Friday, March 22, 2019

王志良


“When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trust must be earned, over time."

Kevin Kelly Wired internet magazine editor.

Antologi saya, Agama Saya Adalah Jurnalisme, terbit Desember 2010 oleh Kanisius Jogjakarta. Ia merupakan buku-bukuan dari 34 naskah saya terbitan antara 1999 dan 2010. Banyak berasal dari blog saya khusus bagian media dan jurnalisme. Ia kritik terhadap liputan media soal Acheh, Pontianak, Papua dsb maupun campur-aduk kepentingan bisnis dan redaksi. ©2010 Andreas Harsono

Pembelian Buku
Bila sulit cari antologi Agama Saya Adalah Jurnalisme, cara lain adalah pesan lewat Yayasan Pantau.

Kriminalisasi Aspirasi Politik
Mereka menaikkan bendera RMS atau bendera Bintang Kejora. Mereka ditangkap, disiksa, dihukum dengan proses peradilan yang buruk dan kini dipenjara tahunan.

Obama Has the Power to Help Papua
Young Barack Obama noticed his stepfather’s great unease and silence about his one-year military service in New Guinea. Obama has the power to "the weak man."

Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia
Selama satu dekade warga Ahmadiyah di Pulau Lombok diusir dari satu desa ke desa lain. Bagaimana melihat pelanggaran hak asasi manusia ini dari kenegaraan Indonesia?

Monumen Munir di Batu
Munir bin Said Thalib, pejuang hak asasi manusia dari Batu, dimakamkan di kuburan sederhana. Bagaimana dengan ide bikin monumen hak asasi manusia di Batu?

Tokoh Papua Filep Karma menjalani perawatan prostate di rumah sakit PGI Cikini, Jakarta, selama 11 hari. Seorang perawat mengecek tekanan darah Karma sesudah operasi. ©2010 Ricky Dajoh

Kekerasan Berakar di Kalimantan Barat
Lebih dari 70 warga Pontianak dan Singkawang mengeluarkan Seruan Pontianak, minta agar warga berhati-hati dengan tradisi kekerasan di Kalimantan Barat.

Clinton's Chance to Push Beyond Cliche
Hillary Clinton should be careful not to say that Muslims in Indonesia are “moderate” as for members of persecuted religious groups in Indonesia, it is a useless and inaccurate cliche.

Dari Sabang Sampai Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset buku. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Training Ganto di Padang
Lembaga media mahasiswa Ganto dari Universitas Negeri Padang bikin pengenalan investigative reporting. Ada 46 mahasiswa dari dari berbagai kota Sumatera plus Jawa dan Makassar.

Homer, The Economist and Indonesia
Homer Simpsons read the dry Economist magazine in a First Class flight. Homer talked about "Indonesia" ... and later The Economist used the Simpsons joke to describe ... Indonesia.

Bagaimana Meliput Agama?
Dari Istanbul dilakukan satu seminar soal media dan agama. Dulunya Constantinople, ibukota kerajaan Romawi Timur, hingga direbut kesultanan Ottoman pada 1453.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Struktur Negara Federasi
Rahman Tolleng bicara soal struktur federasi di Indonesia. Kuncinya, kekuasaan ditaruh di tangan daerah-daerah lalu diberikan sebagian ke pusat. Bukan sebaliknya, ditaruh di pusat lalu diberikan ke daerah: otonomi. Bagaimana Republik Indonesia Serikat?

Media dan Jurnalisme
Saya suka masalah media dan jurnalisme. Pernah juga belajar pada Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah kembali ke Jakarta, menyunting majalah Pantau.

The Presidents and the Journalists
In 1997, President Suharto lectured editors to have "self-censorship." Now President Susilo Bambang Yudhoyono also lectured about "self-censorship." What's wrong?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants Liem Sioe Liong and Bob Hasan, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Kronologi Pengasuhan Norman
Norman kekurangan waktu belajar, istirahat dan bermain sejak dipindahkan ibunya dari Pondok Indah ke Bintaro. Jarak tempuh ke sekolah 120 km pergi-pulang. Ini ibu celaka. Child abuse adalah isu publik.

Resensi buku-buku soal majalah The New Yorker. Saya menulis dari redaktur Harold Ross, lalu William Shawn hingga David Remnick. Bagaimana ia menjadi icon kebudayaan Amerika Serikat?

Polemik Sejarah, Pers dan Indonesia
Kapan "pers Indonesia" lahir? Apa 1744 dengan Bataviasche Nouvelles? Apa 1864 dengan Bintang Timoer di Padang? Soerat Chabar Betawie pada 1858? Medan Prijaji pada 1907? Atau sesuai proklamasi Agustus 1945? Atau kedaulatan Desember 1949?

Murder at Mile 63
A Jakarta court sentenced several Papuans for the killing of three Freeport teachers in August 2002. Why many irregularities took place in the military investigation and the trial? What did Antonius Wamang say? How many weapons did he have? How many bullets were found in the crime site?

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Didekatnya


Yael Stefany Sinaga

Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau merunduk?


Catatan: Cerita fiksi ini mulanya dimuat di Suara Universitas Sumatera Utara, sebuah web mahasiswa, di Medan, pada 12 Maret 2019. Namun Rektor Universitas Sumatera Utara Runtung Sitepu tak terima dan minta naskah dicabut. Alasannya, cinta antar individu LGBT "... tidak lagi mencerminkan visi misi USU." Sitepu hentikan web Suara USU dan mengancam akan hentikan selamanya. Blog ini memutuskan memuatnya agar orang bisa menentukan sendiri bagaimana bersikap terhadap cerita fiksi soal LGBT. Blog ini menganggap ia adalah persoalan kebebasan berekspresi. 



©2019 Surya A.D. Simanjuntak
“Kau penyakit bagi kami. Kau tak layak hidup. Bahkan di neraka saja orang-orang akan enggan dekat dengamu. Terkutuk lah kau wanita laknat!”

Aku tertunduk di tengah mereka. Bahkan sudah tak tahu berapa banyak ludah dari mulut mereka mendarat di badanku. Kurasakan alirannya lambat. Menetes dari atas ke bawah. Terpikirkan saat itu bahwa akan ada malaikat pelindung baik bersayap dan tidak bersayap menolongku.

“Kau dengar? Tidak akan ada laki-laki yang mau memasukkan barangnya ke tempatmu itu. Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percaya lah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu.”

Begitu lah hujatan tanpa henti yang kurasakan saat itu. Semenjak aku ketahuan memiliki perasaan yang lebih kepada Laras.

Apa yang salah?

Bedanya aku tidak menyukai laki-laki tapi aku menyukai perempuan walau diriku dilahirkan dengan kelamin perempuan.

***

Aku berasal dari keluarga yang sangat hancur. Berkeping-keping tanpa tersisa. Dulu aku mempunyai keluarga idaman banyak orang. Bapak seorang pemilik perusahaan kayu jati terbesar di Sumatera. Ibu seorang wartawan lokal yang bergerak dengan isu hak asasi manusia. Bapak tak mempermasalahkan kesibukan ibu yang melebihi dirinya. Bapak paham begitulah resiko menjadi wartawan.

Sempat ibu ingin mengundurkan diri menjadi wartawan untuk mengurus bapak dan membantu usaha bapak. Namun bapak menolak dengan alasan masyarakat masih membutuhkan ibu untuk memperjuangkan hidup, pendidikan, kesehatan serta tanah yang kini hampir terkikis. Jika dipikirkan bapakku sosok yang romantis namun klasik.

