Tuesday, May 06, 2003

Literary Journalism Course IV

Pada 1973 Tom Wolfe menerbitkan buku The New Journalism. Dunia jurnalisme Amerika Serikat gempar. Sebuah gerakan muncul. Ia mengawinkan disiplin yang paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat karya sastra. Ibarat novel tapi faktual. Ibarat novel ia mencerahkan. Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemen-elemennya ketika kecepatan televisi memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang lebih dalam.

Kini gerakan itu diperkenalkan di Indonesia. Belajar menulis dengan dalam sekaligus memikat. Dunia suratkabar Indonesia, cepat atau lambat, akan lebih banyak menerangkan ketimbang sekedar menurunkan laporan hardnews. Dunia suratkabar Indonesia takkan mampu melayani publik dengan baik bila ia tak bisa tampil lebih dalam dari apa yang dilaporkan televisi atau internet.


Waktu:
26 Mei – 6 Juni 2003 (tiap Senin, Rabu, Jumat total enam hari, disediakan sela satu hari buat pekerjaan rumah)

Instruktur:
Janet E. Steele, profesor dari School of Media and Public Affairs, George Washington University, mengampu matakuliah jurnalisme sastrawi di sana, kini menulis buku tentang majalah Tempo, (202) 994-2004
Andreas Harsono, koresponden harian The Star (Kuala Lumpur), mantan redaktur pelaksana majalah Pantau soal media dan jurnalisme, sempat mengambil matakuliah ini selama dua semester di Universitas Harvard, (21) 8573388

Pendaftaran:
Ade Juniarti 021-8573388 ext. 128 ade@pantau.or.id

Syarat:
Peserta adalah wartawan atau penulis freelance yang biasa menulis. Setidaknya sudah berpengalaman lima tahun. Kemampuan berbahasa Inggris dibutuhkan untuk membaca bahan-bahan bacaan. Peserta juga bersedia mengerjakan tugas-tugas dari membaca, meliput dan menulis, dalam kursus ini. Dua minggu penuh si peserta diminta memberikan konsentrasi pada kursus. Peserta maksimal 15 orang agar instruktur punya perhatian memadai buat semua peserta. Pekerjaan rumah tangga tolong dibuatkan fotokopi dua kali (satu untuk peserta dan satunya untuk instruktur).

Biaya:
Rp 2.5 juta termasuk makan siang dan materi termasuk buku “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit” karya Bondan Winarno. Materi kursus non-buku kira-kira 200 halaman akan dikirim ke peserta lebih dulu untuk dibaca di rumah. Deadline pendaftaran 19 Mei 2002.

Jadwal:
MINGGU PERTAMA [Andreas Harsono]

SESI 1 Senin 26 Mei pukul 10:00-12:00 - Pembukaan: membicarakan silabus, perkenalan, bagi tugas, dan diskusi tentang sembilan elemen jurnalisme dari Committee of Concerned Journalists.
Bacaan: “The Elements of Journalism” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel; resensinya “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono.

SESI 2 Senin 26 Mei pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang jurnalisme sastrawi, tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, melontarkan pertanyaan, menilai dokumen, mengutip sumber, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.”
Bacaan: "Literary Journalism: Breakable Rules for Literary Journalists" oleh Mark Kramer; "The New Journalism" oleh Tom Wolfe (bab pengantar dalam buku Wolfe berjudul The New Journalism); “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana.
Tugas untuk Rabu: Rekamlah pembicaraan dengan seorang teman, anggota keluarga, atau seorang nara sumber, dengan tujuan bahan itu bisa dijadikan sebuah narasi (monolog). Buat transkripnya, lalu disunting sehingga enak dibaca. Topiknya bisa apa saja tapi yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi itu. Modelnya “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini.

SESI 3 Rabu 28 Mei pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang liputan Aceh dalam format sastrawi, melihat struktur karangan, membandingkan dua karangan berbeda dengan isu yang sama.
Bacaan: “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini dan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” oleh Alfian Hamzah (Rini dan Alfian adalah alumni kursus jurnalisme sastrawi angkatan II).

