Monday, August 29, 2005

Republik Indonesia Kilometer Nol


Oleh Andreas Harsono


PADA 1926, seorang wartawan yang tinggal di Batavia, nama Jakarta di zaman kolonial Belanda, menulis laporan perjalanannya dari Batavia ke Amsterdam nun jauh di benua Eropah. Dia Adi Negoro. Dalam buku Melawat ke Barat, ia bercerita tentang persinggahannya di macam-macam kota, antara lain Singapura, Colombo, Aden, Port Said, Marseille, Gibraltar, dan lain-lain. Laporannya memikat karena Adi Negoro menggabungkan cerita sehari-hari dengan acuan berbagai bacaan klasik, dari antropologi hingga theologi, dari sejarah hingga filsafat.

Salah satu tempat pemberhentiannya adalah pelabuhan Sabang di Pulau Weh, di ujung Sumatra, ketika kapal Tambora berhenti untuk mengisi bahan bakar batubara. Adi Negoro berkeliling Sabang dan membandingkan Sabang dengan Singapura milik Inggris yang baru saja disinggahinya.

“Tapi kalau menilik kepada pelabuhan saja, Sabang lebih bagus dari Singapura. Hanya perkara letaknya saja kurang baik. Biarpun pemerintah Belanda menjadikan Sabang satu pelabuhan bebas, tiadalah akan seramai Singapura, sebab letaknya jauh dari pusat perdagangan di Asia Timur.”

Dia juga menulis sedikit sejarah Sabang. Menurut Adi Negoro, Belanda menguasai Sabang sejak 1887. Sabang Maatschappij, sebuah perusahaan swasta, diberi wewenang untuk mengelola pelabuhan bebas tersebut, sekaligus membangun dermaganya antara 1896 dan 1911. Ia dilengkapi dengan dok perbaikan kapal seberat 2.600 ton. Ia juga punya empat derek raksasa untuk menaikkan batubara ke kapal-kapal yang berhenti di Sabang, dari Eropa, Cina, Jepang, Singapura, Batavia, dan sebagainya. Pada 1924, perusahaan ini membangun dok lagi, seberat 5.000 ton, untuk meningkatkan kapasitas perbaikan kapal.

“Penduduk Sabang hidup terutama sekali karena pelabuhan itu. Kampung Tionghoa dekat pelabuhan itu penuh dengan toko-toko dan warung-warung makanan. Di belakang tempat membongkar batubara adalah tangsi kuli. Di tepi laut berdiri kantor-kantor maskapai kapal Rotterdamsche Llyod dan Maatschappy Nederland,” tulisnya.

Apa yang tak diungkap buku itu adalah Sabang sebagai bagian dari Aceh –sebuah wilayah yang melawan pendudukan Belanda antara 1876 dan 1904. Belanda membangun Sabang bukan hanya karena minat dagang tapi juga untuk menjinakkan orang Aceh. Entah mengapa Adi Negoro tak menyentuhnya.

Juni 2003, saya naik speedboat selama satu jam dari Banda Aceh menuju Sabang. Dermaga Sabang ternyata cantik sekali dengan perahu-perahu nelayan. Di pinggiran dermaga ada gudang-gudang beratapkan seng. Depan pelabuhan ada masjid dengan kubah mengkilat, menara warna putih hijau, juga rumah-rumah yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Saya ingin melihat apa yang sekitar 80 tahun lalu jadi kekaguman Adi Negoro. Di luar pelabuhan ada jalan kecil dan 300 meter lagi ada kawasan “Kampung Tionghoa” di Jalan Perdagangan.

Di luar pelabuhan, seorang pengemudi becak mesin mendekati saya dan menawarkan tumpangan.

“Ini pohon apa, Pak?” tanya saya.

“Pohon morai. Ada 300 tahun. Sudah tua,” kata Liyan Ramli, pengemudi becak itu. “Ada yang lebih besar lagi di depan (kantor) walikota. Berderet tuh. Ada 300 tahun.”

Sabang memang hijau. Nama Latin tumbuhan ini adalah Pithecellobium dulce. Ia banyak ditemukan di Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan konon asalnya dari Amerika Tengah. Dalam bahasa Inggris disebut guayamochil atau Manila tamarind. Di Indonesia disebut dengan beberapa nama: Asam Belanda, Asem Londo, asam koranji.