Lima tahun pernikahan bapak dan ibu, akhirnya lahir lah aku. Anak tunggal yang diberi nama Kirana Cantika Putri Dewi. Lahir secara normal. Ibu begitu kuat hingga sekali nafas panjang aku langsung lahir ke dunia ini. Kasihannya bapak yang menunduk akibat genggaman tanggan ibu yang begitu kuat dirambutnya. Kata bapak saat itu demi ibu dan si buah hati.

Ritual dan doa selalu dipanjatkan demi pertumbuhanku. Berharap aku berguna bagi masyarakat setidaknya untuk keluarga sendiri. Namun semua berubah semenjak kejadian itu. Para penguasa-penguasa jabatan dan tanah datang menindas.

Bapak terpaksa menutup usahanya. Dirinya ditipu oleh teman kerjanya. Kala itu menjanjikan keuntungan penjualan kayu ke Singapura sebesar 25 juta U$ dollar. Fantastis pikir bapak. Namun setelah transaksi pengiriman selesai, bapak kehilangan kontak. Mendadak teman kerja bapak tidak bisa dihubungi. Kabar terakhir, teman kerja bapak melarikan diri membawa uangnya ke negara adikuasa. Pilu yang dirasakan bapak saat itu. Karena stress bapak pun terserang stroke berat dan akhirnya meninggal dunia.

Makin parah ketika melihat situasi ibu. Kala itu krisis moneter. Banyak eksploitasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah saat itu. Rakyat banyak kehilangan tanah dan sumber daya alamnya. Ibu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk HAM terjun tanpa ingat anak dirumah.

Lebih parah lagi. Ketika ibu menjadi buronan pemerintah. Ketika itu ibu menuliskan sebuah tulisan panjang yang berisikan kebohongan pemerintah dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Ibu membuat kritikan tajam yang saat itu sangat membahayakan oknum siapapun. Dua minggu setelah tulisan ibu beredar, dikabarkan ibu hilang tanpa jejak. Ada yang bilang mati ada juga yang bilang melarikan diri. Dan nyatanya ibu tak pernah kembali.

Aku diadopsi oleh kakek dari ayah. Bukannya kasihan kakek malah mengumpatku dengan kata yang memilukan hati. Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menunduk diam.

“Sudah kubilang dulu sama bapakmu. Jangan menikah dengan wartawan. Tidak ada masadepan dan tidak pernah peduli sama suami dan anak. Lihat dirimu dan ayahmu. Ditinggal demi rakyat. Cuihh... pencitraan.”

Bantingan pintu pun mengakhiri pembicaraan. Aku tetap diam. Tidak tahu harus berbuat apa. Sejak itu aku menjadi wanita yang takut akan kehidupan luar.

***

Ada perubahan dalam diriku ketika berjumpa dirinya. Larasati Kesuma Wijaya mahasiswa arsitektur tiga tahun lalu. Senang berteman dengan kertas dan pensil. Rumah keduanya adalah bangku putih dibawah pohon belakang kampus. Anak legislatif. Cuman penampilan merakyat.

Berawal dari menyukai manga Jepang serta isu keberagaman. Kami akhirnya sangat akrab. Padahal aku bersumpah tidak akan berteman dengan siapapun. Karena menurutku manusia semuanya adalah serigala penghisap kebahagiaan. Jika tidak menguntungkan siap-siap saja kau akan dibuang.
Aku beragama kristen sedangkan dia memeluk agama islam. Tak apa. Tidak ada yang berbeda.

Sama-sama mengajarkan untuk saling mengasihi sesama manusia. Bahkan baginya Tuhan, agama dan kepercayaan adalah hal yang berbeda.

“Kalau setiap hari bawa-bawa agama, lama-lama Tuhan bosan juga,” ucap Laras.

Dia mirip ibu. Keras kepala serta ambisius. Tak segan-segan mengutarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Tak peduli siapa dan latar belakangnya. Ini pernah terbukti saat dirinya melawan seorang dosen yang selalu menekan mahasiswa dengan nilai.

Keistimewaannya ini lah yang berhasil memunculkan perasaan ini. Perasaan yang kurasakan semakin menjadi. Entah kenapa nyaman sekali berada didekatnya. Merasa bahagia ketika melihat dia dengan penuh semangat melukis diatas kertas. Dia cantik. Bahkan cantik luar biasa. Banyak lelaki menunggu. Termasuk perempuan sepertiku.

Kuberanikan diri untuk mengakui. Lama-lama tak sanggup juga menyimpan perasaan aneh ini. Pertama-tama memberikan tanda terlebih dahulu. Aku sering membelikkannya kopi botolan agar tidak mengantuk dikelas. Lalu cokelat setiap kali dirinya merasa sedih. Memeluknya dan membelai kepalanya ketika menangis. Semua kulakukan karena aku sudah jatuh cinta.

Menggenggam tangannya ketika kami keliling mall untuk membeli sesuatu. Tak jarang bersandar dibahunya hanya untuk melepas lelah. Saat itu terasa sangat indah. Ternyata semua berubah semenjak kejadian itu. Para penguasa mayoritas datang untuk menindas.

Waktu itu dirinya ingin bertunangan dengan Aryo teman sekelasnya semasa SMA. Rupanya Laras dijodohkan dengan orang tuanya. Ibu Aryo adalah teman kecil ayah Laras. Mereka pun berjanji untuk menikahkan anak mereka. Mengetahui kabar ini hatiku hancur untuk kesekian kalinya. Kejadian dua belas tahun yang lalu seakan terjadi lagi.

Namun seakan tidak mau hancur terlalu dalam, aku beranikan diri untuk jujur kepada Laras. Aku datang ke acara pertunangannya. Teriak di kerumunan banyak orang. Semua terdiam dan menatapku heran. Bahkan Laras juga terlihat bingung. Aku berjalan ke atas panggung, mengambil microfon dan mulai berbicara.

“Aku minta maaf. Terimakasih untuk semuanya, Laras. Tapi harus bagaimanakah aku disebut sebagai manusia? Kau mengingatkanku pada ibu. Sejak saat itu aku mulai mencintaimu. Mencintai semua yang ada padamu. Sakit sekali ketika aku harus tahu kau akan berbahagia dengan Aryo bukan denganku. Kau boleh bilang aku gila. Boleh bilang aku wanita tak tahu malu. Tapi izinkan wanita murahan sepertiku untuk menyatakan apa yang kurasakan. Bukankah kau mengajarkan aku untuk berani mengungkapkan perasaan? Kini kubuktikan, Laras. Bahwa aku mampu membuatmu bahagia. Menikahlah denganku.”

Tiba-tiba seseorang menyeretku dengan paksa. Baju yang baru kujahit koyak sebagiannya. Aku didorong ke tengah-tengah tamu yang datang. Sejuta mata memandangku dengan amarah. Hujatan dan ludah yang keluar dari mulut terus datang menghampiri.

Tidak ada satupun yang iba menolong. Bahkan Laras hanya menatapku nanar.

***

Sunday, February 17, 2019

Tentang Plat Mobil di Malaysia

Dadang Christanto

Terus terang, bagiku paling sulit memberi hadiah pada seseorang. Apakah hadiah yang kubawa nantinya bisa menyenangkan atau sebaliknya, tak berkenan padanya?

Kemudian muncul ide dari sebuah ceritera humor yang mungkin juga beneran: Plat Mobil.

Lalu, aku memesan plat mobil dengan nomer istimewa ini pada pembuat nomer kendaraan, untuk hadiah pada seseorang.

