Monday, May 23, 2005

Kelas Kedua Pelatihan Bisnis Indonesia

Kelas kedua pelatihan harian Bisnis Indonesia berlangsung antara 9 sampai 20 Mei 2005. Agus Sopian dan aku kembali melatih 18 wartawan Bisnis. Materi kurang lebih sama: Jimmy Breslin “It’s an Honor,” Bill Kovach soal sembilan elemen jurnalisme maupun laporan-laporan kami sendiri.

Aku memakai contoh soal “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah maupun karyaku sendiri soal privatisasi PAM Jaya. Kami membahas ramai esai soal bias media Jakarta terhadap liputan tsunami, “Indonesian Media Bias in Covering the Tsunami in Aceh.” Ini esaiku sendiri yang dimuat Nieman Reports.

Kami juga sempat diskusi mengapa perubahan di harian ini rasanya lambat sekali. Kami sudah mengajar dua bulan namun model penulisan masih kering, masih sedikit feature, masih dominan piramida terbalik.

Kami juga kuatir dengan banyaknya pemakaian sumber anonim dengan istilah "sumber Bisnis." Aku kira sudah saatnya praktek sumber anonim ini dilihat ulang secara menyeluruh. Martin Sihombing, salah seorang redaktur, bahkan mengajak kami diskusi soal kasus Newsweek yang melaporkan ada interogator Guantanamo memasukkan Quran ke lubang toilet. Ia juga berasal dari satu sumber anonim.

Mereka menjelaskan bahwa perubahan ini menunggu sampai keempat kelas selesai ikut pelatihan semua.

Friday, May 20, 2005

Wartawan Mahasiswa

Selama dua atau tiga tahun terakhir ini, sejak pulang dari Nieman Fellowship di Harvard, terutama sejak aku ikut dengan majalah Pantau, rasanya aku sering diajak diskusi oleh para wartawan mahasiswa. 

Aku kira ini penting sekali karena anak-anak muda inilah yang kelak akan mengisi ruang-ruang redaksi media di kawasan ini. Aku suka diskusi dengan mereka. Aku kira aku juga orang yang berutang pada guru-guruku, dari Arief Budiman hingga George Aditjondro, dari Liek Wilardjo hingga Goenawan Mohamad, dari Seth Mydans hingga Bill Kovach. Aku harus meneruskan tradisi mentor yang penuh kesabaran ini kepada wartawan-wartawan mahasiswa. 

Mulanya, aku malu karena tak terbiasa diajak diskusi. Ketika bekerja untuk The Nation, aku praktis jarang berhubungan dengan wartawan disini, selain teman-teman dekat. Kini aku berusaha untuk selalu membuka pintu untuk wartawan mahasiswa. Terkadang untuk bimbingan skripsi mereka. Terkadang diskusi masalah yang aneh-aneh. Terkadang mencari tumpangan menginap di Jakarta. Ada juga yang datang untuk curhat soal kehidupannya. Soal orang tua cerai. Soal putus dengan pacar. Soal kehabisan duit. Macam-macam deh. 

Mereka umumnya menyenangkan. Sesekali tapi aku juga jengkel karena kehabisan waktu untuk menulis. Padahal urusan buku benar-benar mendesak. Deadline! Deadline! Deadline! Tapi memang inilah tarik ulur kehidupan. Prinsip, pintu harus senantiasa terbuka. 

Aku sering berpikir kelak mereka jadi apa ya? Sebagian dari mereka aku kira akan jadi wartawan. Sebagian mungkin tak mau jadi wartawan. Mudah-mudahan semuanya jadi orang yang bahagia. Tapi menyenangkan sekali bisa berbagi waktu dan pikiran dengan orang-orang muda ini. 


Andriyani, Leny Nuzuliyanti dan Muhamad Sulhanudin (dari kiri ke kanan) dari majalah Hayamwuruk, Universitas Diponegoro, Semarang. Mereka lagi bikin liputan "sastra Islami" di Jakarta sekalian mampir di tempatku. Mereka juga ke Bandung dan mampir di rumah Agus Sopian, rekan dari Yayasan Pantau. 

Aku sering meledek Udin, Leny dan Andri, agar meliput isu yang lebih mendesak macam pelanggaran hak asasi manusia Acheh atau gerakan kemerdekaan di Papua, ketimbang mencari bahan-bahan diskusi tentang sastra. Udin adalah organizer sebuah kursus jurnalisme sastrawi untuk mahasiswa beberapa bulan lalu (lagi-lagi soal sastra!). Ia organizer yang hebat. Billy Antoro dari IKIP Jakarta tak terlihat dalam foto. 

