Saturday, May 25, 2013

Feature: Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi

Oleh Andreas Harsono

Kantor Yale Daily News diberi nama Briton Hadden Memorial Building di 202 York Street, New Haven, Connecticut. ©Apicella Bunton Architects

PADA awal abad XX di Connecticut, dua pemuda sama-sama kuliah di Universitas Yale. Briton Hadden dan Henry Luce sama-sama suka menulis. Mereka ikut mengelola harian mahasiswa Yale Daily News. Pada 1920, mereka lulus kuliah. Briton Hadden lantas bekerja untuk harian New York World. Dia lantas pindah sebagai wartawan di Baltimore News di kota Baltimore, dekat Washington DC. Henry Luce dapat beasiswa dan belajar sejarah di Universitas Oxford di Inggris. Pada Desember 1921, Luce diajak Hadden, masuk ke harian Baltimore News.

Sejak mengepalai Yale Daily News, Hadden merasa ada yang kurang dengan sistem suratkabar harian. Dia ingin bikin media ukuran kecil yang berisi ringkasan dari berbagai berita. Ia seyogyanya terbit setiap minggu. Isinya, harus ringkas, cerdas serta mendalam. Mereka juga lihat teknologi mesin cetak berkembang pesat. Teknologi cetak sudah bisa cetak foto dan warna. Mereka merasa bisa bikin majalah berwarna. Sistem distribusi lewat dinas pos di Amerika Serikat juga berkembang baik dan murah. Mereka bisa distribusi majalah tersebut dari New York ke seluruh Amerika Serikat: negara dengan enam zona waktu.

Time 3 Maret 1923
Pada akhir 1922 mereka mundur dari Baltimore News serta mencari modal. Mereka hanya dapat US$60,000 dari total $100,000 yang mereka perlukan. Mereka nekad mendirikan majalah tersebut. Umur mereka baru 23 tahun ketika mereka bikin majalah Time. Ia terbit perdana pada 3 Maret 1923 dengan kulit muka Joseph G. Cannon, mantan ketua Dewan Perwakilan Rakyat di Washington DC. Time dikenal karena kulit mukanya selalu diberi frame warna merah. Briton Hadden menjadi pemimpin redaksi.

Time menghindar dari penulisan berita ala piramida terbalik yang biasa dipakai wartawan sejak abad XIX. Dalam penulisan piramida terbalik, seorang wartawan menaruh seawal mungkin semua informasi 5W 1H –what, when, who, where, why, how. Alinea pertama praktis berisi semua sari berita. Makin ke bawah informasi makin kurang substansial. Model tersebut cocok untuk teknologi cetak suratkabar harian maupun wire service, yang melayani suratkabar. Mengapa? Karena ongkos telegram mahal. Dalam ruang redaksi sebuah harian, satu laporan berita bisa dipotong bagian bawah bila ruang tak cukup.

Majalah Time, dengan arahan Hadden, memakai model penulisan yang mereka sebut “feature.” Ia dimulai oleh sebuah alinea yang memancing rasa ingin tahu pembaca. Lalu ibarat kail dan ikan, ia mengiming-imingi si ikan untuk terus mengejar mata kail. Ada bagian yang penting –termasuk statistik, teori, argumentasi— yang mungkin kurang enak dibaca, ditaruh di bagian tengah. Ia diakhiri dengan upaya menjawab rasa ingin tahu tersebut di ekor feature. Time bukan organisasi yang menemukan feature namun mereka adalah organisasi pertama yang menggunakan feature sebagai kekuatan mereka. Hadden dianggap wartawan muda dengan gaya dan keberanian yang luar biasa.

Briton Hadden 1928
Keberanian dan keputusan tersebut terbukti membawa perubahan dalam jurnalisme di Amerika Serikat. Time dapat sambutan hangat dari warga Amerika Serikat. Sayangnya, pada 1929, Briton Hadden meninggal dunia dalam usia 31 tahun. Namun dalam usia muda, Hadden dianggap salah satu inovator penting dalam jurnalisme. Dia dikenal sebagai seorang stylist. Dia dianggap salah satu orang yang paling berpengaruh dalam perkembangan jurnalisme dunia.

Henry Luce mengenang koleganya, “Somehow, despite the greatest differences in temperaments and even in interests, we had to work together. We were an organization. At the center of our lives — our job, our function — at that point everything we had belonged to each other.”