*Ini Bener Kejadian di Malaysia*

Suatu hari , seorang tante Tionghoa di Malaysia pergi ke departemen transport untuk memperpanjang registrasi mobilnya. Yang melayani di gerai adalah seorang pemuda Melayu.

Tante: "Ai mau renew rejitresyen la ..."

Pemuda: "Berapa nomor pelat auto auntie?"

Tante: "Biji you dua dua nampak!"

Pemuda (muka memerah malu, lantas check retsliting celana): "Ha? Berapa nomor pelat auntie?"

Tante: "Biji you dua dua nampak!!"

Pemuda (merasa ada kesalahpahaman): "Maaf nih auntie , Tolong tulis no pelat auto auntie..."

Tante menulis *BGU2264*

Pemuda: Ooooooo😇😅🤪


Saturday, February 02, 2019

Kursus Liputan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

26 April – 31 Mei 2019
(Kursus ini diundur sebulan dari jadwal semula)

KURSUS ini dirancang untuk wartawan, aktivis, birokrat, peneliti, yang ingin menulis soal agama dan iman maupun berbagai kaitannya dengan kegiatan politik, sosial, dan budaya. Ia diadakan enam sesi setiap Jumat (pukul 19-21) plus dua sesi lapangan pada hari Sabtu (pukul 10-12). Kuliah mingguan dibuat agar peserta punya waktu membaca, mengendapkan materi, dan menulis hasil wawancara. Biaya kursus Rp 3 juta.

Ia akan diadakan di sebuah co-sharing space di Jalan Sudirman, Jakarta. Kelas dibatasi 20 orang agar ada waktu buat diskusi serta bahas pekerjaan rumah.

Instruktur


Imam Shofwan belajar syariat Islam di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, wartawan Syirah, terlibat beberapa penelitian soal Islam dan jurnalisme pada 2009 dan 2012 bersama Kamal Adam Center, Kairo. 

SESI 1 – Debat soal Islam dan Pancasila (1945-2010)

Debat resmi soal peranan Islam –formalisasi syariah Islam-- dalam negara Indonesia terjadi setidaknya tiga kali. Pada 1920an ada debat di media namun debat resmi pertama terjadi pada Maret-Agustus 1945 ketika negara Indonesia hendak dirumuskan zaman pendudukan Jepang. Puncaknya, peresmian Undang-undang Dasar 1945 pada 18 Agustus 29145. Ia terjadi lagi pada 1955-1959 dalam sidang-sidang Konstituante guna merumuskan konstitusi baru. Ia gagal sesudah Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit bubarkan Konstituante. Pada 2009-2010, debat muncul lagi dalam sidang gugatan terhadap pasal penodaan agama di Mahkamah Konstitusi.

Bacaan: BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI karya Rini Yunarti (2003); Lahirnya Satu Bangsa dan Negara karya O.E. Engelen, Aboe Bakar Loebis dan F. Pattiasina (1997); Aspirasi Pemerintahan Konstitusional diIndonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956 – 1959 karya Adnan Buyung Nasution (2009).

SESI 2 – Pasal Penodaan Agama

Pada Januari 1965 Presiden Soekarno memasukkan pasal penodaan agama ke dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Ia awal dari pengakuan hanya kepada enam agama di Indonesia –Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha dan Khong Hu Chu-- serta diskriminasi terhadap minoritas. Abdurrahman Wahid menggugat pasal ini di Mahkamah Konstitusi pada 2009-2010. Berapa kali pasal ini dipakai dalam berbagai pemerintahan Indonesia?

Bacaan: Prosecuting Beliefs: Indonesia's Blasphemy Laws dari Amnesty International (2014); Which countries still outlaw apostasy and blasphemy? dari Fact Tank (2016); “...on blasphemy laws” dari United States Commission on International Religious Freedom; "Melissa Crouch on the Blasphemy Law" dari Universitas Melbourne.

SESI WAWANCARA – Kunjungan ke masjid Ahmadiyah

Kelas akan berkunjung ke sebuah masjid Ahmadiyah serta bicara dengan beberapa anggota Ahmadiyah, termasuk korban kekerasan anti-Ahmadiyah sesudah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan aturan pada 2008.

Bacaan: “Implications of the Ahmadiyah Decree” dari International Crisis Group; “Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia” karya Andreas Harsono; “Suryadharma Ali: Ahmadiyah Lebih Baik Dibubarkan, Daripada Dibiarkan” (Republika, 19 Maret 2011); “Indonesia’s Religious Violence: The Reluctance of Reporters to Tell the Story” karya Andreas Harsono (Nieman Reports 2011); “Hanya 3-6 bulan penjara untuk pembunuhan Cikeusik” (BBC 28 Juli 2011). 

SESI 3 – Peraturan Kerukunan Umat Beragama

Pada 2006, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan aturan baru di bidang keagamaan, memperkenalkan konsep “kerukunan beragama” dan membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama di berbagai provinsi, kota dan kabupaten. Bagaimana konsep mayoritas dan minoritas diperkenalkan di Indonesia?

Bacaan: Peraturan Bersama Menteri soal Pendirian Rumah Ibadah dan Pembentukan Forum Kerukunan Umat Bersama 2006 serta website Pusat Kerukunan Umat Beragama http://pkub.kemenag.go.id/ serta studi kasus penutupan gereja GKI Yasmin, HKBP Filadelpia dan gereja-gereja di Singkil plus larangan loudspeaker masjid di Tolikara. Buku Aspiring for the Middle Path: Religious Harmony in Indonesia karya Tarmizi Taher.

SESI 4 – Kekerasan atas nama Islam

Kekerasan atas nama Islam salah satu dari terorisme yang banyak dibicarakan sejak Al Qaeda mengebom New York dan Washington DC pada 11 September 2001. Bagaimana menerangkan kekerasan dan radikalisme?

Bacaan: Dari Radikalisme Menuju Terorisme dari Setara Institute; Sejarah Teror karya Lawrence Wright (buku ini lebih dari 400 halaman). Institute for Policy Analysis of Conflict menerbitkan serangkaian laporan soal kekerasan atas nama Islam di Indonesia. Silahkan baca soal bom bunuh diri di Cirebon, Solo maupun barisan Bahrun Naim di Suriah.

SESI WAWANCARA – Kunjungan Millah Abraham atau Gafatar

Kelas akan bertemu dengan beberapa tokoh Millah Abraham serta wawancara mereka. Berapa banyak anggota mereka dipenjara? Berapa ribu diusir dari berbagai rumah pertanian mereka di Kalimantan?


SESI 5: Organisasi Negara yang Fasilitasi Diskriminasi

Agama dan kepercayaan lokal tak dilindungi dari “penodaan agama” di Indonesia. Mereka acapkali mengalami perlakuan tak nyaman dari empat lembaga fasilitasi diskriminasi terhadap mereka: Kementerian Agama (1946), Bakor Pakem (1952); Majelis Ulama Indonesia (1982) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (2006). Mereka sudah dapat KTP dgn kolom agama. Akibatnya panjang sekali. Bagaimana menerangkan diskriminasi ini?

Bacaan: Menuju Gereja Yang Semakin Pribumi karya Iman C.Sukmana (kasus Sunda Wiwitan di Kuningan); “Ayahku Seorang Penghayat, Tapi Dia Tak Bisa Dimakamkan Sesuai Kepercayaannya” dari Vice; “Diskriminasi Belum Tentu Berakhir Walau Gugatan Agama Asli Indonesia Menang di MK” dari Vice.