Leny kebetulan menyebutkan umur ayahnya. Ayahnya bekerja di Jakarta dan sempat mengantar Leny ke tempatku. Aku tiba-tiba merasa tua. Umur ayah Leny hanya terpaut empat tahun dengan umurku! 

Leny menimbulkan revolusi kecil dalam pikiran. Aku mulai merasa aneh dipanggil, "Mas Andreas" atau "Bang Andreas" atau "Kak Andreas." Umur ayah mereka bisa jadi sebaya dengan umurku? Bukan keberatan --aku lebih suka dipanggil nama saja-- tapi merasa aneh. I am getting older. These kids could be my sons or daughters

Oh ya, kenapa tak ada yang menyapaku "Ko' Andreas"? 

Dalam politik etnik yang pekat ala Orde Baru, bukankah aku bisa dikategorikan sebagai orang "Tionghoa" atau "Cina" atau "non pribumi" dimana sapaan umumnya adalah "koko"? Tapi lebih tepat lagi, kalau mengingat umur, walau aku bakal merasa lebih aneh, adalah sapaan "giugiu" atau "encek"? Keduanya berarti paman atau oom, masing-masing dalam bahasa Hakka dan Hokkian. "Cek Andreas" atau "Giu Andreas" atau setidaknya "Oom Andreas." 

Aneh banget! Tapi politik sapa-menyapa di Jakarta memang aneh banget. Lebih ringan di Amerika sono. Semua sapa nama saja. 


Eva Danayanti, Heni Fuji Astuti, Aulia Marti, Yudi Nopriansyah dan Ahdika Fitrarianto (dari kiri ke kanan) lagi diskusi soal persiapan kursus pers mahasiswa di Lampung dan Pontianak. Eva, Heni dan Yudi dari majalah Teknokra, Universitas Lampung, sedang Lia dan Dika dari Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Kami mengobrol di apartemenku. 

Yudi dan Heni punya ide menarik tentang bikin suatu workshop buat 15 wartawan mahasiswa dari sebagian kampus Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Mereka diminta masing-masing menulis esai atau narasi tentang penerbitan mereka, suka duka, sumber keuangan, hambatan dan sebagainya. Ini didiskusikan bersama di Bandar Lampung. 

Hasilnya, dijadikan buku tentang pers mahasiswa. Ini ide brilian! Yudi dan Heni suka dengan diskusi di apartemen ini. Apalagi ada Agus Sopian, yang juga menginap di tempatku, "menteror" mereka dengan ide-ide soal jurnalisme dan kemahasiswaan. Temanku, Sven Hansen, redaktur urusan Asia dari Die Tageszeitung, harian Berlin, bersedia membantu secara finansial proyek Lampung dan Pontianak ini dari kantong organisasi Umverteilen! 

Ada juga rombongan besar. Pada 20 Mei 2005, aku kedatangan rombongan mahasiswa 20 orang ke apartemenku. Ini tamu terbesar yang pernah aku terima di apartemen kecil dua kamar tidur ini. Para satpam apartemen mengatakan tak pernah ada tamu sebanyak ini di satu unit. Kami sih senang-senang saja. Sayang, aku lagi tak punya banyak penganan. 

Kami diskusi singkat saja. Kebetulan Jumat itu aku juga harus mengajar di harian Bisnis Indonesia. Eva Danayanti dan Indarwati Aminuddin, dua kolega Yayasan Pantau, mengajak mereka ikut ke kantor Bisnis. Maka jadilah 20 orang mahasiswa itu ikut mendengarkan cerita di sana. Mereka berkenalan dengan para wartawan Bisnis. Sesudahnya, kami sempat mejeng bareng. Angkat kaki ramai-ramai. Satu ... dua ... tiga! Cret ... lalu ambruk bareng-bareng. 


Gambar ini diusahakan tiga kali karena tak mudah serentak mengangkat kaki. (Dari kiri ke kanan) Anggara Pernando (tabloid Bahana Mahasiswa, Universitas Riau), Wiwit Putri W (majalah Canopy, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang), Subkhan Rama Dani (majalah Dianns, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya), Avanty Nurdiana ("Kavling 10" Universitas Brawijaya), Yanuar Kurniawan (majalah Indikator, Universitas Brawijaya), Nograhany Widhi Koesumawardhani (Canopy), Ahmad Ainur Rohman (Dianns), Hifhzil Aqidi (Republica, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung), Aulia Marti (Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak), Tegar Yusuf Putuhena (Manifest, Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya), Yusrianti Y.Pontodjaf (Yayasan Pantau), Yoso Mulyawanz (Republica), Ahdika Fitrarianto (Mimbar Untan), Eva Danayanti (Teknokra, Universitas Lampung, magang Yayasan Pantau) dan I Putu Agus Andrian (majalah Indikator). 

