Thursday, January 01, 2009

Pertemuan Pers soal Muchdi


HARI PERTAMA tahun baru ini, saya menghadiri pertemuan pers soal dibebaskannya Mayor Jenderal Muchdi Purwopranjono dalam kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Saya sedang berpikir menulis sebuah kolom tentang kasus ini.

Saya sudah mengikuti kasus ini selama empat tahun. Saya pernah menulis laporan panjang "BIN Menyewa Perusahaan Lobby Washington" atau "Jakarta's Intelligence Service Hires Washington Firm" soal usaha Badan Intelijen Negara, lewat perusahaan Collins & Co. dan Gus Dur Foundation, melunakkan hati para penguasa di Washington DC. Saya juga menulis "A Lobbying Bonanza" soal Taufik Kiemas, ketika isterinya, Megawati Soekarnoputri, masih jadi presiden, juga lobby Kongress Amerika Serikat. Saya kuatir pembunuhan Munir takkan pernah bisa dikuakkan duduk perkaranya. Saya kuatir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak punya kemampuan dan kemauan guna mengungkap kasus ini.

Komite Aksi Solidaritas untuk Munir mengadakan pertemuan pers di kantor Kontras. Mereka mempertanyakan kredibilitas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin dalam membebaskan Muchdi Purwopranjono sebagai terdakwa pembunuh aktivis hak asasi manusia Munir.

Suciwati, isteri almarhum Munir, menghimbau masyarakat yang tahu hubungan antara Muchdi, kepala Badan Intelijen Nasional A.M. Hendroprijono dan pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto untuk memberi informasi kepada KASUM. Pollycarpus dihukum 20 tahun penjara karena meracuni Munir. Hendropriyono dan Muchdi diduga ikut mengatur pembunuhan Munir. Muchdi membantah kenal Pollycarpus. Hendropriyono bahkan menggugat dua aktivis yang dianggap mencemarkan namanya dengan kasus Munir. Hendropriyono, Pollycarpus dan Muchdi dijadikan bahan dalam poster "Tangkap!"

Munir Said Thalib dibunuh dengan racun arsenik dalam penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta-Amsterdam 7 September 2004. Pilot Garuda, Pollycarpus Priyanto, dihukum 20 tahun penjara karena meracuni Munir. Indra Setiawan, CEO Garuda, dihukum penjara setahun karena membuat surat guna memasukkan Pollycarpus dalam penerbangan itu.

Ada 41 kali hubungan telepon antara nomor-nomor Pollycarpus (rumah dan handphone) dan nomor-nomor Muchdi (kantor dan handphone). Muchdi beralasan teleponnya sering dipakai orang lain. Dia tidak mengenal Pollycarpus. Muchdi juga menunjukkan paspor dimana dia tercatat berada di Malaysia pada 6-12 September 2004.

Saya pribadi kenal Munir maupun Suciwati. Saya terkadang ingin tahu pikiran Muchdi maupun isterinya, Puji Astuti, soal pembunuhan Munir. Rasanya juga menarik bila tahu reaksi ketiga anak Muchdi: Dewi Kirana Juvirawati, Raditya Muhas dan Dias Baskara Dewantara. Bagaimana mereka melihat tuduhan terhadap bapak mereka? Bagaimana mereka melihat anak-anak Suciwati, Alief Sultan Allende dan Diva Suukyi Larasati, yang kehilangan abahnya?

Mungkin menarik bila bisa wawancara mereka ya?

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.