Tuesday, August 30, 2016

Indonesian LGBT Activists Receive Free Expression Award


Andreas Harsono
Human Rights Watch

Last Friday in Jakarta two transgender people accepted an award from the Alliance of Independent Journalists (AJI). This was the first time the alliance had designated its freedom of expression award to sexual and gender minorities —and it couldn’t have come at a better time.

Since January 2016, the basic rights and safety of lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) people in Indonesia have come under an unprecedented attack following an onslaught of hateful and misinformed rhetoric from government officials and politicians.

Kanza Vina (left), a transgender woman, talks with Abhipraya Ardiansyah (far right), a transgender man, and Yuli Rustinawati (center), their colleague from Forum LGBTIQ Indonesia. Vina and Abhipraya received awards from an independent journalism union. ©2016 Human Rights Watch

I helped launch the AJI, a journalism union, in 1994 when Indonesia’s military dictator, Suharto – then in his 29th year of power – banned three leading weekly newspapers.

Receiving the award on behalf of Forum LGBTIQ Indonesia, a national umbrella organization, Abhipraya Ardiansyah, a transgender man, told the audience: “This [award] is not simply an appreciation of our work in Forum LGBTIQ, but also of our goals, the future of better Indonesia, in which we all work together to nurture freedom and diversity.”

Indonesia’s diversity has been a main talking point for President Joko Widodo’s administration – but his government has also repeatedly failed to protect Indonesia’s minorities from discrimination and violence.

At the ceremony, Ardiansyah addressed the keynote speaker, Religious Affairs Minister Lukman Hakim Saifuddin: “Nowadays there is an attempt to criminalize LGBTIQ people through the Constitutional Court. I hope the government, including the kind minister, will see our difficult situation and support public education so that the public can understand and want to stop discrimination against us.”

Saifuddin, who earlier this year urged non-violence towards LGBT people but in the same breath suggested LGBT people were “mentally ill,” sat silently. This week he attempted to distance himself from the ceremony because it included LGBT rights activists – not the behavior one wants at a celebration of free expression.

The other recipient, Kanza Vina, a transgender woman, told the audience that when she reported bullying and sexual assault to her teachers, they told her it was her fault for being a “sissy and feminine.” Vina said, “The LGBTIQ movement is the youngest democracy movement in Indonesia. We learn a lot from other movements, from religious freedom to women’s rights.”

Indeed, Indonesia’s LGBT rights allies are strong, diverse, and many. As a peaceful demonstration brutally broken up by the police earlier this year showed, they are also ready to stand up for all Indonesians’ rights. The government should demonstrate the same democratic values.

Friday, August 26, 2016

"Seksualitas adalah sesuatu yang dalam"


Abhipraya Ardiansyah Muchtar

Abhipraya bersama penerima Penghargaan Suardi Tasrif di Hotel Sari Pan Pacific. Penghargaan diberikan kepada dua organisasi: Forum LGBTIQ dan International People's Tribunal 1965.

Assalamualaikum wr. wb.

Nama saya, Abhipraya Ardiansyah Muchtar, biasa dipanggil Abhi. Saya mewakili Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (Forum LGBTIQ Indonesia) guna menerima Penghargaan Suardi Tasrif.

Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Aliansi Jurnalis Independen ... juga selamat ulang tahun, merayakan Deklarasi Sirnagalih.

Penghargaan ini membuat harapan kami lebih besar. Penghargaan ini menghibur kami ketika minggu-minggu ini, kaum LGBTIQ, dibanjiri informasi, propaganda dan kecurigaan, lewat media sosial maupun media mainstream, yang berisi ketidaktahuan soal seksualitas dari individu-individu macam saya.

Kami berterima kasih kepada rekan-rekan dari LBH Jakarta, organisasi yang senantiasa mendampingi kami, sejak 1973 ketika LBH Jakarta membela Iwan Robbyanto Iskandar untuk mengubah status hukum, dari seorang lelaki menjadi perempuan bernama Vivian Rubianti Iskandar. Bukan kebetulan bahwa almarhum Suardi Tasrif adalah salah seorang pendiri LBH Jakarta.