Luce meneruskan Time dan mengembangkannya jadi salah satu majalah paling penting di dunia. Luce juga selama 30 tahun lebih bersaing dengan rival utama mereka, majalah Newsweek, berdiri di New York pada 1933, yang juga sama-sama memakai feature.

Kini 90 tahun sesudah kedua pemuda tersebut mendirikan Time Inc, ia menjadi perusahaan majalah paling besar di Amerika Serikat. Ada edisi Eropa terbit dari London. Ia juga punya edisi Amerika Latin dari beberapa kota di Amerika Selatan, edisi Asia dari Hong Kong, edisi Pacific dari Sydney. Time Inc. juga menerbitkan majalah lain, termasuk Life, Sports Illustrated, Fortune, Golf, Entertainment, Health, CNN Money, People, Coastal Living, Sunset dan seterusnya. Ia juga merger dengan Warner Communications, Inc. serta Turner Broadcasting System, Inc. sehingga jadi salah satu dari lima perusahaan media terbesar di dunia. Turner Broadcasting System Inc. adalah pemilik televisi berita 24 jam CNN.

Henry Luce 1967
Ketika Henry Luce meninggal pada 1967, dalam usia 69 tahun, sebagai orang nomor satu Time Inc, ia disebut "… the most influential private citizen in the America of his day."

Time Warner sekarang terdiri dari empat divisi: Home Box Office Inc, Turner Broadcasting System Inc, Warner Bros. dan Time Inc. Luce sendiri mewariskan kekayaan dia, sekitar US$100 juta, kepada Henry Luce Foundation di New York.


EMPAT tahun sesudah kematian Henry Luce, di Jakarta ada sekelompok wartawan muda merasa perlu ada majalah berita untuk khalayak Indonesia. Majalah Tempo diterbitkan pada 6 Maret 1971 dengan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin redaksi.

Pada 1970an, entah sudah berapa ribu majalah, maupun suratkabar harian, dalam berbagai bahasa dan aksara, di berbagai kota dunia, memakai feature sebagai model laporan mereka. Piramida terbalik dipakai. Feature juga dipakai. Tempo juga memilih feature sebagai model penulisan mereka. Sambutan masyarakat hangat. Tempo juga terbukti menjadi sebuah institusi media yang penting di Indonesia. Pada 1982, PT Grafiti Pers, penerbit mingguan Tempo, membeli saham harian Jawa Pos di Surabaya. Kini kelompok Tempo Jawa Pos jadi satu dari 13 konglomerat media di Indonesia.

Pedoman dari Tempo
Namun ada masa jeda dalam sejarah Tempo. Pada 1994, pemerintahan Presiden Soeharto membredel Tempo. Goenawan Mohamad mendirikan Institut Studi Arus Informasi, sebuah organisasi nirlaba, untuk memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Pada 1996, organisasi ini menerbitkan buku pegangan wartawan Tempo untuk disediakan kepada masyarakat. Judulnya, Seandainya Saya Wartawan Tempo. Saya kira inilah pertama kali model penulisan feature dijadikan buku dalam Bahasa Indonesia dan disediakan untuk masyarakat. Ia menjadi buku pegangan penting bagi siapa pun yang ingin tahu bagaimana menulis feature. Goenawan menerbitkan Tempo kembali pada 1998 sesudah Soeharto turun panggung.

Seandainya Saya Wartawan Tempo dibagi dalam 10 bab. Secara teknis ada dua bab awal soal dasar-dasar jurnalisme. Seluk-beluk penulisan feature dijabarkan dalam delapan bab:

• Mengail dengan Lead
• Tubuh dan Ekor
• Teknik Penulisan
• Siapkan Empat Senjata: Fokus, Deskripsi, Anekdot, Kutipan
• Memilih Angle yang Tepat
• Yang “Berita” dan yang Bukan Berita
• Profil Pribadi
• Buatlah “Outline”

Berbeda dengan piramida terbalik, feature minta seorang wartawan berpikir soal fokus lebih dahulu. Dia harus punya fokus. Apa yang hendak ditulisnya? Dan fokus ini dijabarkan sebagai satu kata dari 5W 1H: what, when, who, where, why, how.

