Saturday, June 09, 2012

Tangerang Selatan: Universitas Multimedia Nusantara

MINGGU ini saya mengajar liputan naratif di satu kelas Universitas Multimedia Nusantara dari Kelompok Kompas Gramedia, di kampus mereka, Serpong. Ini sebuah liputan yang rumit karena perlu waktu panjang, riset mendalam serta penguasaan perkakas menulis dengan mahir.

Daripada repot menerangkan teori, saya ajak kelas melihat bagaimana wartawan The New Yorker, John Hersey (1904-1993), mengerjakan liputannya soal pengeboman kota Hiroshima pada 7 Agustus 1945.


Ceritanya, pada akhir 1945 Hersey rencana pergi ke Tiongkok dan Jepang meliput situasi Perang Dunia II. Biaya ditanggung majalah Life dan The New Yorker. William Shawn, redaktur pelaksana The New Yorker, menawarkan 10 ide kerangka tulisan.

Shawn mulanya ingin reporter Joel Sayre menulis tentang kota Cologne kena bom dahsyat. Tapi Perang Eropa selesai duluan dan ada Hiroshima! Shawn menawarkan kerangka tulisan Sayre kepada Hersey. Intinya, menulis soal bom dari kacamata korban.

Maret 1946, dengan kapal laut, Hersey tiba di Tiongkok, pintu masuk ke Jepang yang paling murah, sekaligus untuk menengok kampung halamannya. Hersey memang kelahiran Tientsin 1904.

Pada bulan Mei, Hersey berlayar ke Jepang dan memikirkan pendekatan cerita Hiroshima. Di kabin kapal, Hersey menemukannya setelah membaca novel The Bridge of San Luis Rey karya Thornton Wilder. Terbit 1927, novel itu berkisah tentang bencana alam di Peru pada abad ke-18 dari sudut pandang lima tokoh yang berbeda.


Hersey tertarik pada pendekatan Wilder. Di Hiroshima, selama tiga minggu, dia interview 40an sumber dengan teknik bola salju. Dia mengambil enam orang sebagai tokoh cerita dalam liputannya: Toshiko Sasaki (klerk), Hatsuyo Nakamura (penjahit), Masakuzu Fujii (dokter), Wilhelm Kleinsorge, Terufumi Sasaki (apoteker), dan Kiyoshi Tanimoto (pendeta).

Pada 12 Juni 1946 Hersey terbang kembali ke kotanya, Cambridge, dan sebulan lebih menulis laporan dengan gaya kalem, kering, tanpa emosi. Awal Agustus laporan empat seri, 150 halaman, 30.000 kata (dari 60-70.000 kata) diserahkan Hersey kepada William Shawn dengan judul “Some Events at Hiroshima”.

Selama 10 hari Shawn dan Harold Ross, redaktur eksekutif The New Yorker, mengurung diri di ruang editor terkunci. Ross kosentrasi pada detail narasi, Shawn menyusupkan nafas humanisme. Hanya awak cleaning service boleh masuk ruang tsb.

Bagian pertama, Ross memberi 47 komentar plus 27 komentar sesudah revisi, dan enam lagi setelah revisi kedua. Shawn usul naskah ini diterbitkan sekaligus, bukan empat seri. Artinya, bila disetujui, maka naskah Hersey mengambil seluruh isi majalah The New Yorker sebanyak 68 halaman. Ross akhirnya setuju karena cerita tersebut takkan muncul sempurna bila dipotong empat kali.

Naskah Hersey, dengan judul "Hiroshima", terbit di majalah The New Yorker pada 31 Agustus 1946. Ia menciptakan reaksi besar. Majalah The New Yorker habis terjual pada hari itu. Dan saat Albert Einstein, ahli fisika yang menerangkan teori relativitas, mencoba membeli 1,000 majalah itu, tak satu pun tersedia. Dalam dua hari harga terbitan bekasnya, dari harga $15 sen mencapai 18 dolar di pelelangan.

Artinya, dalam dua hari, harga majalah The New Yorker edisi "Hiroshima" naik 120 kali lipat. Sekedar perbandingan. Harga eceran majalah Tempo sekarang Rp 27 ribu. Seandainya, Tempo bikin liputan "Hiroshima" maka dalam dua hari, majalah Tempo bekas --karena edisi baru sudah habis dari pasar-- dijual orang seharga Rp 3,240,000 alias tiga juta dua ratus empat puluh ribu rupiah!

Menurut sebuah survei dari New York University pada Maret 1999, "Hiroshima" adalah karya terbaik jurnalisme Amerika Serikat pada abad XX.

Saya senang mengajar di kelas ini. Mahasiswanya sudah membaca lebih dulu. Saya lihat beberapa dari mereka membaca buku-buku karya saya. Undangan mengajar ini datang dari Viriya Paramita, mahasiswa dan editor majalah kampus Universitas Multimedia Nusantara, lewat sobat Haris Azhar dari Kontras.

Satu-satunya persoalan adalah keakraban geografis. Serpong berkembang cepat sekali. Saya tersesat beberapa kali! Cukup kaget lihat gedung-gedung baru bermunculan di Serpong.

Namun lebih penting adalah para mahasiswa ini (semoga) tidak tersesat dalam belajar narasi, menulis panjang.

Link Terkait
Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.