Monday, April 23, 2007

Nasionalisme dan Jurnalisme


Dear Zen Rahmat Sugito,

Saya pernah bicara dengan Pramoedya Ananta Toer soal jurnalisme dan nasionalisme. Saya kira ini dua isu dengan domain beda. Dua domain ini sangat luas dan never ending. Ia bukan dua isu yang compatible, yang seakan-akan bisa disatukan. Pramoedya setuju. Kalau dia menyebut Tirto sebagai seorang pemula, ia melakukannya dalam konteks Tirto sebagai seorang aktivis nasionalisme. Bukan seorang wartawan melulu.

Saya kira argumentasi ini juga perlu diterapkan pada Mas Marcodikromo. Upaya mencari-cari "Bapak Wartawan Indonesia," sama dengan usaha Taufik Rahzen dari Index Press menghitung-hitung "seabad" pers Indonesia. Ia hanya akan memperkuat apa yang dikritik Soedjatmoko pada kongress sejarah pada 1957 dimana sejarah disubordinasikan pada kebutuhan membangun nasionalisme. Kubu Soedjatmoko kalah. Kubu Muhammad Yamin menang.

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana sejarah dijadikan alat propaganda? Coba kita cari adakah orang yang dianggap sebagai "Bapak Wartawan Inggris" atau "Bapak Wartawan India"? Atau siapakah yang dianggap sebagai sang pemula dalam jurnalisme di Amerika Serikat? Khan tidak ada!

Jurnalisme tidak berada pada tataran nation atau bangsa. Jurnalisme ada untuk mengabdi pada kebenaran. Pribumisasi jurnalisme hanya akan membuatnya subordinasi dari nation-state. Kalau ia terjadi, maka ia akan gagal menjalankan fungsinya.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.