Friday, September 30, 2005

Tahun Kelahiran Hasan di Tiro


Aku ingin tahu kapan persisnya tanggal dan tahun kelahiran Hasan Muhammad di Tiro. Ini penting untuk penulisan buku. Rasanya aneh ketika membaca lebih dari 10 referensi. Ada yang bilang ia lahir 1923. Ada juga yang bilang 1925. Ada juga 1930? Kalau menurut situs web Acheh/Sumatra National Liberation Front, nama resmi Gerakan Acheh Merdeka, ia kelahiran 4 September 1930. Artinya, ia kini umur 75 tahun. Keterangan ini pula yang terdapat dalam buku harian Hasan di Tiro, "The Price of Freedoms." Ia menulis pada 4 September 1976 bahwa ia berjalan pulang ke tanah airnya, dari New York untuk bergerilya melawan Indonesia, hari itu ia berumur 46 tahun. Artinya, ia kelahiran 1930.

Namun kalau membaca keterangan lahir pada buku karangan di Tiro lainnya, "Demokrasi untuk Indonesia," cetakan kedua 1999 dari versi awal 1958, tertera bahwa ia kelahiran 1923. Artinya, ia kini berumur 82 tahun. Kirsten E. Schulze dalam paper, "The Free Aceh Movement: Anatomy of a Separatist Organization," juga mengacu pada tahun kelahiran Hasan di Tiro 1923. Buku ini ditulisnya pada 1958, artinya, bila memakai asumsi 1923, Hasan Tiro baru berumur 25 tahun!

Anthony Reid, seorang akademikus jago Aceh, yang baru-baru ini menerbitkan buku, "An Indonesian Frontier: Acehnese & Other Histories of Sumatra," memakai kelahiran tahun 1925. Reid menulis bahwa pada usia 23 tahun, yakni pada tahun 1948, Hasan di Tiro sudah menulis karangan stensilan, "Prang Atjeh 1873-1927." Keterangan polisi Stockholm, ketika tahun lalu memeriksa beberapa petinggi GAM, termasuk Hasan di Tiro, mencantumkan usianya 79 tahun. Artinya, ia kelahiran 1925.

Aku jadi bingung sendiri. Situs web itu pasti mengacu pada keterangan Hasan di Tiro. Tapi buku karangan di Tiro pasti juga mengacu pada diri sendiri bukan? Masak seseorang bisa lahir dua kali? Lantas polisi Swedia dari siapa lagi kalau bukan dari dokumen Hasan di Tiro? Anthony Reid, yang karangannya jadi inspirasi di Tiro, tentu juga tahu dari riset dan wawancara langsung. Apalagi lahir tiga kali?

Hasan di Tiro sendiri tampaknya mengeluarkan tiga versi kelahirannya: 1923, 1925 atau 1930? Mana yang benar? Kalau sudah tahu mana yang benar, mengapa ia mengubah tahun kelahirannya? Aku menduga perubahan-perubahan tahun kelahiran ini terkait dengan pergeseran opininya terhadap Acheh dan Indonesia. Ia mengubah tahun kelahiran, setidaknya dari versi 1923 ke 1930, selisih enam tahun, untuk menciptakan kesan konsistensi sikapnya?

Tuesday, September 27, 2005

Diskusi Thomas Hanitzsch

Saya menemani diskusi dengan Thomas Hanitzsch dari Ilmenau University of Technology di Freedom Institute malam ini. Diskusi yang menarik dengan moderator Hamid Basyaib dari Jaringan Islam Liberal.

Hanitzsch berpendapat profesionalisme wartawan di Jawa dan Medan bisa ditingkatkan dengan membakukan standar kerja wartawan. Caranya, menciptakan semacam lisensi. Ini sama dengan pengacara, dokter dan sebagainya. Ada organisasi yang menyaring siapa boleh jadi wartawan.

Terobosan yang perlu dihargai. Hanitzsch banyak menulis paper yang bagus tentang wartawan di Jawa dan Medan. Juga pendidikan jurnalisme. Dewan Pers, menurut buku yang ditunjukkan Hanitzsch dalam diskusi itu, cenderung mengarah ke profesionalisasi itu. Buku itu disusun oleh Lukas Luwarso, mantan direktur eksekutif Dewan Pers.

Tapi saya cenderung tak mau tergesa-gesa mengiyakan langkah tersebut. Bukan karena curiga --seperti dilontarkan seorang peserta diskusi dari Dewan Pers-- tapi karena persoalan media di negeri ini jauh lebih rumit dari sekedar standarnya.

