Thursday, December 27, 2012

Internet, verifikasi, jurnalisme dan demokrasi

Elemen kesepuluh dalam Jurnalisme


Bedah buku di Dewan Pers pada 27 Desember 2012 @Andreas Harsono

"Democracy is based on an informed citizen, an informed collective. The whole notion of public opinion on which democracy is based grew out of the invention of the printing press. That, for the first time, gave ordinary people information about the behavior of people in the institutions that had power of their lives. Once they had that information, they had a chance to have a voice on how those people in those institutions behaved. That's what created public opinion, that's what created democracy. The two were born together, the two will die together."

B
ill Kovach dan Tom Rosenstiel adalah dua wartawan, dua sahabat, yang sudah menulis tiga buku bersama. Pada 1999, mereka menulis Warp Speed: America in the Age of Mixed Media dimana mereka memakai kasus Monica Lewinsky guna menerangkan bagaimana kecepatan pemberitaan menekan waktu untuk verifikasi informasi, “…sources are gaining more leverage and argument is overwhelming reporting.”

Pada Desember 2001, mereka menerbitkan buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. Mereka memperkenalkan sembilan elemen jurnalisme. Ia jadi buku populer, sudah diterjemahkan dalam lebih dari 40 bahasa.

Yayasan Pantau menterjemahkan buku tersebut ke Bahasa Indonesia. Pada Desember 2003, Bill Kovach berkunjung ke Medan, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya dan Bali guna promosi versi Indonesia.  Saya beruntung menemani dan menterjemahkan Kovach, pindah dari diskusi satu ke diskusi lain. Kovach juga sempat mengunjungi Candi Borobudur. Dia membuat sketsa Borobudur serta dihadiahkan kepada saya.

Pada April 2007, mereka menerbitkan revisi buku tersebut. Ia bukan revisi biasa. Mereka menambahkan satu elemen kepada sembilan elemen jurnalisme. Elemen ke-10 soal “Hak dan Tanggungjawab Warga.” Ia dimunculkan karena internet mengubah dunia jurnalisme. Kovach dan Rosenstiel menulis sekarang setiap orang bisa jadi penerbit lewat blog, setiap orang bisa siaran dengan You Tube atau Vimeo, setiap orang bisa jadi komentator dengan Facebook atau  Twitter.

Dulu tak setiap orang sanggup jadi penerbit suratkabar. Mesin cetak luar biasa mahal. Dulu tak setiap orang bisa jadi pemilik serta penyiar radio … apalagi televisi. Modal buat bikin televisi selangit. Jalur frekuensi juga terbatas. Tapi ia berubah dengan teknologi digital.  

Kovach lahir dari keluarga Albania pada 1932 di Tennessee, Amerika Serikat. Pada 1959, Kovach bekerja sebagai wartawan di harian Johnson City Press-Chronicle. Kovach banyak meliput soal gerakan persamaan hak orang kulit hitam serta kemiskinan di daerah pegunungan Appalachian. Pada 1968, Kovach bergabung dengan harian New York Times. Pada 1986, Kovach keluar dan jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution di Atlanta.

Pada 1990, Kovach jadi kurator Nieman Fellowship di Universitas Harvard, sebuah program pendidikan wartawan dimana mereka diberi kesempatan berpikir dan belajar lagi soal pekerjaan mereka. Di Harvard pula Kovach mulai bekerja sama dengan Tom Rosenstiel, mantan kritikus media Los Angeles Times, guna mengerjakan riset macam-macam soal media. Mereka bersama mendirikan Committee of Concerned Journalists. Kovach jadi ketua. Rosenstiel jadi direktur.

Pada Agustus 2011, mereka menerbitkan buku ketiga: Blur: How to Know What's True in the Age of Information Overload. Buku ini adalah pengembangan dari elemen ke-10.  Mereka menulis bahwa teknologi internet mengubah cara penyampaian informasi dan format pemberitaan. Secara revolusioner internet mengubah dunia informasi. Dampaknya, banyak informasi ngawur beredar di internet. Internet praktis menghancurkan peranan ruang redaksi sebagai gate keeper informasi. Wartawan kini tak memiliki peranan buat menentukan apa yang perlu diberitakan, apa yang tak perlu. Namun teknologi internet tak mengubah makna tentang keperluan informasi yang bermutu agar masyarakat bisa mengambil keputusan substansial buat mengatur kehidupan mereka.