Sebuah naskah feature hanya punya satu fokus. Apa yang terjadi dalam skandal tersebut? Kapan pembunuhan terjadi? Siapa yang memberi perintah pembantaian? Dimana rapat rahasia untuk rampok uang negara dilakukan? Mengapa organisasi pendidikan harus menipu? Bagaimana agama dijadikan alasan pembunuhan, pembakaran?

Fokus harus dimulai dengan sudut masuk atau angle. Si wartawan harus mencari sudut masuk yang menarik perhatian pembaca. Sudut masuk seyogyanya sesuatu yang baru, yang ringan, yang mudah dimengerti.

Contoh. Pada Mei 2013, majalah Tempo mengeluarkan satu laporan soal dugaan kongkalikong dalam Partai Keadilan Sejahtera. Sudut masuknya sebuah “perjamuan” di kantor satu perusahaan di Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana ada seorang pengusaha dan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq disertai orang kepercayaannya Ahmad Fathanah. Mereka rapat dan bicara soal penggalangan dana kampanye PKS. Tempo juga menyertakan catatan di papan dimana PKS bikin target cari dana Rp 2 trilyun buat kampanye. Ia akan digali dari berbagai proyek di tiga kementerian dimana menterinya politisi PKS. Ia sebuah angle yang baru, segar, ringan, mudah dimengerti.

Seandainya Saya Wartawan Tempo menerangkan macam-macam alinea pertama atau lead. Buku tersebut juga menerangkan macam-macam perkakas dalam penulisan, antara lain, deskripsi, anekdot, monolog, dialog dan sebagainya. Ia memberikan panjang feature bervariasi dari pendek sekali sampai 15 atau 20 lembar ketik dua spasi, sekitar 50,000 karakter.

Bab bontot bicara soal outline. Sebuah feature dimulai oleh lead dan diakhiri dengan ekor. Semua alinea tersebut perlu disusun dengan sebuah outline. Ia akan membantu si wartawan berpikir secara sistemanis. Bila fokusnya ini maka outline tersebut, secara sistematis, terus-menerus mencoba menjawab pancingan itu, dari sudut masuk sampai ekor feature.

Goenawan Mohamad dari Tempo
Pada 1997 dan 1999, saya sering mendengarkan Goenawan Mohamad bikin berbagai macam pelatihan menulis bersama Institut Studi Arus Informasi. Pelatihan dibikin buat wartawan namun banyak juga mahasiswa, aktivis maupun akademisi ikutan. Goenawan selalu bicara secara ringkas soal penulisan feature. Ada tiga hal selalu dia terangkan: fokus, sudut masuk dan outline. Fokus, sudut masuk dan outline. Dia sering bilang bila hendak menulis esai Catatan Pinggir, kolom majalah Tempo, yang sudah dikerjakannya setiap minggu sejak 1977, dia selalu memakai struktur feature. Dia selalu siapkan fokus, angle dan outline. Fokus, angle dan outline.

Saya selalu menikmati bagaimana Goenawan bicara. Dia seorang pembicara hebat. Dia menerangkan persoalan sederhana, bagaimana menulis feature. Ibarat dia menerangkan bagaimana menggoreng telur mata sapi. Ia bukan masakan rumit. Siapa pun tahu, telur mata sapi adalah masakan yang digoreng, dikasih garam dan merica, disajikan, dan dimakan oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Feature tak peduli bahasa, aksara maupun media. Namun bikin telur mata sapi yang enak, gurih, segar, bisa jadi keahlian seorang koki terkemuka. Feature kini juga merambah suratkabar harian. Feature juga masuk ke media internet.

Kini umur feature sudah sekitar 100 tahun. Newsweek berhenti cetak 2012. Namun sejak Briton Hadden dan Henry Luce memulai dengan model penulisan majalah Time hingga Goenawan Mohamad dan kawan-kawan membuat buku pedoman di Jakarta, feature terbukti jadi salah satu struktur penulisan pendek yang penting, yang harus dikuasai oleh wartawan, maupun non-wartawan, yang mau menulis laporan menarik dan bernas. Ia bukan sekedar menggoreng telur mata sapi. Tapi ia menyajikan telur mata sapi yang gurih, segar dan enak dimakan.

Goenawan Mohamad menyebutnya, "Enak dibaca dan perlu, bahkan jenaka pun bisa."


