Tuesday, May 27, 2008

Mari pertahankan Indonesia kita!


Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain.

Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menhancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi itu.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta, 10 Mei 2008

ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN

A. RAHMAN TOLLENG . A. Sarjono . A. Suti Rahayu . A. SYAFII MAARIF . AA GN Ari Dwipayana . Aan Anshori . Abdul Moqsith Ghazali . Abdul Munir Mulkhan . Abdul Qodir Agi . l Abdur Rozaki . Acep Zamzam Nur . Achmad Chodjim . Achmad Munjid . Ade Armando . Ade Rostina Sitompul . Adi Wicaksono . Adnan Buyung Nasution . Agnes Karyati . Agus Hamonangan . Agustinus Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Baso . Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Nurcholish . Ahmad Sahal . Ahmad Suaedi . Ahmad Taufik . Ahmad Tohari . Akmal Nasery Basral . Alamsyah M. Dja'far . Albait Simbolon . Albertus Patty . Amanda Suharnoko . Amien Rais . Ana Lucia . Ana Situngkir . Anak Agung Aryawan . Anand Krishna . Andar Nubowo . Andreas Harsono . Andreas Selpa . Anick H Tohari . Antonius Nanang E.P . Ari A. Perdana . Arianto Patunru . Arief Budiman . Arif Zulkifli . Asep Mr . Asfinawati . Asman Aziz . Asmara Nababan . Atika Makarim . Atnike Nova Sigiro . Ayu Utami . Azyumardi Azra .

Bachtiar Effendy . Benny Susetyo, SJ . Bivitri Susanti . Bonnie Tryana . BR. Indra Udayana . Budi Purwanto . Christianto Wibisono . Christina Sudadi . Cosmas Heronimus . Daddy H. Gunawan . Daniel Dakhidae . Daniel Hutagalung . Djaposman S . Djohan Effendi . Doni Gahral Adian . Donny Danardono . Donny Gahral Ardian . Eep Saefulloh Fatah . Eko Abadi Prananto . Elga J Sarapung . Elizabeth Repelita . Elza Taher . Endo Suanda . Erik Prasetya . Eva Sundari .

F. Wartoyo . Fadjroel Rahman . Fajrime A. Goffar . Farid Ari Fandi . Fenta Peturun . Fikri Jufri . Franky Tampubolon . Gabriella Dian Widya . Gadis Arivia . Garin Nugroho . Geovanni C. . Ging Ginanjar . Goenawan Mohamad . Gomar Gultom . Gus TF Sakai . Gustaf Dupe . Gusti Ratu Hemas . Hamid Basyaib . Hamim Enha . Hamim Ilyas . Hamka Haq . Hasif Amini . Hendardi . Hendrik Bolitobi . Herman S. Endro . Heru Hendratmoko . HS Dillon .

I Gede Natih . Ichlasul Amal . Ifdal Kasim . Ihsan Ali-Fauzi . Ika Ardina . Ikravany Hilman . Ilma Sovri Yanti . Imam Muhtarom . Imdadun Rahmad . Indra J. Piliang . Isfahani . J. Eddy Juwono . Jacky Manuputty . Jajang C. Noer . Jajang Pamuntjak . Jajat Burhanudin . Jaman Manik . Jeffri Geovanie . Jerry Sumampow . JN. Hariyanto, SJ . Johnson Panjaitan . Jorga Ibrahim . Josef Christofel Nalenan . Joseph Santoso . Judo Purwowidagdo Julia Suryakusuma . Jumarsih . Kartini . Kartono Mohamad . Kautsar Azhari Noer . Kemala Chandra Kirana .

KH. Abdud Tawwab . KH. Abdul A'la . KH. Abdul Muhaimin . KH. Abdurrahman Wahid . KH. Husein Muhammad . KH. Imam Ghazali Said . KH. M. Imanul Haq Faqih . KH. Mustofa Bisri . KH. Nuril Arifin . KH. Nurudin Amin . KH. Rafe'I Ali . KH. Syarif Usman Yahya . Kristanto Hartadi .

