Friday, May 11, 2007

Peserta Narasi Angkatan II


Kami mulai kelas Narasi angkatan kedua di Pantau minggu ini. Aku cukup terpesona dengan keragaman para pesertanya serta kuatnya latar belakang pendidikan mereka. Ada dua orang master dari studi lanjut di Belanda serta satu master dari Perancis. Masih ada juga beberapa master lulusan Universitas Indonesia di Jakarta. Ada yang bekerja sebagai wartawan. Namun ada juga yang kerja sebagai fotografer, aktivis lingkungan, pekerja NGO dan sebagainya.

Ada yang sudah berkeluarga, banyak pula yang masih bujangan. Jumlah perempuan juga sangat membesarkan hati. Biasanya, bila berhadapan dengan kelas wartawan, aku kebanyakan menghadapi laki-laki. Mungkin ia cermin dari dominasi laki-laki dalam dunia kewartawanan. Namun kelas Narasi ini bukan hanya wartawan. Bahkan wartawan bukan mayoritas disini. Mungkin ini yang mengakibatkannya menarik cukup banyak peserta perempuan.

Sebagian sudah punya blog. Sebagian lagi ingin bikin blog. Saat perkenalan, aduh aku merasa bersemangat melihat keragaman ini. Budi "Buset" Setiyono, rekan mengajar kursus ini, juga bilang terkesan dengan keragamannya. Pada angkatan pertama, kamu mendapati peserta yang dokter anak, produser film dan pengacara. Kini juga tak kalah menarik keragamannya.

Mereka terdiri dari Algooth Putranto (wartawan harian Bisnis Indonesia), Ambri Rahayu (aktivis Greenpeace), Budi Afrian (wartawan Trans TV), Farah Amini (komunikasi sebuah NGO yang dapat grant dari USAID), Hagi Hagoromo (redaktur majalah sepakbola Four Four Two), M. Husen Hamidy (redaktur opini harian Media Indonesia), John Muhammad (arsitek dan aktivis Komite Solidaritas untuk Munir), Kiagus Amir (alumnus Universitas Gadjah Mada, kini kerja di pelabuhan Tanjung Priok), Kiki Kurnia Debora (fotographer), Leila Mona (trainer komunikasi publik), Mellyana Frederika Silalahi (penyiar radio serta kerja untuk sebuah NGO), Nenden Novianti Fathiastuti (reporter sebuah situs Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), Nurul Hilaliyah (bekerja di sebuah proyek UNDP di Gedung Parlemen), Prodita Kusuma Sabarini (reporter harian The Jakarta Post), Roysepta Abimanyu (aktivis Inbox Indonesia), Sely Martini (aktivis Indonesia Corruption Watch), Siti Maemunah (aktivis Jaringan Advokasi Tambang) serta Herni Sri Nurbayanti (Pusat Studi Hukum dan Konstitusi).

Kami juga mulai tahu keinginan masing-masing peserta. Nenden sejak awal bilang dia ingin menulis sesuatu tentang Kuba. Nenden kagum pada Che Guevara. Kiagus Amir, yang dulu mengerjakan skripsinya tentang Gerakan Acheh Merdeka dan Hasan di Tiro, lagi berpikir untuk menambah risetnya dengan bahan-bahan dari Eropa. Amir ingin menjadikannya sebuah buku. Siti Maemunah berpikir soal isu pertambangan.

Mudah-mudahan sesudah lima bulan berjalan, mereka bisa mendapatkan teori maupun praktek menulis narasi. Buset akan fokus pada praktek. Aku akan lebih banyak memberikan teori. Aku ingin sekali menciptakan suasana informal, banyak membaca, diskusi rutin dan praktek menulis bagian demi bagian. Buset sendiri makin matang gaya penulisannya ketika bikin kata pengantar buat buku puisi A.S. Dharta dari Lembaga Kebudayaan Rakyat.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.