Kalau pun ada standar, bisakah misalnya, diterapkan pemakaian byline. Ini standar internasional --setidaknya di Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina maupun negara-negara dengan tradisi kebebasan pers yang lebih tua macam Jerman, Prancis, Amerika atau Inggris-- tapi ia bukan standar Jawa dan Medan. Apakah semua orang mau terima?

Apa daya paksa dari standarisasi tersebut? Siapa yang otoritasnya bisa diakui untuk bisa standar? Bagaimana dengan perbedaan corporate culture antara konglomerat media? Anda tahu media satu dan lain sering bentrok standar. Bagaimana melihat keragaman media kecil? Bagaimana melihat keragaman kelompok etnik, agama dan bahasa?

Diskusi menarik tapi terlalu mengawang.

Saya percaya masih banyak cara untuk meningkatkan mutu jurnalisme kita. Diskusi dan bicara soal nasib media kita saja sudah merupakan langkah maju. Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit bukan?

Thursday, September 01, 2005

SMS dari Takengon

Saya menulis ini dari Hotel Jeumpa, Banda Aceh, sesudah membaca satu SMS dari Takengon. Pengirimnya, seorang wartawan yang kebetulan ikut pelatihan wartawan International Center for Journalists dan Yayasan Pantau di Sabang pada 26-28 Agustus. Peserta ada 22 orang. Semuanya menerima macam-macam bacaan, termasuk majalah Pantau edisi Desember 2003, yang berisi travelogue saya, "Republik Indonesia Kilometer Nol." Eva Danayanti dari Pantau baik sekali mengirim semua bacaan itu dari Jakarta. Beratnya hampir50 kg.

Latihan ini sudah selesai. Peserta sudah kembali ke rumah masing-masing. Wartawan ini lalu menulis SMS, "Dua jam lebih saya membaca kilometer nol, sambil membuat catatan. Berbagai perasaan muncul. Saya sempat menangis. Inilah Aceh dimana saya dan keluarga merasakan dampaknya. Tapi jujur sayabangga kenal andreas. Tls spt itu sulit bg saya. Dan tak mungkin saya mampu menulisnya. Lengkap tanpa lubang."

Seperti kebanyakan penulis, saya tentu merasa lega bahwa laporan saya membuat orang mendapat kegunaan. Semangat mengerjakan buku dengan detail sebanyak "Kilometer Nol" kembali menggebu saya. Proses penulisan "From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nasionalism" bukannya tanpa kesulitan (terutama finansial dan waktu). Tapi saya merasa dikuatkanlagi.

Anyway, ide bikin buku ini dimulai dari travelogue tersebut. Saya juga seakan-akan diingatkan lagi bahwa reward terbesar untuk seorang wartawan adalah penghargaan dari pembacanya. Ini penting karena terkadang saya juga terjepit kesulitan finansial. Saya relatif punya honorarium yang bagus tapi pekerjaan wartawan, tanpa gaji tetap, bagaimana pun terkadang membuat saya kuatir dengan biaya hidup anak saya. SMS tadi membuat hari ini terasa indah bagi saya.

Prabulih dan Blogger

Blog atau kependekan dari weblog, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh John Barger pada akhir tahun 1997, merujuk pada kelompok website pribadi yang selalu di up-date secara kontinyu.

Pengelolaannya yang cepat, sederhana dan murah. Yang terakhir karena umumnya blog adalah fasilitas gratisan. Para pengguna blog atau disebut blogger, tidak hanya berasal dari praktisi media. Bisa juga orang-orang biasa seperti mahasiswa, penulis, wiraswastawan. Bahkan beberapa bukan orang biasa sama sekali, seperti kandidat presiden AS John Kerry memilih ber-blog ketimbang website (www.blog.johnkerry.com).

Dengan demikian sudah tentu, muatan yang terdapat pada blog sangatlah warna-warni. Yang paling sederhana adalah sebuah catatan harian atau catatan perjalanan. Andreas Harsono, seorang prkatisi media menjadikan halaman blognya sebagai hardisk maya untuk kumpulan catatannya atau opini yang ia tulis (www.andreasharsono.blogspot.com). Beberapa komunitas juga memilih blog sebagai media kampanye tentang keberadaan mereka.

Maka tidak perlu heran jika blog digilai dan jutaan orang. Pertumbuhannya luar biasa. Dan menyeruak dari tengah dominasi media yang sudah mapan, tentu saja menarik. Fenomena ini membuat majalah Times menyematkan gelar MEN OF THE YEAR kepada BLOGGERS pada tahun 2004.