SESI 4 Rabu 28 Mei pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang John Hersey membuat laporan “Hiroshima” yang diterbitkan majalah The New Yorker pada Agustus 1946.
Bacaan: “Hiroshima” oleh John Hersey, “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey” oleh Bimo Nugroho, dan “About Town” oleh Ben Yagoda. Satu kelompok akan dipilih untuk membaca semua bab dalam “Hiroshima” dan cerita soal laporan ini.
Tugas untuk Jumat: Membaca “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit” oleh Bondan Winarno. Diskusi akan dilakukan oleh dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menerangkan lima bab pertama sedang kelompok kedua mendiskusikan lima bab terakhir.

SESI 5 Jumat 30 Mei pukul 10:00-12:00 – Diskusi bagaimana The Seattle Times membuat laporan “The Terrrorist Within” tentang Ahmed Ressam dari al Qaeda.
Bacaan: Tiap peserta harus membaca “The Ticking Bomb’ dari laporan 17 hari yang diterbitkan Seattle Times http://seattletimes.nwsource.com/news/nation-world/terroristwithin/chapter11.html. Satu kelompok akan membaca 17 bab dalam “The Terrorist Within” dan cerita soal laporan ini.

SESI 6 Jumat 30 Mei pukul 10:00-13:30 –Diskusi tentang buku “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit” oleh Bondan Winarno.
Tugas untuk Senin [Janet Steele]: Membuat narasi dua halaman tentang sebuah kecelakaan –adegan demi adegan, dengan penjelasan naratif sesedikit mungkin.

MINGGU KEDUA [Janet Steele]

SESI 7 Senin 2 Juni pukul 10:00-12:00 - Diskusi lanjutan tentang definisi jurnalisme sastrawi, dari Tom Wolfe hingga Mark Kramer, dan pengaruhnya pada perkembangan suratkabar mainstream di Amerika Serikat. Steele dan Harsono punya pendapat soal jurnalisme sastrawi yang sedikit berbeda satu dengan yang lain (mungkin akademikus vs praktikus).
Bacaan: "The New Journalism" oleh Tom Wolfe; "Literary Journalism: Breakable Rules for Literary Journalists" oleh Mark Kramer; “The Girl of the Year” oleh Tom Wolfe; “Dua Jam Bersama Hasan Tiro“ oleh Arif Zulkifli dari Tempo.

SESI 8 Senin 2 Juni pukul 13:00-15:00 - Diskusi tentang pekerjaan rumah.

SESI 9 Rabu 4 Juni pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang “immersion reporting” berdasarkan karya Truman Capote "In Cold Blood" serta membandingkannya dengan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft.”
Bacaan: Steele menyediakan beberapa bagian dari “In Cold Blood” dan “Wealthy Family, 3 of Family Slain” dari The New York Times pada 1959. Also, I photocopied a much better selection from In Cold Blood than the one we used in January. This one is the scene in which they discover the bodies. Capote really draws it out and creates a great deal of suspense.

SESI 10 Rabu 4 Juni pukul 13:00-15:00 – Diskusi tentang bagaimana memanfaatkan narasi dalam berita hangat (breaking news) dengan contoh “Tikungan Terakhir” oleh Agus Sopiann dan “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin.
Bacaan: “Tikungan Terakhir” (laporan kematian wartawan Rudi Singgih) oleh Agus Sopian dan beberapa artikel suratkabar tentang pembunuhan Rudi Singgih serta “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin.
Tugas untuk Jumat: Tulislah sebuah narasi dengan gaya orang pertama ("saya") untuk menggambarkan sebuah adegan dengan menggunakan teknik Jurnalisme Baru. Gunakan model "The Armies of the Night" karya Norman Mailer sebagai contoh di mana Mailer memasukkan dirinya dalam laporannya. Bahan ini akan dibacakan di depan kelas. Panjang maksimal 2 halaman.

SESI 11 Jumat 6 Juni pukul 10:00-12:00 – Diskusi tentang pekerjaan rumah yang dibuat berdasarkan “The Armies of the Night.”

SESI 12 Jumat 6 Juni pukul 13:00-15:00 – Penutupan serta tanya jawab [Steele dan Harsono].