Tuesday, August 30, 2005

Wartawan Terjun Payung dari Jakarta

Aku kebetulan lagi luntang-lantung Banda Aceh, Lhoknga dan Sabang selama seminggu ini. Kau tahu warung kupi CoHA?

Ini bukan singkatan Cessation of Hostility Agreement ala Henry Dunant Center dari Geneva –perjanjian perdamaian damai yang gagal dijalankan di Aceh-- tapi "Kongkow-kongkow Ha-ha" ala wartawan Banda Aceh.

Warung ini ada dekat Simpang Lima, Banda Aceh. Tempatnya sederhana. Cuma ukuran 3x10 meter. Ada jual nasi gurih. Kupi digoreng sendiri. Si paman pemilik warung menyediakan dinding warungnya untuk tempel pengumuman macam-macam.

Di warung kupi ini aku dengar keluhan wartawan-wartawan Banda Aceh soal SCTV dan Metro TV. Intinya, mereka bilang ada kesepakatan bahwa selama pertemuan dengan jurubicara GAM Sofyan Daud, sesama kamerawan dan fotografer tak memotret sesamanya.Ternyata, menurut mereka, SCTV dan Metro TV melanggar.

Mereka sempat maki-maki tuh "wartawan Jakarta" --reporter sistem terjun payung dari Jakarta. Terjun sebentar lalu pergi. Pendek kata, "wartawan Jakarta" sering dinilai memakai Aceh sebagai tempat latihan tempur. Kalau belum turun ke Aceh, rasanya belum wartawan. Tapi mereka tidak baca, tidak riset, ketika terjun ke Aceh.

Aku bilang, "Apa salahnya sesama wartawan memotret wartawan? Di Jakarta, sering kali aku lihat wajah rekan-rekan aku di layar televisi."

Lalu mereka bilang, "Abang tidak tahu gimana rasa hati ini kalau ketemu SGI?"

"Mereka bilang, 'Kamu wartawan yang ketemu Sofyan Daud ya.'"

"Ini hati rasanya gimana tuh!"

Aku mengiyakan. Aku kira benar juga bahwa Jakarta beda Aceh. Disini situasi belum solid. Perdamaian masih bisa berantakan. Satuan Gugus Tugas Intelijen (SGI) masih ditakuti dimana-mana.

Ketika mereka tanya bagaimana yang harus mereka lakukan?

Aku bilang protes mungkin tak membantu banyak. Aku kira, pekerjaan utama wartawan, bila ada isu yang penting, adalah meliputnya.Mengapa tak mencoba meliput sesama wartawan dengan standar biasa? Bikin saja wawancara. Harus independen. Ini juga bagian dari pendidikan untuk pemirsa, pembaca dan pendengar kita. Audiens juga bisa mengerti persoalan yang terjadi di kalangan wartawan.

Ini cuma kongkow-kongkow dan ha-ha di Simpang Lima, Banda Aceh.

Sebagai wartawan Jakarta, aku cuma mendengar saja, ketawa-ketiwi, ha ha ha ha ... jangan-jangan aku juga termasuk wartawan terjun payung itu ya?

Monday, August 29, 2005

Republik Indonesia Kilometer Nol


Oleh Andreas Harsono


PADA 1926, seorang wartawan yang tinggal di Batavia, nama Jakarta di zaman kolonial Belanda, menulis laporan perjalanannya dari Batavia ke Amsterdam nun jauh di benua Eropah. Dia Adi Negoro. Dalam buku Melawat ke Barat, ia bercerita tentang persinggahannya di macam-macam kota, antara lain Singapura, Colombo, Aden, Port Said, Marseille, Gibraltar, dan lain-lain. Laporannya memikat karena Adi Negoro menggabungkan cerita sehari-hari dengan acuan berbagai bacaan klasik, dari antropologi hingga theologi, dari sejarah hingga filsafat.

Salah satu tempat pemberhentiannya adalah pelabuhan Sabang di Pulau Weh, di ujung Sumatra, ketika kapal Tambora berhenti untuk mengisi bahan bakar batubara. Adi Negoro berkeliling Sabang dan membandingkan Sabang dengan Singapura milik Inggris yang baru saja disinggahinya.

“Tapi kalau menilik kepada pelabuhan saja, Sabang lebih bagus dari Singapura. Hanya perkara letaknya saja kurang baik. Biarpun pemerintah Belanda menjadikan Sabang satu pelabuhan bebas, tiadalah akan seramai Singapura, sebab letaknya jauh dari pusat perdagangan di Asia Timur.”

Dia juga menulis sedikit sejarah Sabang. Menurut Adi Negoro, Belanda menguasai Sabang sejak 1887. Sabang Maatschappij, sebuah perusahaan swasta, diberi wewenang untuk mengelola pelabuhan bebas tersebut, sekaligus membangun dermaganya antara 1896 dan 1911. Ia dilengkapi dengan dok perbaikan kapal seberat 2.600 ton. Ia juga punya empat derek raksasa untuk menaikkan batubara ke kapal-kapal yang berhenti di Sabang, dari Eropa, Cina, Jepang, Singapura, Batavia, dan sebagainya. Pada 1924, perusahaan ini membangun dok lagi, seberat 5.000 ton, untuk meningkatkan kapasitas perbaikan kapal.

“Penduduk Sabang hidup terutama sekali karena pelabuhan itu. Kampung Tionghoa dekat pelabuhan itu penuh dengan toko-toko dan warung-warung makanan. Di belakang tempat membongkar batubara adalah tangsi kuli. Di tepi laut berdiri kantor-kantor maskapai kapal Rotterdamsche Llyod dan Maatschappy Nederland,” tulisnya.

Apa yang tak diungkap buku itu adalah Sabang sebagai bagian dari Aceh –sebuah wilayah yang melawan pendudukan Belanda antara 1876 dan 1904. Belanda membangun Sabang bukan hanya karena minat dagang tapi juga untuk menjinakkan orang Aceh. Entah mengapa Adi Negoro tak menyentuhnya.

