Sunday, April 22, 1990

Pemusik Harus Tahu Politik

Andreas Harsono
Jayakarta, 22 April 1990

BIARPUN tidak berpolitik praktik pemusik seharusnya juga tahu politik. Keterlibatan pengetahuan itu dituntut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial pemusik. Demikianlah pendapat yang berkembang dari diskusi tentang tanggung jawab sosial (social concern), pemusik pada khususnya dan seniman pada umumnya, yang berlangsung di Guest House, Universitas Kristen Satya Wacana (15/4) yang dihadiri oleh Iwan Fals, Sawung Jabo, Arief Budiman, Jockie Suryoprayogo, Setiawan Djody, W.S. Rendra, dan Totok Tewel.

Menurut penyair W.S Rendra, zaman sekarang politik tidak perlu hanya dikelola oleh raja-raja seperti zaman kerajaan dahulu, kelangsungan negara di zaman sekarang dibebankan pada pundak semua pihak yang berkepentingan dengan jalannya negara. Salah satu bagian tersebut adalah musisi. 

“Iwan Fals juga harus ikut bertanggung jawab, SWAMI juga harus ikut bertanggung Jawab. Seperti halnya saya, Arief Budiman maupun orang-orang di Jakarta sana,” ujar Rendra. 

Karena itulah pemusik yang baik adalah pemusik yang yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Tanggung jawab itu, antara lain tertuang lewat karya musik mereka. 

“Jabo bisa menertawakan badut-badut di masyarakat. Itu sudah merupakan salah satu sisi dari rasa memilikinya” terang Rendra.

Arief Budiman, dosen Universitas Kristen Satya Wacana, dalam acara diskusi yang diadakan oleh Creative Minority Students, juga mengatakan penghargaannya terhadap Iwan Fals maupun kelompok musik SWAMI. 

Menurut Arief, salah satu tuntutan dari rasa tanggung jawab sosial tersebut adalah keharusan pemusik untuk mengetahui persoalan politik yang berkembang di masyarakat. “Iwan Fals, baik diketahui atau tidak dikehendaki, langsung maupun tidak langsung, sudah menjadi kekuatan politik besar."

"Apa yang dinyanyikan Iwan akan didengar banyak pendengarnya. Kalau kekuatan ini dipergunakan oleh orang lain, apa Iwan sudah siap?” tanya Arief Budiman. 

Dia menganjurkan Iwan untuk tahu politik. Bukan untuk berpolitik tapi untuk tahu situasi politik.

Iwan Fals sendiri ketika ditanya apa yang dipikirkan saat menciptakan lagu, mengatakan tidak ada apa-apa. “Aku hanya mengalir begitu saja”, katanya. 

"Mas Willi (Rendra) dan Jabo itu yang jadi guruku. Aku banyak belajar dari mereka.”

“Aku disuruh menenangkan diri saat menciptakan lagu, aku disuruh jadi diriku sendiri."

Sawung Jabo, dalam diskusi itu, bercerita tentang proses pembentukan SWAMI.

Seusai pembredelan tour “Mata Dewa” pada 1989, Jabo menelepon Iwan Fals, “Saya bilang ikut berdukacita.” Beberapa hari kemudian Iwan datang dan mengajak membentuk suatu kelompok musik. Kebetulan Setiawan Djody, pengusaha kapal tanker, bersedia menjadi produser. 

Kelompok SWAMI terdiri dari Sawung Jabo (penyanyi, pemain gitar akustik), Iwan Fals (penyanyi, pemain gitar), Inisisri (pemain drum), Nanoe (pemain bass), Naniel K (penyanyi dan memainkan alat musik tiup), dan Jockie Suryoprayogo (pemain keyboard), diberi kebebasan sebesar-besarnya untuk melaksanakan proses kreatifitas mereka.

Dalam diskusi, Jockie Suryoprayogo mencuatkan isu tentang sponsor rokok yang sudah keterlaluan dalam mencantumkan iklan-iklannya pada setiap pertunjukan musik. 

"Saya pernah bilang sama tauke rokok di Aceh, kenapa jidat saya tidak ditempelkan stiker sekalian, kalau panggung dan peralatan saya sudah dipenuhi sponsor,” katanya, disambut meriah parah peserta diskusi. 

Arief Budiman dan Setiawan Djody juga menimpali tentang masalah sponsor tersebut, dalam ruangan, yang ironisnya, penuh asap rokok.

Sebelum diskusi, SWAMI mengadakan pertunjukan di Salatiga, dengan kesertaan Setiawan Djody  yang memainkan gitar listrik, dan Totok Tewel (pemain gitar Elpamas).

Di Salatiga, pertunjukan SWAMI mampu mengumpulkan penonton sekitar 5000 orang di Lapangan Pancasila. SWAMI juga diperkuat oleh enam mahasiswa Satya Wacana yang menjadi barisan backing vocal. Lagu-lagu SWAMI secara jelas mencoba menghubungkan kenyataan sehari-hari yang ada di masyarakat dengan lirik musik mereka.

SWAMI bertutur tentang seorang konglomerat yang rakus (lagu "Bento"), pedagang asongan (lagu "Bunga Trotoar"), perlawanan terhadap status quo (lagu "Bongkar"), nasib buruk karena kemiskinan (lagu "Oh Ya"), pencemaran lingkungan hidup dan dehumanisasi di daerah perkotaan (lagu "Esek Esek Udug Udug") dan sebagainya.

Menurut Albert A. Razak, manajer SWAMI, band tersebut mencoba melagukan apa-apa yang terjadi dalam masyarakat. SWAMI tidak bermaksud menipu masyarakat dengan menyanyikan apa yang tidak ada di masyarakat. Selain di Salatiga, SWAMI juga mengadakan pertunjukan di kota Semarang.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.