Sebagian dari mahasiswa ini juga sempat diminta menunggu di ruang direksi Bisnis Indonesia. Geli juga melihat kecanggungan mereka. Coba tebak siapa nama mereka dan dari lembaga mana saja? Oh ya, siapa ya yang paling manis?



Thursday, May 19, 2005

Job opening in Banda Aceh

ADVERTISEMENT FOR SERAMBI INDONESIA

We are looking for a translator-cum-helper for a Banda Aceh-based project organized jointly by the Serambi Indonesia daily, the International Center for Journalists in Washington DC and the Pantau Foundation in Jakarta.

She or he will help an American consultant as of May 24 to lead a training program on newspaper marketing and distribution. The work will also include both oral and written translation and helping organize the training i.e. finding space, arranging schedule, hiring driver etc. If she or he proves affordable and enthusiastic, we would extend the employment until December for other programs.

She or he should be fluent in English. An interest in media is also a consideration. An ability to speak Acehnese is an addition that will help our project. Please send biodata and expected salary by email. Interviews will be conducted over the phone.

Andreas Harsono
Pantau Foundation
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031
Email aharsono@cbn.net.id

Thursday, May 12, 2005

Jefferson Fellow di Jakarta

Ini sakadar kabar kicil dari kitorang punya kegiatan. Lima orang wartawan Amerika, peserta Jefferson Fellows, berkunjung ke Jakarta 8-12 Mei ini. Mereka pigi menemui Hasballah Sa`ad (mantan menteri hak asasi manusia kabinet Gus Dur), Yayasan Tifa, Hidayat Nur Wahid dari MPR, Ambassador B. Lynn Pascoe, pondok pesantren As-Syafiiyah, Jaringan Islam Liberal, Ryas Rasyid (menteri otonomi daerah Gus Dur), Rizal Sukma dari Center for Strategic and International Studies, Nasruddin Abubakar dari Sentra Informasi dan Referendum Acheh, para redaktur media Jakarta, wartawan, aktivis, buruh dan sebagainya.

Mereka intinya ingin belajar sedikit tentang Indonesia. Program ini diadakan oleh East West Center, Hawaii, dan di Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Pantau.

Kelima orang itu adalah Harriet Rubin dari USA Today, Matthew Benjamin dari majalah US New & the World, Robert Collier dari The San Fransisco Chronicle, Katherine Corcoran dari San Jose Mercury News serta Lynn Cook dari The House Chronicle. Mereka juga diundang makan malam oleh harian Bisnis Indonesia di restoran masakan nyonya Dapoer Babah.

Linda Tangdialla dari Bisnis (baju putih) mendapat nice surprise ketika duduk di sebelah Harriet Rubin. Tangdialla kagum pada karya-karya Rubin terutama best seller The Princessa Machiavelli for Women. Tangdialla tak menyangka bahwa perempuan berambut panjang, keriting, usia 50-an tahun, adalah Harriet Rubin.



Juga makan malam untuk para wartawan itu oleh alumni Jefferson Fellows di Jakarta dengan tuan rumah Uni Lubis (kanan) dan August Parengkuan dari TV7 (tengah). Makan malam diadakan di Bentara Budaya, depan kantor Kompas, di daerah Palmerah. Concoran memberikan kenang-kenangan kepada tuan rumah.

Hanya lima hari di Jakarta. Namun mereka banyak jalan. Banyak bertemu orang. Eva Danayanti, seorang mahasiswa dari Universitas Lampung, melakukan koordinasi program ini. Eva sedang magang di Yayasan Pantau. Eva mengatakan pada saya, ia senang bisa bertemu dengan 'banyak orang penting' karena menemani kelima wartawan ini. Ia juga kaget melihat foto-foto Acheh di kantor Lynn Pascoe. Eva juga pontang panting mengatur permintaan mendadak dari satu atau dua fellow.

Ini selingan kecil untuk Pantau. Namun saya ingin menyampaikan pesan dari Susan Kreifels, koordinator program ini, yang menemani kelima orang itu ke Jakarta. Pada pagi terakhir kami bertemu, Susan minta tolong agar Pantau menganjurkan lebih banyak wartawan Indonesia melamar program satu bulan ini. Untuk wartawan Asia, programnya adalah jalan-jalan ke Amerika Serikat.