SESI 6: Bias Wartawan Indonesia?

Bagaimana melihat liputan berbagai media Indonesia dgn berbagai keragaman ruang redaksi mereka terhadap kekerasan dan diskriminasi atas nama agama? Bagaimana wartawan yang beragama Islam membedakan iman dan pekerjaan mereka?

Thursday, January 31, 2019

Dua wartawan muda dari Yogyakarta raih penghargaan jurnalisme

Citra Maudy dan Thovan Sugandi dari Balairung Press menunjukkan keberanian
JAKARTA — Citra Maudy dan Thovan Sugandi dari Balairung Press, media milik kampus Universitas Gadjah Mada, meraih penghargaan Oktovianus Pogau untuk keberanian dalam jurnalisme dari Yayasan Pantau.

“Citra dan Thovan berani lakukan liputan yang sulit serta peka tentang kekerasan seksual di kampus. Harapannya, liputan ini akan mendorong usaha serupa di kalangan media, umum maupun mahasiswa, guna membela para korban kekerasan seksual dan mencari keadilan,” kata Andreas Harsono, ketua dewan juri penghargaan Pogau dari Yayasan Pantau.

Pada 5 November 2018, Balairung menerbitkan laporan berjudul, “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” soal seorang mahasiswa --nama samaran “Agni”-- yang “diperkosa” oleh teman setingkatnya, pada Juni 2018, ketika mengikuti kuliah kerja di Pulau Seram, Maluku. 

Citra Maudy
Citra Maudy, reporter laporan tersebut, menulis bahwa pelaku “menyingkap baju, menyentuh serta mencium dada Agni.” Pelaku juga menyentuh dan memasukkan jarinya pada vagina. Agni merasakan sakit, memberanikan diri bangun dan mendorong pelaku.

Dalam laporan Malang Melintang Penanganan Pelecehan Seksual di Kampus,” Balairung menyatakan bahwa pelecehan seksual terjadi di banyak lingkup kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Kasus “Agni” ibarat puncak gunung es.

Laporan tersebut mendapat perhatian masyarakat luas. Media lokal maupun nasional menerbitkan berita-berita lanjutan. Dukungan juga datang lewat sebuah petisi mencari keadilan bagi “Agni” yang ditandatangani 252.895 orang. Beberapa media juga menerbitkan cerita tentang dugaan kekerasan seksual di kampus-kampus lain, di Bali, Bandung, Depok, Jakarta, Yogyakarta dan sebagainya. Jarang kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswa dapat perhatian dan liputan mendalam di media. 

Universitas Gadjah Mada membentuk sebuah komite etik buat memeriksa kasus ini. Arif Nurcahyo, kepala keamanan kampus Universitas Gadjah Mada, melaporkan kasus ini kepada Kepolisian Yogyakarta.

Ini membuat polisi memeriksa “Agni” maupun terduga pelaku, Hardika Saputra –namanya disebutkan oleh pengacaranya Tommy Susanto yang berargumentasi kejadian tersebut berdasarkan “suka sama suka.” Polisi juga meminta keterangan dari Citra dan Thovan pada Desember 2018 maupun saksi-saksi lain.

Polisi belum menetapkan Hardika Saputra sebagai tersangka. Polisi, menurut Citra dan Thovan, juga memeriksa mereka dengan pertanyaan-pertanyaan bagaimana mereka bertemu korban, kenapa isu ini diliput, bagaimana kondisi psikologis korban.

Andreas Harsono mengatakan, “Yayasan Pantau menghormati pemeriksaan yang dilakukan polisi maupun Universitas Gadjah Mada namun kami juga percaya pelecehan seksual adalah gejala yang menguatirkan di berbagai kampus di Indonesia. Kami menghargai keberanian Citra dan Thovan terlepas hasil dari pemeriksaan terhadap kasus ini.”

Komisi Nasional untuk Kekerasan terhadap Perempuan sudah dua dekade melakukan kampanye anti-kekerasan seksual. Komnas Perempuan mendukung perubahan dalam sistem hukum Indonesia dimana pemerkosaan seksual dibikin lebih luas kategorinya –bukan sekedar terjadi penetrasi penis ke dalam vagina—serta mendorong Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mengingat ketersediaan perangkat hukum yang ada belum memadai. Laporan Balairung juga mempertimbangkan keterbatasan tersebut.

“Salah satu hambatan menghukum pelaku kekerasan seksual adalah kekurangan hukum. Balairung membuat kekurangan tersebut jadi terang-benderang. Yayasan Pantau mendukung Komnas Perempuan guna melawan kekerasan seksual, mencari keadilan buat para korban serta bikin hukum yang memadai,” kata Andreas Harsono.

Citra Maudy dan Thovan Sugandi 

Citra Maudy adalah mahasiswa sosiologi Universitas Gadjah Mada, kelahiran Sidoarjo 1998. Ia bergabung dengan Balairung sejak 2016 sebagai reporter, jadi redaktur pelaksana sejak 2017. Ia biasa menulis menulis feature, laporan utama dan hard news. 

Thovan Sugandi
Thovan Sugandi adalah mahasiswa filsafat Universitas Gadjah Mada. Ia kelahiran Jombang 1996. Thovan bergabung dengan Balairung sejak 2015. Pada 2018, ia ditunjuk sebagai redaktur serta menyunting laporan Citra. Thovan juga anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan pernah menjadi redaktur Jurnal Tradisi PMII periode 2016-2018. 

Balairung sendiri sebagai majalah terbit sejak 1985. Kini ia sebuah unit kegiatan mahasiswa. Namanya, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung. Sejak 1997 Balairung menerbitkan website, beberapa kali ganti domain, namun sejak 2017 mereka memakai www.balairungpress.com.  

Yayasan Pantau memandang apa yang dilakukan Balairung lewat karya Citra dan Thovan sejalan dengan visi Oktovianus Pogau, merawat keberanian dalam jurnalisme.

Tentang Penghargaan Pogau 

Nama Oktovianus Pogau, diambil dari seorang jurnalis Papua, lahir di Sugapa, pada 5 Agustus 1992. Pogau meninggal usia 23 tahun pada 31 Januari 2016 di Jayapura.

Pogau seorang penulis sekaligus aktivis yang menggunakan kata-kata untuk berdiskusi dan mengasah gagasan-gagasan politiknya.

Pada Oktober 2011, Pogau pernah melaporkan kekerasan terhadap ratusan orang ketika berlangsung Kongres Papua III di Jayapura. Tiga orang meninggal dan lima dipenjara dengan vonis makar. 

Dia dipukuli polisi ketika meliput demonstrasi di Manokwari pada Oktober 2012. Organisasi wartawan tempatnya bernaung, Aliansi Jurnalis Independen, menolak lakukan advokasi. Alasannya, Pogau tak sedang melakukan liputan namun melakukan aktivitas politik.

Pogau juga sering menulis pembatasan wartawan internasional meliput di Papua Barat. Dia juga memprotes pembatasan pada wartawan etnik Papua maupun digunakannya pekerjaan wartawan buat kegiatan mata-mata. Ia secara tak langsung membuat Presiden Joko Widodo pada Mei 2015 meminta birokrasi Indonesia menghentikan pembatasan wartawan asing meliput Papua Barat. Sayangnya, perintah Jokowi belum dipenuhi.

