Saturday, August 04, 2007

Gus Dur Kecam Pembakaran Buku Sejarah


Jakarta, gusdur.net

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengecam pembakaran dan penyitaan sejumlah buku sejarah yang tidak menuliskan kata "PKI" di belakang "G30S". Pembakaran ini adalah tindak lanjut dari pelarangan buku-buku tersebut oleh Kejaksaan Agung atas desakan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di beberapa daerah, antara lain di Bogor dan Depok.

“Pendapat seperti itu pendapat goblog.” Demikian dikatakan Gus Dur dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur dengan tema Pembakaran Buku Sejarah (04/08). Sebagai panelisnya adalah sejarawan Asvi Warman Adam dari LIPI.

Pendapat itu dikemukakan Gus Dur, karena ada berbagai versi peristiwa berdarah pada 30 September 1965. “Ketika menjadi presiden, saya pernah didatangi Ketua Umum Legiun Veteran Achmad Tahir. Waktu itu beliau belum meninggal. Dia ngomong sama saya kalau PKI itu begini, begini. Saya ngomong, "Lho Pak, sekarang ini ada tiga pendapat mengenai peristiwa ‘65 itu,” terang Gus Dur, yang pagi itu mengenakan batik coklat.


Tiga versi G30S tersebut adalah, pertama, bahwa yang membuat peristiwa itu Soeharto dan kawan-kawan. Kedua, dibuat oleh tentara seperti dikemukakan oleh Benedict Anderson dari Cornell University. Ketiga, PKI merupakan rancangan Soekarno sebagaimana pendapat Prof Dr Antonie CA Dake (intelektual Belanda). Versi ketiga ini disimpulkan dengan melihat proses verbal di Mahmilub.

Melalui cerita ini Gus Dur hendak menekankan bahwa perlu bijaksana dalam membaca sejarah Indonesia. “Membaca sejarah itu jangan emosional,” tegas Gus Dur.

Karena itu, Gus Dur menyebut tindakan pembakaran buku itu sebagai cerminan dari cara berpikir yang tidak karuan. “Memangnya kalau dibakar lalu selesai? Orang malah ingin tahu buku yang dibakar itu. Yang penasaran itu malah ingin mencari buku-buku tersebut untuk dibaca,” kata Gus Dur.

Di akhir acara, Pak Imron dari Bekasi menanyakan peristiwa pembantaian kyai di Madiun yang amat masyhur itu. “Kalau peristiwa Madiun 1948, bagaimana Gus? Itu kyai-kyainya disembelih sampai darahnya sedengkul (selutut). Kemudian ayah saya difitnah dan ditawan. Paman saya dibunuh,” rinci lelaki kelahiran 1950 itu.

Gus Dur menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah cerita yang didapatnya dari mantan Deputi Bakin Yono Suwoyo. “Dia dulu ajudannya paman saya, Mayor Jenderal Khalik Hasyim (adik Wahid Hasyim). Katanya, Pak Khalik berangkat dari Jombang ke Takeran, Madiun naik jip. Pak Yono jongkok dan bersembunyi di belakangnya,” rinci Gus Dur.

Sampai di Takeran, yang berlokasi di sebelah timur Madiun itu, terdapat sebuah sumur. “Di sumur itu dulunya 72 orang kyai dikubur hidup-hidup oleh PKI,” tambah Gus Dur.

Waktu itu, Pak Khalik menangis lalu mengeluarkan sumpah. “Saya akan habiskan PKI,” tutur Gus Dur menirukan kerabatnya itu. Keterangan Pak Yono ini menunjukkan bahwa peristiwa pembantaian itu memang terjadi alias bisa dipercaya. “Pak Yono orang Katolik. Jadi enggak mungkin mbelani begitu saja,” tutur Gus Dur.

Walaupun Gus Dur meyakini kisah tersebut, namun dia tak setuju dengan membalas dendam terhadap orang-orang eks-PKI. “Pertanyaan saya satu: apakah obatnya itu dengan merepresi PKI?” pancing Gus Dur.

Oleh sebab itu, Gus Dur berharap semua komponen bangsa menghentikan aksi saling mengumbar kekerasan. “Jangan lalu kita marah-marah terus saja pada PKI. Ada masanya marah. Ada masanya tidak marah,” saran Gus Dur.

Acara Kongkow Bareng Gus Dur ini ditutup dengan pemotongan tumpeng berkaitan dengan ulang tahun Gus Dur yang ke-67 yang jatuh pada 4 Agustus. Gus Dur pun diminta para hadirin menyampaikan harapannya. “Permintaan saya, negara kita menjadi negara yang besar dan kuat. Juga menjadi bangsa yang kuat,” ucap Gus Dur diamini para hadirin.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.