Pada zaman Adi Negoro, Singapura lebih besar dari Sabang, tapi perbedaannya kontras sekali hari ini. Singapura kini salah satu pelabuhan laut tersibuk dan termodern di dunia sedang Sabang, ironisnya, jadi mengecil, bahkan makin kurang pelayanannya dibanding 1926. Singapura sekarang berpenduduk empat juta orang sedang Sabang hanya 22.000.

Walikota Sabang Sofyan Haroen mengatakan pada saya bahwa pada zaman Belanda, Sabang memiliki dermaga dengan panjang total 2.700 meter. Sekarang hanya 572 meter. “Artinya kita mundur 100 tahun,” kata Sofyan.

Ketua DPRD Sabang Husaini berujar, “Djubir Sahi, ketua Badan Pengelola Kawasan Sabang, sering menunjukkan foto Sabang zaman Belanda di mana pada Teluk Sabang ini bisa menampung hingga 60 kapal. Sekarang berapa? Pemerintah kurang memberi perhatian pada Sabang. Dulu derek peti kemas yang pertama ada di Sabang –sebelum ada di Singapura, Jakarta atau Surabaya.”

Keluhan ini makin menjadi-jadi terutama karena Presiden Soeharto membubarkan status pelabuhan bebas Sabang pada 1985 dengan alasan banyak “penyelundupan” --walau tuduhan ini dibantah warga Sabang termasuk Sofyan Haroen dan Husaini. Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan status bebas ini tiga tahun lalu.

Saya mengunjungi Sabang bukan hanya karena kecantikan atau kekalahannya dari Singapura. Sabang memainkan peran penting dalam pemikiran politik warga Indonesia. Sabang terletak di ujung paling barat Republik Indonesia dan nama “Sabang” sendiri disebut dalam lagu nasional “Dari Sabang Sampai Merauke.” Liriknya mengatakan Indonesia terdiri dari pulau-pulau, dari Sabang sampai Merauke, tapi merupakan satu kesatuan. Semua anak sekolah tahu menyanyikan lagu ini.

Frase "Sabang-Merauke" ini juga sering disebut tiap kali Jakarta menghadapi pemberontakan daerah, termasuk Aceh dan Papua, yang benihnya bersemai puluhan tahun lalu tapi memanas lagi sesudah jatuhnya Soeharto pada Mei 1998. Pemberontakan Aceh jadi terlihat paling serius sesudah Indonesia kehilangan Timor Timur dalam referendum Perserikatan Bangsa-bangsa pada September 1999. Timor Timur sudah merdeka. Masakan Aceh dibiarkan merdeka? Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menggantikan Wahid, akhirnya menyatakan darurat militer untuk Aceh sejak 19 Mei lalu. Keputusan ini tampaknya cukup populer mengingat meningkatnya rasa kebangsaan di Indonesia.

Hari kedua di Sabang, saya menyewa sepeda motor dari Losmen Sabang Merauke untuk mengunjungi sebuah monumen di Ujong Batu, sekitar 30 km dari Sabang, yang disebut Monumen Republik Indonesia Kilometer Nol. Monumen ini simbol dari kesatuan wilayah Indonesia.

Ketika tahu tujuan saya, si pemilik motor kuatir dan minta seorang kawannya menemani. Bagaimana pun Sabang adalah wilayah konflik Aceh. Setiap hari ada berita warga Aceh meninggal tertembak. “Apa ada GAM?” tanya saya. Dia bilang tak ada tapi kita harus hati-hati. Saya dengan sopan menolak tawarannya. Saya ingin punya privacy. Saya ingin menikmati kesendirian saya.

GAM singkatan “Gerakan Aceh Merdeka” –sebuah jaringan gerilyawan yang mengupayakan pemisahan Aceh dari Jakarta. Kehadiran mereka sebenarnya tak begitu terasa di Pulau Weh walau polisi bilang di pulau ini ada “20 GAM benaran” dengan empat pucuk senjata api.