Bagir Manan (ketua Dewan Pers), Petty Fatimah dari Femina serta Uni Lubis (moderator) dalam diskusi Dewan Pers ©Andreas Harsono

Dalam buku Blur, Kovach dan Rosenstiel memakai istilah "diet informasi" buat zaman internet. Warga perlu diet. Warga sebaiknya tak membaca informasi busuk. Mereka melihat delapan fungsi yang diminta oleh konsumen berita dari dunia jurnalisme:

Authenticator – Konsumen perlu wartawan buat memeriksa keautentikan suatu informasi, mana fakta benar, mana yang dapat diandalkan. Masyarakat tak melihat wartawan hanya sebagai penyedia informasi. Mereka memerlukan wartawan untuk menerangkan bukti dan dasar untuk memahami mengapa suatu informasi bisa dipercaya. Peran authenticator memerlukan keahlian yang lebih canggih dari suatu ruang redaksi.

Sense Maker – Jurnalisme juga cocok untuk memainkan peran sebagai sense maker, menerangkan sesuatu masuk akal atau tidak. Peran ini jadi penting karena sekarang banyak informasi lewat internet yang tidak masuk akal sehat. Kebingungan dan ketidakpastian lebih sering muncul. Bill Keller dari New York Times memakai istilah “tsunami informasi.” Pasokan informasi mbludak, masyarakat menjadi kesulitan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana propaganda, mana tipu-tipu dst.

Investigator – Wartawan harus terus berfungsi sebagai investigator guna mengawasi kekuasaan serta membongkar kejahatan dalam pelaksanaan pemerintahan. Jurnalisme yang membongkar apa yang tersembunyi, atau dirahasiakan, sangat penting untuk merawat demokrasi. Ia adalah fundamental bagi jurnalisme baru maupun lama.

Witness Bearer –Ada kejadian-kejadian tertentu dalam setiap masyarakat yang harus diamati, dipantau dan diteliti. Wartawan tetap harus berada di tempat-tempat tertentu, termasuk kantor-kantor pemerintahan, dimana mereka menjadi saksi kejadian penting. Jika sumber daya mereka kurang, maka pers harus menemukan cara untuk minta bantuan citizen reporter. Disini ada potensi menciptakan kemitraan dengan warga. Disini juga terletak kewajiban masyarakat untuk memberdayakan jurnalisme.

Empowerer – Ini fungsi saling pemberdayaan: wartawan dan warga. Wartawan memberdayakan warga dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam newsgathering. Warga memberdayakan wartawan dengan pengalaman dan keahlian mereka. Fungsi ini harus dimulai dengan mengakui bahwa masyarakat adalah mitra dalam jurnalisme. Ia akan menghasilkan dialog terus-menerus antara wartawan dan warga.

Smart Aggregator – Masyarakat memerlukan aggregator cerdas yang rajin menelusuri web serta menawarkan informasi bermutu kepada masyarakat. Wacana organisasi berita sebagai "taman tertutup,” yang hanya menawarkan karya mereka sendiri, sudah berakhir. Wartawan cerdas harus berbagi sumber yang bisa diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, serta mengarahkan khalayak mereka ke sumber-sumber terpercaya.

Forum Organizer – Sebuah organisasi berita, baru atau lama, juga dapat berfungsi sebagai “alun-alun” dimana warga bisa memantau suara dari semua pihak, bukan hanya suara kelompok atau ideologi mereka sendiri. Jika wartawan membayangkan bahwa tujuan mereka adalah memberi inspirasi kepada masyarakat, maka forum organizer adalah fungsi yang masuk akal dan tepat buat mendorong masyarakat mengambil keputusan yang bermutu buat perbaikan pemerintahan mereka. Masyarakat memerlukan informasi bermutu, liputan dari lapangan --bukan fakta semu—serta alun-alun dimana mereka bisa mendapatkannya.

Role Model – Media baru, terutama warisan nama-nama media lama yang terkenal, jika bisa  bertahan hidup, pasti akan berfungsi sebagai panutan (role model) bagi warga yang ingin jadi citizen reporter. Warga akan menengok ke wartawan untuk melihat bagaimana wartawan bekerja, meniru apa yang mereka lihat dan  mengubah apa yang mereka tidak suka. Kini banyak organisasi berita membuat kelas-kelas jurnalisme untuk warga dan mendidik warga dalam newsgathering. Kovach dan Rosenstiel memuji pendekatan ini namun wartawan harus mengerti bahwa perilaku mereka sekarang masuk ranah publik, bukan hanya laporan-laporan mereka. Mereka juga perlu jadi role model.