Pengantar untuk diskusi dalam program “Pendidikan Jurnalisme Mahasiswa” bersama media mahasiswa Aspirasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta, 27 Mei 2013.

Friday, May 24, 2013

Supaya Award Tidak Menjadi Ironi


Oleh Ahmad Suaedy

A crime committed in the name of religion is the greatest crime against religion. Sebuah kejahatan yang dilakukan atas nama agama adalah kejahatan terbesar terhadap agama.
Appeal of Conscience  Foundation


Ahmad Suaedy
Appeal of Conscience Foundation, yang bermarkas di New York, akan memberikan award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan gelar "Statesman of the Year" pada 30 Mei ini.

Dalam situs webnya dinyatakan, ACF didirikan oleh seorang Rabbi Arthur Schneier, dan sejak 1965 telah bekerja atas nama kebebasan agama dan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia. Award "Statesman of the Year" atau negarawan dunia tersebut diberikan kepada SBY karena dianggap berhasil menjaga kebebasan beragama dan hak asasi manusia.

Kita seharusnya bangga presiden Indonesia menerima award tersebut. Namun award ini bisa menjadi ironi jika melihat kinerja pemerintahan SBY dalam kebebasan beragama dan perlindungan terhadap minoritas.

Mainstreaming Intoleransi

Atmosfer intoleransi mungkin sudah terasa cukup lama di Indonesia setidaknya sejak reformasi 1998. Namun mainstreaming intoleransi, yaitu akomodasi intoleransi menjadi kebijakan dan ditopang dengan kelembagaan makin kuat pada era kepresidenan SBY.

Beberapa bulan setelah dilantik sebagai presiden, SBY memberikan pidato pada pembukaan musyawarah nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) 26 Juli 2005. SBY menyatakan: “Kami ingin meletakkan MUI untuk berperan secara sentral yang menyangkut akidah ke-Islaman … dan mana-mana yang pemerintah atau negara sepatutnya mendengarkan fatwa dari MUI dan para Ulama.”

Dengan pidato tersebut, SBY seperti sedang memberikan legitimasi monopoli kebenaran atas tafsir terhadap Islam oleh MUI dimana pemerintah siap melaksanakannya. Sebagai sebuah organisasi agama tertentu, sebenarnya wajar MUI, seperti organisasi keagamaan lain, memiliki pandangan ekslusif, bahkan jika disertai penyesatan terhadap kelompok lain. Tetapi hal itu seharusnya sebatas menjadi dikursus keagamaan scara internal dan tidak di-enforce oleh pemerintah.

Pada musyawarah nasional tersebut, MUI mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Ahmadiyah dan keharaman pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Fatwa-fatwa itu kemudian menyulut meningkatnya kekerasan atas Ahmadiyah, dan sejumlah paham lain yang dianggap tak sesuai dengan paham MUI dengan kecenderungan pembiaran oleh pemerintah.

MUI juga mengeluarkan fatwa 10 kriteria tentang aliran sesat yang telah mendorong sejumlah MUI daerah untuk identifikasi airan-aliran sesat di daerahnya. Mereka lantas keluarkan fatwa sesat. Sejurus kemudian diajukan kepada pemerintah daerah untuk melarang mereka.

Sektarian

Pada tahun 2006 SBY menandatangani UU No. 23 tentang administrasi kependudukan. Pasal 64 ayat 2, misalnya, memberikan legitimasi kepada pemerintah untuk membedakan agama yang diakui dan tidak diakui. Ini menimbulkan praktek diskriminasi dalam pelayanan hak-hak sipil seperti pelayanan KTP dan pernikahan.

Pada 9 Juni 2008 pemerintah mengeluarkan SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah. Meskipun SKB ini tidak secara eksplisit melarang eksistensi Ahmadiyah tapi tidak pelak dalam praktek ia jadi landasan pelarangan oleh pemerintah daerah terhadap mereka.

Atas berbagai kekerasan dan fatwa MUI lokal maupun nasioal terhadap minoritas yang dianggap sesat kini ada sekitar 25 daerah dengan berbagai bentuk regulasi seperti Surat Keputusan Bupati atau Gubernur atau Perda yang melarang aliran tertentu. Terbanyak dari mereka adalah Ahmadiyah. Regulasi tersebut di samping didasarkan pada UU/PNPS No. 1 Tahun 1965 tentang penodaan agama juga SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah tersebut.

