Friday, April 22, 2005

Silabus Workshop Jayapura Mei 2005

PEMBARUAN JURNALISME DARI TIMUR INDONESIA

:: Apa dan Bagaimana Workshop

Thomas Hanitzsch punya penelitian menarik tentang jurnalisme di Indonesia. Dia antara lain melihat bahwa tak ada interaksi antara pendidikan jurnalisme dan industri media. Sekolah jurnalisme punya dunianya sendiri, sedangkan industri media berada pada dunia yang lain. Malangnya, hampir semua sekolah yang ada tak dilengkapi dengan teknologi yang memadai. Banyak yang tak punya fasilitas internet maupun disain grafis. Lebih dari itu, dari 69 sekolah jurnalisme (dari D-1 hingga S-3) di Indonesia, sekira 80 persen ada di Pulau Jawa dan Medan. Daerah timur, dari Makassar hingga Jayapura, dari Maluku hingga Kupang, adalah daerah-daerah yang tak punya sekolah jurnalisme. Ia melihat ada ketimpangan besar antara jurnalisme di Jawa dan Medan serta di kota-kota timur.

Hanitzsch adalah peneliti dari Universitas Ilmenau, Jerman, dan pernah kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada. Pandangannya tentang jurnalisme Indonesia dituangkan ke sebuah riset berjudul “Rethinking Journalism Education in Indonesia: Nine Theses” (diterbitkan jurnal Mediator Volume 2 Nomor 1 - 2001). Riset ini merekomendasikan betapa perlunya langkah-langkah pembaruan dilakukan. Usaha pembaruan bisa dilakukan dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang diarahkan pada kemampuan praktis, salah satunya bidang penulisan.

Workshop ini digelar dengan maksud untuk memperkenalkan teknik-teknik penulisan dan bagaimana menyajikan laporan yang baik, termasuk bagaimana cara meliputnya secara komprehensif. Peserta dibatasi agar lingkungan workshop memunculkan iklim diskusi yang interaktif. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari dalam konsep pelatihan penuh, dari pagi sampai sore.

Selalu terdapat kemungkinan peserta tidak dapat menerima transfer pendidikan secara maksimal pada saat berlangsung workshop. Oleh karena itu, Yayasan Pantau yang bertanggung jawab atas silabus, menyertakan sejumlah bacaan dan beberapa petunjuk praktis ke arah pengembangan kemampuan jurnalisme, yang dapat disimak peserta secara leluasa sepulang dari workshop.

Untuk memberi perhatian secara lebih optimal, yang memungkinkan peserta dapat menjalani workshop secara intens, termasuk bertanya dengan keleluasan waktu lebih banyak, workshop akan dilangsungkan dalam kelas paralel.

:: Peserta

Sebanyak 26 orang terdiri atas wartawan dan pemimpin media di kawasan Indonesia timur, serta beberapa official media dan komunikasi dari PT. Freeport Indonesia Jayapura dan Jakarta.

:: Sponsor

Workshop disponsori sepenuhnya oleh PT Freeport Indonesia, kontak personal: Santi Sari Esayanti. Email: Santi_SariEsayanti@fmi.com.

:: Fasilitator

Yayasan Pantau, Jakarta. Kontak personal: Indarwati Aminuddin. Email: client76@yahoo.com.

:: Instruktur

Andreas Harsono (www.andreasharsono.blogspot.com), adalah ketua Yayasan Pantau, anggota the International Consortium for Investigative Journalists dan associate editor pada the First Monday. Tahun 1999, Harsono mendapatkan Nieman Fellowship dari Harvard University. Dia pernah bekerja untuk The West Australian (Perth), The Nation (Bangkok), serta The Star (Kuala Lumpur), dan memimpin majalah Pantau. Dalam aktivitas organisasi kewartawanan, Harsono ikut memprakarsai pendirian Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Institut Studi Arus Informasi (ISAI) serta Southeast Asia Press Alliance (SEAPA). Kini, ia sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism yang membahas kompleksitas hubungan antara kekerasan media, etnik dan agama dengan nasionalisme di Indonesia.