L. Ani Widianingtias . Laksmi Pamuntjak . Lasmaida S.P . Leo Hermanto . Lies Marcoes-Natsir . Lily Zakiyah Munir . Lin Che Wei . Luthfi Assyaukanie . M. Chatib Basri . M. Dawam Rahardjo . M. Guntur Romli . M. Subhan Zamzami . M. Subhi Azhari . M. Syafi'I Anwar . Marco Kusumawijaya . Maria Astridina . Maria Ulfah Anshor . Mariana Amirudin . Marsilam Simanjuntak . Martin L. Sinaga . Martinus Tua Situngkir . Marzuki Rais . Masykurudin Hafidz . MF. Nurhuda Y . Mira Lesmana . Mochtar Pabottingi . Moeslim Abdurrahman . Moh. Monib . Mohammad Imam Aziz . Mohtar Mas'oed . Monica Tanuhandaru . Muhammad Kodim . Muhammad Mawhiburrahman . Mulyadi Wahyono . Musdah Mulia .

Nathanael Gratias . Neng Dara Affiah . Nia Sjarifuddin . Nirwan Dewanto . Noldy Manueke . Nong Darol Mahmada . Nono Anwar Makarim . Noorhalis Majid . Novriantoni . Nugroho Dewanto . Nukila Amal . Nur Iman Subono . Pangeran Djatikusumah . Panji Wibowo . Patra M. Zein . Pius M. Sumaktoyo . Putu Wijaya . Qasim Mathar . R. Muhammad Mihradi . R. Purba . Rachland Nashidik . Radityo Djadjoeri . Rafendi Djamin . Raja Juli Antoni . Rasdin Marbun . Ratna Sarumpaet . Rayya Makarim . Richard Oh . Rieke Dyah Pitaloka . Rizal Mallarangeng . Robby Kurniawan . Robertus Robet . Rocky Gerung . Rosensi . Roslin Marbun . Rumadi .

Saiful Mujani . Saleh Hasan Syueb . Sandra Hamid . Santi Nuri Dharmawan . Santoso . Saor Siagian . Sapardi Djoko Damono . Sapariah Saturi Harsono . Saparinah Sadli . Saras Dewi . Save Dagun . Shinta Nuriyah Wahid . Sitok Srengenge . Slamet Gundono . Sondang . Sri Malela Mahegarsari . St. Sunardi . Stanley Adi Prasetyo . Stanley R. Rambitan . Sudarto . Suryadi Radjab . Susanto Pudjomartono . Syafiq Hasyim . Syamsurizal Panggabean. Sylvana Ranti-Apituley . Sylvia Tiwon .

Tan Lioe Le . Taufik Abdullah . Taufik Adnan Amal . TGH Imran Anwar . TGH Subki Sasaki . Tjiu Hwa Jioe . Tjutje Mansuela H. . Todung Mulya Lubis . Tommy Singh . Toriq Hadad . Tri Agus S. Siswowiharjo . Trisno S. Sutanto . Uli Parulian Sihombing . Ulil Abshar-Abdalla . Usman Hamid . Utomo Dananjaya . Victor Siagian . Vincentius Tony V.V.Z .

Wahyu Andre Maryono . Wahyu Effendi . Wahyu Kurnia I . Wardah Hafiz . Wiwin Siti Aminah Rohmawati . WS Rendra . Wuri Handayani . Yanti Muchtar . Yayah Nurmaliah . Yenni Rosa Damayanti . Yenny Zannuba Wahid . Yohanes Sulaiman . Yosef Adventus Febri P. . Yosef Krismantoyo . Yudi Latif . Yuyun Rindiastuti . Zacky Khairul Umam . Zaim Rofiqi . Zainun Kamal . Zakky Mubarok . Zuhairi Misrawi . Zulkifli Lubis . Zuly Qodir

Hadiri Apel Akbar
1 Juni 2008
Pukul 13.00-16.00 WIB
di Lapangan MONAS - JAKARTA

Saturday, May 17, 2008

Norman, Berenang dan Proyek Rakitan


Sejak 18 Maret lalu Norman tinggal sepenuhnya dengan aku di apartemen Senayan dan enggan mengunjungi ibu kandungnya, Retno Wardani, di kediaman Bintaro. Aku menemani Norman ke sekolah setiap pagi dan menjemputnya setiap siang.

Biasanya, dalam perjalanan pulang, Norman cerita apa saja yang terjadi di sekolah hari itu. Entah gosip bahwa seorang temannya, seorang anak warga Pakistan, ditaksir oleh cewek dari kelas lain. Aduh, ceritanya gegap gempira! Ini "skandal" pertama untuk anak-anak kelas enam.