Di samping itu, data yang saya ambil dari Diakonia Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menunjukkan berbagai kasus penutupan dan ancaman terhadap gereja. Pada tahun 2008, terjadi 14 kasus; 2009, 10 kasus; 2010, 27 kasus; 2011, 54 kasus; dan 2012, 59 kasus. Sedangkan dari kantor Jemaat Ahmadiyah Indonesia menunjukkan peningkatan kekerasan terhadap Ahmadiyah. Pada 2005-2007 sebelum SKB terjadi 29 kasus dan 2008-2011 terjadi 42 kasus.

Pelibatan berbagai lembaga seperti Departemen Agama, Kepala Daerah dan Bakor-Pakem, Kejaksaan serta Kepolisian dan MUI, dalam proses pelarangan aliran-aliran tersebut menunjukkan keterlibatan yang aktif pemerintah itu sendiri.

Adalah hak SBY untuk menerima award terebut. Tetapi supaya tidak terjadi ironi, SBY harus mencegah negeri bhinneka tunggal ika ini menjadi negara sektarian.

Penulis adalah Koordinator Abdurrahman Wahid Centre for Inter-Faith Dialogue and Peace-Universitas Indonesia (AW Centre-UI).

Thursday, May 09, 2013

Naik kereta api menuju Brussels


Beberapa kawan
usul agar saya mencoba naik kereta api di Eropa. Jangan naik pesawat terbang. Harga sama, waktu juga relatif sama, bila diperhitungkan perjalanan ke airport, check in, menunggu dan boarding. Lebih menarik lagi. Stasiun kereta api selalu terletak dalam kota. Beda dengan airport, jauh dari kota, harus naik taxi.

Berlin Hauptbahnhof
Saya memilih naik kereta dari Berlin ke Freiburg, lantas dari Freiburg ke Koln dan Brussels. Pilihan di Jerman, tentu saja, kereta api adalah  Intercity-Express (ICE). Ia kereta cepat yang operasi di Jerman dan sekitarnya.

Senang sekali naik ICE karena tempat duduk luas, bisa jalan langsung ke pusat kota tanpa perlu naik taxi macam keperluan pesawat terbang. Kecepatan sekitar 225 km/jam. Saya kira Eropa adalah benua kereta api. Ia menjangkau hampir seluruh daratan Eropa.

Gerbang masuk Parc du Cinquantenaire

Human Rights Watch, Brussels
Di Brussels, setiap hari saya melewati dan menghabiskan waktu di Parc du Cinquantenaire. Ia sebuah taman, terletak dekat kantor Human Rights Watch dimana saya bekerja. Taman ini berbentuk macam huruf U dan dibangun atas permintaan Raja Leopold II untuk Pameran Nasional pada 1880. Pameran tersebut dibikin untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Belgia.

Saya sering menghabiskan waktu untuk makan siang di taman ini. Beli sandwich di sebuah toko milik orang Arab lalu cari tempat duduk di taman. Pernah juga diajak makan siang di sebuah cafe pinggir taman.

Di Brussels saya suka tinggal di sebuah hotel kecil. Namanya, Derby, bangunan kuno lima lantai, dekat Parc du Cinquanterainer. Semalam hanya 75 Euro termasuk sarapan. Satu lantai hanya lima kamar. Ada balkon sehingga bisa melihat ke jalan. Saya suka menghabiskan waktu dengan melihat jalanan, matahari terbit dan matahari terbenam. Pagi hari, saya jogging sekali di taman Parc du Cinquanterainer.

Pelangi dari Hotel Derby
Saya bekerja rutin saja tiap hari di Brussels: pagi sarapan di kamar, lalu berangkat ke kantor, dari pukul 9.30 sampai pukul 18, kembali ke hotel, mandi dan makan malam dekat hotel, pukul 20 kembali ke kamar dan bekerja sampai tidur. Tiap hari rutinitas ini. Makin hari saya makin banyak berjalan. Saya sekarang membiasakan diri mengurung diri di kamar saja guna menghemat tenaga.