Juri dari penghargaan ini lima orang: Alexander Mering (Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat, Pontianak), Coen Husain Pontoh (Indo Progress, New York), Made Ali (Jikalahari, Pekanbaru), Yuliana Lantipo (Jubi, Jayapura) dan Andreas Harsono. Yuliana Lantipo mengundurkan diri awal Januari 2019 sesudah resmi jadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua. Yayasan Pantau belum menentukan pengganti buat Lantipo.

Coen Husain Pontoh, yang mengusulkan pemakaian nama Pogau, mengatakan, “Dia berasal dari etnik minoritas, yang lebih penting dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk melaporkan peristiwa-peristiwa yang tidak berani dilaporkan oleh wartawan lain menyangkut kekerasan militer dan polisi di Papua serta kondisi Papua sesungguhnya.”


Yayasan Pantau

Penghargaan Oktovianus Pogau 2018: Citra Dyah Prastuti
Penghargaan Oktovianus Pogau 2017: Febriana Firdaus

Tuesday, January 22, 2019

Obituari Ging Ginanjar: Catatan Morse

Amsterdam

Ging, menulis tentang kamu itu susah. Jadi saya harus memilih. Satu dimensi dulu. Dimensi lain luar biasa fasetnya. Biar saya simpan, seperti banyak orang menyimpannya juga.

Ging Ginanjar ketika demontrasi protes pembredelan Detik, Editor dan Tempo depan Dewan Pers 1994.

Terima kasih Tita untuk mengingatkan bahwa ketika terjadi pembredelan tiga media: Detik Tempo, dan Editor, Ging harusnya masuk rumah sakit gara-gara paru-paru. Dadanya sudah di-scan, dan ada flek-flek yang butuh diobati. Saat itu kami baru saja selesai dengan hebohnya "Pesta Topeng Cirebon di TIM Jakarta." Kelelahan masih menggantung penuh.

Sementara sebulan sebelumnya bersama Taufik Wibowo, kami mencari rumah yang ‘pantas’, untuk dijadikan kantor biro Detik di Bandung. Pemimpin redaksi Detik Eros Djarot baru saja menyepakati keberadaan kantor biro. Bowo sudah merancang perkakas apa saja yang dibutuhkan, dan menerima  Maskur, saat itu masih berusia 18 tahun untuk menjadi tenaga office boy. Ging excited.

Kantor biro tak pernah terealisasi karena adanya pembredelan. Dibredelnya Detik --kedunguan luar biasa yang tidak dimaafkan-- membuat Ging mengabaikan kondisi paru-parunya. Juga kehilangan pekerjaan, tak adanya jaminan asuransi, dan utamanya kemarahan atas tindakan semena-mena tanpa prosedur hukum dari pemerintahan Presiden Soeharto lewat  Menteri Penerangan Harmoko.

Bersama Ahmad Taufik dan Lucky Rukminto --beberapa bulan sebelumnya bermaksud menghidupkan kembali FOWI (Forum Wartawan Independen) sebagai gerakan perlawanan terhadap  PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)-- kami mengundang sejumlah wartawan media lain, baik yang nasional maupun daerah. Rapat pertama dihadiri oleh banyak kawan, antaranya Happy Sulistiadi, Yamin Pua Upa, Aa Sudirman, Tjahya Gunawan , Rinny Srihartini, Taufik Wibowo dan Patty Usman.

Kami masih bingung dengan alamat redaksi, akhirnya diputuskan, kalau tidak salah, kamar kostnya Ahmad Taufik, Jl Juanda 372, Bandung. 

Waktu itu selain jadi pemimpin redaksi, penata lay-out, Ging pun jadi koordinator kampanye melawan pembredelan dan hak kebebasan berekspresi. Terbitlah Buletin Perdana FOWI pada Juli 1994. 

Saat bersamaan,  dilakukan serangkaian diskusi nyaris tanpa henti dari kampus ke kampus, dengan dibantu antaranya Eros Djarot, Goenawan Muhammad, Aristides Katoppo,  juga kawan-kawan Detik, Tempo dan media lain.

Bergelap-gelap dalam Terang, Berterang-terang dalam Gelap

Begitu banyak enerji kami rasakan dengan sambutan buletin FOWI perdana. Terutama enerji yang dihidupkan oleh kawan-kawan dari koran kampus: ITB, Unpad, Unpar, Unisba dan ASTI (sekarang STSI) Bandung. 

“Kalau mau merdeka sampai tulang-tulangnya, kita musti berani transparan,” kata Ging ketika kami merencanakan edisi kedua yang bakal terbit di bulan Kemerdekaan Agustus 1994. 

“Kita harus berterang-terang dalam gelap, dan bergelap-gelap dalam terang,” dengan senyumnya yang khas dan tidak pernah berganti baju atau mandi selama berhari-hari.

Kami yang duduk dalam rapat agak jengah. Paling tidak saya yang lahir di jaman Orde Baru, punya semacam kekuatiran untuk ‘main buka-bukaan’ kayak gitu. 

“Kantor  redaksi musti,” tambahnya lantang. 

Hmm. 

“Apakah juga transparansi bagi pembuat laporan ?” tanya saya.

“Yang pengangguran silahkan kalau mau, tapi yang masih bekerja repot atuhh, kami makan darimana nanti?”

Akhirnya diputuskan penerbitan berikutnya kantor redaksi dicantumkan terang benderang Jl Morse 12 Bandung. Saya tidak tahu persis, apakah ini dengan seijin Mas Eros atau tidak. Yang pasti Mas Eros, beberapa kali datang. Bahkan pernah dengan membawa satu truk rambutan untuk makan kami, dan beberapa celana jeans dari Jl Cihampelas supaya si Pemred dan para reporternya punya celana baru. Akhirnya disepakati, para penulis hanya mencantumkan inisial saja, misalnya saya hanya memakai LPC, atau Ahmad Taufik menjadi AT, dan seterusnya.

Pasca Deklarasi Sirnagalih 7 Agustus 1994, buletin FOWI menjadi media resmi Aliansi Jurnalis Independen. Namanya diubah jadi Independen. Oh ya edisi kedua ini pun, mau dibikin keren dikit. Kami memperluas keterlibatan dalam penerbitan, dengan meminta kawan-kawan seniman menyumbangkan karya sebagai cover: Tisna Sanjaya dan Agus Suwage, antaranya. Jumlah halaman lebih tebal, dan tidak dalam bentuk foto kopian. Artinya butuh percetakan, dong.

Dengan urunan, dan hasil sumbangan sana-sini, kami mendapatkan percetakan setengah gratis dari kawan-kawan Yayasan Budaya Indonesia, Jl Purnawarman Bandung, tempat mangkal kami, sebelum pembredelan.  Kali ini akan dicetak sejumlah 1.000 eksemplar.

Lewat Tengah Malam, di Gang Gelap

Independen. Saya harus mencari sana-sini, ke percetakan-percetakan yang tersembunyi di gang-gang gelap. Dan harus mengantar dan mengambilnya, dengan bantuan banyak orang karena,  setelah lewat tengah malam. 

Setelah beberapa edisi, kami menjadi sulit mencari percetakan yang berani mencetak

Gusti. Sementara, pendapatan dari distrubusi tak pernah menutupi ongkos pencetakan.

“Kita kudu progresif, mendekati orang, menawarkan, kalau perlu memaksa bahwa ini penting buat kehidupan,” kata Ging. 

Iya deh, dan saya sebagai koordinator kaki seribu, alias ngerjain apa saja dah yang perlu, mulai puyeng. Kami bekerja harus siap  hulu jadi suku, suku jadi hulu (kepala jadi lutut, lutut jadi kepala). Bisa teu bisa, kudu bisa (bisa tak bisa harus bisa). 

