Thursday, February 12, 2015

Rosnida Sari: Saya Mau Tunjukkan Aceh yang Toleran Namun Disalahmengerti


Rosnida Sari bertemu dengan Menteri Agama Lukman Saifuddin di Kementerian Agama guna menerangkan mengapa dia sementara harus meninggalkan Banda Aceh.

PADA 5 Januari 2015, Australia Plus, sebuah media milik Australia Broadcasting Corporation, menerbitkan esai Dr. Rosnida Sari, dosen Universitas Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh, tentang pengalamannya mengajar kelas “Gender dalam Islam.” Sari mengadakan satu sesi di Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) di Banda Aceh. Tujuannya, mahasiswa mendapatkan kuliah soal bagaimana kekristenan berjuang dengan hak perempuan.

Esai tersebut bikin geger. Sari dituduh melakukan “permurtadan.” Dia dipersoalkan karena tak pakai jilbab serta merangkul anjing di Australia. Dia banyak dapat kecaman dan ancaman. Hari ketiga, dia terpaksa meninggalkan Banda Aceh ke Medan lantas terbang ke Jakarta.

Muhamad Isnur, pengacara LBH Jakarta yang mendampingi Rosnida Sari, mengatakan bahwa kegiatan Sari di gereja tersebut “… murni muamalah, hubungan manusia dengan manusia, tidak ada hubungan dengan pendangkalan aqidah atau ibadah.” Isnur menekankan bahwa perjalanan ke gereja tersebut bagian dari studi, “Tidak ada sesuatu yg mengarah pada pemurtadan.”

Sari menemui beberapa aktivis hak asasi manusia di Jakarta, termasuk saya. Salah satu keinginan Sari adalah menjawab berbagai tuduhan tersebut. Saya menawarkan diri mewawancarai Sari sesudah dia bertemu dengan Menteri Agama Lukman Saifuddin pada 10 Februari 2015. Saifuddin menekankan soal Kementerian Agama harus melindungi Sari.

Bagaimana ceritanya Anda menulis pengalaman mengajar di UIN Ar Raniry buat Australia Plus?

Info Australia Plus dikirim teman di Melbourne. Saya tertarik karena ia media bagus untuk menunjukkan bahwa Aceh, atau Islam, bukan seseram apa yang mereka lihat di televisi Australia. Saat kuliah di Adelaide, saya suka datang ke sekolah-sekolah dan mengajarkan Islam yang ramah kepada murid-murid. Ada dosen mengajak saya datang ke kelasnya dan menjelaskan Islam. Saya mengajar bagaimana pakai jilbab, sarung, kopiah, bagaimana shalat, kepada mereka. Ini untuk mengubah image tentang Islam yang jarang terlihat ramah di televisi.

Setelah kembali ke Aceh, saya ingin tunjukkan juga bahwa Islam tidaklah seseram yang mereka bayangkan. Kebetulan saya mengajar tentang gender termasuk pandangan kekristenan. Saya ingin mahasiswa saya mendapat penjelasan dari orang yang pas ... pendeta itu sendiri. Maka mahasiswa itu saya bawa ke gereja.

Saya ingin katakan ke pembaca Australia Plus, "Lihat mahasiswa saya toleran koq. Mereka datang ke gereja dan belajar.” Artinya, mahasiswa saya cukup terbuka untuk belajar hal berbeda. Ini salah satu cara agar mereka bisa melihat orang yang berbeda. Ternyata niat baik saya disalahartikan.

Dalam Facebook Anda ada gambar Anda memegang anjing dan tidak pakai jilbab?

Kakek saya adalah ulama di Takengon. Beliau punya dua anjing yang dipelihara untuk mengejar babi di kebun. Kami terbiasa dengan anjing. Sesuatu yang mungkin tidak biasa bagi mereka yang di pesisir. Lagipula anjing itu kering. Kalau kering dia kan tidak najis?

Tentang jilbab, ketika kamu berada di negara yang mayoritas berbeda agama dan kamu berada di lingkungan mereka, kamu ingin tahu kehidupan mereka. Apakah kamu mau dilihat aneh karena terlihat berbeda? Mungkin bagi mereka yang hanya hidup di seputaran kampus, terbiasa melihat mahasiswi berjilbab. Tapi kalau kamu berada di wilayah yang tidak berjilbab? Saya memilih tidak menggunakan jilbab. Ia membuat saya lebih leluasa belajar dan melihat budaya mereka, tanpa dicurigai sebagai pembawa bom dalam ransel. Banyak dari mereka masih mengidentikkan Muslim sebagai teroris, bawa ransel berisi bom bunuh diri.