Juni 2003, saya naik speedboat selama satu jam dari Banda Aceh menuju Sabang. Dermaga Sabang ternyata cantik sekali dengan perahu-perahu nelayan. Di pinggiran dermaga ada gudang-gudang beratapkan seng. Depan pelabuhan ada masjid dengan kubah mengkilat, menara warna putih hijau, juga rumah-rumah yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Saya ingin melihat apa yang sekitar 80 tahun lalu jadi kekaguman Adi Negoro. Di luar pelabuhan ada jalan kecil dan 300 meter lagi ada kawasan “Kampung Tionghoa” di Jalan Perdagangan.

Di luar pelabuhan, seorang pengemudi becak mesin mendekati saya dan menawarkan tumpangan.

“Ini pohon apa, Pak?” tanya saya.

“Pohon morai. Ada 300 tahun. Sudah tua,” kata Liyan Ramli, pengemudi becak itu. “Ada yang lebih besar lagi di depan (kantor) walikota. Berderet tuh. Ada 300 tahun.”

Sabang memang hijau. Nama Latin tumbuhan ini adalah Pithecellobium dulce. Ia banyak ditemukan di Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan konon asalnya dari Amerika Tengah. Dalam bahasa Inggris disebut guayamochil atau Manila tamarind. Di Indonesia disebut dengan beberapa nama: Asam Belanda, Asem Londo, asam koranji.

Pada zaman Adi Negoro, Singapura lebih besar dari Sabang, tapi perbedaannya kontras sekali hari ini. Singapura kini salah satu pelabuhan laut tersibuk dan termodern di dunia sedang Sabang, ironisnya, jadi mengecil, bahkan makin kurang pelayanannya dibanding 1926. Singapura sekarang berpenduduk empat juta orang sedang Sabang hanya 22.000.

Walikota Sabang Sofyan Haroen mengatakan pada saya bahwa pada zaman Belanda, Sabang memiliki dermaga dengan panjang total 2.700 meter. Sekarang hanya 572 meter. “Artinya kita mundur 100 tahun,” kata Sofyan.

Ketua DPRD Sabang Husaini berujar, “Djubir Sahi, ketua Badan Pengelola Kawasan Sabang, sering menunjukkan foto Sabang zaman Belanda di mana pada Teluk Sabang ini bisa menampung hingga 60 kapal. Sekarang berapa? Pemerintah kurang memberi perhatian pada Sabang. Dulu derek peti kemas yang pertama ada di Sabang –sebelum ada di Singapura, Jakarta atau Surabaya.”

Keluhan ini makin menjadi-jadi terutama karena Presiden Soeharto membubarkan status pelabuhan bebas Sabang pada 1985 dengan alasan banyak “penyelundupan” --walau tuduhan ini dibantah warga Sabang termasuk Sofyan Haroen dan Husaini. Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan status bebas ini tiga tahun lalu.

Saya mengunjungi Sabang bukan hanya karena kecantikan atau kekalahannya dari Singapura. Sabang memainkan peran penting dalam pemikiran politik warga Indonesia. Sabang terletak di ujung paling barat Republik Indonesia dan nama “Sabang” sendiri disebut dalam lagu nasional “Dari Sabang Sampai Merauke.” Liriknya mengatakan Indonesia terdiri dari pulau-pulau, dari Sabang sampai Merauke, tapi merupakan satu kesatuan. Semua anak sekolah tahu menyanyikan lagu ini.

Frase "Sabang-Merauke" ini juga sering disebut tiap kali Jakarta menghadapi pemberontakan daerah, termasuk Aceh dan Papua, yang benihnya bersemai puluhan tahun lalu tapi memanas lagi sesudah jatuhnya Soeharto pada Mei 1998. Pemberontakan Aceh jadi terlihat paling serius sesudah Indonesia kehilangan Timor Timur dalam referendum Perserikatan Bangsa-bangsa pada September 1999. Timor Timur sudah merdeka. Masakan Aceh dibiarkan merdeka? Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menggantikan Wahid, akhirnya menyatakan darurat militer untuk Aceh sejak 19 Mei lalu. Keputusan ini tampaknya cukup populer mengingat meningkatnya rasa kebangsaan di Indonesia.

Hari kedua di Sabang, saya menyewa sepeda motor dari Losmen Sabang Merauke untuk mengunjungi sebuah monumen di Ujong Batu, sekitar 30 km dari Sabang, yang disebut Monumen Republik Indonesia Kilometer Nol. Monumen ini simbol dari kesatuan wilayah Indonesia.

Ketika tahu tujuan saya, si pemilik motor kuatir dan minta seorang kawannya menemani. Bagaimana pun Sabang adalah wilayah konflik Aceh. Setiap hari ada berita warga Aceh meninggal tertembak. “Apa ada GAM?” tanya saya. Dia bilang tak ada tapi kita harus hati-hati. Saya dengan sopan menolak tawarannya. Saya ingin punya privacy. Saya ingin menikmati kesendirian saya.

GAM singkatan “Gerakan Aceh Merdeka” –sebuah jaringan gerilyawan yang mengupayakan pemisahan Aceh dari Jakarta. Kehadiran mereka sebenarnya tak begitu terasa di Pulau Weh walau polisi bilang di pulau ini ada “20 GAM benaran” dengan empat pucuk senjata api.

Tapi ada rasa kuatir begitu saya keluar dari Sabang. Saya melihat instalasi listrik dijaga polisi. Saya juga berpapasan dengan satu truk tentara, bersenjata lengkap, berseragam rimba, dan berjaket anti peluru. Seram. Mukanya dicoreng-coreng. Makin jauh dari Sabang, makin saya memasuki daerah pedesaan.

“Kilometer Nol mana Bu ya?” tanya saya pada dua orang perempuan desa.

“Masih jauh. Ikuti saja jalan ini sampai ujung.”

Saya teruskan dan daerahnya makin lama makin sepi. Pantai Iboih. Hutan wisata. Pohon-pohon tinggi. Ada pakis-pakisan, kuping gajah, bunga hutan warna merah, dan daun-daun kering menutupi badan jalan. Sempat juga bertemu serombongan monyet bermalas-malasan di pinggir jalan hutan. Mereka kaget melihat saya. Sebaliknya bulu kuduk saya merinding. Habis sepi sekali! Monyet terbesar duduk mengangkang sehingga penisnya kelihatan.