Atau reaksi kelas 6C ketika Norman membawa mock up lapangan sepak bola dengan seorang pemain melakukan tendangan pisang ke arah gawang. Norman merancang dan memasang alat-alat elektronik untuk menggerakkan tendangan tersebut. Teman laki maupun perempuan mencoba mainannya.

Kalau lagi punya uang, biasanya kami mampir di Dunkin Donut. Norman suka sandwich roast beef dan es lemon tea. Dia tahu aku suka teh hijau Nu. Kalau uang sakunya (Rp 20,000) berlebih, Norman membelikan Nu untuk aku. Dia juga belajar menabung di celengan. Kami juga suka minuman mineral Mizone. Sri Maryani, pengasuh Norman sejak kelas satu, biasanya suka pesan glazzy donut atau donat putih gula.

Di apartemen, sesudah istirahat sejenak (terkadang juga bisa tidur lelap hingga dua jam), sore hari Norman berenang. Dia suka mengajak anak-anak tetangga: Genta, Tanje, Claudio, Lifi dan sebagainya. Kakak-beradik Genta dan Tanje adalah tetangga langsung kami. Orang tuanya juga kenalan lama. Tanje suka main sepak bola. Norman sangat suka berenang. Dua bulan lalu dia minta dibelikan kacamata air anti-kabut anti-silau merk Arena.

Sesudah berenang, semua kembali ke unit masing-masing. Biasanya anak-anak ini diminta mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah. Norman mengeluarkan pengumuman sekolah atau buku-bukunya. Dia juga sering memakai komputer aku untuk riset internet. Terkadang dia berlatih program Microsoft Excel untuk matematika. Paling sering, tentu saja, memakai Microsoft Word untuk mengetik esai sekolah. Kebudayaan Yunani. Kebudayaan Romawi dan sebagainya.

Bila PR tidak ada, Norman menyibukkan diri dengan mengerjakan proyek-proyek pertukangan. Dia kini suka membikin barang-barang kecil bergerak --mobil-mobilan, kapal selam, ikan hiu, kacamata dilengkapi lampu baca, tendangan pisang dan sebagainya. Aku memberinya sebuah tool box Krisbow warna oranye-hitam. Kami juga bersama-sama membeli kabel, motor, board, tang, gunting kabel, rupa-rupa selotip dan sebagainya.

Kami sering kagum melihat disainnya. Norman biasa menggambar disain lebih dulu. Cukup detail. Dia suka bermain dengan gear buat menggerakkan macam-macam tuas dan roda. Lantas disain diubahnya jadi barang. Tentu saja, Genta dan Tanje ikut menikmati proyek-proyek science ini. Pernah aku lihat mereka main kapal selam di kolam renang. Anak-anak ini menyelam guna mengikuti gerakan sebuah kapal rakitan dari ujung kolam ke ujung satunya.

Malam hari, Norman harus tidur pukul 21:00 namun ini sering diabaikannya. Aku harus berkali-kali minta dia tidur awal. Dia hanya tertawa. Ada acara "Mythbuster" di Discovery Channel yang disukainya. Tentu juga acara-acara di Cartoon Network, Disney Channel serta Nickelodeon. Aku terkadang meninggikan suara dan menyuruh dia tidur. Namun ada saja yang dia lakukan di kamar tidur. Bermain dan bergurau.

Keesokan pagi, Norman biasa bangun pukul 6:15 untuk bersiap ke sekolah. Kalau lagi tidur malam, biasanya dia masih mengantuk. Sesekali dia tidur sangat awal dan bangun pukul 5:00. Kami memanaskan mobil sekitar lima menit dan berangkat sekolah. Ini jauh lebih manusiawi daripada berangkat pukul 5:30 dari Bintaro ke sekolah.

Norman berkali-kali bilang dia memerlukan komputernya yang masih tertinggal di Bintaro. Menurut Norman, Retno dulu janji mengantar komputer ini ke Senayan. Norman suka main game dengan komputer. Laptop iBook G4 milik aku terlalu kecil. Mac tak punya game sebanyak PC.