Parc du Cinquanterainer dari Hotel Derby

Di Brussels orang juga bisa sewa sepeda. Ia diatur oleh pemerintah kota Brussels. Sistemnya, orang bisa sewa dan pakai lalu ditinggalkan di tempat parkir sepeda manapun. Orang tak perlu mengembalikan ke tempat parkir awal. Saya kira ia usaha yang praktis. Ada kawan saya biasa naik sepeda saat pulang kantor saja, satu jurusan, karena jalanan menurun. Dia tak mau naik sepeda saat jalanan menaik.

Luxembourg Plaza adalah lapangan persis di tengah daerah Parlemen Eropa di Brussels. Saya lihat pameran gambar, sejarah Eropa dari Perang Dunia I hingga sekarang. Gambar-gambar raksasa diletakkan sekeliling plaza. Saya perhatikan bagaimana negara-negara yang dulu saling membunuh --Perang Dunia I dan Perang Dunia II-- kini bisa bekerja sama, menghilangkan perbatasan mereka (tanpa imigrasi), mengakui kesalahan masa lalu, memakai mata uang tunggal Euro, hanya dalam waktu 60 tahun. Ada gambar kepala pemerintah Jerman dan Perancis berpegang tangan sambil meletakkan karangan bunga ke kuburan massal orang Yahudi. Dampak dari pembentukan Uni Eropa adalah saya bisa naik kereta api dari Berlin menuju Brussels tanpa satu pun orang memeriksa paspor saya.

Waffel dan cappucino tak sampai 10 Euro

Beberapa kenalan mengatakan bila datang ke Brussels harus mencoba makanan khas mereka: waffel. Pakai cream, ice cream vanila dan sirup coklat. Rasanya manis. Saya mencicipi waffel khas Brussels di daerah De Brouckere. Duduk dan mengamati orang mengobrol serta melihat kesibukan mereka.

Stasiun Brussels Utara

Tuesday, May 07, 2013

Interview: Benny Wenda dan Free West Papua di Oxford, Inggris


MAJALAH SELANGKAH -- Koordinator diplomasi internasional Papua Merdeka, Benny Wenda, bersama para simpatisan membuka kantor Free West Papua di Oxford pada 26 April 2013. Pembukaan kantor itu mendapatkan reaksi keras dari berbagai pihak di Jakarta. Secara resmi Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa memanggil Duta Besar Inggris Mark Canning untuk menyampaikan keprihatinan dari pemerintah Indonesia atas pembukaan kantor itu.

Nah, mengapa Benny Wenda dan simpatisan Papua Merdeka di Inggris secara bebas bisa membuka kantor Free West Papua di Oxford dengan dihadiri Wali Kota Oxford, Mohammad Niaz Abbasi; anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith; dan mantan Walikota Oxford, Elise Benjamin?

Ini wawancara dengan Andreas Harsono dari Human Rights Watch, lewat wawancara telepon dari Brussels, kepada majalahselangkah.com, Selasa, (07/05/13) soal bagaimana melihat perbedaan pandangan tersebut
.

Harsono mengatakan, banyak pihak di Indonesia, termasuk politisi dan jurnalis, belum memahami perbedaan antara negara dan pemerintah dalam demokrasi. Negara Britania, termasuk Inggris maupun negara-negara Eropa lain, dibedakan tegas antara Negara dan Pemerintah.

"Di sana, tugas pemerintah membuat program dan mengawasi pengawai negeri dalam kerja. Negara mempunyai tugas melindungi warga-negara-nya dari berbagai kejahatan seperti kekerasan, kemiskinan, diskriminasi dan lainnya. Pemerintah bekerja menjalankan program sesuai undang-undang," jelasnya.

Harsono memberi dua contoh di mana negara dan pemerintah bisa bertentangan serta pegawai negeri bisa menolak menjalankan program pemerintah yang bertentangan dengan hukum.

Di Berlin, ibukota Jerman, pada 2007, ada kaum Muslim hendak mendirikan masjid di daerah Heinersdorf. Mereka beli tanah dan urus izin. Ketika mulai bangun, masjid tersebut diprotes kalangan Kristen garis keras. Pihak pemerintah, karena dasarnya politisi, berada di pihak Kristen. Mereka bilang "Jerman Timur" belum siap menerima masjid pertama tersebut. Namun izin sudah dibikin sesuai hukum. Polisi dan birokrasi Berlin melindungi kaum Muslim. Akhirnya, protes juga reda, masjid dibangun dan Kristen garis keras juga sadar mereka harus tunduk pada hukum.