Menjelang puncak, saya melewati pos militer. Dua tentara dari Pasukan Khas Angkatan Udara menghentikan saya dan sopan minta kartu identitas. Saya jelaskan bahwa saya seorang wartawan dengan surat izin lengkap. Semua dokumen beres. Kami pun mengobrol. “Apa tidak bosan tiap hari hanya berdua di tempat terpencil begini?”

“Waktu kita ya jaga saja. Ya gini-gini saja. Baca koran,” kata Prajurit Satu Wahyu Hanes. Rekannya, Prajurit Satu Sutrisno, mengatakan mereka tiba dari Malang, Jawa Timur, dan ditempatkan di Pulau Weh sejak Desember 2002. Belum pernah ada kontak senjata. Mereka bahkan jarang bertemu orang. Pengunjung hanya datang pada hari libur. Seorang turis Jerman bahkan mengunjungi mereka beberapa hari sebelumnya dengan bersepeda.

“Waktu baca koran tentang orang Jerman yang tertembak, saya pikir jangan-jangan dia,” kata Sutrisno, mengacu pada Luther Hendrick Albert Engel, seorang pengembara Jerman, yang tertembak mati oleh sembilan tentara Indonesia ketika berkemah di sebuah pantai di Aceh bagian barat seminggu sebelumnya. Engel hendak tidur di pantai bersama istrinya. Mereka dikira gerilyawan dan langsung ditembak. Pemerintah Jerman maupun Indonesia menyimpulkan peristiwa tersebut kecelakaan.

Empat kilometer kemudian tampak sebuah papan berbunyi, “Anda memasuki kawasan KM Nol Negara Republik Indonesia.” Saya terpesona. Pemandangan cantik sekali. Sejauh mata memandang hanya laut biru, ombak tenang, tak ada pulau satu pun, dan di kejauhan terlibat sebuah kapal kayu mungil. Suara angin laut menderu-deru. Tempatnya sepi dan indah, terletak di balik sebuah bukit, dalam sebuah kawasan hutan lindung di ujung Pulau Weh. Ibaratnya, selembar surga ditanamkan di muka bumi. Saya jatuh cinta dengannya. Ada perasaan tenang, sendu, dan teduh.

Image hosted by Photobucket.com
Monumen Republik Indonesia Kilometer Nol - Agustus 2005

Tempat ini modelnya melingkar dengan diameter sekitar satu kilometer. Di tengah ada monumen berwarna putih. Di puncaknya terdapat angka “0” (nol). Ada prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografis tempat ini: Lintang Utara 05 54’ 21,99’’ Bujur Timur 95 12’ 59,02.’’

Inilah kilometer pertama Republik Indonesia.

Saya duduk dan berpikir. Apa makna Indonesia di tempat sesepi ini? Nasionalisme macam apa yang diinginkannya? Apa makna simbol ini ketika begitu banyak warga Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dari petani hingga gerilyawan, dari aktivis hingga pengusaha, melawan apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan dari Jakarta?

Di Sabang, saya lihat banyak tempat diberi nama keindonesiaan-indonesiaan. Ada “Stadion Sabang Merauke” atau “Yayasan Sabang Merauke” yang mengelola “Taman Kanak-kanak Malahayati” bahkan warung telekomunikasi “Sabang Merauke” –pemberian nama yang seakan-akan menggambarkan ada ikatan emosional antara semua warga “Sabang” dan semua warga “Merauke” nun jauh di Papua, ujung timur Indonesia.

Image hosted by Photobucket.com
Laut Hindia dari Kilometer Nol - Agustus 2005

Tapi jika hubungan itu ada, mengapa ada pemberontakan besar di seluruh Aceh? Mengapa banyak orang Aceh, setidaknya menginginkan “otonomi khusus” atau bahkan “kemerdekaan” dari Jakarta? Mengapa banyak warga Sabang macam Liyan Ramli, atau pedagang perabot rumah Nyik Siti Absyah, atau penjual roti Su Sien Jin, merasa getir dengan keputusan Jakarta mencabut status pelabuhan bebas Sabang pada 1985?

Dalam buku klasiknya, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, ilmuwan politik Benedict Anderson mengatakan bahwa “negara-bangsa” adalah sebuah pemahaman tentang komunitas maya. Sebuah komunitas yang sebenarnya adalah sebuah tempat di mana warganya tahu sebagian besar warga lain. Dalam “negara-bangsa,” bahkan seumur hidup pun, seorang warga negara tak tahu sejumlah besar warga lainnya.

Tapi justru itulah letak daya gaib nasionalisme. Liyan Ramli mengatakan dia tak pernah membayangkan kota Merauke. “Saya cuma pernah Jakarta, Jambi, Banda Aceh, dan Sabang,” katanya. Namun lewat media, termasuk lagu “Dari Sabang Sampai Merauke,” orang-orang macam Liyan ini mendapatkan semacam perasaan saling memiliki. “Bangsa” adalah sebuah proses, bukan sebuah produk. Proses inilah yang tampaknya kurang kita perhatikan. Kesibukan melakukan “pembangunan” dan mengatur semuanya dari Jakarta, membuat proses ini terbengkalai, sehingga nasionalisme lama yang ada bukannya membesar tapi mengecil. Hujan pun turun rintik-rintik.

Entah kebetulan, dalam kesendirian di tempat terpencil ini, saya berjalan-jalan sekitar monumen dan menemukan bahwa sebuah patung Garuda Pancasila sudah terlempar jatuh dari lambang tanduk angka “0.” Tak ada lambang keindonesiaan lagi di sana. Apa ini sebuah pertanda gaib keruntuhan Republik Indonesia? Ketika turun ke Sabang, saya juga sadar bahwa nama “Sabang-Merauke” buat Liyan Ramli hanyalah berarti pangkalan becak mesin depan Losmen Sabang Merauke. Hanya itu. “Bapak bisa mencari saya di sana,” kata Liyan. Praktis. Tidak lebih tidak kurang. Daya gaib nasionalisme terkadang bisa menyusup hingga jauh ke dalam ruang bawah sadar manusia. Nasionalisme adalah sebuah proses menjadi “bangsa” yang justru jadi gamang ketika merasa tujuannya sudah tercapai.