Essensinya ber-blog adalah ber-komunikasi. Blog juga media berkomunitas di era budaya digital. Makanya sebuah blog seringkali menampilkan link berupa alamat blog kerabat atau sahabat seorang blogger. Tapi blog tidak selalu mengekspresikan persahabatan, seringkali menampilkan ekspresi permusuhan. Hal itu dapat terbaca dari opini yang diposting pada halaman blog atau tercatat dikomentar para pengunjung.

Tentang blog dusunlaman sendiri, lebih dimaksudkan untuk memfasilitasi kebutuhan informasi dengan cara berbagi kabar dalam bentuk tulisan bagi sesama orang-orang prabumulih. Diawali oleh sedikitnya info tentang prabumulih yang bisa diakses di cyber. Beberapa situs cyber seperti milik media massa di sumsel sumatera ekspress dan sriwijaya post, tentu tidak bisa memberikan porsi yang banyak tentang prabumulih. Tentu saja, karena pemberitaan media ini lebih melingkupi propinsi sumatera selatan. Sementara itu situs milik pemerintah kota prabumulih yang beralamat di www.kotaprabumulih.go.id tentu lebih mengedepankan informasi seputar program pemerintah.

Setelah ditelusuri ternyata banyak juga blogger asal prabumulih, yang sedikit banyak memberikan catatan-catatan pribadi tentang prabumulih. Setidaknya kita bisa lihat dari beberapa alamat berikut:

www.brotherhoodtsel.blog.com
Blog bernama Sumsel Legend ini dikelola oleh Atharis Sultan Prayoe, seorang perantau asal prabumulih yang berdomisili di surabaya. Aktivitas sehari-hari Papa Athar adalah seorang praktisi telekomunikasi di TELKOMSEL. Meski demikian informasi yang disajikan tidak melulu tentang kabel dan pulsa. Atharis juga menulis catatan masa kecilnya dan puisi-puisi yang bagus di sana.

www.nikiwisa.blogspot.com
Pengelola blog ini bernama Wisa Restoto dan mengaku sebagai pengamat sekitar. Dusunlaman pernah mengunjunginya di salah satu mess di kompleks Pertamina. Wisa adalah praktisi perminyakan yang merantau dari Jawa. Meski demikian beberapa tulisannya tentang prabumulih demikian hidup.

www.blog.wonkito.info
blog.wonkito.info dinamai refresh my mind in blog adalah blog yang dikelola olhe frozi. Seorang perantau asal daerah penukal [antara pendopo dan prabumulih] yang sekarang berdomisili di Jakarta. Sejauh penelusuran dusunlaman, Frozi adalah praktisi di bidang internet. Tepatnya web-designer. Selain mengelola blog, frozi juga membuka situs pribadinya yang lebih kompleks dengan alamat www.wonkito.info.

Site www.wonkito.info menarik. Salut untuk Frozi. Terutama karena tampilannya yang simple dan eye-catching. Sedangkan tujuan site ini dibuka, frozi menjelaskan seperti ini, “Site ini dibuat untuk tujuan pribadi sebagai media belajar bagaimana cara mendesain web, sedangkan desain dan isi sesuai dengan isi hati dan apa keperluan dari pembuat... Kalo pengunjung tidak berkenan, gak usah ambil pusing tinggal klik tanda X dipojok kanan atas”

www.mentaree.blogspot.com
Blogger yang mengelola blog ini adalah Yuni Ambarwati. Di dusunlaman ia beberapa kali menulis dengan topik pendidikan. Blog milik yuni belum diformat secara khusus, dan tampaknya Yuni memang mensengajakan blognya sebagai media catatan pribdai.

Ada beberapa blogger lain yang juga mencatatkan prabumulih pada blognya. Blog milik Firman (http://pribadi.or.id) juga amat kaya dan infonya beragam. Dengan adanya blog-blog ini, setidaknya membantu dalam pemenuhan kebutuhan informasi dan nostalgia.

Sumber
From: syam a-radjam
To: intiPrabumulih grup ; rumbadi dalle ; arwan pawar ; sripo 1 ; samsulhidayah sripo ; wisa bloger ; media care ; group pantau ; milist jurnalist ; laili monika ; idar okt ; idar oktarina ; smp1 pbm
Sent: Thursday, September 01, 2005 4:07 PM