"Ajak wartawan-wartawan Indonesia untuk melamar Jefferson Fellowship," katanya.

Saya dengan senang hati menyambung permintaan itu ke Anda semua.

Silahkan klik www.eastwestcenter.org/journalists untuk tahu prosedur dan program ini.

Thursday, May 05, 2005

Wutung: Satu Desa Dua Negara

Di pos penjagaan Wutung: Indarwati Aminuddin, Budi Setiyono, Angella Flassy dan Husni Said (dari kiri ke kanan). Rolando Ondi (baju kuning) berdiri depan pos.

Bagaimana
melihat sebuah desa dibagi dua negara? Aku merasakan ini di Wutung, sebuah desa di perbatasan Papua dan Papua New Guinea. Pada 5 Mei ini, bersama Indarwati Aminuddin (baju putih), Budi Setiyono (celana blue jeans), Angella Flassy (kedua dari kanan) dan Rolando Ondi (baju kuning), aku pergi ke Wutung. 

Kami naik mobil dari Jayapura selama dua jam. Desa indah. Sepanjang jalan hutan lebat. Kami sempat beli makan masakan Jawa di satu desa transmigrasi, Koya Timur, dimana nasi bungkus berisi nasi, mujahir goreng, lodeh. 

Angela mengatakan di Papua sendiri ada 265 bahasa. Ia banyak cerita soal keragaman etnik dan bahasa Papua selama kami jalan. 

Ketika memasuki Wutung dari sisi Papua, kami bertemu dengan pos jaga Satuan Tugas Yon Infanteri Linud 432. Mereka bertugas di daerah perbatasan ini sejak November 2004. Salah seorang tentara mereka, Husni Said, ikut berfoto dengan kami. 

Batalion ini asal dari Maros, Sulawesi Selatan. Ada 14 orang yang bertugas di pos ini di bawah pimpinan Letnan Satu Irvan Tarigan. Kami bercakap-cakap. 

Tarigan baru umur 27 tahun. Ia lulus dari Akademi Militer Magelang tahun 2000. Mereka pernah ditugaskan di Lamno, Aceh, pada 2002-2003. 

Kesan penugasan ini? Semua bilang "sepi" karena jauh dari keramaian. Setiap hari satu prajurit dapat jatah makan Rp 15,500. Ini jumlah yang kecil untuk ukuran Papua. Makannya, kata Husin Said, tiap hari ya berputar soal Super Mie, ikan teri dan telur. 

"Yang sederhana, yang praktis," kata Tarigan. 

Sebulan sekali mereka "turun" ke Jayapura untuk telepon keluarga di Maros. Air minum ditampung dari air hujan. 

Batalion ini terdiri 450 orang dan dibagi tiga kompi: Kompi A disebut Ajax, Kompi B disebut Beruang dan Kompi C disebut Camar. Tarigan bilang beda tugas di Aceh dan Wutung adalah di Aceh tugasnya adalah "tugas tempur" sedang di Wutung "tugas teritorial." 

Daerah ini juga termasuk daerah Mathias Wenda dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Wenda dulu sempat dipenjara oleh Papua New Guinea di Vanimo --kota kecil sekitar satu jam naik mobil dari Wutung. Ia terbukti bersalah karena melatih pasukannya di "negeri asing." 

Suratnya dari penjara Vanimo pada April 2001 berbunyi: "We are fighting against neo-colonial power at this level of human civilisation. We are struggling against our common enemy, the enemy of all human beings on earth, "the monster-capitalism" that had destroyed our planet badly. If we let it plundering in Papua land, our next generations will curse us for not leaving them just a piece of land on earth with original inhabitants, be it forests, be it humans, be it natural resources, be it animals. They will cry and swear against us for not leaving them forests for their planet's source of oxygen. We are fighting against imperialism in our post-modern era. This is one part of all movements of people against injustices, massacres, massive environmental destruction and the biggest social-engineering programme in our human history ever, which not surprisingly fully funded by the World Bank and the states. I am now imprisoned in my own land, Papua, by my own tribesman, Papuan and staying here in my own prison. Because of fighting against exploitation of my land and my people, against destruction of my ecology and ecosystem. One this I know is this: Mathias Wenda can be imprisoned anytime with any reason, anywhere, but the movement and struggle for West Papua independence will not be arrested or imprisoned in anyway by whoever, anywhere in the world until the goal is achieved.