Haduhh.

Seniman, jurnalis dan perlawanan

Buletin FOWI, yang kemudian secara perlahan berubah dalam tata perwajahan; awalnya beredar dari satu diskusi ke diskusi, atau di tiap pertunjukan, atau setiap pameran lukisan. 

Ada satu event kesenian di ITB (tolong dikasih info detil ya,Tita) dimana Titarubi membakar karyanya, dan momen itu terus terpateri dalam benak saya. 

Ging tampak berkaca-kaca. Hasil kerja keras Tita Rubiati yang berbulan-bulan itu hangus. Jadi abu dalam sekejab.

Akankah apa yang kami kerjakan bernasib serupa?

Saya menggenggam tangannya erat.

Tapi kami tidak sendirian. Tidak pernah sendirian. Setiap hari di Jl Morse, sekumpulan orang selalu ada dalam kebersamaan. Serangkaian event kesenian dibuat bersama sejumlah seniman, dari yang 'jeprut' sampai yang kontemporer. Hampir setiap hari Aa Sudirman, Dadang RHS, atau Aing Sinuki (si pembuat ilustrasi) kawan-kawan dari pers mahasiswa, antaranya  Wishnu Brata, Aday, Valens, Maria Donna, Henri Ismail, Goliono datang bergantian. Dan Maskur, tidak habis-habis menjerang air untuk kopi.

Tak jarang Rinny Srihartini, datang dengan makanan ransum –begitu kami menyebutnya, atau sumbangan dari Emak Inne, ibunda Ging. Pokoknya siapa saja yang punya uang …

Memasuki edisi November 1994, buletin Independen dicetak sebanyak 2.000 eksemplar. Staf  ‘kaki seribu’ makin banyak, mengutip Tita: “Setelah itu aku disibukkan dengan menjual "majalah" yang terdiri dari selembar A3 dilipat jadi ukuran A4, 4 halaman 'majalah' itu bernama FOWI (Forum Wartawan Indonesia - Bandung) dijual dengan harga Rp 1.000. Aku menjualnya dengan penawaran minimum Rp 1000,- tapi jika memberikan jumlah lebih maka akan mendapat prioritas edisi berikutnya. Suatu hari saat Sari Asih dan Hene pentas tari Bali, aku dan Ging berlomba: dalam 10 menit siapa yang mendapatkan uang lebih banyak dari menjual FOWI. Entah dia bener ikutan lomba atau enggak, yang pasti aku menang telak dari Ging.”

“Tapi semua orang boleh memperbanyak. Itu syaratnya. Heheuuu bae teu boga duit oge …,”kata Ging, cengegesan. Saya harus mengerjakan distribusi seluas mungkin. Dan begitu banyak insitiatif spontan menawarkan diri. Maaf, saya tak bisa menyebut satu persatu, staf kaki seribu ini. Begitu banyak, begitu berarti bak simphony. Yang satu tak pernah lebih penting dari yang lain.

Pada suatu kali, kami memutuskan untuk langsung turun langsung, alias mengecer di simpang jalan. Saya ingat Nunung Kusmiati dan Euis Balebat, yang setelah menyebarkan di Simpang Kosambi, Bandung, menjual dari satu angkutan kota ke angkutan lain. Mereka datang dengan tergopoh-gopoh dan  bersungut-sungut. “Kang Ging tidak kira-kira, kami tadi dikejar-kejar orang gila yang biasa nongkrong di situ.”

Ging terbahak-bahak. “Wah jarang-jarang kalian dikejar-kejar orang gila kan heuheeuu. Kejar balik atuh, terus dikeleketek.” Sinting. Tapi untuk mengobati kepanikan, malam itu dia mentraktir Nung supaya lain kali bisa lari sama cepatnya.

Oleh kenekadan staf kaki seribu ini, dengan janji setiap orang adalah paling tidak adalah distributor;  Independen tersebar bukan hanya di kalangan tertentu. Beberapa supir angkot, kerap datang untuk membawa Independen sebelum nge-tem cari penumpang. Tak jarang, pagi-pagi sekali seorang tukang sayur mengetuk pintu untuk menawarkan diri mendistribusi Independen.

Eh, tahun itu kita tak punya segala kemudahan teknologi komunikasi macam internet sekarang. Jadi ketika ada laporan masuk dari Jakarta, kami harus menggunakan fax. Karena Ging kalau sudah duduk di depan komputer, susah berdiri lagi; saya atau Maskur yang diminta mengambil fax di kantor Telkom di Jl Tamblong.

Karena uang kami tak cukup untuk membayar ongkos fax, akhirnya kami membayarnya dengan Independen. Dan saya percaya, si pegawai Telkom bagian fax itu, tidak membacanya sendirian.

“Biarkan dia tersesat di jalan lurus,” seloroh Ging si Almukarom.

Independen di Kaleng Biskuit Khong Guan

Ketika tengah mengepak Independen (sekarang harus dimasukan ke dalam doos, karena pesanannya sudah banyak) yang harus dikirim ke Bali, Pontianak, Yogyakarta, dan Surabaya, kami mendapatkan kunjungan pater-pater dari Larantuka, Pulau Flores. 

Ging sedikit basa-basilah dengan para pater, “Pakai apa pater ke sini?”

Dengan Bahasa Indonesia logat Flores, si Pater menjawab, “Kami tak punya cukup, Bapak. Kami berjalanlah ke sini.”

Saya tidak tahu, pikiran Ging ada dimana waktu itu. Dengan selorohnya dia menjawab, “Bagus itu, Bapak. Kaki memang buat berjalan, biar sehat.”

Setelah cerita ngalor-ngidul, si Pater ingin membawa Independen ke beberapa kota yang ingin ia singgahi, namun dengan syarat ‘tidak kelihatan.’ Saya dan Maskur, agak bingung dengan permintaan ini. Akhirnya, karena kami punya beberapa kaleng bekas biskuit Khong Guan, kami gulung majalah-majalah itu dan dimasukan ke dalamnya. 

Para pater ke luar melengang dengan wajah puas. 

“Kalian pakai kaleng Khong Guan? Itu mereka jadi kayak pedagang kelontong. Tanya ke toko sebelah kagak ada barang seperti ay punya,” kata Ging, kembali duduk di meja komputernya.

Pernah juga suatu hari, kami didatangi intel yang menyamar jadi mahasiswa. Segera bisa kami baui dari sikap dan isi bicaranya. Saya tidak ingat lagi, siapa-siapa saja yang ada di Morse kala itu. Tapi Ging mengatakan, biarlah itu jadi urusannya.

“Jadi Bapak mau kenal pemred-nya ?” kata Ging. 

“Dia lagi tugas ke luar kota. Bapak tunggu saja, sembari ngopi dan baca-baca. Silahkan Pak,” tambahnya lagi sambil menyodorkan Independen. Si intel duduk menunggu, dan tidak pilihan selain membaca dan ngopi. 

“Silakan, silakan Pak. Juga kalau Bapak mau fotocopy, mungkin buat teman-teman Bapak yang tertarik”

Tidak hampir sejam, si intel pergi dengan membawa beberapa eksemplar. 

Ging tertawa lebar. “Rasain lo, kena racun,” sergahnya.

Jika sudah bekerja, seperti cerita Titarubi, Ging bisa melakukan tanpa jeda. Selain lupa makan, juga lupa tidur. Dan inilah hasilnya: Suatu hari ketika tengah berjalan ke ruangan lain Ging menabrak tembok, sampai tubuhnya terhuyung. 