Agus Sopian (www.asopian.blogspot.com), adalah anggota badan pendiri Yayasan Pantau, konsultan independen untuk riset dan pelatihan jurnalisme, selain menulis di beberapa media massa. Sebelumnya, Sopian bekerja untuk Perform Project, sebuah konsultan riset untuk RTI Amerika; dan menyunting beberapa media antara lain Java, Bandung Pos, majalah Pantau. Tahun 2002, ia dikirim Pantau ke Kuala Lumpur untuk mengikuti “Advance Course on Investigative Reporting. “ Beberapa buku pernah dieditnya, dan kini sedang menuntaskannya riset untuk Institute for Global Justice dan SOMO (Stichting Onderzoek Multinationale Ondernemingen) Belanda.

Harsono akan didampingi asisten Indarwati Aminuddin dan Sopian didampingi Budi Setiono. Indarwati sehari-hari bekerja sebagai direktur eksekutif Yayasan Pantau. Dia pernah bekerja untuk Kendari Pos, Kendari Ekspres, selain kontributor majalah Pantau. Sedangkan Setiono adalah sekretaris Yayasan Pantau, dan pernah bekerja untuk Suara Merdeka Cybernews selain menjadi redaktur bahasa Pantau. Dia mengelola lembaga nirlaba Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah, dan pada 2003 menyunting buku kumpulan pidato politik Soekarno.

:: Silabus Workshop

Sesi 1, Senin 2 Mei 2005, pukul 09.30 – 11.00 <>

Kelas Bersama – Pembukaan: Membicarakan silabus, perkenalan dan diskusi tentang jurnalisme dasar melalui sudut pandang sembilan elemen jurnalisme dari Committee of Concerned Journalists, serta kesempatan yang ditawarkan sudut pandang ini untuk pengembangan media di Indonesia, termasuk pemakaian byline, pagar api, kolumnis dan sebagainya. [Andreas Harsono dan Agus Sopian]

Sesi 2, Senin 2 Mei 2005, pukul 11.30 – 13.00

Kelas Paralel – Andreas Harsono: Prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, melontarkan pertanyaan, menilai dokumen, serta mengutip sumber termasuk persoalan sumber anonim.

Kelas Paralel – Agus Sopian: Manajemen reportase komprehensif mulai pengenalan atas informasi pertama, liputan pendahuluan, wawancara, observasi lapangan hingga penulisan.

Sesi 3, Senin 2 Mei 2005, pukul 14.30 – 16.00

Kelas Paralel – Andreas Harsono: Diskusi tentang persoalan penulisan naratif dan bagaimana menulis profil dengan baik.


Kelas Paralel – Agus Sopian: Diskusi tentang apa yang dimaksud penulisan naratif, bagaimana perbedaannya dengan straight news dan feature, contoh-contoh penulisan naratif, dan bagaimana prospeknya untuk pengembangan media di Indonesia.

Sesi 4, Selasa 3 Mei 2005, pukul 09.30 – 11.00

Kelas Paralel – Andreas Harsono: Bahasa suratkabar dan penggunaan kata “saya” dalam laporan jurnalisme.

Kelas Paralel – Agus Sopian: Bahasa suratkabar dan sistem editing untuk karya jurnalisme dan non-fiksi lainnya.

Sesi 5, Selasa 3 Mei 2005, pukul 11.30 – 13.00


Kelas Paralel – Andreas Harsono: Diskusi tentang bagaimana membuat intro, membangun engine tulisan, alur dan struktur laporan naratif dan features.

Kelas Paralel Agus Sopian: Diskusi tentang bagaimana mendeskripsikan tempat, adegan, serta dialog dalam penulisan naratif.
<>

Sesi 6, Selasa 3 Mei 2005, pukul 14.30 – 16.00
<>

Kelas Paralel – Andreas Harsono: Diskusi lanjutan tentang bagaimana membuat intro, membangun engine tulisan, alur dan struktur laporan naratif dan features.
<>

Kelas Paralel Agus Sopian: Diskusi lanjutan tentang bagaimana mendeskripsikan tempat, adegan, serta dialog dalam penulisan naratif.
<>

Sesi 7, Rabu 4 Mei 2005, pukul 09.30 – 11.00

Kelas Paralel – Andreas Harsono: Membangun database pribadi, mulai kronologi kasus sampai pembuatan daftar kontak sumber untuk keperluan penulisan.

