Pada 9-13 Juni 2009, tabloid Ganto dari Universitas Negeri Padang, bikin pelatihan untuk wartawan mahasiswa. Total ada 46 mahasiswa ikutan. Mereka datang dari berbagai kota, termasuk Banda Aceh, Lhokseumawe, Medan, Pekanbaru, Jambi, Padang, Palembang, Bengkulu, Bandar Lampung, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Solo dan Makassar. Aku menjadi instruktur selama tiga hari.Aku punya kesan mendalam terhadap pelatihan ini. Panitia bekerja keras. Para peserta ditempatkan dalam sebuah guest house dalam kampus Universitas Negeri Padang. Makan tiga kali, snack tiga kali. Khas Minangkabao, semua makanan mengandung santan. Seorang peserta "protes" karena Ganto membuat mereka kelebihan berat badan. Ganto adalah nama untuk bel lembu, bel kecil yang biasa dipasangkan pada leher lembu atau kerbau.
Rombongan dari Sumber Post, IAIN Ar Raniry, Banda Acheh, membawa warna tersendiri dalam acara Ganto ini. Cerita mereka hidup. Pengalaman kaya. Sumber Post baru diterbitkan pada 2006, sesudah tsunami. Aku kebetulan tahu proses pendirian Sumber Post saat aku mengajar di IAIN Ar Raniry.
Khiththati, Julka Maizar dan Ainul Fitri dari Sumber Post memutar documentary The Black Road karya William Nessen. Sangat mengesankan. Ia membuka pandangan banyak peserta. Semua peserta dari Acheh cerita pengalaman buruk mereka saat perang. Ada yang lihat seorang paman mereka, hidup-hidup diseret mobil tentara Indonesia, dibawa keliling kampung.
Husaini dari Lhokseumawe menarik perhatian peserta dengan kepiawaiannya bercerita. Husaini pendiam namun ketika bicara, dialek Acheh kental, keluarlah kekayaan dari pengalaman hidupnya. Awak baraja badendang lagu bahaso Acheh "Seulanga" jo syair nan diagiah Julka Maizar dari Sumber Post. Nyo tantang "bungong seulanga," bungo harum, ibaraik gadih nan rancak. Rafly nan mambuek tanamo lagu itu. It's so beautiful.
Na bungong Seulanga keumang saboh bak tangke
Mubee harom hai sayang didalam taman
Tatem beutatem sibu bungong ngak luhu
Oh kalayee tho krang seulanga nyan gadoh mangat bee
Wahe bungong ceudah hana ban
Tamse nyak dara nyang canden rupa
Diteuka bana dijak peuayang
uroe ngon malam bungong didoda
Sayang-sayang leupah that sayang
Oh troh bak watee bungong pih mala
Ka habeh duroh bak tangke leukang
Keubit that sayang naseb Seulanga
Diskusi di halaman guest house, beralaskan tikar, bicara soal jurnalisme. Resminya, pelatihan ini diberi tema investigative reporting. Pribadi aku tak percaya genre ini bisa dilakukan oleh reporter kurcaci. Tapi namanya juga mahasiswa. Suka belajar hal baru. Pelatihan ini juga mengundang instruktur dari militer (perkenalan SS-1 dan M-16), jaksa (hukum soal korupsi) serta akuntan negara (standard akuntansi). Kami tagalak-galak jo istilah "pers wacana" --indak ado dalam kasado buku nan bamutu tantang jurnalisme-- baitupun palatihan jurnalisme "tong kosong nyariang bunyinyo."
Kapten Septa Viandi dari Korem Wirabraja, Padang, membawa beberapa senjata SS-1, M-16 serta pistol buatan Bandung. Dia cerita soal amunisi, magasin, struktur tentara, kepangkatan dsb. Septa lulusan Akademi Militer di Magelang tahun 1998.
Mubee harom hai sayang didalam taman
Tatem beutatem sibu bungong ngak luhu
Oh kalayee tho krang seulanga nyan gadoh mangat bee
Wahe bungong ceudah hana ban
Tamse nyak dara nyang canden rupa
Diteuka bana dijak peuayang
uroe ngon malam bungong didoda
Sayang-sayang leupah that sayang
Oh troh bak watee bungong pih mala
Ka habeh duroh bak tangke leukang
Keubit that sayang naseb Seulanga
Diskusi di halaman guest house, beralaskan tikar, bicara soal jurnalisme. Resminya, pelatihan ini diberi tema investigative reporting. Pribadi aku tak percaya genre ini bisa dilakukan oleh reporter kurcaci. Tapi namanya juga mahasiswa. Suka belajar hal baru. Pelatihan ini juga mengundang instruktur dari militer (perkenalan SS-1 dan M-16), jaksa (hukum soal korupsi) serta akuntan negara (standard akuntansi). Kami tagalak-galak jo istilah "pers wacana" --indak ado dalam kasado buku nan bamutu tantang jurnalisme-- baitupun palatihan jurnalisme "tong kosong nyariang bunyinyo."
Kapten Septa Viandi dari Korem Wirabraja, Padang, membawa beberapa senjata SS-1, M-16 serta pistol buatan Bandung. Dia cerita soal amunisi, magasin, struktur tentara, kepangkatan dsb. Septa lulusan Akademi Militer di Magelang tahun 1998.
Dia juga cerita dia pernah ditugaskan di Aceh dan membunuh orang Acheh dari jarak dekat. Tujuan training ini belajar investigasi. Amunisi termasuk salah satu yang dipelajari peserta. Sayang, Septa tak bisa membawa gambar2 ledakan maupun memperagakan penembakan.
Guna mempermudah proses belajar, aku usahakan ada kelas-kelas kecil, antara 15-17 orang, guna mendiskusikan atau praktek apa yang dibicarakan dalam kelas besar. Ada tiga wartawan Ganto --Anggi Royata, Della Syahni, Tuti Handriani-- aku minta, masing-masing jadi moderator untuk kelas kecil. Walau latihan, interview ini direkam dengan kamera.
Hasilnya, ditayangkan di layar lebar guna dievaluasi bersama. Ketua panitia, Meiriza Paramita, memasang semua gambar peserta dalam album Facebook miliknya. Terima kasih Ganto!