Tapi ada rasa kuatir begitu saya keluar dari Sabang. Saya melihat instalasi listrik dijaga polisi. Saya juga berpapasan dengan satu truk tentara, bersenjata lengkap, berseragam rimba, dan berjaket anti peluru. Seram. Mukanya dicoreng-coreng. Makin jauh dari Sabang, makin saya memasuki daerah pedesaan.

“Kilometer Nol mana Bu ya?” tanya saya pada dua orang perempuan desa.

“Masih jauh. Ikuti saja jalan ini sampai ujung.”

Saya teruskan dan daerahnya makin lama makin sepi. Pantai Iboih. Hutan wisata. Pohon-pohon tinggi. Ada pakis-pakisan, kuping gajah, bunga hutan warna merah, dan daun-daun kering menutupi badan jalan. Sempat juga bertemu serombongan monyet bermalas-malasan di pinggir jalan hutan. Mereka kaget melihat saya. Sebaliknya bulu kuduk saya merinding. Habis sepi sekali! Monyet terbesar duduk mengangkang sehingga penisnya kelihatan.

Menjelang puncak, saya melewati pos militer. Dua tentara dari Pasukan Khas Angkatan Udara menghentikan saya dan sopan minta kartu identitas. Saya jelaskan bahwa saya seorang wartawan dengan surat izin lengkap. Semua dokumen beres. Kami pun mengobrol. “Apa tidak bosan tiap hari hanya berdua di tempat terpencil begini?”

“Waktu kita ya jaga saja. Ya gini-gini saja. Baca koran,” kata Prajurit Satu Wahyu Hanes. Rekannya, Prajurit Satu Sutrisno, mengatakan mereka tiba dari Malang, Jawa Timur, dan ditempatkan di Pulau Weh sejak Desember 2002. Belum pernah ada kontak senjata. Mereka bahkan jarang bertemu orang. Pengunjung hanya datang pada hari libur. Seorang turis Jerman bahkan mengunjungi mereka beberapa hari sebelumnya dengan bersepeda.

“Waktu baca koran tentang orang Jerman yang tertembak, saya pikir jangan-jangan dia,” kata Sutrisno, mengacu pada Luther Hendrick Albert Engel, seorang pengembara Jerman, yang tertembak mati oleh sembilan tentara Indonesia ketika berkemah di sebuah pantai di Aceh bagian barat seminggu sebelumnya. Engel hendak tidur di pantai bersama istrinya. Mereka dikira gerilyawan dan langsung ditembak. Pemerintah Jerman maupun Indonesia menyimpulkan peristiwa tersebut kecelakaan.

Empat kilometer kemudian tampak sebuah papan berbunyi, “Anda memasuki kawasan KM Nol Negara Republik Indonesia.” Saya terpesona. Pemandangan cantik sekali. Sejauh mata memandang hanya laut biru, ombak tenang, tak ada pulau satu pun, dan di kejauhan terlibat sebuah kapal kayu mungil. Suara angin laut menderu-deru. Tempatnya sepi dan indah, terletak di balik sebuah bukit, dalam sebuah kawasan hutan lindung di ujung Pulau Weh. Ibaratnya, selembar surga ditanamkan di muka bumi. Saya jatuh cinta dengannya. Ada perasaan tenang, sendu, dan teduh.

Image hosted by Photobucket.com
Monumen Republik Indonesia Kilometer Nol - Agustus 2005

Tempat ini modelnya melingkar dengan diameter sekitar satu kilometer. Di tengah ada monumen berwarna putih. Di puncaknya terdapat angka “0” (nol). Ada prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografis tempat ini: Lintang Utara 05 54’ 21,99’’ Bujur Timur 95 12’ 59,02.’’

Inilah kilometer pertama Republik Indonesia.

Saya duduk dan berpikir. Apa makna Indonesia di tempat sesepi ini? Nasionalisme macam apa yang diinginkannya? Apa makna simbol ini ketika begitu banyak warga Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dari petani hingga gerilyawan, dari aktivis hingga pengusaha, melawan apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan dari Jakarta?

Di Sabang, saya lihat banyak tempat diberi nama keindonesiaan-indonesiaan. Ada “Stadion Sabang Merauke” atau “Yayasan Sabang Merauke” yang mengelola “Taman Kanak-kanak Malahayati” bahkan warung telekomunikasi “Sabang Merauke” –pemberian nama yang seakan-akan menggambarkan ada ikatan emosional antara semua warga “Sabang” dan semua warga “Merauke” nun jauh di Papua, ujung timur Indonesia.