Naskah yang lebih panjang bisa klik lewat majalah Pantau edisi Desember 2003

Sunday, August 28, 2005

Pelatihan Wartawan Sabang

Pada 26-28 Agustus ini aku ikut dalam satu tim International Center for Journalists untuk bikin workshop tiga hari jurnalisme di Hotel Sabang Hill. Jim Simon dan Carolyn Robinson adalah dua anggota tim lainnya.

Ada 22 wartawan dari Banda Aceh, Lhokseumawe, Takengon dan Sabang ikut pelatihan ini. Mereka dibagi dalam dua kelompok: media cetak bersama Jim dan aku serta media televisi bersama Carolyn.

Aku belajar banyak dari metode kerja yang dipakai Jim dan Carolyn.

Sempat punya masalah dengan kepala polisi Sabang. Ia mempertanyakan izin acara. Alasannya, lebih dari lima orang berkumpul harus ada izin polisi. Aku jengkel sekali. Ini negara sudah bobrok sekali.

Aturan zaman kolonialisme Belanda masih dipakai. Mungkin benar juga bahwa Aceh belum merdeka. Di Jakarta atau Bali, aturan itu bisa bikin bisnis macet. Bayangkan kalau setiap hotel bikin seminar harus minta izin polisi?

Image hosted by Photobucket.com

Jim Simon (kiri) mengobrol bersama wartawan harian Serambi di sebuah kedai kopi dekat Beurawe, kantor sementara Serambi, di Banda Aceh. Kami mengadakan workshop satu hari untuk Serambi pada 17 September 2005.

Friday, August 26, 2005

Gordon Bishop untuk Suardi Tasrif Award


Gordon Bishop pemenang AJI "Suardi Tasrif Award" 2005 telah menunjuk Joesoef Isak untuk mewakilinya dalam acara penerimaan Piala dan AJI Award di Hotel Santika hari Jumat malam 26 Agustus 2005. Joesoef Isak adalah penerbit dan editor Hasta MItra, penerima Jeri Laber International Freedom to Published Award dari PEN dan Asosiasi Penerbit Amerika (2004) dan PEN Keneally Award 2005 dari Australia.


Malam ini saya sungguh gembira berada di tengah rekan-rekan saya. Untuk pertama kali selama 40 tahun, saya berada lagi di tengah-tengah habitat saya sendiri. Saya ini adalah mantan pemimpin redaksi Merdeka, mantan ketua PWI Jakarta, mantan sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika; kemudian di tahun 1965 dipecat oleh PWI, organisasi saya sendiri. Tetapi sebagai wartawan, saya tidak pernah menyebut diri saya "mantan wartawan". Profesi wartawan melekat sepanjang hidup saya, sama seperti pemeo "An Old Soldier Never Die", an old jurnalist juga never die.

Saya gembira diminta oleh Gordon Bishop mewakilinya malam ini untuk menerima "Suardi Tasrif Award" yang dianugerahkan oleh AJI kepadanya. Keputusam AJI ini saya anggap tepat, Gordon Bishop saya kenal sebagai seorang idealis yang punya obsesi kepada hak-hak azasi manusia, terutama menyangkut transparansi informasi dan akses bagi publik terhadap semua informasi yang ada.

Kira-kira dua-puluh tahun yang lalu Gordon Bishop pernah tinggal di Indonesia, dia mempunyai istri seorang Jawa cantik yang sangat dicintainya, dan mempunyai anak perempuan yang sekarang sudah memasuki universitas di New York. Gordon dan anaknya, Naomi, pulang ke Amerika setelah istrinya meninggal dalam kecelakaan mobil di Jawa.

Gordon Bishop sudah lama mengidap penyakit kanker, salah satu bola matanya terpaksa dibuang karena kanker itu. Dua-tiga bulan yang lalu kaki kanannya, mulai dari pangkal paha harus diamputasi karena kanker ganas rupanya masih menggerayangi tubuhnya. Dia menerima berita lewat email dan telepon tentang terpilihnya dia sebagai pemenang Suardi Tasrif Award 2005, tepat ketika sedang bersiap-siap untuk ke rumah-sakit mencek kondisi badanya setelah amputasi kaki kanan itu. Reaksi Gordon Bishop luar biasa gembiranya ketika mendengar keputusan AJI tersebut. Baginya AJI Award lebih besar artinya daripada Pullitzer Prize katanya.

Saya sendiri yang kenal Gordon Bishop secara pribadi menyebut Gordon Bishop sebagai "the undefeatable" orang yang tak tertaklukkan. Dia tidak pernah takluk ketika dengan gigih menyebar berita mengenai Indonesia semasa rejim Suharto lewat websitenya yang terkenal di seluruh dunia, dan dia juga tidak mau takluk menghadapi kanker ganas yang menyerang tubuhnya.

Sedikit cerita tambahan tentang Gordon Bishop. Dia berasal dari keluarga kaya di Amerika, akan tetapi dia sendiri tidak punya apa-apa. Ketika keluarganya bertanya kepadanya apa yang dia perlukan, bantuan apa yang bisa diberikan kepadanya, Gordon yang mengidap kanker menjawab: "My last wish is to help the Indonesian people to topple down Suharto!" Maka keluarganya memberikan perlengkapan komputer untuk mendirikan "Joyo Indonesia News Service" dengan website-nya yang terkenal.

Seluruh dunia kemudian semasa rejim Suharto mendapatkan supply berita-berita transparan mengenai situasi Indonesia dalam bahasa Inggris, sebuah nara-sumber alternatif tentang situasi politik-sosial-ekonomi Indonesia. Dia memakai kependekan nama Joyo dari Joyoboyo, yang menurut Gordon bagi banyak orang Indonesia terutama Jawa dikenal sebagai pujangga besar yang meramal datangnya perubahan di Nusantara.