***

Materi dalam diskusi Dewan Pers saat bedah buku Blur: How to Know What's True in the Age of Information Overload. Andreas Harsono adalah murid Bill Kovach ketika belajar di Universitas Harvard 1999-2000, juga anggota Yayasan Pantau, yang membantu penterjemahan The Elements of Journalism serta Blur.  

Monday, December 24, 2012

Toko Matrix di Ratu Plaza


MULANYA biasa saja. Saya sering belanja di toko-toko kecil di Ratu Plaza, beli peralatan tambahan dari baterai sampai cover telepon. Ini kegemaran kecil saya bila punya uang: electronic gadget. Baru belakangan saya sadar bahwa salah satu toko kecil di Ratu Plaza, toko telepon Matrix, ternyata memiliki harga bersaing dan pelayanan bermutu.

Misalnya, bulan lalu isteri saya membeli sebuah cell phone Samsung Note II di satu toko besar di Senayan City. Harganya, Rp 7,499,000. Salesgirl mereka bilang ia sudah discount. Kemarin iseng-iseng saya cek di toko Matrix, ternyata mereka jual Samsung Note II dengan harga Rp 7,350,000. Selisih Rp 149,000.

Toko telepon cell di Ratu Plaza, Jalan Sudirman, Jakarta. Toko kecil namun harga bersaing serta pelayanan baik. Mereka punya stock lumayan banyak karena anggota dari satu jaringan toko telepon kecil-kecil. ©Andreas Harsono 



Kami juga beli Blackberry Curve Amstrong 9320 3G. Mulanya, isteri saya hendak beli di dealer resmi Blackberry di Plaza Fx, Senayan. Harga resmi mereka Rp 2,299,000 termasuk memory 2 Giga Byte. Namun mereka tak bersedia memindahkan data dari Blackberry lama ke Blackberry baru.

Isteri saya ragu-ragu. Alasannya beli Blackberry, semata-mata karena dia sudah punya banyak contact lewat Blackberry Messenger maupun nomor telepon. Seorang salesman mengatakan Blackberry lama, milik isteri saya, sudah susah dihidupkan. Saya duga mereka terlalu sibuk buat melayani keperluan teknis tersebut.

Saya pribadi tak menganjurkan orang pakai Blackberry. Ia sudah ketinggalan zaman. Harian New York Times pernah menerbitkan laporan, "The BlackBerry as Black Sheep." Blackberry kalah oleh I-Phone maupun berbagai macam telepon dengan teknologi Android buat Google, termasuk Samsung Galaxy. Saya pikir salesman ini tak tahu ancaman buat Blackberry.

"Sudah ketinggalan zaman masih jual mahal," pikir saya.

Tapi ini soal continuity. Isteri sudah terlanjur pakai Blackberry. Saya pun mengajak isteri beli ke toko Matrix. Toko kecil ini punya salesgirl yang ramah. Mereka sabar melayani keperluan transfer data: nomor telepon, gambar dst. Ternyata harga Blackberry di Matrix, dengan spesifikasi sama, hanya Rp 2,125,000 atau selisih Rp 174,000. Isteri saya tentu senang bisa dapat harga lebih murah dan semua contact dipindahkan. Kami menunggu satu jam buat transfer data. Memang lama tapi ini menyangkut ratusan nomor telepon dan ribuan gambar. Lumrah.

Saya rekomendasi toko Matrix. Selain harga bersaing, saya sudah tiga kali mendapatkan kenyataan bahwa pelayanan mereka dilakukan dengan sabar dan menyenangkan. Saya kira ia layak untuk jadi langganan semua kenalan saya.

Saturday, December 22, 2012

Alumni Narasi di Pulau Sumatera

Oleh Lovina Soenmi

Pertemuan alumni pelatihan narasi di Pulau Sumatera bertemu di kampus Universitas Negeri Medan, September 2012 ©Abdul Hamid Nasution

Usai pertemuan dengan Pak Muji di Medan, kami rapat tentang alumni Narasi Sumatera. Rapat dilakukan di Hotel Tiara, kamar 419 pada hari Selasa, 18 Desember 2012 pukul 21.00.

