Sunday, December 17, 2006

Listrik Mati Flores Pos


Lagi asyik-asyiknya menyunting feature tentang politik lokal Pulau Flores, sembari menunggu seorang reporter menyelesaikan berita tentang kasus pemerkosaan seorang gadis 18 tahun oleh beberapa lelaki di stadio Marilonga Ende, eh ... listrik padam. Semua jaringan komputer tak ada sistem pengaman UPS. Semua data yang belum disimpan hilang.

Saya nyaris mengeluarkan koleksi kebun binatang saya plus nama seluruh pembunuh massal, kalau tak ingat, bahwa mereka yang kerja di ruangan ini, ruang redaksi harian Flores Pos, hanya teriak, "Wah wah ...." Santun sekali.

Sekitar 15 orang yang kerja di ruang redaksi keluar, menuju pelataran depan kantor, merokok, makan snack, sedikit memaki dan menunggu listrik menyala. Frans Obon, redaktur pelaksana, bilang, "Ya begini ini Mas, koran kota kecil."

Listrik mati hampir seminggu dua atau tiga kali di Ende. Deadline molor hingga tengah malam. Naik cetak dari pukul 2:00 jadi pukul 3:00. Koran belum muncul hingga pukul 7:00 dari percetakan milik PT Arnoldus Nusa Indah.

Inilah salah satu pengalaman kerja di harian Flores Pos. Ada selusin wartawan, selusin komputer tua, tanpa satu pun kamera, sambungan internet jalan kayak siput (maaf ya siput). Para koresponden, dari Pulau Lembata, dari Maumere, dari Manggarai, Labuhan Bajo dan sebagainya, mengirim berita dengan tulisan tangan dan mesin fax.

Kami di ruang redaksi mengetik ulang semua berita. Terkadang mutu fax buruk sehingga ada kalimat-kalimat tak terbaca. Maka saya harus berjuang keras untuk tak menggunakan khayalan saya agar ada quotation yang lebih sexy.

Harian ini hanya terbit 16 halaman tapi mengisinya dengan 80 persen berita lokal. Ini usaha yang luar biasa. Di Indonesia, bisa dihitung dua tangan, harian lokal yang mengisi beritanya macam Flores Pos.

Air ledeng sudah tiga hari mati. Saya berhemat air, cukup hanya untuk buang air, kecil dan besar. Mandi di tempat umum. Makan dan minum juga harus hati-hati kalau tak mau sakit perut. Ada wabah diare. Tak ada sumur pula.

Duh Gusti, seandainya, ada orang budiman yang mau memberi sumbangan kamera dan komputer baru .... Saya makin menghargai kerja keras wartawan-wartawan di kota kecil.

1 comment:

Paman Tyo said...

Wah! Wah! Wah! (meniru gaya santun Flores).

Hebat juga ya perjuangan mereka. Tapi kenapa ketika percetakan di Indonesia belum semuanya maju, Flores bisa memilikinya?