Wednesday, October 24, 2012

Oktovianus Pogau


Oktovianus Pogau, mahasiswa dan wartawan muda, hadir dalam satu acara ulang tahun di Jakarta pada Agustus 2011. Pogau orang Moni, sekolah di Nabire dan Jakarta.

Oktovianus Pogau seorang mahasiswa hubungan internasional di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Dia pernah ikut kursus menulis di Yayasan Pantau dgn instruktur Janet Steele, dosen George Washington University serta sejarawan yang menulis buku soal majalah Tempo.

Okto mula-mula menulis di blog lantas belakangan menulis di beberapa media Jakarta, termasuk harian Jakarta Globe dan sindikasi dari Yayasan Pantau. Okto juga membantu beberapa pekerjaan riset untuk wartawan internasional. Dia secara berani mengambil foto-foto serangan polisi terhadap Kongress Rakyat Papua bulan Oktober 2011.

Tahun lalu dia dan kawan-kawannya, rata-rata mahasiswa Papua, mendirikan media Suara Papua. Mereka ingin orang asli Papua punya media guna menyuarakan aspirasi bangsa Papua. Isinya, banyak soal pelanggaran HAM, korupsi maupun demonstrasi Komite Nasional Papua Barat. KNPB adalah organisasi radikal dgn pusat Jayapura. Banyak orang berani ada di sana. Saya cukup sering tweet berita-berita dari Suara Papua.

Tahun lalu, Okto tanya apakah saya bersedia memberikan rekomendasi agar dia masuk Aliansi Jurnalis Independen. Dia merasa cocok dgn nilai-nilai yang ada pada AJI. Prosedur melamar keanggotaan AJI memang memerlukan rekomendasi dari beberapa anggota AJI. Saya seorang anggota AJI Jakarta. Saya juga tahu dia sering komunikasi dgn Victor Mambor, ketua AJI Jayapura, redaktur kepala Tabloid Jubi.

Saya jawab saya bersedia.

Cuma saya tanya, "Kau mau daftar di Jakarta atau Jayapura?"

Dia bilang sebaiknya Jayapura. Tapi dia bingung juga karena sebenarnya tinggal di Jakarta dan punya calon isteri, seorang reporter televisi, di Manokwari.

Upaya tersebut tampaknya tertunda karena dia sibuk urusan mau menikah. Dia pun sering bolak-balik Manokwari dan Jakarta. Namanya juga anak muda, uangnya belum cukup. Dia harus minta bantuan keluarga Pogau di Nabire.

Terakhir saya bertemu Okto Agustus lalu, ketika sedang liputan di Jayapura. Dia sedang semangat menjadikan Suara Papua sebagai badan hukum.

Saya jarang lihat anak muda Papua dgn cita-cita, dan bakat menulis, macam Okto. Saya sedih dan marah ketika dia telepon kemarin. Dia bilang dia dipukuli lima polisi di Manokwari ketika sedang memotret. Seseorang berpakaian sipil memukul muka Okto hingga bibirnya pecah dan berdarah. Di layar Metro TV, saya lihat orang-orang berpakaian sipil membawa pistol, mengejar orang-orang Papua. Polisi menghancurkan komputer serta sepeda motor. Mereka tak terlihat macam polisi tapi macam orang liar mengamuk.

Yayasan Pantau dan South East Asia Press Alliance (Bangkok), yang kenal baik dgn Okto, ambil inisiatif bikin siaran pers. Mereka mengatakan pada 2011, dua wartawan tewas di Papua, delapan diculik dan 18 diserang. Wartawan asing perlu mengajukan permohonan izin khusus untuk masuk dan meliput berita di Papua sejak Indonesia mengambil alih pemerintahan Papua dari kerajaan Belanda pada 1963. Sudah terlalu lama Papua dijadikan daerah tertutup.

Saya kira baik bila AJI maupun organisasi wartawan lain, juga keluarkan statemen minta kejadian-kejadian kekerasan terhadap wartawan di Papua berhenti pada Okto. Caranya, oknum polisi yang bersalah harus dihukum agar petugas-petugas lain tahu bahwa mereka tidak kebal hukum. Sudah terlalu banyak kekerasan terhadap wartawan di Papua. AJI bisa berperan dgn menugaskan AJI Jayapura untuk pasang garda satu mendampingi Okto.

Kapolres Manokwari Agustinus Supriyanto memang sudah minta maaf kepada Okto. Tapi ia tidak cukup. Ini urusan kriminal. Kejadian ini harus diselesaikan sesuai hukum. Kelima orang tersebut harus dicari, dituntut dan diadili.

Saya juga harap cita-cita Okto jadi wartawan yang bermutu makin dikuatkan dgn kejadian kemarin. Ia mungkin juga bisa jadi pelajaran bahwa jalan yang hendak ditempuhnya --meminjam istilah Miyamoto Musashi-- adalah "jalan pedang." Jalan yang sempit, sulit dan berliku. Ini jalan jurnalisme.