Dan komentarnya?

“Siapa yang meletakkan tembok di sini ?”

(Ya, Ging, jadi ‘ tembok-tembok’ itu yang musti diruntuhkan, kita jangan bergeser).

Friday, November 23, 2018

Cerita Budi Pego soal Spanduk Komunis ‘Siluman’ di Aksi Tolak Tambang Tumpang Pitu

Andreas Harsono
Mongabay

Juli lalu, selama tiga jam, saya naik mobil, dari Kota Banyuwangi menuju Dusun Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Berkendara dengan medan meliuk-liuk di daerah Blambangan –dulu kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa—sampai ke Pantai Merah, daerah wisata instagramable, dekat Pancer.

Mobil kami melewati gerbang tambang Tumpang Pitu, sekitar 100 meter dari sana kediaman Heri Budiawan alias Budi Pego, aktivis lingkungan, seorang pedagang kayu dan tahanan politik gara-gara melawan tambang emas di Tumpang Pitu.

Tujuan kami datang, solidaritas terhadap Budi Pego dan puluhan warga di Pesanggaran, yang melawan tambang emas dan pernah ditahan atau dipenjara. Dwi Ratna Sari, perempuan yang berjuang menolak tambang, juga korban kriminalisasi, ikut menemani kami mengobrol. Laeliyatul Masruroh, aktivis Nahdlatul Ulama dari Depok, ikut serta.

Anda bisa lihat Tumpang Pitu lewat Google Earth. Di sana, bisa lihat bahwa Pesanggrahan, maupun Pantai Merah, sudah krowak --dirusak oleh penggalian besar-besaran tambang emas. Lubang-lubang menganga, beberapa kali lipat ukuran Pancer. Jalanan berdebu. Tanah, air dan udara rusak. Google Earth mengingatkan saya pada lubang dan galian sekitar Freeport di Papua.

Budi Pego, aktif menyuarakan penolakan tambang emas Tumpang Pitu karena berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia. Lewat aksi damai dia bersama warga menyuarakan penyelamatan Tumpang Pitu dan lingkungan sekitar dari kerusakan dampak tambang emas.

Budi dituduh menyebarkan “komunisme” lewat pengibaran spanduk dengan logo palu dan arit dalam suatu demonstrasi pada 4 April 2017. Dia diadili dan kena penjara 10 bulan, antara 4 September 2017-1 Juli 2018.

Kami datang ke rumah Budi sekitar tiga minggu sesudah dia bebas dari penjara Banyuwangi namun masih menunggu kasasi dari Mahkamah Agung. Budi Pego bersikeras mencari kebenaran. Dia ngotot tak bersalah.

Keputusannya, keluar pada November 2018, Mahkamah Agung menguatkan keputusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur bahkan menghukum Budi Pego, jauh lebih berat, empat tahun penjara. Dia kecewa. Langkah berikutnya, mungkin mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.

Budi Pego, petani dan pedagang, aktivis menolak tambang emas Tumpang Pitu.

Ringkasan perbincangan Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch dan Laeliyatul Masruroh dari Nahdlatul Ulama dengan Budi Pego dan Dwi Ratna Sari:

Harsono: Ceritakan asal usul bisa bendera palu arit muncul saat aksi?

Budi: Tambang ini ada dua perusahaan: PT Bumi Suksesindo dan PT Damai Suksesindo. DSI produksi. BSI eksplorasi. Dampaknya, kita rasakan sekarang, bukan hanya rusak gunungnya, sampeyan bisa lihat sendiri jalanan –mulai dari tahun 2016 rusak sampai sekarang. Kalau panas berdebu, kalau hujan jadi lumpur.

Kita sudah lapor ke Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah Banyuwangi, ngomong juga ke Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Tak ada tanggapan. Kita rencana aksi 4 April 2017. Sama Polsek Pesanggaran, pukul 6.00 pagi itu sudah ada di sini. Kapolsek sudah ada di sini. Ada enam polisi. Anggota Kodim Banyuwangi juga.

Harsono: Anggota kepolisian itu siapa saja?

Budi: Kalau semua nama saya nggak hapal. Tapi ada Pak Rudi, Wakapolsek. Intelnya Pak Rauf. Waktu kita buat spanduk, Pak Rauf mendokumentasikan. Saya menulis (spanduk) soal Bupati Anas. Itu ada rekamannya. Tak ada satu pun yang gambar palu arit. Kalau waktu pembuatan ada, paling tidak salah satu dari anggota kepolisian sudah mencegah atau menangkap pembuatnya.

Harsono: Berapa spanduk yang dibikin di rumah sampeyan?

Budi: Sebelas. Semua tak ada satu pun yang bergambar palu arit. Kita aksi di Kecamatan Pesanggaran. Kita masang spanduk 10. Setelah itu ada muncul beberapa orang yang kita tidak kenal. Ratna yang memegang spanduk. Saya menyentuh spanduk saja tidak. Aksi sampai selesai, Polsek Pesanggrahan ada semua.

Anehnya, ada orang BSI katanya lewat, dalam laporan kepada polisi. Saya nggak yakin orang BSI berani lewat. Setiap saya aksi bersama teman-teman, nggak ada satu pun orang BSI berani lewat. Pasti menghindar. Ini kayak sebuah rekayasa.

Harsono: Yang melaporkan palu arit siapa?

Budi: General Manager BSI Bambang Wijanarko. Satunya lagi, yang jadi saksi, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Pesanggrahan. Namanya Madinudin --(Budi Pego juga anggota Nahdlatul Ulama).

Harsono: Bendera itu muncul pukul berapa?

Budi: Sekitar jam empat.

Harsono: Tulisannya apa?

Budi : Tulisannya, “Karyawan Dilarang Lewat Jalur Ini” … terus ada gambar katanya “palu arit.”

Ratna Sari: Sesudah aksi di Kecamatan Pesanggaran, kita istirahat sebentar, minum makan. Jalan itu satu-satunya untuk lewat. Aksi kita sekitar 50 orang. Di kecamatan ada ratusan orang. Kan makin sore.

“Wah, ada orang demo, ada orang apresiasi, jadi banyak.”

Kita tidak mengenali siapa-siapa saja yang ada di situ. Ketika kita habis istirahat, kita duduk bersama warga.

Terus ada segerombolan wartawan. Dia membawa kamera. Dia menyuruh, “Ayok bu, kita foto semua. Ayok bapak-bapak biar kelihatan rame. Nanti kalau kita masukan ke media, biar kelihatan ramenya.”

Ya sudah, semua warga itu foto depan kantor kecamatan. Habis foto, terus segerombolan wartawan itu bilang, “Ayo spanduknya dibentangkan semua. Kita jalan ke pertigaan Lowi.”

Aku bawa sepeda. Ada bapak-bapak bilang, “Ayo pegangan ini biar kelihatan rame ibu-ibunya”

“Lah saya bawa sepeda motor, pak.”

“Taruh di situ saja, nanti diambil lagi.”

Ya udah. Aku taruh sepedaku di Kecamatan, aku ikut jalan sama teman-teman tapi aku nggak melihat sama sekali apa tulisan yang ada di spanduk itu. Aku kan langsung, spanduk sudah jalan, aku menggantikan orang lain. Aku baru tahu spanduk yang aku pegang ada gambar palu aritnya, dua hari setelah aksi, setelah Mas Budi ditelepon sama petugas.