Kami juga berterima kasih kepada beberapa organisasi lain yang banyak membantu kami: Komnas HAM; Komnas Perempuan; Indonesian Crime Justice Reform; LBH Masyarakat serta Human Rights Watch.

Hadirin sekalian,

Saya ditentukan sebagai perempuan saat lahir. Saya lahir di Jakarta tahun 1991 dalam keluarga Muslim Jawa. Sejak kecil, saya dicekoki dengan aturan-aturan sebagai perempuan Jawa dan Muslim. Sejak kecil, saya dicekoki aturan-aturan tidak tertulis yang mengikat sebagai perempuan Jawa dan Muslim.

Namun saya ingat saat bermain dengan teman-teman, saya kesal karena tidak bisa kencing berdiri. Saya juga kesal karena tidak boleh ke masjid dengan teman-teman saya laki-laki.

Saat usia 5 tahun, adik saya lahir. Orang sering bertanya, ingin dipanggil apa saya nanti. Saya ingat, jawabannya hanya satu, “Mas”.
Namun orang tua minta saya dipanggil “Mbak.”

Ketika mulai sekolah, saya tidak suka harus memakai rok ke sekolah. Perlahan-lahan, pengetahuan saya yang sempit, membuat saya menerima dilabeli sebagai butch (lesbian maskulin).

Ruang gerak saya berubah ketika lulus sekolah menengah. Saya pergi kuliah di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Saya juga jadi wartawan mahasiswa di majalah Equilibrium.

Jadi saya kenal dengan jurnalisme. Saya biasa wawancara, mencari sumber, menulis berita piramida terbalik maupun feature.

Di Yogyakarta, saya potong rambut sampai hampir habis. Saya merasa nyaman dengan rambut pendek.

Namun, hati kecil saya tetap berontak. Ketika usia 21 tahun, saya menemukan istilah yang menjelaskan keadaan saya: transgender. Saya bertemu dengan seorang kawan dengan keadaan sama dengan saya. Tepatnya, seorang transgender, dari perempuan ke lelaki, female to male, atau trans laki-laki.

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di Jakarta. Saya bertemu dengan teman-teman yang memberikan informasi tentang psikiater dan androlog yang biasa melayani trans laki-laki. Saya beruntung bertemu dengan kawan-kawan dalam Forum LGBTIQ dan sejak umur 23 tahun saya mulai terapi hormon.

Hadirin sekalian,

Seksualitas adalah sesuatu yang dalam. Ia tampaknya tak cukup dimengerti dengan pendekatan biner: lelaki dan perempuan. Ia juga tak cukup dikatakan sebagai kelainan. Kami sendiri tidak ingin ditempatkan dalam posisi dimana kami harus banyak bertanya.

Pribadi macam saya memilih terapi hormon dan operasi. Namun banyak rekan saya, individu transgender, baik laki-laki maupun perempuan, yang merasa nyaman dengan tubuh mereka, nyaman dengan pakaian mereka.

Ada Menteri Agama Lukman Saifuddin yang baik hati disini.

Saya mau menyampaikan bahwa selama 71 tahun Indonesia merdeka, orang-orang LGBTIQ tidak dilindungi juga tidak dibantu di Indonesia. Namun kami juga tidak dikriminalisasi. Pak Menteri tentu tahu ada anggota kabinet yang gay dalam kabinet Presiden Soeharto.

Kini ada usaha kriminalisasi LGBTIQ lewat mekanisme Mahkamah Konstitusi. Saya berharap pemerintah Indonesia, termasuk Pak Menteri, mau melihat keadaan kami yang serba sulit, sering dipojokkan, dan mendukung pendidikan publik, agar mengerti dan mau menghentikan upaya diskriminasi terhadap kami.

Kami bahagia menerima penghargaan dari organisasi jurnalis ini. Ia memberikan harapan kepada kami –sekaligus tantangan kepada para jurnalis—terhadap jurnalisme yang lebih bermutu dalam liputan minoritas seksualitas di Indonesia.