Image hosted by Photobucket.com
Laut Hindia dari Kilometer Nol - Agustus 2005

Tapi jika hubungan itu ada, mengapa ada pemberontakan besar di seluruh Aceh? Mengapa banyak orang Aceh, setidaknya menginginkan “otonomi khusus” atau bahkan “kemerdekaan” dari Jakarta? Mengapa banyak warga Sabang macam Liyan Ramli, atau pedagang perabot rumah Nyik Siti Absyah, atau penjual roti Su Sien Jin, merasa getir dengan keputusan Jakarta mencabut status pelabuhan bebas Sabang pada 1985?

Dalam buku klasiknya, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, ilmuwan politik Benedict Anderson mengatakan bahwa “negara-bangsa” adalah sebuah pemahaman tentang komunitas maya. Sebuah komunitas yang sebenarnya adalah sebuah tempat di mana warganya tahu sebagian besar warga lain. Dalam “negara-bangsa,” bahkan seumur hidup pun, seorang warga negara tak tahu sejumlah besar warga lainnya.

Tapi justru itulah letak daya gaib nasionalisme. Liyan Ramli mengatakan dia tak pernah membayangkan kota Merauke. “Saya cuma pernah Jakarta, Jambi, Banda Aceh, dan Sabang,” katanya. Namun lewat media, termasuk lagu “Dari Sabang Sampai Merauke,” orang-orang macam Liyan ini mendapatkan semacam perasaan saling memiliki. “Bangsa” adalah sebuah proses, bukan sebuah produk. Proses inilah yang tampaknya kurang kita perhatikan. Kesibukan melakukan “pembangunan” dan mengatur semuanya dari Jakarta, membuat proses ini terbengkalai, sehingga nasionalisme lama yang ada bukannya membesar tapi mengecil. Hujan pun turun rintik-rintik.

Entah kebetulan, dalam kesendirian di tempat terpencil ini, saya berjalan-jalan sekitar monumen dan menemukan bahwa sebuah patung Garuda Pancasila sudah terlempar jatuh dari lambang tanduk angka “0.” Tak ada lambang keindonesiaan lagi di sana. Apa ini sebuah pertanda gaib keruntuhan Republik Indonesia? Ketika turun ke Sabang, saya juga sadar bahwa nama “Sabang-Merauke” buat Liyan Ramli hanyalah berarti pangkalan becak mesin depan Losmen Sabang Merauke. Hanya itu. “Bapak bisa mencari saya di sana,” kata Liyan. Praktis. Tidak lebih tidak kurang. Daya gaib nasionalisme terkadang bisa menyusup hingga jauh ke dalam ruang bawah sadar manusia. Nasionalisme adalah sebuah proses menjadi “bangsa” yang justru jadi gamang ketika merasa tujuannya sudah tercapai.


Naskah yang lebih panjang bisa klik lewat majalah Pantau edisi Desember 2003

4 comments:

Anonymous said...

Asyik betul saya baca tulisan ini sambil mendengarkan campursari. Thanks!

Saran saya coba lihat sabang dgn Google Earth. Ini software free. Bisa di download di web site google.

Ah, andai anak sekolah di indonesia bisa belajar geography dg google earth.

Mungkin mereka lebih sayang nusantara kita ini yaa???

salam dari jogja
Jakal KM 13
WONG JOGJA

Michael Risdianto. said...

Tulisan-tulisan Anda selalu menarik. Luar biasa tepatnya. Jika Mas Andreas tidak keberatan sudilah kiranya sekedar mampir ke blog saya. Terimakasih http://inwordsandpics.blogspot.com

Salam,
Michael Risdianto

bocah said...

sebagai tambahan mengenai tugu kilometer nol, kita mengenal "tugu kembar" sabang-merauke, namun sebenarnya tugu yang anda tulis bukanlah merupakan "tugu kembar" yang sesungguhnya, selengkapnya bisa disimak di http://b0cah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=694&Itemid=45
semoga bermanfaat

Irna Ch said...

Tulisan ini sudah saya baca hampir sepuluh kali dan saya tidak bosan-bosan.