Sri Maryani usul untuk mengambilnya di Bintaro. Norman senantiasa menolak. Aku duga dia masih kurang nyaman dengan Bintaro. Norman masih tegang bila Retno menemuinya di sekolah. Norman selalu menelepon aku dan minta dijemput "now, now, now." Norman juga minta Yani menemaninya di sekolah, kuatir dijemput oleh Retno. Yani bilang bukan hanya komputer namun juga buku-buku dan pakaian. Norman hanya punya dua setel pakaian di Senayan. Yani repot mencucinya setiap hari.

Kesulitan-kesulitan ini tak seberapa dibanding kenyamanan serta kepraktisan yang kini dimiliki Norman. Kalau sangat ingin main game, dia sesekali minta ikut aku ke kantor Yayasan Pantau untuk pinjam komputer. Ada juga komputer sekolah. Di kantor pula, Norman bisa pinjam charger telepon Samsung buat menambah listrik di teleponnya.

Saturday, May 10, 2008

Mundur dari Yayasan Pantau


Saya memutuskan untuk mundur dari manajemen Yayasan Pantau setelah hampir delapan tahun memimpin, mulanya majalah Pantau, dan sejak 2004, mengubahnya jadi sebuah NGO media. Saya kira delapan tahun cukup lama buat jabatan ini. Pantau memerlukan orang baru dengan ide-ide segar. Saya juga ingin moving on dengan karir saya.

Kini kami lagi mencari seorang direktur eksekutif buat menggantikan saya. Board Yayasan Pantau akan mengadakan rapat pada 24 Juni guna menentukan kriteria dan mekanisme seleksi direktur baru.

Saya kira Pantau tak bisa memakai Budi “Buset” Setiyono atau saya, dua dari beberapa pendiri Yayasan Pantau, untuk terus-menerus menjadi bagian dari manajemen. Ia secara hukum juga harus dipisahkan. Kami ingin organisasi ini berkembang menjadi makin profesional.

Saya ingin lebih banyak memberikan waktu untuk keluarga saya dan mencari pekerjaan baru. Buset mengatakan, "Sudah lima tahun kita di Pantau. Sekarang relatif mapan. Dan sekarang kita bisa mulai memikirkan hidup kita sendiri."

Saya menyampaikan rencana mundur ini mulanya dalam rapat Yayasan Pantau Januari lalu. Kini Pantau sudah punya sedikit uang buat membayar direktur eksekutif. Kontrak dengan beberapa lembaga dana juga masih cukup lama: Open Society Institute (hingga Juni 2010) serta Cordaid (Desember 2009).

Saya juga minta masukan dari beberapa kenalan lama soal pergantian ini. Sheila Coronel, kini profesor Universitas Columbia, New York, mengingatkan saya agar pergantian ini dijamin dengan adanya dana untuk dua atau tiga tahun. Saya kira dana Pantau kini cukup terjamin. Yayasan Pantau juga sudah melunasi sebagian besar utang-utang peninggalan majalah. Buset dan saya akan tetap mengajar untuk kursus-kursus Pantau.

Saya berharap bisa segera punya waktu guna menyelesaikan dua buku saya: From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalisme serta Agama Saya Adalah Jurnalisme.

Link Terkait
Lowongan Executive Director PANTAU

Quotes on Journalism

"There is a misconception that journalists can be objective. Palestinians tell me I'm objective. I think this is important because I'm an Israeli. But being fair and being objective are not the same thing. What journalism is really about --it's to monitor power and the centers of power."

-- Journalist Amira Hass of the Tel Aviv-based Ha'aretz newspaper on her works, and home, in the Israel-occupied Gaza


"When we journalists fail to get across the reality of events to our readers, we have not only failed in our job; we have also become a party to the bloody events that we are supposed to be reporting."

-- Journalist Robert Fisk, in his book The Great War for Civilisation on self-censorship at The Times of London


"Dari mbahmu!"

-- Indonesian President Soeharto angrily responded to a reporter when asked about where the funding of a housing project come from, as recalled by The Jakarta Post's Kornelius Purba. The phrase literary means, "From your grandfather!"


"I had to learn all over again that what's important for the journalist is not how close you are to power but how close you are to reality."

-- Bill Moyers in his book Moyers on America
the host of Now with Bill Moyers on PBS


"A single grain of rice can tip the scale, one man may be the difference between victory and defeat."

-- Pat Morita, as The Emperor of China, the target of a Hun kidnapping, when commending Mulan for saving him, in the Mulan animation movie