Menurut tentara-tentara Indonesia di Wutung, Mathias Wenda sekarang sudah tua dan tak kedengaran lagi. Mereka tiap hari hanya melakukan patroli. Wenda tinggal di Papua New Guinea. 

Kehadiran Ronaldo Ondi, putra rekan kuliah Abraham Ondi, jadi hiburan tersendiri selama perjalanan. "Ano" --nama panggilannya-- anak yang cerdas dan banyak tanya. Mulanya, Abraham tak memperbolehkan Ano ikut aku ke Wutung dari Jayapura. Ano menangis keras. Aku beri sekaleng Coca Cola juga tak membantu. 

Ice Mahadi, ibunya, akhirnya memperbolehkan Ano ikut kami ke Wutung. Ia senang sekali. Indar bergurau mengatakan, "Ano meninggalkan jejak dimana-mana!" 

Maksudnya, Ano sering kencing dimana-mana! 

Indar juga terpukau menjejakkan kaki di Wutung. "Umur 29 tahun, pertama kali ke luar negeri, di PNG."

Perbatasan Papua-PNG hanya dipisahkan oleh satu daerah tak bertuan selebar 20 meter. Ia dipagari oleh dua pagar. Satu milik Indonesia. Satunya milik PNG. Gedung di sisi PNG hanya satu buah. Bendera PNG berkibar. 

Gedung-gedung di sisi Papua lebih banyak. Ada pasar. Ada toko. Ada tempat makan. Ada kantor imigrasi. Kami menyeberang dari Indonesia tanpa diperiksa paspor karena memang tidak bawa paspor. Petugas imigrasi di sisi Indonesia cuma satu orang. Itu pun sedang tidur siang. 

Di sisi PNG apalagi. Tak ada satu petugas pun. Beberapa orang PNG menawari kami pergi ke Vanimo. Aku bersedia tapi ongkos sewa mobil alamak! Hanya satu jam harus bayar sekian kina (mata uang PNG) yang setara dengan Rp 400,000. 

Aku tak mau ke Vanimo karena kami semua bokek. Akhirnya, cuma jalan-jalan sekitar Wutung. Desa kecil dengan bahasa sama dengan sisi Indonesia. Bedanya, disini orang bicara bahasa Inggris. Ejaan mungkin aneh. 

Misalnya, ada iklan Coca Cola tertera, "Rifresment bilong tude." 

Kau sampai jungkir balik bongkar kamus Webster juga tak tahu artinya. Ia adalah bahasa Pidgin --Inggris ala Fiji, PNG dan sebagainya. Ejaan itu setara dengan, "Refreshment belong today."

Tuesday, May 03, 2005

Training Wartawan di Jayapura

Sejak hari Minggu, Agus Sopian, Budi Setiyono, Indarwati dan aku ada di Hotel Relat Indah, Jayapura, membantu pelatihan 28 wartawan dari Jayapura, Merauke, Manokwari, Sorong dan Timika. Kami membagi mereka dalam dua kelas. Buset dan Kang Agus pegang satu. Indar dan aku pegang satunya. 

Hari pertama, kami memperkenalkan "Sembilan Elemen Jurnalisme" karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Lalu masuk dalam praktek. Mulai dari soal byline, tagline, kolom, pemakaian dialog, membuat deskripsi dan sebagainya. 

Kami mendapat sponsor dari PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas Amerika. Ini bukan perusahaan yang populer. Tapi Siddharta Moersjid dari Freeport berkali-kali bilang mereka "tulus" ingin melihat media di Papua maju. Ini bagian dari program community development Freeport. 

Yayasan Pantau sudah beberapa tahun dapat sponsor Freeport. Santi Sari Esayanti dari Freeport pontang-panting membantu kami. Mulai dari booking hotel, menyiapkan Infocus, mengatur mobil, mengurus keperluan peserta satu demi satu. Indar tak kalah keras. Aku suka melihat dua perempuan muda ini bekerja. Sangat efisien. 

Cunding Levi dari Tempo, Netty Dharma Somba dari The Jakarta Post, Gatot Ariobowo dari Lativi, kolumnis Frans Maniagasi, Anton Raharusun dari Freeport (juga kolumnis) dan lain-lain ikut workshop ini mulai pagi hingga sore. Lebih banyak diskusi. Lebih banyak sharing. Lebih banyak ngakak. Kami praktis kelelahan. Tak bisa berbuat lainnya selain menjadi instruktur dan istirahat. 