Ia dihadiri Novita Simamora dan Bambang Paldawan dari Medan; Lovina, Puput Jumantirawan, Abdul Hamid Nasution, dan Yofika Pratiwi dari Riau; Meidella Syahni dan Heri Faisal dari Padang. Hasilnya:

1. Fokus kerja Narasi Sumatera yakni mendata alumni Narasi Sumatera, menjadi basis data terkait media di Sumatera, mengadakan riset dan pemantauan media, mengadakan aksi dan pelatihan untuk meningkatkan sumber daya manusia;

2. Yang dimaksud alumni narasi Sumatera adalah mereka yang pernah mengikuti pelatihan menulis narasi atau jurnalisme sastrawi yang diadakan oleh Pantau atau individu lain yang memiliki paham yang sama. Alumni Narasi akan didata oleh Koordinator Pokja di tiap propinsi dibantu oleh koordinator Narasi Sumatera;

3. Aksi yang dilakukan mengadopsi aksi Kamisan Kontras. Aksi dilakukan serentak se-Sumatera. Isu yang diangkat bergantian untuk tiap daerah dan akan disepakati terlebih dahulu. Aksi dilakukan setiap bulan, pada hari Kamis minggu pertama;

4. Masa kerja koordinator narasi Sumatera selama 2 tahun;

5. Kewenangan koordinator: menjadi fasilitator rapat dan mengkoordinasi setiap kegiatan. Dalam mengambil keputusan, koordinator narasi Sumatera harus berdiskusi dengan koordinator Pokja di tiap propinsi;

6. Aturan main: koordinator narasi Sumatera, koordinator pokja tiap propinsi dan pengurus narasi Sumatera tidak boleh berafiliasi dengan partai politik. Dilarang menerima amplop beserta isinya. Sponsorship kegiatan Narasi Sumatera boleh dari perusahaan apa saja asal tidak berniat 'macam-macam' di balik bantuannya (niat perusahaan semata-mata hanya membantu kegiatan Narasi Sumatera). Sponsorship tidak boleh dari perusahaan rokok;

7. Sumber dana narasi Sumatera dari iuran setiap alumni Narasi Sumatera. Dana akan digunakan untuk kepentingan bersama, misal kegiatan aksi tiap bulan, rapat, pertemuan, atau menambah dana pelatihan;

8. Pengelola webblog Narasi Sumatera sementara dipegang oleh koordinator Narasi Sumatera. Koordinator Narasi Sumatera bisa menunjuk alumni narasi untuk membantu editing tulisan yang masuk;

9. Andreas Harsono dan Chik Rini ditunjuk sebagai dewan pertimbangan alumni Narasi Sumatera. Fungsinya memberikan pertimbangan, saran, masukan dan kritikan untuk kemajuan Narasi Sumatera;

10. Alumni Narasi Sumatera berbentuk komunitas.

Monday, December 10, 2012

Kennedy Center dengan Led Zeppelin


Video malam penghargaan buat Led Zeppelin di Kennedy Center, Washington DC.

PADA 3 Desember 2012, John F. Kennedy Center for the Performing Arts memberikan penghargaan kepada band Led Zeppelin. Tiga anggota Led Zeppelin, yang masih hidup --penyanyi Robert Plant, pemain bass dan keyboard John Paul Jones dan gitaris Jimmy Page-- duduk di balkon bersama Presiden Barack Obama dan Michelle Obama.

Mereka duduk dengan penerima penghargaan lainnya, gitaris blues Buddy Guy, ballerina Natalia Makarova, komedian David Letterman serta aktor Dustin Hoffman. Semua memakai medali berwarna merah dan ungu yang diberikan oleh Kennedy Center. Presiden Obama menyerahkan penghargaan pagi harinya. Malamnya dibikin konser buat menghormati Led Zeppelin.

Saya kira pertunjukan ini bagus sekali. Berbagai artis bicara dan menyanyi soal Led Zeppelin.
  • Jack Black bikin introduksi soal Led Zeppelin (dalam video pada menit 00:00-7:00).
  • Foo Fighters membawakan lagu "Rock and Roll" 7:05-9:21
  • Kid Rock membawakan lagu "Babe I'm Gonna Leave You" (9:24-11:38)
  • Lenny membawakan "Whole Lotta Love" (11:43-13:47)
  • Heart bersama drummer Jason Bonham membawakan "Stairway to Heaven" (13:49-20:37)

Sunday, December 02, 2012

Hati Yang Luka


BAGAIMANA rasanya menikah, hidup serumah dengan seorang lelaki, yang kelihatannya biasa-biasa saja, dan belakangan dituduh sebagai gembong teroris?