Penghargaan Suardi Tasrif ini bukan saja penghargaan terhadap kerja kami, Forum LGBTIQ, namun juga penghargaan terhadap citai-cita dan harapan masa depan Indonesia, yang lebih baik dimana kita semua bersama bekerja merawat kemerdekaan dan kebhinekaan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya dan selamat malam.

Wassalamualaikum wr.wb.

Pidato Penghargaan Suardi Tasrif dari Aliansi Jurnalis Independen


Kanza Vina dari Forum LGBTQI

Kanza Vina, Yuli Rustinawati dan Abhipraya Ardiansyah Muchtar berbincang di Hotel Sari Pan Pacific sebelum menerima Suardi Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen. 

Selamat malam dan salam damai buat hadirin sekalian,

Nama saya, Kanza Vina, dari Forum LGBTIQ Indonesia. Saya seorang waria dari Bengkulu. Saya senang bisa berada di sini buat cerita kehidupan waria.

Saya kelahiran 1993 di sebuah desa di Bengkulu. Ketika mulai sekolah, makin tahun, saya makin sering jadi korban ejekan dan cemoohan karena saya feminin. Ketika pelajaran agama, saya menjadi “alat peraga" karena penampilan saya. Saya dibilang “umat Nabi Luth.” Kegiatan sekolah perlahan jadi kegiatan penuh ketakutan. Dulunya, saya berharap sekolah adalah tempat terindah untuk belajar, berkawan dan menjadi ceria. Tapi itu tidak terjadi dengan saya.

Saat kelas satu SMP, saya dipaksa oleh beberapa kakak kelas, sekitar 10 orang, melakukan oral sex. Saya mengadu ke guru. Harapannya, mendapatkan perhatian dan perlindungan. Namun guru malah menyalahkan saya karena feminin dan "bencong." Sampai sekarang saya masih trauma. Saya mau bicara dengan keluarga pun sangat takut.

Mulai saat itu saya malas untuk sekolah dan sering bolos. Lantas ada surat dari sekolah sampai ke rumah. Orang tua bilang saya berhenti sekolah saja. Saya berharap orang tua memindahkan saya ke sekolah yang lebih baik. Namun orang tua minta saya tinggal di rumah.

Setahun di rumah saya tanpa melakukan apa-apa. Saya jadi bosan.

Satu hari saya diajak kawan untuk ke kota Bengkulu mengadu nasib. Umur sekitar 15 tahun. Di Bengkulu, saya jadi pekerja seks buat bertahan hidup. Preman menjadi kawan juga musuh. Saya acapkali digebukin karena tidak setoran. Padahal saya tidak dapat tamu, makan pun susah.

Saya lantas bertemu dengan mak waria yang memberi tempat tinggal dan pekerjaan di salon. Walau tidak mendapatkan gaji, saya senang karena mendapatkan tempat tinggal, makanan, ilmu bersalon serta rasa aman.

Beberapa tahun di Bengkulu, saya bertemu dengan emak saya. Emak terlihat sangat kurus dan susah. Emak memikirkan saya. Emak minta saya pulang.

Saya kembali ke rumah berkumpul bersama bapak dan emak. Saya buka usaha di kampung. Dalam perjalanannya, ternyata abang saya tidak senang dengan kehadiran saya. Bapak mencari jalan keluar. Pada 2009, saya dibekali Rp 5 juta untuk memulai usaha di tempat lain.

Saya umur 19 tahun. Seorang kawan mengajak saya pergi ke kota paling ramai di Indonesia: Jakarta. Namun modal Rp 5 juta di Jakarta tak banyak nilainya apalagi hanya ijasah SD. Saya kembali menjadi pekerja seks dengan harapan dibayar mahal oleh pelanggan Jakarta. Pekerjaan seks di Jakarta pun harus berteman dengan preman dan Satpol PP agar tidak ditangkap.