Kami juga diskusi soal peranan wartawan "pendatang" dan "asli." Mengapa integritas media "pendatang" kurang dipercaya warga Papua? Harian Cenderawasih Pos dianggap pro Indonesia? Para peserta didominasi wartawan pendatang --hanya tiga yang etnik Papua dari 28 peserta. 

Aku banyak bicara soal independensi seorang wartawan. Ia harus independen dari background sosial dirinya --etnik, agama, ideologi, kelas dan lain-lain-- dengan cara menjalankan prosedur jurnalisme secara disiplin. 

Ini baru selesai hari kedua. Pinjam internet di kantor Freeport di daerah Angkasapura dengan view ke Samudera Pacific serta bukit Base G. Cantik sekali. 

Jayapura berpenduduk sekitar 200,000. Kota luas walau resmi ada sekitar 900 kasus HIV/AIDS --beberapa aktivis perempuan dari Suara Perempuan Papua memperkirakan jumlah resmi enam kali lipat. Ini cukup bikin takut. 

Hari Senin 2 Mei ada demonstrasi menuntut penulisan ulang sejarah Papua. Mereka menyerang Penentuan Pendapat Rakyat 1969 yang penuh kecurangan (memang benar). Mereka bateriak, "Papua merdeka, Papua merdeka!" 

Seorang perempuan muda Desy, cucu Seth Rumkoren, membacakan pernyataan di depan anggota-anggota Parlemen Papua. Demonstrasi serupa, menurut beberapa wartawan, diadakan di Jakarta dan Belanda. Semua menuntut koreksi terhadap sejarah resmi bahwa rakyat Papua memilih masuk Indonesia. Maniagasi dan Cunding banyak memberikan background kepada aku. Beberapa peserta pelatihan mengajakku lihat demonstrasi ini.

   

Beberapa orang tua membawa anak-anak mereka ikut demonstrasi. Acara diisi dengan pidato-pidato. Aku senang mendengarkan bahasa Papua. Mereka pakai kata "sa" untuk "saya" atau "kitorang" untuk "kita orang." Lalu banyak kalimat Melayu diakhiri dengan akhiran "kah." 

Di Papua sendiri ada lebih dari 250 bahasa --sekaligus etnik-- sehingga bahasa nasional mereka tak lain ya bahasa Melayu versi Papua. Suasana damai. Teriakan-teriakan, "Uuuuu uuuuu uuuu ..." terkadang terdengar. 

Aku mengira ini teriakan khas orang Papua kah? Mereka sempat jalan dari Abepura menuju Jayapura. Jarak lumayan. Hampir semua peserta demonstrasi orang rambut keriting. Sempat wawancara dengan beberapa peserta demonstrasi, "Mengapa tak ada saudara-saudara rambut lurus?" 

Ada yang bilang para "pendatang" memang cenderung diam. "Ini sudah urusan politik. Bisa kitorang mengerti kalau dorang tak ikut. Tapi soal pelanggaran hak asasi manusia, dorang juga lebih banyak diam," kata lainnya. 

Aku kurang tahu berapa banyak pendatang yang ikut simpati dengan gerakan kemerdekaan Papua. Mungkin banyak. Mungkin sedikit. Cuma mereka tak kelihatan. Aku melihat demonstrasi sekitar 45 menit. Lalu kembali ke ruang kelas. 

Aku merasa lebih percaya mengapa orang Papua ingin merdeka dari Indonesia. Selasa pagi sempat berkunjung ke rumah H. Abraham Ondi di perumahan Sinode GKI di Tanah Papua. Anaknya lucu sekali. Ronaldo umur tujuh tahun. Badannya gempal. Makan nasi dua piring. Juga kenalan dengan istri Ondi. Kami teman lama sejak zaman kuliah di Salatiga pada 1980-an. Ondi kerja di gereja. Dulu ia yang mendorongku jadi wartawan mahasiswa.

   

Para peserta pelatihan mejeng di dermaga kayu di Teluk Humblot, Jayapura. Jembatan ini terletak persis di belakang hotel. Anton Raharusun (paling kanan) seorang pengacara. Ia kini bekerja untuk Freeport urusan government and legal affairs

Ia dulu pengacaranya Theys Hiyo Eluay, pemimpin bangsa Papua, yang dibunuh tentara-tentara Indonesia, pada 20 November 2001. Ia suka dengan pelatihan ini. Santi Esayanti memakai baju warna putih. Cunding Levi di belakang Santi. Sedang Jean Bisay dari Papua Pos di depan Santi.