Joesoef Isak kemudian membacakan acceptance speech yang diterima lewat email, dengan permintaan khusus dari Gordon agar sambutannya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sambutan Gordon Bishop atas penerimaan Suardi Tasrif Award:

Saya sangat bangga dan merasa terhormat menerima "Suardi Tasrif Award" ini, untuk itu saya sampaikan penghargaan setulus-tulusnya dari lubuk hati saya yang sedalam-dalamnya kepada pengurus AJI dan secara individual kepada satu-demi-satu anggota AJI. Saya sepenuhnya sadar atas perjuangan dan pengorbanan jurnalis Indonesia dalam pertarungan mereka demi kemerdekaan pers dan kebebasan-kebebasan lainnya - dan saya ingin mengabdikan penerimaan Award ini kepada para jurnalis yang telah dibunuh, disiksa, dihinakan berikut juga kepada keluarga mereka dan orang-orang yang mereka cintai - oleh kediktatoran militer Suharto.

Begitu pun saya abdikan Award ini kepada para jurnalis pemberani yang meneruskan perjuangan demi jurnalisme independen, kepada mereka yang masih terus mengusahakan peningkatan kepiawaian dan pengaruh jurnalisme
di Indonesia.

Hati sanubari dan semangat saya berada bersama kalian yang melanjutkan perjuangan demi tujuan akhir kebebasan, di mana tidak akan ada lagi penindasan dan pelecehan, pada saat kaum yang diinjak-injak dan yang lemah dengan tegas menegakkan hak-hak mereka yang sah -sebab itulah sasaran-sasaran yang tidak akan bisa diraih tanpa para jurnalis independen, seperti apa yang kalian semua kerjakan sebagai anggota AJI.

Terimakasih sebesar-besarnya untuk pemberaian Award ini!!!

Saya sangat sangat menyesal tidak bisa tampil pribadi di tengah-tengah kalian, akan tetapi saya ada bersama kalian dalam spirit dan dalam harapan untuk suatu Indonesia dan dunia yang lebih baik di masa depan.

Salam damai dan hangat!


Gordon Bishop untuk Joyo "Indonesia News Service"


New York City, August 26 - 2005.

Sunday, August 07, 2005

ICIJ Meeting in London

More than 60 prize-winning journalists from dozens of countries gathered in London on Aug. 4-7, talking about several issues like terrorism and environmental damages while looking for ways to monitor those who stay in power and to find the bad guys in this increasingly worrisome world.

They held the meeting at City University in London. They are members of the International Consortium of Investigative Journalists which was established to encourage cross border investigations.

I also attended the meeting and took the unofficial title of "Mr. Photographer." I captured many moments in my pocket camera. I thought that these pictures might be needed one day. It is a big event when big names in journalism gathered, talking about their works, having lunch while discussing the so-called war on terrorism etc.



Christine Anyanwu of The Sunday Magazine in Nigeria and Maria Cristina Cabalerro, who currently studies at Harvard, talked about investigative reporting in the Third World. Anyanwu talked about financial and human resource difficulties in countries like Nigeria. Cabalerro presented a paper in this workshop on how to develop investigative reporting in countries like her Columbia.



During a lunch break at a canteen. Ying Chan (left) and Steven Gan (white shirt) took turn to fill their plates. Ying Chan currently teaches journalism at Hong Kong University. Gan is a co-founder of Malaysiakini.com in Kuala Lumpur.



Mutegi Njau of The Nation newspaper in Nairobi shared a panel with Mei-Ling Hopgood of Argentina. Mei-Ling used to work on the investigation of the Peace Corps when she was working for the Dayton Daily News. She won an ICIJ award for her investigation. Njau was invited to speak on white-collar crime and corruption in Kenya at a 1994 U.N. conference on crime in Cairo, Egypt. In 1992, Njau worked at The Charlotte Observer while on an Alfred Friendly Press Fellowship.



Bill Marsden is an editor for The Gazette, Montreal's English-language daily. Marsden edited the International Consortium of Investagative Journalists' The Water Waron project. He also assisted in the production of "Dead in the Water," a two-hour documentary which was largely based on the investigations into water privatization.



Rakesh Kalshian is currently working in Katmandu with the Panos Institute. Rakesh comes from New Delhi. He was my classmate when we both got the 1999-2000 Nieman fellow at Harvard University. He is standing outside our Chancery Court Hotel, near the Holborn train station in London. It is a five-star hotel. Phillip Knightley of London even called it a "butique hotel."


Bill Kovach, Roberta Baskin, Rosenthal Alves and Wendell Rawls, Jr. during our lunch break at a City University canteen. Kovach co-writes The Elements of Journalism which is widely seen to be the Bible of journalism --to be politically correct, the "Holy Book" of journalism. He is a former editor of The New York Times and the Atlanta Journal-Constitution. He is also a board member of the ICIJ. Baskin is currently the director of the Center for Public Integrity which administers the ICIJ. Alves is currently the director of the Knight Center for Journalism in the Americas, whose mission is to strengthen journalism in Latin America and the Caribbeans. It is based at the University of Texas in Austin. Rawls is the new head of the ICIJ. He is also a former editor of The New York Times and the Atlanta Journal-Constitution with Kovach. Rawls' book Cold Storage is about mental asylum.

Image hosted by Photobucket.com

Lunch time is always an opportunity to talk more with old and new friends. City University students also joined our lunches, discussing journalism issues or chatting with their colleagues. The students also come from many countries. Some helped organize the conference.


Charles Lewis, the founding director of the Center for Public Integrity, shared a light moment with Phillip Knightley while waiting for the ICIJ Dinner to proceed on Saturday evening. Knightley is the writer of The First Casualty: The War Correspondent as Hero & Myth-Maker from the Crimea to Iraq.