Mira Agustina mungkin punya jawabannya. Mira seorang perempuan muda, berusia 24 tahun. Ia santer disebut-sebut istri Omar al Faruq, orang Arab kemungkinan warga negara Kuwait. Menurut dinas rahasia Amerika Serikat, Central Intelligence Agency, al Faruq September lalu mengaku wakil al Qaeda di Asia Tenggara.

Al Faruq ditangkap 5 Juni lalu di terminal bus Bogor oleh petugas intelijen Indonesia. Enam mobil Toyota Kijang juga menggerebek rumahnya, di sebuah desa cantik di kaki Gunung Salak, dekat Bogor. Nama dan nomor teleponnya didapat dari buku catatan milik Abu Zubaydah, orang nomor ketiga al Qaeda, yang ditangkap pasukan Amerika di Afghanistan.

Al Faruq dilaporkan mengakui terlibat serangkaian pengeboman malam Natal 2000 yang menewaskan 16 orang, merencanakan pembunuhan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, serta bekerja sama dengan Jemaah Islamiyah –sebuah organisasi yang tak jelas bentuknya dan dikategorikan organ terorisme oleh Perserikatan Bangsa-bangsa.

Tapi ceritanya tak sesederhana itu. Mira Agustina, anak pertama, lahir di Jakarta tapi besar di Cisalada, di kaki Gunung Salak itu. Ia tamat sekolah dasar di sana tapi putus sekolah ketika kelas satu SMP.

“Kurang biaya,” katanya.

Ia mencuci piring juga membuat kue untuk membantu keuangan keluarga.

Pada 1996 keadaan keuangan keluarganya membaik. Mira sekolah di sebuah pondok pesantren di Jepara. Tiga tahun yang menyenangkan karena ia punya banyak kenalan dari berbagai sudut Indonesia. Mira juga mulai memakai jilbab dengan rapi.

“Pulang ke Bogor paling dua kali setahun, saat libur panjang atau Lebaran,” katanya dalam suatu wawancara November lalu.

Saat liburan Juli 1999 ayahnya memperkenalkan Mira dengan Omar al Faruq. “Beberapa hari sebelum itu, bapak saya sudah memberitahu kalau ada yang akan menikah dengan saya. Saya shalat istiqarah minta petunjuk Allah. Apabila ini baik menurut Allah, berarti baik untuk saya. Saya sendiri merasakan kondisi yang tenang, bisa menerima, jadi saya terima.”

Pukul 9:00 mereka bertemu dan usai mahgrib menikah.

Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai “Mahmud bin Ahmad Assegaf” orang Arab kelahiran Ambon, orang tua sudah meninggal, tapi diadopsi keluarga Kuwait.

“Saya tegaskan berkali-kali pada wartawan, kalau nama suami saya Mahmud bin Ahmad Assegaf. Kalau Omar al Faruq, saya tidak kenal. Di kepolisian sendiri begitu. Jadi yang Omar al Faruq tetap saya coret, karena bukan suami saya,” kata Mira.

Mereka menikah dan mencari nafkah dengan berdagang macam-macam, dari kayu gaharu hingga pakaian. Mahmud berbahasa Indonesia dengan “logat Ambon.” Mahmud rajin sholat di masjid sebelah rumah, suka makan bakwan dan bakso, sering menelepon Kuwait lewat wartel, dengan bahasa Arab, dan ikut pondok mertua indah –rumah Cisalada itu yang milik orang tua Mira.

Perkawinan itu berbuah dengan dua gadis kecil. Tetangga-tetangga di Cisalada biasa memanggilnya “Pak Abu.” Orangnya ramah. Kalau berpapasan lebih dulu mengucapkan, “Assalamualaikum.”

Rachmat Wirawan, seorang pemuda setempat, ingat al Faruq pernah bicara pada sekelompok pemuda kampung, “Pemuda di sini kalau nongkrong pegang gitar, kalau di Afghanistan pegang senjata.”

Apakah Mahmud pernah pergi ke Afghanistan? Mira mengatakan tidak tahu.

Pada Februari 2000 mereka pergi ke Makassar selama sebulan. Tujuannya, menurut Mira, silaturahmi ke keluarga Mira. Haris Fadillah, almarhum ayah Mira, orang Bugis kelahiran Dabo Singkep, Riau, tapi punya sanak saudara di Makassar. Dari Makassar, pasangan ini melanjutkan perjalanan mereka ke Ambon.