Sesudah esai Australia Plus terbit, serta dikutip beberapa media Aceh, apa yang terjadi?

Pagi-pagi sudah ada teman di Australia tag tulisan itu ke laman Facebook saya. Setelah itu ada lagi teman di Aceh lakukan hal sama. Siang harinya, mulailah laman Facebook saya di-tag oleh seorang mahasiswa Aceh, yang selesai belajar di Australia, yang mengatakan hal yang jelek, penuh kemarahan. Mulai ada orang berusaha berteman dengan saya di Facebook. Lalu muncul telepon-telepon dari orang yang tidak saya kenal. Tidak pernah sepanjang hidup saya ada 100 orang lebih ingin berteman dengan saya dalam sehari. Ada yang namanya seperti asli, ada juga yang nama buatan. Akhirnya saya tutup Facebook.

Mengapa Anda memutuskan meninggalkan Banda Aceh?

Nyawa saya terancam. Malam kedua, seorang teman menawarkan saya segera keluar dari rumah. Saya mengikuti sarannya. Ternyata benar. Pukul 1 malam ada massa bergerak menuju rumah saya. Untung dihentikan polisi. Di satu desa, masyarakat sudah terprovokasi dan naik ke mobil bak terbuka untuk datang ke rumah saya. Teman-teman saya minta ibu dan keluarga saya mengungsi, keluar dari rumah. Situasinya sudah tidak aman. Saya meninggalkan Banda Aceh hari ketiga.

Anda dituduh melakukan "Kristenisasi" bahkan ada istilah "pemurtadan" terhadap mahasiswa Anda. Bagaimana sebenarnya reaksi dari mahasiswa Anda?

Apa maksud Kristenisasi? Apa ada bukti kalau saya melakukan Kristenisasi? Para mahasiswa yang saya bawa ke gereja malah menguatkan saya, menelepon dan bilang kalau saya sama sekali tidak salah. Mereka yang mengalami kejadian itu. Lalu kenapa orang-orang di luar sana mengatakan bahwa itu salah?

Namun Senat Fakultas Dakwah UIN Ar Raniry menilai Anda salah dan minta Anda diberi skorsing dua semester, ikut "pembinaan aqidah" serta minta maaf kepada "civitas akademika, rektorat, tokoh masyarakat Aceh, orang tua para mahasiswa maupun masyarakat Aceh" lewat media Banda Aceh. Bagaimana pendapat Anda?

Yang saya lakukan itu murni sebagai bagian dari pendidikan inclusive, bukan belajar exclusive. Mahasiswa bisa mendengar sendiri dari pendeta atau bhiksu. Sebenarnya saya juga akan membawa mahasiswa saya berkunjung ke vihara. Ini vihara yang pernah dilempari oleh orang tidak dikenal beberapa tahun lalu. Kalau masih saja ada curiga-curiga, kapan kita bisa bekerja sama dan membangun Aceh?

Apa yang Anda kerjakan di Jakarta? 

Saya mengungsi di rumah seorang kenalan yang mau menampung saya.

Bagaimana tanggapan keluarga Anda terhadap kejadian ini?

Ibu saya mendukung saya dan mengatakan, "Anggap ini jihadmu." Kami sekeluarga sudah biasa berteman dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama. Ketika ayah saya masih hidup, kami biasa datang tahun baru ke rumah teman ibu yang beda agama. Teman ibu tadi, datang pas Lebaran. Dalam keluarga kami, itu sudah biasa saling mengunjungi.

Bagaimana pembicaraan Anda dengan Menteri Agama Lukman Saifuddin?

Pak Menteri cukup baik. Beliau mendengarkan klarifikasi yang saya sampaikan. Pak Menteri mengucapkan terima kasih kepada kenalan saya, yang menampung saya, di Jakarta.

Wednesday, February 04, 2015

Sesi Terakhir Kelas Narasi Yayasan Pantau


Andreas Harsono


SELALU menyenangkan menyaksikan sesi terakhir kelas dimana saya mengajar. Ada cerita, ada kesan, ada masukan. Kali ini sesi ke-19 dari kelas Narasi Yayasan Pantau angkatan ke-14, atau sesi bontot, dimana saya mengampu bersama Budi Setiyono, redaktur majalah Historia dan kawan lama dari Semarang, selama lima bulan.