Wendell Rawls awarded the 2002 ICIJ Award for Outstanding International Investigative Reporting to Thomas Maier of Newsday. Maier worked stories on the plight of America's immigrant workers. In his five-part series, "Death on the Job: Immigrants at Risk," Maier exposed the extent of health and safety abuses suffered by immigrants in American workplaces and documented the immigrants' often fatal quest for a better life. Between 1994 and 1999, 4,200 immigrant workers died in workplace-related incidents in the United States, more than 500 of them in the state of New York.

Rawls also handed over to Mei-Ling Hopgood the 2004 ICIJ Award along with her colleague Russel Carollo of the Dayton Daily News. In this seven-part series, "Casualties of Peace," Carollo and Hopgood examine problems in what is often looked upon as an almost sacred institution, the Peace Corps. Their investigation reveals the widespread violence directed at Peace Corps volunteers, who since 1962 have died at a rate of about one every other month.


Sunday brunch at the Chancery Court Hotel. We gathered at the dining hall of the hotel, having autentic English breakfast.


Sunday afternoon, many participants prepared themselves to leave London. We met at the hotel lobby to say good bye. David Kaplan of the US News & the World weekly magazine (left to right), Yossi Melman of Tel Aviv's Ha'aretz daily, Maria Teresa Ronderos of Bogota's Semana magazine and Gustavo Gorriti chatted for a while at the lobby. Gorriti now returns to his homeland Peru after living for a while in Panama and the United States to avoid difficulties with Peru President Alberto Fujimori.


Phillip Knightley (second left) held a birthday party in a Turkish restaurant for two of us, Ritu Sarin of New Delhi (red shirt on the right) and me. Ritu and I happened to have our birthday on Aug. 7. Leonarda Reyes of San Miguel de Allende helped organize this small gathering as most participants have already left London. Reyes used to manage TV Azteca in Mexico. Good food! Good conversation!

Friday, August 05, 2005

Bagaimana Cara Rekrut Wartawan?

Selama tiga atau empat tahun ini, saya sering bicara dengan redaktur media, yang mengeluh karena wartawan mereka banyak yang tak bisa menulis. Jakob Oetama, orang nomor satu Kelompok Kompas Gramedia, bilang bahwa wartawan Kompas banyak yang belum bisa menulis. Goenawan Mohamad dari Grafiti Pers, yang menguasai kelompok Tempo dan Jawa Pos, mengatakan ia tak pernah punya "lebih dari 10 orang penulis" di majalah Tempo.

Bagaimana sih mencari dan merekrut wartawan baru yang kelak terbukti bisa bikin reportase dan penulisan bagus?

Saya kebetulan bertemu Wendel "Sonny" Rawls Jr., mantan wartawan dan redaktur The Philadelphia Inquirer, The New York Times serta The Atlanta Journal, tentang bagaimana cara mencari reporter. Sonny terkenal bertangan dingin dalam mencari dan mendidik wartawan muda.

Kami bertemu di Hotel Renaissanche Chancery Court di London, mengobrol panjang-lebar, lalu saya minta izin mengutip omongannya Rabu lalu.

Sonny misalnya, merekrut James Newton sebagai reporter The Atlanta Constitution. Sekarang Newton redaktur The Los Angeles Times. James Newton diperkirakan bakal jadi "James Reston" --kolumnis legendaris di Washington DC pada zaman Perang Dunia II.

Sonny juga menulis buku Cold Storage (1980) tentang orang gila dan rumah sakit jiwa. Ia mengerti psikologi. Ia juga mengerti banyak soal kriminalitas. Sonny menulis naskah film seri Law & Order.

Sonny juga partner Bill Kovach di The New York Times dan The Atlanta Constitution. Kalau Kovach adalah panglima, maka Sonny adalah orang yang mengurus keperluan rumah tangga dan operasi suratkabar.

Bagaimana cara merekrut wartawan?

Menurut Sonny, ia biasa minta wartawan yang melamar ke tempatnya untuk mengirim 10 contoh laporan. Ia minta news stories, bukan feature, baik dengan struktur piramida terbalik atau piramida (Sonny paling suka dengan struktur piramida).

"Saya baca lead dulu dan tiga alinea pertama. Apakah beres atau tidak? Kalau beres, mudah dicerna, jelas, jernih, saya akan baca the end of the stories."

Ini penting untuk mengetahui apakah si pelamar bisa menghubungkan lead dengan ending laporannya. Sonny bisa menilai kemampuan logika si pelamar dari hubungan awal-akhir ini.

"I want to know whether they have really have strong understanding," katanya.

Bila tidak sambung, bila tak jernih, ia memutuskan menolak si pelamar. Bila sambung, maka Sonny akan membaca semua naskah, dari alinea awal hingga akhir, semua 10 laporan itu. Bila laporannya baik atau menjanjikan, maka Sonny akan mewawancarai si pelamar.

Sonny menyebut nama-nama wartawan yang pernah diwawancarainya, bagaimana mereka membangun karir, mula-mula di tempat Sonny namun pindah ke media lain. Ia juga tahu bagaimana orang macam James Newton tak menarik buat redaktur lain --bahkan mulanya ditolak The Los Angeles Times-- tapi tidak bagi Sonny.

"James is not a selling person. Dia tidak bisa menawarkan dirinya dengan baik," kata Sonny.

Charles Lewis, mantan wartawan CBS dan pendiri Center for Public Integrity di Washington DC, mengatakan, "Sonny Rawls is a legend."

Sonny mampu memotivasi reporter. Sonny sendiri pernah mendapat Pulitzer Prize pada 1977. Ketika memegang ruang redaksi Atlanta, ia juga menugaskan wartawan-wartawan meliput macam-macam isu dimana empat di antaranya dapat Pulitzer.

Bila sudah baca, ia akan mewawancarai si pelamar. Mulai dari karir mereka serta kehidupan mereka.

"What kind of books they read?"

"What they do when they're not working?"

Saya tanya kenapa kegemaran orang pun ditanyanya.

Apa makna seorang wartawan yang suka memancing misalnya?

Menurut Sonny, pemancing artinya orang yang "kontemplatif." Ia orang yang suka berpikir dengan dalam.