<>Kelas Paralel Agus Sopian: Sistem pencarian data melalui komputer. <>

Sesi 8, Rabu 4 Mei 2005, pukul 11.30 – 13.00

Kelas Bersama: Diskusi liputan isu lokal mulai persoalan nasionalisme Indonesia sampai isu pemilihan kepala daerah. [Andreas Harsono]

<>Sesi 9, Rabu 4 Mei 2005, pukul 14.30 – 16.00 <>

:: Bacaan Workshop

Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (Bagian 2 dan 4 tentang Kebenaran dan Jurnalisme Verifikasi).

Resensi Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Andreas Harsono

Dari Thames ke Ciliwung oleh Andreas Harsono

Indonesia Kilometer Nol oleh Andreas Harsono

Asing di Tanah Aceh oleh Andreas Harsono

Cermin Jakarta, Cermin New York oleh Andreas Harsono

Taufik bin Abdul Halim oleh Agus Sopian

Tikungan Terakhir oleh Agus Sopian

Namaku Bre Redana oleh Linda Christanty

Hikayat Kebo oleh Linda Christanty

Kegilaan di Simpang Kraft oleh Chik Rini

Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan oleh Alfian Hamzah

It’s an Honour oleh Jimmy Breslin

Journalism and the Scientific Tradition oleh Philip Meyer

Reporting with Computers an interview Philip Meyer with Margareth Sullivan


:: Tentang Yayasan Pantau

Yayasan Pantau adalah sebuah lembaga yang bertujuan memperbarui jurnalisme di Indonesia. Awalnya Pantau sebuah majalah yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada tahun 1999. ISAI dan Article XIX, sebuah organisasi kebebasan media dari London, bersama-sama memantau televisi dan menerbitkan penelitiannya lewat “newsletter” Pantau.

Pada akhir 2000, muncul pemikiran untuk membuatnya lebih populer, tak hanya mengandalkan analisis isi. Maka, Maret 2001 Pantau diubah jadi majalah bulanan dengan liputan mendalam soal media dan jurnalisme. Pantau terbit rutin tiap Senin bulan pertama. Menurut survei Business Digest pada Oktober 2002, sebuah majalah Pantau rata-rata dibaca enam orang dan 62 persen pembaca Pantau adalah wartawan (media cetak disusul wartawan televisi). Sisanya politisi, akademisi, orang public relation, dan mahasiswa.

Ali Alatas, mantan menteri luar negeri Indonesia, termasuk pelanggan Pantau dan menyukai majalah ini. Liem Sioe Liong dari organisasi hak asasi manusia Tapol London menyebut majalah ini sebagai “majalah terbaik di Indonesia.” Muchtar Buchori, seorang legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan kolumnis Jakarta Post, menyebutnya “majalah investigasi.”

Pantau terbit dengan laporan-laporan panjang baik soal media, Aceh, terorisme, dan lain-lain. Isinya, sekitar 60 persen soal media dan 40 persen non-media. Pantau jadi fenomena baru dalam jurnalisme Indonesia karena pertama kalinya media Indonesia diliput media lain dengan standar wajar –tanpa standar ganda karena khawatir saling mengganggu sesama wartawan. Pada Februari 2003, manajemen ISAI memutuskan menutup Pantau karena kesulitan cash flow.

Namun para kontributor Pantau merasa majalah ini harus diterbitkan lagi karena di Indonesia tak ada media yang menyajikan informasi dengan bercerita atau “story telling” macam The New Yorker atau The Atlantic Monthly. Riset dalam, referensi banyak, dan enak dibaca. Mereka ingin majalah ini terbit dengan isu luas: politik-cum-kebudayaan. Pantau manajemen baru terbit Desember 2003 dan kembali berhenti karena kesulitan cash flow. Pendanaan selalu menjadi persoalan krusial bagi Pantau, dan sesungguhnya persoalan ini pula yang membuat jurnalisme di Indonesia seperti jalan di tempat. Banyak media yang lebih memfokuskan diri pada penggalian laba, sementara pendidikan terhadap para wartawannya terabaikan.

Beberapa kontributor Pantau yang sebelumnya mendirikan Yayasan Pantau pada 2003, berinisiatif untuk menjalankan pelatihan-pelatihan wartawan dan diskusi terbatas demi mendorong perbaikan mutu jurnalisme di Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.