Di Belgia, perbedaan negara dan pemerintah sangat terasa ketika tahun 2009 hingga 2011, selama 541 hari, tak ada pemerintah yang bisa menang pemilihan umum dengan suara cukup. Artinya, tak ada perdana menteri, tak ada kabinet, tak ada pemerintah. Tapi birokrasi berjalan. Mereka jadi caretaker pemerintahan. Negara Belgia tetap menyediakan pendidikan, kesehatan, perbaikan jalan dan lain-lain.

"Menarik sekali di Belgia, karena ada hukum, pegawai negeri semua bekerja dan kehidupan berjalan damai. Bayangkan kalau di Jakarta tidak ada presiden selama 541 hari. Apa yang akan terjadi?" kata Harsono.

Harsono menyebut macam-macam kritik dari Pipit Rochijat, orang Sunda asal Tasikmalaya, warga Indonesia, sudah 30-an tahun tinggal di Berlin, kini bekerja sebagai pegawai negeri di Berlin, dan sering menulis soal pemilihan umum di Indonesia.

"Saya baru mengobrol dengan Pipit di rumahnya di Berlin. Pipit punya pendapat menarik soal negara dan pemerintah," kata Harsono.

Rochijat berpendapat di Indonesia "negara tidak kuat." Buktinya, di Indonesia, sesudah parlemen bikin undang-undang, masih dibikin Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan lainnya. Ini menciptakan peluang pemerintah menafsirkan undang-undang, buatan parlemen, dengan kemauan dan bias mereka sendiri.

Andreas Harsono mengambil contoh begitu banyak produk pemerintah yang bertentangan dengan UUD 1945 di Indonesia. Misalnya, PP No. 77 tahun 2007 yang melarang logo pemerintah daerah mirip dengan bendera Aceh Merdeka, Bintang Kejora (Papua) dan Republik Maluku Selatan. Di Jerman, tak ada Peraturan Pemerintah. Pegawai bekerja sesuai hukum buatan parlemen yang dipilih warga. Ranah legislatif dan ranah eksekutif dibuat jelas terpisah. Pemerintah tak membuat peraturan. Hanya parlemen yang bikin aturan.

"Nah, Benny Wenda dan kawan-kawannya di Oxford, adalah warga negara Inggris. Mereka mendirikan badan hukum bernama Free West Papua. Ia adalah tindakan sah, ia dilindungi oleh hukum," tuturnya.

Dikatakan, Pemerintah Britania, yang tak setuju dengan Papua berpisah dari Indonesia, tak bisa masuk ke ranah hukum. Mereka bisa dituduh melanggar hukum Britania.

"Jangankan Papua merdeka. Di Britania, Skotlandia ingin merdeka dari Britania, juga boleh kampanye terbuka, selama mereka tak pakai kekerasan."

"Apakah lantas membuka kantor Free West Papua di Oxford, Papua lantas merdeka? Tidak juga. Kalau Indonesia protes, tidak ada gunanya karena selama Free West Papua, atau pendukung mereka di Papua, tak melakukan kekerasan, tak membom atau membunuh, hukum Britania juga tidak menganggap mereka pelanggar hukum."

Britania adalah sebuah "kumpulan kerajaan" (united kingdom) dengan empat kerajaan: Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales. Masing-masing kerajaan punya otonomi. Masing-masing punya team sepakbola nasional dan semua ikut kompetisi Piala Dunia.

Harsono memberi contoh lebih dekat lagi. Ini soal 43 warga Papua yang naik perahu dan minta suaka politik ke Australia pada tahun 2006. Mereka kritik Indonesia begitu tiba di Australia. Pemerintah Indonesia protes. Insiden tersebut sempat jadi kacau karena ada gambar kartun yang dianggap menghina Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Sebagai negara, policy luar negeri Australia tidak mengakui Organisasi Papua Merdeka tetapi orang-orang yang pergi cari suaka di sana, adalah persoalan lain. Tidak hanya dari Papua, dari mana saja boleh minta suaka. Bila hukum Australia membenarkan alasan mereka maka mereka diterima, "katanya.

Soal ancaman agar Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Britania, Harsono tak menganggapnya serius. Di Jakarta, masih ada orang yang cukup mengerti perbedaan "negara" dan "pemerintah." (MS)