Tapi Sonny tak suka dengan wartawan yang merokok dengan pipa. "Too slow thinking," katanya, menirukan gaya orang mengisap pipa.

Contohnya?

Sonny menunjuk Max Frankel, mantan redaktur eksekutif The New York Times, yang mengepalai biro Washington harian The New York Times pada awal 1970-an. Frankel memang perokok pipa.

Frankel terkenal gara-gara ia kalah dalam liputan skandal Watergate dari harian The Washington Post dengan duet Bob Woodward dan Carl Bernstein. Presiden Richard Nixon akhirnya mundur gara-gara Watergate.

"Ben Bradlee tidak merokok pipa," kata Sonny, merujuk pada redaktur eksekutif The Washington Post. Bradlee memimpin Woodward dan Bernstein untuk mendalami Watergate.

"Frankel bekerja pelan sekali. Kami dihajar habis-habisan oleh Bradlee," kata Sonny.

Saya ingat bahwa di Jakarta maupun kota-kota lain, kebanyakan media besar melakukan seleksi wartawan lewat tes psikologi dan melibatkan orang-orang personalia (lebih dulu) sebelum segelintir yang lolos diwawancarai para redaktur. Menariknya, proses lamaran sering kali tanpa melibatkan tulisan si pelamar. Lebih sering malah tes psikologi.

Sonny tak peduli dengan tes psikologi. Ia bilang media bermutu macam The New York Times atau The New Yorker belum pernah pakai tes psikologi. Wartawan harus dites lewat tulisannya. Beberapa media lain, misalnya The Philadephia Inquirer, memakai tes psikologi. Sonny tak keberatan dengan tes ini namun ia juga tak peduli.

Menurut Sonny, mencari wartawan adalah seni. Ia harus dilakukan sendiri oleh redaktur-redaktur puncak media bersangkutan. Mereka harus tajam mencari wartawan muda yang berbakat. Tulisan adalah utama.

Ketika bekerja dengan Kovach, entah Kovach atau Sonny sendiri yang melakukan rekrutmen. Kalau ada lowongan, mereka tak memasang pengumuman, tapi melakukan talent scouting di media kecil.

Saya senang bicara dengan Sonny. Saya kira cara-cara ini bisa dipakai sebagai bahan perbandingan di Jakarta. Di kalangan media Jakarta, jarang sekali ada lowongan pekerjaan yang minta si pelamar mengirim contoh tulisan. Kebanyakan yang diminta Indek Prestasi 2.75 bahkan 3 (padahal semua universitas kita jelek) atau bisa bahasa Inggris (saya setuju).

Nurman Jalinus dari Bisnis Indonesia pernah bilang bahwa sekali kita salah rekrut, maka seumur hidup kita harus membayari gaji seseorang yang tak bisa menulis dan tak banyak berguna untuk ruang redaksi kita.

Bagaimana bisa mendapat wartawan yang bisa menulis ketika rekrutmennya tanpa tulisan?

Saya kira mungkin sudah saatnya cara rekrutmen diganti.

Tuesday, August 02, 2005

Orang Kidal, Rumah Marx dan Bom

Hari kedua jalan-jalan selama delapan jam, dari Hyde Park, Picadily Circus hingga Soho dan Oxford Street. Awak juga makan siang di Gerrard Street, ini Chinatown di London.

Awak berjuang keras untuk cari Chinatown, karena sudah tidak tahan, lama sekali, tidak makan nasi: satu hari, satu malam!

Mungkin makin tua makin tak bisa berubah kebiasaan ya?

Adriana Sri Adhiati, aktivis dari Down to Earth, tertawa ketika tahu awak harus cari nasi. "Sudah lama banget tuh," kata Adriana. Kami sempat makan malam bersama. Adriana sejak 1998 tinggal di London, mulanya sekolah, lalu menikah dengan satu pria Jerman.

Orangnya enak diajak bicara. Ia sempat curhat karena bantuan dari kampanye tsunami untuk mahasiswa Aceh di Inggris, yang kiriman terhenti karena tsunami, ternyata belum cair juga dari kedutaan Indonesia di Inggris.



Di daerah Soho, tempat paling hip di London, awak sempat melihat toko yang khusus menjual barang-barang untuk orang kidal. Dari gunting, ballpoint bahkan jam dinding pun juga kidal. Artinya, jarum jam berputar arah balik dari jam biasa!

Mereka juga jual buku-buku soal perkidalan. Awak sempat intip, kira-kira siapa saja, orang kidal bernama besar. Ternyata banyak sekali ya. Awak jadi ingat nasib teman-teman awak yang alamiah kidal tapi dipaksa pakai tangan kanan. Menderita sekali.

Oh ya, siapa tokoh kidal paling beken? Menurut Anything Left Handed, ia adalah George Michael, penyanyi pop, yang beken itu.



Di Soho, awak juga menemui satu restoran bernama Quo Vadis, yang menunya bikin awak kembang kempis!

Menariknya, rumah batubata merah ini dulu pernah ditinggali oleh Karl Marx (1818-1883), pemikir serius yang menulis karya klasik Das Capital. Marx dan keluarganya tinggal di rumah ini, di lantai dua, pada 1851 hingga 1856. Rumah ini terletak pada 28, Dean Street.

Menurut buku Lonely Planet, seorang agen real estate pernah mengunjungi Marx disana. Ia melaporkan bahwa debu disana bisa dipakai buat menulis. Namun berbicara dengan Marx serta isterinya, Jenny, sangatlah memikat.



Suasana London juga masih dicekam bom 7 Juli 2005. Awak memotret headline yang ditawarkan Evening Standard, harian sore terbitan London. Ia terbit, kalau awak tak salah, lebih dari dua kali dalam sesore. Isinya, berat dengan berita soal London.

Hari ini, awak lihat "Police Raid London Homes" pada siang hari, headline Evening Standard, tapi sorenya, awak sudah baca headline lain lagi, tentang ditutupnya satu poros jalan karena ada bus double-decker yang mengeluarkan asap.