Budi: Setelah aksi hari itu sebenarnya tidak ada yang tahu ada spanduk baru. Bahkan petugas yang ngawal, polisi maupun TNI, tidak ada yang melihat adanya gambar itu. Malamnya, saya ditelepon sama intel Kodim, yang mengawal sama Koramil, “Mas ada di mana?”

“Ada di rumah, pak.”

Lalu dua orang datang ke rumah. Dari Koramil sama Kodim.

“Mas, tadi waktu aksi sampeyan itu bermasalah. Ini ada masalah spanduk.”

“Masalahnya dimana?”

Mereka bilang ada gambar palu arit. Saya tanya, spanduknya yang mana? Spanduknya buatan kita masih utuh semua. Spanduk yang difoto itu nggak ada. Itu saya ditunjukin fotonya. Kepolisian dan TNI juga menyaksikan saat pembuatan spanduk di (rumah) sini. Bahkan sekuriti ngikutin terus dari Pulau Merah sampai Kecamatan, ngambil fotonya. Ini hanya untuk menjerat saya, barang buktinya hanya foto. Kan foto itu belum tentu dibuktikan keasliannya.

Dwi Ratna Sari, warga Pesanggaran, menolak tambang Tumpang Pitu.

Harsono: Itu yang motret siapa?

Budi : Saya juga nggak kenal. Katanya dari wartawan.

Masruroh: Itu wartawan yang motret jadi saksi?

Budi: Nggak. Katanya dapat dari ngopy wartawan lain.

Masruroh: Spanduknya nggak ada?

Budi: Spanduk itu fisiknya nggak ada. Di pengadilan nggak pernah ada spanduk sebagai barang bukti. Cuma video dan foto.

Harsono: Kalau spanduk yang kalian bikin itu?

Budi: Ada. Sampai sekarang masih ada di Jaksa Penuntut Umum.

Masruroh : Tidak ada satu pun polisi maupun TNI yang bersaksi di persidangan?

Budi: Ada polisi siap bersaksi. Dari pengadilan tidak ada yang memanggil untuk bersaksi. Kalau mau jadi saksi, katanya, saya harus lapor ke Mabes Polri. Pokoknya, nggak ada satu pun polisi yang dihadirkan dalam persidangan. Siangnya (5 April 2017) saya ditelepon sama Kapolsek. Dia nanya ke saya, “Mas kira-kira siapa ya yang membuat spanduk itu?”

Saya jawab, “Pak, kalau saya tahu, saya akan tangkap bersama teman-teman. Lah sampeyan nanya ke saya, sampeyan sendiri waktu itu menyaksikan pada saat aksi. Tak ada satu pun orang yang tahu dengan keberadaan spanduk itu.”

Saya bilang begitu waktu itu. Waktu orang-orang memegang spanduk itu, saya lagi makan. Saya sempat ditelepon Pak Galuh, orang kecamatan, “Mas tolong dibantu lalu lintasnya agar tak macet.”

Sampai sekarang, setelah saya keluar dari penjara, spanduk itu kemana juga tak ada yang tahu.

Harsono: Dalam kesaksian di pengadilan soal keberagamaan Anda bagaimana?

Budi: (Ketua NU Pesanggrahan Madinudin) di pengadilan ditanya, “Saudara saksi apakah mengenal terdakwa?”

Dijawab kenal.

“Kenal baik?”

Dijawab kenal.

“Apakah pernah ke rumahnya?”

Pernah.

“Apakah saudara terdakwa sering mengikuti kegiatan keagamaan?”

Gak tahu, katanya.

Kemarin ke sini (dia) waktu baru saya pulang dari penjara. Dia bilang katanya "teman baik."

Saya bilang, “Kamu kalau teman baik, di kesaksian harusnya ngomong seadanya. Di masjid Pak Anwar, waktu jumatan, kita bertemu berapa kali? Apakah itu bukan merupakan kegiatan keagamaan? Aku melakukan aksi istighosah depan tambang, itu yang ngundang kyai-kyai itu saya. Apa itu bukan merupakan kegiatan keagamaan?”

Itu kegiatan keagamaan dalam bentuk berdoa menolak pertambangan agar bumi itu tetap utuh gak dirusak oleh mereka.

Harsono: Kalau polisi dan militer Pesanggaran mengatakan Anda tak ada garis merah, kenapa Anda dituduh menyebarkan komunisme?

Budi:  Ini kan awalnya dari perusahaan BSI. Kalau saya menyebarkan paham komunis, pasti Koramil, Kapolsek tahu. Saya memang tidak menyebarkan paham komunis. Waktu aksi, tak ada satu pun yang menyinggung soal komunis. Tulisan PKI juga gak ada. Setelah pelaporan BSI, bukan ke Polres, tapi ke Kodim. Orang Kodimnya waktu malam mendatangi rumah saya, “Ini mas, ada laporan dari perusahaan, kalau aksi tadi katanya ada logo palu arit.” Orang yang ngomong itu yang ngawal aksi. Dan juga ada di video waktu persidangan. Dia tidak memakai pakaian dinas, tapi memakai pakaian preman. Ini semua dari perusahaan.

Monday, November 12, 2018

"Kasih tahu aku, kalau laki-laki itu datang!"

Siti Nurrofiqoh

Seperti mentari yang tak pernah ingkar janji. Demikianlah ia memercayai seorang lelaki.

Tubuh jangkung berleher jenjang. Kaki mulusnya terlihat sempurna, di ujung lipatan celana yg memperlihatkan pangkal paha.

Jemarinya gemetar menyibak-nyibak lipatan kertas penuh catatan angka. Kulihat tulang besar di dadanya yg kurus dan ringkih. Kemaskulinannya tertutup nyaris sempurna.

"Aku dipukuli saat menagih hutang padanya. Andai saat itu punya duaratus ribu utk visum..."

Ia menerawang, mendesah. Mengibaskan rambut panjangnya. Dan udarapun mewangi. Aku menangkap aroma cinta, luka, dan kesedihan yg tak terperi.

Pria yg katanya mencintainya selalu meminjam uang. Katanya untuk usaha dan ia akan diberi keuntungan.

Ia memijat-mijat lengannya yg kurus nan mulus, meski otot lelakinya menyembul kuat. Air matanya jatuh dan ia menyekanya sendiri. Ia terlihat begitu anggun.

"Rumahku sdh ditarik bank, sekarang aku tinggal di kontrakan," ia terus bercerita dan aku membiarkan.

"Aku kumpulin duit sedikit-sedikit sejak dua tahun lalu. Tak mudah kan? Hasil aku kerja di warung mami malam hari. Dan kini ludes semuanya."

Kulirik sebuah warung yg berada tak jauh dari tempatku berdiri. Warung malam yg menawarkan hangat canda, kopi dan mie instan, yang dinikmati di bawah cahaya remang-remang.

"Skrg aku jualan telor keliling. Memulai lagi dari nol. Ini sudah mulai terkumpul segini."

Jemari kurusnya memilin lembaran uang pecahan dalam dompetnya.

"Aku selalu makan sama tempe, kadang sama kecap, kadang hanya pakai sambel. Tapi dia selalu makan enak."

Aku tak berkata apapun. Sunyi. Berharap pada udara untuk membasuh lukanya.

**


"Kasih tahu aku, kalau laki-laki itu datang!"

Aku mengangguk. Ia menarik nafas berat berusaha menyudahi sedu-sedannya, menguatkan hatinya.

Ah, andai aku bisa menyusut kepedihan itu. Kubiarkan ia berlalu. Kubayangkan lelaki yg telah berlaku keji itu. Sungguh biadap!