Hadirin sekalian,

Tahun 2011 saya bertemu dengan sanggar waria remaja: SWARA. Saya merasa lebih tenang, belajar tentang tentang diri sendiri, tentang kawan-kawan waria, lesbian, gay, transgender, tentang miskin kota, tentang hak asasi manusia. Semuanya tidak pernah saya dapat di bangku sekolah.

Tahun 2013 saya memutuskan bekerja secara penuh dengan kawan-kawan di gerakan LBGTIQ lewat SWARA. Saya belajar bersama organisasi-organisasi LGBTQI lain termasuk Arus Pelangi, Ardhanary Institute, Jaringan Gaya Warna Lentera dan Forum LGBTIQ Indonesia.

Saya belajar bahwa seksualitas bukan penyakit. Ia bukan sesuatu untuk disembuhkan. Saya belajar dari banyak kawan bahwa seksualitas mereka sudah ada sejak mereka masih kecil. Ketika masih kecil perlahan-lahan mereka merasakan. Di keluarga saya tidak seorang pun yang waria kecuali saya.

Gerakan LGBTIQ adalah gerakan demokrasi paling muda di Indonesia. Kami belajar banyak dari gerakan-gerakan lainnya, dari gerakan kebebasan beragama sampai hak perempuan.

Kami belajar bahwa kita harus berjalan bersama, bergandengan tangan, belajar menerima perbedaan, demi Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika.

Jalan panjang dan berliku tetap ada namun kami percaya satu hari kita semua akan mendapatkan kemenangan.

Terima kasih kepada semua kawan LGBTIQ yang gigih berjuang, melawan ketidakadilan, berada di garis depan. Percayalah bahwa kamu tidak sendiri.

Terima kasih buat kawan-kawan demokrasi yang terus berada bersama kami melawan ketidakadilan.

Terima kasih buat Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Terimakasih kepada kawan-kawan dari Aliansi Jurnalis Independen yang terus berjuang demi jurnalisme bermutu di Indonesia.

Wednesday, August 17, 2016

Nasionalisme dan Pluralisme


Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Kampus Mubarak bersama berbagai organisasi keagamaan, dari Islam sampai Kristen, dari Buddha sampai aliran kepercayaan. 

Nasionalisme adalah rasa memiliki yang bisa naik dan bisa turun. Ia bukan barang mati.

Kekecewaan terhadap Indonesia --terutama diskriminasi, ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi dan kerusakan lingkungan hidup-- bisa mengurangi rasa memiliki tsb.

Harapan akan perubahan. Pemimpin yang tulus dan berani. Penegakan hukum dengan adil. Mereka akan meningkatkan rasa memiliki terhadap Indonesia.
Nasionalisme adalah ideologi modern. Ia pasangan dari pluralisme.

Logikanya?

Tak ada bangsa yang homogen, yang etnik, yang agama, yang kelasnya, sama semua. Maka diciptakanlah "masyarakat khayalan" dimana pluralisme ditata dengan dasar kesetaraan: hak dan kewajiban sama. Semua warga dari masyarakat ini setara di mata hukum.

Nasionalisme tak mengenal mayoritas dan minoritas. Nasionalisme tak mengenal penduduk asli atau pendatang. Dia yang Jawa setara dgn dia yang Papua. Dia yang Sunni setara dgn dia yang Ahmadiyah. Dia yang heterosexual setara dgn dia yang gay atau lesbian. Dia yang lelaki, tentu saja, setara dgn perempuan.

Perayaan Kemerdekaan Indonesia di paroki Katholik Santa Clara di Bekasi. Mereka akhirnya mendapat izin mendirikan bangunan gereja sesudah mencoba selama 16 tahun. Mereka merayakan dengan sebuah misa dimana anggotanya pakai berbagai pakaian tradisional
GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia merayakan Kemerdekaan Indonesia dengan ibadah bersama di sebuah sudut Monumen Nasional. Mereka bikin ibadah di lapangan sejak pemerintah daerah Bogor dan Bekasi menolak menghormati keputusan Mahkamah Agung memberikan izin bangunan gereja.