Ada belasan peserta bersama belajar, setiap minggu, dengan berlatar wartawan sampai arsitek, dari bankir sampai tata kota. Minatnya juga macam-macam. Ada yang biasa menulis soal makanan. Ada yang soal film dan fashion.

Desi Dwi Jayanti, seorang ibu rumah tangga, menulis dalam Facebook, "Kami tertawa lepas dan membaur dengan baik. Makan-makan menu saweran dengan gembira, saling cela dan merencanakan project menulis bersama."

Empat peserta Komnas Perempuan.
Ardi Wilda Irawan dari Turun Tangan, mengatakan sesi soal social media adalah sesi yang menarik perhatiannya. Dia usul sesi tersebut dikembangkan. Dia usul contoh pembahasan bukan saja naskah klasik dari media cetak --"Hiroshima" karya John Hersey atau "In Cold Blood" karya Truman Capote-- tapi juga naskah bermutu dari dotcom.

Saya tertarik dengan masukan Ardi. Saya pikir pada kelas baru saya hendak menambah materi dari media baru a.l. Business Insider, The New York Times, Salon.

Viriya Paramita cerita menarik soal bagaimana dia belajar feature. Dia bilang satu semester dia kuliah soal penulisan feature di almamaternya. Isinya teori, dari soal lead sampai entah apa lagi. Namun feature diterangkan dengan mudah dan sederhana dalam satu sesi dalam kelas Narasi.

Ini bukan pertama saya dengar komentar macam Viriya. Sering dosen-dosen komunikasi dan jurnalisme di Indonesia membuat persoalan sederhana jadi ruwet. Mungkin mereka tak bisa mengembangkan silabus. Mungkin mereka tak mengerti subject yang diajarkannya.

Stuktur dan teori soal feature bisa diterangkan hanya 20 menit. Mungkin malah 15 menit.

Penting peserta diberi kesempatan praktek serta membaca feature yang baik. Saya pernah menulis soal feature hanya dengan sebuah esai tak sampai 1,000 kata. Judulnya, "Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi."

Viriya juga menikmati cerita dari berbagai instruktur tamu dalam kelas ini: Metta Dharmasaputra dari Katadata (menulis buku Saksi Kunci soal penggelapan pajak Asian Agri); Pallavi Aiyar dari New Delhi (menulis buku Smoke and Mirrors: An Experience of China serta Punjabi Parmesan: Dispatches from a Europe in Crisis); dan wartawan investigasi Allan Nairn dari New York.

Saya kira memang menarik. Saya bersyukur bahwa Pantau, sejak berdiri 1999, bisa dapat kepercayaan dari berbagai wartawan, mulai dari Jakarta sampai Jayapura, dari New Delhi sampai New York, agar mereka bicara bila kebetulan berada di Jakarta. Pantau tak memberi honor selain uang taxi ala kadarnya.

Para peserta kelas Narasi dari Yayasan Pantau. Mereka punya background beragam, dari arsitek sampai bankir, dari wartawan sampai Komnas Perempuan. Dari kiri atas: Adi Wibowo, Ayub Wahyudin, Sri Candra Wulaningsih, Asmaul Khusnaeny, Indah Sulatry, Anastasia Widyaningsih, Teddy Wijaya, Desi Dwi Jayanti, Feri Sahputra, Budi Setiyono, dan Ricky Dewi Lestari. Kiri bawah: Ahmad Hanafie, Bagus Baratha Handoko, Ardi Wilda Irawan, Beni Satryo, Viriya Paramita, Nadrah Shahab, Andreas Harsono, Rahmat Ali, serta Mirzadlya Devanastya. 

Desi Jayanti juga usul ada sesi soal manajemen kerja penulisan panjang. Dia menulis, "Selain outline yang matang, manajemen kerja menulis memang penting dalam naskah panjang. Apalagi bagi penulis baru. Misal ideal waktunya berapa lama gitu."

Desi didaulat rekan sekelasnya buat koordinasi bikin Antologi Jakarta. Ini juga salah satu kebiasaan dari kelas-kelas di Pantau dimana mereka ingin bikin proyek bersama.