Harga satu eksemplar Evening Standard adalah 40 Pence sekitar Rp 5,000. Koran tipis, ukuran kecil, berita pendek-pendek, jarang ada berita nasional atau internasional.

Monday, August 01, 2005

London Hari Pertama

Senin subuh ini, awak tiba di airport Heathrow dekat London dengan isi kepala awak bakal menikmati "a London summer" --jalan-jalan di Hyde Park, berbaring dekat Trafalgar Square-- tapi, diamput, sontoloyo, di luar ternyata suhunya 14 derajad Celsius.

Buat kulit Cina Betawi gini, ya mana tahan. Apalagi harus segera pontang-panting cari tiket kereta api bawah tanah (orang London panggilnya "the Tube"), tukar dollar ke poundsterling (disebut "Quit"), dan kedinginan mencari rumah Ms. Dilys Harris dekat stasiun Fulham Broadway.

Perlu adaptasi. Perlu belajar karena ini pertama kali awak pergi ke London.

Siapakah Ms. Harris?

Awak juga baru kenal tadi pagi. Ms. Harris 100 persen orang asing buat awak, juga sebaliknya.

Alasannya begini. Kepergian ini, separuhnya biaya sendiri di luar harga tiket dan visa. Awak mau reportase untuk buku awak sambil memanfaatkan undangan sebuah konferensi tentang investigative reporting.

Kalau tidur di hotel, alamak, mesti siap-siap minimal $180 dollar per malam atau sekitar £120. Mahal bukan? Padahal kantong awak ini ya ukuran Betawi. Ini ukuran kawula Indopahit yang berat setengah mati, lha untuk bayar ongkos hidup di Betawi saja susah (bukankah kitorang sering bilang, Indonesia adalah keturunan kerajaan Majapahit? Jadi awak ciptakan nama baru buat olok-olok di kalangan teman-teman awak, ini nama Kerajaan Indopahit)

Maka riset lewat internet, awak jadi kenal dengan Ms. Harris. Ini lewat jasa London Homestead Services yang membantu marketing jasa penginapan.

Ms. Harris seorang pensiunan "child minder" atau di Betawi kita sebut "pengasuh anak" tapi ini anggota kelas menengah Inggris. Ia punya rumah kecil dari batu bata merah, anaknya juga sudah menikah dan punya rumah sendiri, maka kamar anaknya ia sewakan buat kantong Indopahit macam awak. Sewanya murah, £20 per malam (tapi ini akan naik).

Enak, nyaman, bersih, tak kalah dengan hotel. Ms. Harris bahkan super bersih sampai awak agak takut bikin kotor rumahnya. Ia sempat bilang anak-anak bagaimana pun lebih kotor. Makan roti pun, awak kuatir remah-remahnya jatuh di meja.

Lebih dahsyat lagi, kitorang bisa mengenal kehidupan orang London. Ini beda dengan tinggal di kamar hotel. Ms. Harris, pagi-pagi malah mengajar awak logat Cockney --ini slang enak, berat, gurih ala Scotland.

Bagaimana soal bom di tube pada 7 Juli lalu yang bikin mati lebih dari 50 warga London?

Nah, ini juga yang langsung dibicarakan Ms. Harris. Harian dan radio memberikan kewaspadaan pemerintah kota London terhadap kemungkinan bom kedua muncul di tube.

Sekarang tas tangan pun bisa diperiksa polisi. "I consider my handbag my privacy. They cannot open my handbag," katanya. Ms. Harris keberatan. Ia kuatir dengan kebebasan warga London bila kejadian-kejadian ini terulang lagi.

Awak cuma manggut-manggut. Namun jalan-jalan di Hyde Park dan Trafalgar Square menghapus kekuatiran itu.

Enak tuh! Bahkan awak ketika cari toilet dekat Katedral St. Paul, seorang polisi menemani awak mencari toilet terdekat --sekitar 70 meter dari tempatnya berdiri. Dekat Trafalgar Square, seorang polisi yang baru tiba dari Scotland, menyediakan diri meradio teman-temannya ketika awak minta ditunjukkan bar Sherlock Holmes --dia tak tahu karena baru pindah semalam.

Ya beginilah, cerita enteng hari pertama di London.

Seriusnya, awak pergi wawancara Carmel Budiardjo, pendiri organisasi hak asasi manusia Tapol, di daerah Thornton Heath, pinggiran London. Senang juga bertemu dengan Carmel yang sudah berumur dan mendapat kutipan-kutipan yang kritis soal Indopahit.

Carmel pada 1965 hingga 1971 dipenjara rezim militer Orde Baru. Pada 1973, ia mendirikan Tapol, organisasi hak asasi manusia yang memperjuangkan pembebasan para tahanan politik. Tapol belakangan juga banyak kampanye soal kemerdekaan Timor Leste pelanggaran hak asasi manusia di Aceh dan Papua.

Rumahnya kecil. Rumah Carmel juga merangkap kantor Tapol. Dua lantai. Kantor Tapol cuma satu ruang kecil di lantai dua. Awak wawancarai Carmel untuk keperluan buku awak, "From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism."

Capek ah, ini warnet dekat rumah Mrs. Harris ramai dengan orang Filipina, Uganda, Afrika Selatan, Karibia dan lain-lain. London memang multi etnik pada hari pertama ini.

Nanti deh setelah ikut konferensi tentang investigasi, awak akan bagi-bagi bahan ke temen-temen di Betawi. Sekarang awak mau lihat-lihat dulu sejarah London.



Rumah Ms. Dilys Harris, 21 Harold Wilson House, Clem Attlee Court, Fulham, London SW6 7SN. Ia terletak pada dua lantai teratas dekat pintu masuk. Kamar kecil, bersih dan harga bersaing.



Carmel Budiardjo di kamar kerjanya di daerah Thornton Heath, pinggiran kota London. Ia mendapat The Right Livelihood Award pada 1995. Mulanya Carmel memperjuangkan kebebasan para tahanan politik 1965 tapi belakangan ikut kampanye perjuangan hak asasi dan keadilan di Timor Leste, Papua dan Aceh.