Di sana Mira sempat diperkenalkan dengan “saudara-saudara” Mahmud walau Mira tak melihat mereka langsung. Dalam penafsiran ajaran Islam yang dianutnya, perempuan tak diharapkan berjabat tangan atau menemui tamu suaminya. Mira hanya mengantar minuman dekat tirai ruang depan. Mahmud mengambilkannya untuk para tamu.

Sampai sini persoalan mulai rumit. Apakah Mahmud benar-benar kelahiran Ambon? Samad Pellu, seorang tokoh masyarakat Hitu, Ambon, mengatakan pada Antara, bahwa warga setempat tak mengenal Mahmud. “Kami warga Hitu, baik Hitulama maupun Hitumeseng keberatan atas pengakuan tersebut karena jelas kelahiran dan KTP Omar al Faruq tidak berasal dari sana.”

Badan Intelijen Nasional mengemukakan Omar al Faruq juga terlibat dalam pertikaian antaragama di Poso, Sulawesi Tengah. Muchyar Yara dari BIN mengatakan sosok al Faruq terlihat dalam rekaman video yang kemungkinan dipakai untuk penggalangan dana.

Dinas intelijen Amerika menyekap al Faruq, komunikasi minimal dan dipersulit tidur, sampai al Faruq mengatakan bahwa ia orang Kuwait yang dikirim al Qaeda ke Asia Tenggara. Al Faruq diperintahkan mengebom kedutaan Amerika Serikat di Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Manila, Phnom Penh, Bangkok, Taipei, dan Hanoi, sekitar 11 September lalu. Pengakuan itu, walau belum jernih kebenarannya, membuat Washington memerintahkan kedutaan-kedutaannya ditutup.

Majalah Time mengeluarkan laporan seminggu sesudahnya. Drama kehidupan Mira mulai masuk dalam babak yang tak terduga. Polisi Indonesia Oktober lalu membenarkan laporan Time dan mengatakan sudah melakukan verifikasi dengan al Faruq –walau tempat dan prosedur pertemuan masih belum jelas benar. Mira pun mondar-mandir menghadapi pemeriksaan polisi, dikejar-kejar wartawan, berhubungan dengan pengacara, sampai tiga hari pertamanya tidak bisa makan serta sulit tidur.

“Saya bingung kadang-kadang soal berita. Di sini tetangga sudah pada ribut. Suami saya katanya punya istri tiga atau empat. Saya nggak bisa ngomong. Tetangga sebelah lihat di TV, katanya ada berita. Ada di SCTV, ada di RCTI, saya ketawa saja. Sudah lama nggak baca koran, nggak pernah nonton TV, sudah malas saya karena beritanya simpang siur.”

Ada juga fakta-fakta yang membingungkannya. Akte kenal lahir Mahmud ternyata buatan tahun lalu. Mira pernah tanya mengapa suaminya tak punya akte kelahiran atau ijasah sekolah? Mahmud mengatakan semuanya terbakar di Ambon. Mira juga menemukan paspor baru awal tahun ini dalam tas Mahmud walau Mahmud tak pernah cerita pernah mengajukan paspor di imigrasi Makassar (ditolak) maupun Jakarta Timur (diterima).

“Dia tidak pernah menceritakan masanya (lalu) sebelum menikah dengan saya. Jadi kalau sekarang ini saya dapat berita dari koran, saya kadang-kadang merasa, ‘Kok saya dibohongi?’ Itu saya rasakan juga. ‘Kok saya dibohongi?’ Tapi kadang-kadang saya balik tanya lagi, ‘Apakah itu betul semua?’ Itu saya juga tidak ngerti. Saya juga tidak tahu …. Kalau kayak begini ceritanya berarti tiga tahun hidup dengan saya dia berbohong. Tiga tahun dia bohongi saya. Dia nggak suka sama saya nggak apa-apa, tapi anak-anak ini khan anak-anak dia?”

Dua gadis mungil itu, satu umur satu tahun dan kakaknya tiga tahun, hanya hilir mudik di ruang tamu, bicara dengan celat, kaki-kakinya montok, bikin ribut seluruh rumah. Si kakak menyanyi “Bintang Kecil” lalu ngeloyor pergi dengan neneknya membeli es lilin.

-- Andreas Harsono