempo mengeluarkan satu laporan soal dugaan kongkalikong dalam Partai Keadilan Sejahtera. Sudut masuknya sebuah “perjamuan” di kantor satu perusahaan di Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana ada seorang pengusaha dan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq disertai orang kepercayaannya Ahmad Fathanah. Mereka rapat dan bicara soal penggalangan dana kampanye PKS. Tempo juga menyertakan catatan di papan dimana PKS bikin target cari dana Rp 2 trilyun buat kampanye. Ia akan digali dari berbagai proyek di tiga kementerian dimana menterinya politisi PKS. Ia sebuah angle yang baru, segar, ringan, mudah dimengerti.

Seandainya Saya Wartawan Tempo menerangkan macam-macam alinea pertama atau lead. Buku tersebut juga menerangkan macam-macam perkakas dalam penulisan, antara lain, deskripsi, anekdot, monolog, dialog dan sebagainya. Ia memberikan panjang feature bervariasi dari pendek sekali sampai 15 atau 20 lembar ketik dua spasi, sekitar 50,000 karakter.

Bab bontot bicara soal outline. Sebuah feature dimulai oleh lead dan diakhiri dengan ekor. Semua alinea tersebut perlu disusun dengan sebuah outline. Ia akan membantu si wartawan berpikir secara sistemanis. Bila fokusnya ini maka outline tersebut, secara sistematis, terus-menerus mencoba menjawab pancingan itu, dari sudut masuk sampai ekor feature.

Goenawan Mohamad dari Tempo
Pada 1997 dan 1999, saya sering mendengarkan Goenawan Mohamad bikin berbagai macam pelatihan menulis bersama Institut Studi Arus Informasi. Pelatihan dibikin buat wartawan namun banyak juga mahasiswa, aktivis maupun akademisi ikutan. Goenawan selalu bicara secara ringkas soal penulisan feature. Ada tiga hal selalu dia terangkan: fokus, sudut masuk dan outline. Fokus, sudut masuk dan outline. Dia sering bilang bila hendak menulis esai Catatan Pinggir, kolom majalah Tempo, yang sudah dikerjakannya setiap minggu sejak 1977, dia selalu memakai struktur feature. Dia selalu siapkan fokus, angle dan outline. Fokus, angle dan outline.

Saya selalu menikmati bagaimana Goenawan bicara. Dia seorang pembicara hebat. Dia menerangkan persoalan sederhana, bagaimana menulis feature. Ibarat dia menerangkan bagaimana menggoreng telur mata sapi. Ia bukan masakan rumit. Siapa pun tahu, telur mata sapi adalah masakan yang digoreng, dikasih garam dan merica, disajikan, dan dimakan oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Feature tak peduli bahasa, aksara maupun media. Namun bikin telur mata sapi yang enak, gurih, segar, bisa jadi keahlian seorang koki terkemuka. Feature kini juga merambah suratkabar harian. Feature juga masuk ke media internet.

Kini umur feature sudah sekitar 100 tahun. Newsweek berhenti cetak 2012. Namun sejak Briton Hadden dan Henry Luce memulai dengan model penulisan majalah Time hingga Goenawan Mohamad dan kawan-kawan membuat buku pedoman di Jakarta, feature terbukti jadi salah satu struktur penulisan pendek yang penting, yang harus dikuasai oleh wartawan, maupun non-wartawan, yang mau menulis laporan menarik dan bernas. Ia bukan sekedar menggoreng telur mata sapi. Tapi ia menyajikan telur mata sapi yang gurih, segar dan enak dimakan.

Goenawan Mohamad menyebutnya, "Enak dibaca dan perlu, bahkan jenaka pun bisa."


Pengantar untuk diskusi dalam program “Pendidikan Jurnalisme Mahasiswa” bersama media mahasiswa Aspirasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta, 27 Mei 2013.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.